Archive for the 'General' Category


Terlontar dari lubuk hati seorang Ibu …

Friday, April 9th, 2010

“Saya tahu ini adalah suasana yang tidak mudah kalau Anda bicara tentang kemarahan, bicara tentang kekecewaan, bahkan kalau kita mengatakan sakit hati, saya adalah orang yang paling dipermalukan. Tidak cukup rasanya satu kata atau perbuatan apapun untuk mencuci perasaan itu. Karena kita semua yang ada di sini, saya anggap semua merasa dikhianati.Itu adalah kata yang paling tepat. Anda semua merasa dikhianati oleh perbuatan dari seseorang atau sekelompok orang. Mari kita sekarang mulai duduk dan mengevaluasi dengan jernih dan dingin karena saya tidak ingin kita semua terlibat di dalam emosi yang tidak perlu.”

“…Saya hampir yakin sekarang kalau Anda ditanya kerja dimana? Anda pura-pura untuk menjawab bukan di ***., Anda akan bilang di ***. Lebih aman. Anda hidup tanpa harga diri, Anda bahkan tidak bisa dan tidak berani untuk menyampaikan identitas Anda. Itu adalah titik paling rendah dari yang disebut strata manusia. Manusia tanpa harga diri tanpa berani menyampaikan siapa Anda. Anda adalah bukan siapa-siapa. Sebetulnya selesai sejarahnya. Karena berapapun uang yang anda peroleh dari korupsi itu tidak bisa untuk membeli reputasi…”

“.. Anda mengatakan setiap persoalan, disaster, krisis. Dia adalah kesempatan. Ini kesempatan kita untuk membangun reputasi dan saya tidak mau mengatakan saya hanya menangis, marah, kecewa, terkhianati, nggak. Saya memikirkan lebih detail dari itu, bagaimana saya bisa melahirkan kembali *** pada saat situasi masyarakat justru sedang menempatkan Anda di tempat rendah.”

“… Saya tidak bahagia kalau anda sudah bekerja puluhan tahun tetap untuk beli rumah saja tidak sampai. Itu salah menurut saya. Saya tidak bangga bahwa anda harus jadi miskin atau pura-pura miskin, karena itu bukan tujuan saya. Republik ini harus dijaga oleh kita semua dengan orang-orang yang punya confidence tinggi. Yang harus di-reward dengan baik, tapi punya etika dan integritas yang tidak terbeli. Dan itu tugas kita semuanya. Jadi saya meminta Anda semuanya memikirkan secara tenang dan jernih.”

“…saya tidak punya agenda lain, but to save you all.”

“Lakukan seperti yang akan saya lakukan. Lihat unit Anda apakah ada kanker? putus dia dengan segera. Kalau Anda termasuk dari bagian kanker itu, Anda pasti akan dideteksi oleh atasan Anda…”

” Kasus ini tidak harusnya membuat kita runtuh dan saya diberi nasihat oleh anak saya, kalau ada sesuatu yang tidak membuat mama mati, maka dia akan membuat mama menjadi kuat. Kasus ini tidak akan mematikan ***. Maka dia akan bikin kita kuat. Jadi Anda semua harus makin kuat. Ini kasus. Tapi Anda harus lihat virusnya. Keluar dari sini, Anda tidak boleh lemah, Anda harus kuat, Anda harus percaya diri, Anda harus makin bersih dan itu yang saya inginkan. “

Kalimat-kalimat di atas adalah secuplik kalimat yang keluar dalam suasana kebatinan yang tidak mengenakkan, namun ketulusan hati membuat kalimat-kalimat yang terlontar menjadi begitu bermakna, at least for me.

Memang, kecerdasan seseorang terlihat jelas dari pilihan kata-katanya. Bahkan dalam keadaan marah-pun kata-kata bijak masih saja terlontar. Saya, secara pribadi, … salut sekaligus kagum pada Anda Bu!

Welcoming a special guest

Wednesday, February 10th, 2010

On one fine Sunday morning, we had unexpected guest. Look how cute and adorable she is. My husband believes this cute little kitten was searching her queen, while our youngest sister thinks it’s a good sign for us.

Well… look at her eyes! Amazing!

img_9486.jpg

img_9490resized.jpg

img_9489resized.jpg

img_949resized.jpg

img_9492resized.jpg

There are so many ways to …

Tuesday, February 2nd, 2010

While having something around  …

Luv Orange

or

when you’ve got another idea …

NY I L U

Sewa Kebaya Vs Sewa Mobil

Thursday, September 17th, 2009

Membaca comment dari Sdr. Gregorius aka Tommy di tulisanku ini, mengingatkanku pada sebuah talk show di radio yang ku dengarkan sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Bahwa dua buah simpulan yang saling bertolak belakang bisa saja keduanya benar, sepanjang didukung dengan asumsi yang tepat. Demikian pula, mencari data-data yang men-support simpulan kita akan sama mudahnya dengan mencari data-data untuk menolak simpulan tersebut.

Sepertinya paragraph di atas tidak banyak berkaitan dengan paragraf-paragraf di bawah ini, kecuali satu hal, bahwa menganalisa kegiatan sehari-hari dari kacamata ekonomi ternyata memang menarik, setidaknya bagiku. Thanks to Sdr. Gregorius yang membuatku kembali membaca tulisanku sendiri dan memberiku ide untuk menulis dengan tema serupa.

Beberapa saat lalu ketika Adek di Jakarta bercerita tentang saudaranya yang baru membeli mobil seharga ratusan juta, berniat menyewakan mobil tersebut. Aku langsung  berpendapat bahwa harga sewa sebesar 400 ribu per hari cukup mahal.

Sementara itu, seminggu sebelumnya, aku dan saudara partner mengunjungi tempat penyewaan baju untuk sekedar mencontoh model kebaya terkini yang pas untuk kami kenakan. Ketika mendengar harga sewa yang hanya sebesar 1 juta, kami sepakat untuk menilai tempat penyewaan baju ini cukup murah.

Tanpa menggunakan kacamata ekonomi, dua pendapat di atas sepertinya sangatlah aneh. Bagaimana mungkin sebuah mobil yang harganya di atas seratus juta hanya dihargai kurang dari 400 ribu untuk sewa satu hari. Sedangkan sebuah kebaya yang seharga 8 juta (bahan 5 juta + biaya jahit & payet 3 juta) dihargai minimal satu juta untuk satu kali sewa.

Ok lets start analyzing. Please comment once you come up with another analysis and assumption.

Mobil baru seharga 125 juta, paling tidak dapat dimanfaatkan minimal selama 2 tahun untuk penyewaan. Setelah itu bisa dijual dengan harga, paling tidak, 75% dari harga perolehan. Sedangkan untuk baju kebaya yang seharga 8 juta, paling tidak bisa dimanfaatkan maksimum hanya 2 tahun (ingat, model baju cepat sekali berubah, semakin lama model kebaya semakin tidak laku kebaya tersebut). Setelah masa penyewaan itu, very unlikely kita bisa menjual kembali kebaya tersebut dengan separoh harga perolehan, kecuali di donorkan untuk charity atau dijual dengan harga yang sangat murah. Jadi, cukup wajar bagi tempat penyewaan kebaya untuk men-charge biaya sewa yang cukup tinggi.

Penyewaan kebaya perlu menyediakan setidaknya 5 model kebaya untuk menyesuaikan dengan selera satu customer. Itu satu customer ya, bagaimana dengan beberapa customer yang memiliki selera beragam? Dengan satu koleksi kebaya, bisa dipastikan customer akan enggan datang. Artinya biaya investasinya akan lebih mahal dengan biaya perawatan yang lebih mahal pula. Maka biaya sewa yang lebih bahal cukup layak dikenakan.

Alasan lain? Terdapat additional cost setiap ada customer yang akan menyewa kebaya. Setidaknya biaya jahit agar kebaya yang disewa pas di badan customer baru. Ingat tidak semua customer memiliki ukuran badan yang sama. So no wonder biaya sewa kebaya  lebih mahal dari pada sewa mobil.

Tapi biaya perawatan mobil kan lebih mahal? Benar, tapi apakah biaya perawatan tersebut perlu dikeluarkan setiap ada customer yang akan menyewa? Well, kecuali jika mobil yang akan disewa customer, ditabrak motor yang rem-nya blong, maka biaya perawatan sebelum di sewa customer menjadi cukup tinggi. Ahh … ini hanya terjadi di dunia Posma.

Kesempatan untuk menyewa mobil bisa datang kapan saja. Sedangkan kesempatan untuk menyewa kebaya, tidak datang setiap saat. At least pada saat musim wisuda dan musim kawin. Bagi wisudawan, atau setidaknya bagi calon pengantin kesempatan ini tidak datang dua kali. So they’re willing to pay even though it’s a bit pricey. Untuk sesuatu yang terjadi once in your life time, masa’ ya engga’ dibuat special. Regardless the purchasing power we have, the providers are able to see the scarcity event entailed. Thus charging higher price is well accepted.

Anyway ada analisa lain? Asumsi apapun diterima, sepanjang masuk akal.

Sendiri

Monday, July 27th, 2009


It’s unbearable feeling for sure. :(

Beethoven Symphony No. 3 – EROICA

Wednesday, February 11th, 2009

Komposisi ini akan tersaji di Balai Sarbini, sehari menjelang valentine. So … partner trekking, acara di blitz or 21 terpaksa kita pending dulu.

Meanwhile, Ery Duduls yang seperti biasa tiba-tiba muncul di siang bolong dalam sebuah pesan singkat “virtuoso”, mengirimiku ini.

Analisa Warung Kopi

Thursday, February 5th, 2009

Sebagai penikmat kopi, akankah kamu membayar berapapun harga kopi yang kamu sukai? Mmm rasanya tidak juga buat mereka yang price sensitive. Lebih baik ngemut permen kopi, kalau memang harga kopinya kemahalan. Taukah kamu bahwa demi meraup uang, warung-warung kopi, semisal S’bux, Gloria Jeans, Costa Coffee, bahkan Kopi Dua Cangkir di Mall Taman Angrek, akan memanfaatkan berbagai cara untuk menangkap the so-called lavish customers-mereka yang less sensitive terhadap harga- lalu mengeksploitasinya. Berapapun harga kopi yang harus mereka bayar, mereka tidak akan peduli. Mereka inilah mesin uang buat para penjual kopi. Trik yang cukup wajar, sebenarnya. Sebuah perusahaan yang mencoba meningkatkan profit dengan memaksimumkan value dari scarcity power yang mereka miliki akan lebih tertarik pada customer yang willing to pay, bukan yang afford to pay. Lalu bagaimana sebuah coffee shop mengidentifikasi jenis customer yang willing to pay ini? melalui price-targeting strategy tentu saja.

“Unique target”, bahwa setiap customer itu unik sehingga setiap customer akan dikenakan harga yang berbeda-beda untuk satu produk yang sama. Misalnya, di sebuah café, sebagai penggemar susu, Vira akan membayar mahal untuk secangkir cappuccino, tapi bagi kami yang penggemar kopi hitam, secangkir cappuccino bisa lebih murah dari harga yang harus Vira bayarkan. Tak ada harga standard untuk segelas cappuccino. Sekali saja, warung itu tahu preferensi kita, mereka akan mengeksploitasinya. Metode ini sedikit kurang manusiawi memang, sekaligus susah untuk diterapkan. Seorang barista takkan mewawancaraimu panjang lebar hanya untuk memastikan preferensimu atas jenis kopi. Bisa jadi aku menjatuhkan pilihanku pada secangkir cappuccino karena harganya yang jauh lebih murah dari pada kopi htam. Tentu saja dengan strategi unique target, mereka gagal mengidentifikasiku sebagai penggemar kopi hitam. Lavish customer gagal terjaring.

Meskipun penerapannya tidak mudah, dan sangatlah tidak popular, toh ada juga yang mencobanya. Bukan coffee shop sih. Masih ingat kasusnya online shop Amazon pada sekitar tahun 2000? Ya, mereka mengeksploitasi preferensi customer dengan mengenakan harga yang lebih tinggi untuk tipikal buku yang mereka beli. Aku, misalnya, yang penggemar Susanna Tamaro, akan membayar dengan harga yang lebih mahal untuk buku yang sama yang dibeli oleh Anis. Bagaimana caranya? Yup sangat mudah, cookies yang tersimpan di komputer kita memudahkan Amazon untuk melacak buku-buku yang pernah kita pesan secara online. Praktik yang licik. Amanzon, tentu saja, harus membayar mahal atas kejadian ini. Oh ya, kalau ada yang tahu sebuah café menerapkan price-targeting strategy seperti ini, kasih tau ya? I wont visit the coffee shop.

Anehnya, kita akan fine-fine saja kalau coffee shop tersebut menerapkan “group target”. Seringkali meskipun kita sadar bahwa kita sedang di-abused melalui pengenaan tariff yang lebih mahal, dalam beberapa kasus, kita tidak protes. Orang dewasa mana yang akan protes kalau harus membayar tariff angkutan lebih mahal dibandingkan dengan tariff anak-anak atau pelajar? Atau warga asing mana yang akan protes ketika mereka harus membayar jauh lebih mahal ketimbang WNI kala memasuki area Candi Borobudur atau Prambanan?

Kembali ke coffee. Coffee bar di daerah stasiun Waterloo-London bernama The AMT Coffee menawarkan tariff yang lebih murah untuk para pekerja di sekitaran stand kopi tersebut. Tentu saja para commuter yang memanfaatkan underground dan bekerja jauh dari stasiun Waterloo mau tak mau harus membayar lebih mahal. Mahal, inilah harga dari being lavish. Commuters yang melewati Waterloo, for the sake of convenience, takkan keluar dari stasiun demi mencari segelas kopi.Bagaimana warung kopi di Jakarta? aku tak punya ide. Mungkin bisa ditanyakan kepada Bapak Kun sebagai loyal customer-nya S’bux, apakah dia mendapat diskon-diskon tertentu?

Nah ini dia cara yang cukup cerdik dan lumrah untuk diterapkan. “Self-incrimination strategy”. Mereka sangat berhati-hati dalam menerapkan price-targeting ini, sehingga seringkali tidak mudah bagi kita untuk menidentifikasi apakah sebuah warung kopi menerapkan strategi ini atau simply transferring the cost. Demi menangkap lavish customer, mereka biasanya menjual varian kopi yang tak jauh berbeda satu sama lain. Misalnya large or small cappuccino, dengan atau tanpa whipped cream. Tentu ada tambahah biaya dengan tambahan feature kopi. Hot Chocolate bisa jadi hanya seharga 25 ribu rupiah, namun ketika pilihan itu jatuh pada White chocolate harganya bisa jadi 35 ribu, padahal dengan ingredient yang hampir sama biaya untuk membuat dua jenis minuman ini seharusnya tak jauh berbeda. Inilah Self-incrimination strategy.

Sebagai customer, memang tak mudah untuk mengetahuinya. Mari kita coba memikirkan satu hal yang cukup sederhana. Untuk secangkir white coffee di Café Oh La La kita harus merogoh kocek sebesar 20 ribu, tidak peduli apakah kita meminumnya di café atau take it away. Kita tentu sudah menduga bahwa penetapan harga 20 ribu ini telah memperhitungkan gaji barista, pun biaya ruangan café. Jadi sederhananya, mereka yang memesan take away coffee, mestinya tak perlu membayar cost untuk space. Toh nyatanya tidak juga, kita tetap harus membayar 20 ribu. Charging untuk space café sangatlah tidak wajar. So Café Oh La La is implementing “Self-incrimination strategy”, karena mereka bisa mengambil keuntungan lebih dari mereka yang memesan take away coffee.

Kalau kamu menemukan warung kopi yang membedakan antara harga kopi yang diminum di tempat atau take away, mereka hanya transferring cost kepada customernya.

Beberapa warung kopi kegemaran kami menerapkan strategi ini, Kopi Dua Cangkir di Mall Taman Angrek misalnya. Ada dua jenis kopi yang kupikir identical ditawarkan di warung ini. Dengan penamaan yang berbeda mereka mematok harga Rp 10 ribu untuk segelas Kopi Toraja dan Rp 16 ribu untuk Kopi Macho yang berbahan dasar sama. Kami sempat dibuat bingung ketika dua kopi tersebut sampai ke meja kami. Kami kesulitan untuk membedakan mana Kopi Toraja dan mana Kopi Macho. Rasanya tak jauh berbeda. Aku segera teringat self-incrimination strategy ini. Yup, mereka cukup smart.

Masih banyak yang bisa dieksplore dari warung kopi kesukaan kami lainnya, Bakoel Koffie, Kopi Poenam atau Blumchen café, tapi untuk menulisnya aku perlu asupan kopi saat ini. Meanwhile… bagaimana dengan warung kopi kesukaanmu?

Cinta dalam seoles balsem

Wednesday, January 21st, 2009

“Cinta berhubungan langsung dengan rasa”, Ibu Tesarini mulai berkisah.

Kalau diartikan secara harafiah, balsem – menurut Ibu Tesarini- berarti cinta, karena olesannya akan menyisakan rasa. Rasa panas di kulit, lebih tepatnya.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menceritakan kisah Ibu Tesarini, seorang wanita tegar yang digambarkan Arswendo dalam buku “Kau Memanggilku Malaikat”. Bahkan tulisan Arswendo ini, tak berkaitan sedikitpun dengan balsem. Anis telah menuliskannya dengan sangat menarik.

Lalu apa kaitannya antara balsem dan cinta? Mengapa dalam setiap olesannya, serasa cinta terkandung? Kalau memang pengertian secara literal bahwa “balsem menimbulkan rasa dan rasa adalah cinta” adalah pengertian yang sangat tak masuk akal dan sembrono, bagaimana kita mengaitkan setiap olesan balsem dengan cinta?

Kisahnya demikian …

Ketika kamu hendak menjalani aktifitas fisik selama beberapa hari, risiko keseleo atau pegal-pegal pastilah masuk dalam perhitunganmu. Kalau kamu termasuk dalam golongan orang yang mengikuti “common sense”, risiko itu akan kamu analisa. Kamu akan mulai memikirkan, seberapa besar kemungkinan kecelakaan akan terjadi, apa saja yang harus dilakukan guna meminimalisir damaging efeknya andai kecelakaan itu benar-benar terjadi.

Bisa saja “ikut life insurance” secara serta merta muncul dalam benakmu. Tapi rasanya koq terlalu berlebihan ya. Apalagi sampai menulis surat wasiat segala, walahh sungguh merepotkan.

“Selalu berhati-hati dalam melakukan aktifitas fisik, gunakan perhitungan, sesuaikan dengan kemampuan,” serasa sebuah petuah klasik yang membosankan yang terlontar dari seorang ibu, bapak, kakek, nenek, istri, suami ataupun kekasih pada si “significant other”-nya yang akan pamit pergi. Aku yakin diantara kita acapkali menjawabnya dalam hati demikian,”Ya, iyalah masa ya iya dong” atau “Duhh, basi banget deh”

Cara lain yang cukup biasa dan masuk di akal, adalah dengan membawa balsem. Ini adalah aktifitas hedging untuk mengurangi risiko terburuk. Iya membawa balsem bisa dikategorikan dalam aktifitas hedging, pun dalam konteks finance. Dengan selekas mungkin mengoleskan balsem, dapat mengurangi risiko semakin parahnya keseleo. Semakin parah keseleo semakin time consuming untuk pemulihannya, berarti semakin besar pula biaya perawatannya. So, membawa balsem dapat mengurangi beban biaya. Cukup masuk akal bukan?

Tapi apa jadinya kalau ada seseorang telah memikirkan semua kemungkinan terburuk yang dapat terjadi, yang baginya balsem merk bla-bla-bla adalah remedi terampuh, dan esok aktifitas fisik telah menantinya, namun balsem miliknya yang konon ampuh itu telah dia relakan begitu saja, lepas dari tangannya?

Balsem itu ada bersamaku saat ini di Singapura, dan beberapa jam lagi balsem itu akan segera berada di Bangkok untuk beberapa hari. Setiap olesannya, di siku tangan kananku yang bengkak gara-gara kecerobohanku semalam, akan membuatku teringat padanya.

“Rasa yang saya katakan ini bukan rasa pahit, rasa manis, rasa getir, rasa pedas, rasa enak… melainkan rasa, perasaan, atau bathin”, Ibu Tesarini melanjutkan kisahnya.

Balsem adalah cinta, karena dia telah menguatkan simpul-simpul yang berkaitan dengan rasa. Bukan rasa panas, pun pedas, yang terasa di kulit, tapi rasa bathin yang berhubungan langsung dengan ketulusan, tanpa pamrih, dan tanpa menuntut imbalan.

Thanks for showing me that love is simple. Holong do rohaku …

Define Your Happiness

Monday, December 22nd, 2008

Sebuah sesi menarik dengan pembicara Andy F Noya terjadi dua minggu lalu dibilangan Cikini. Bertema “Lentera Jiwa”, Andy F Noya berkisah tentang bagaimana menjadi bahagia dalam hidup. Beliau didatangkan untuk sharing sekaligus menjawab beragamnya intepretasi atas tulisan beliau di sini, karena banyak orang mengklaim bahwa tulisan ini telah membuat beberapa perusahaan kehilangan pegawai-pegawai terbaiknya, yang mengikuti kata hati menekuni profesi barunya demi menjadi bahagia.

Setiap orang ingin menjadi bahagia. Aku, kamu, mereka …

Setiap orang memiliki caranya untuk menjadi bahagia. Aku, kamu, mereka …

Sebuah studi menyebutkan 50% sumber kebahagiaan adalah faktor genetik. Studi atas dua orang kembar identik menunjukkan adanya korelasi, sebesar 50%, atas hal-hal yang membuat mereka bahagia, meskipun masing-masing dibesarkan ditempat yang berbeda. 10% faktor berasal dari status sosial ekonomi seseorang, kondisi perkawinan, kesehatan serta faktor-faktor lainnya. Sedangkan 40% sisanya merupakan akibat dari kegiatan-kegiatan yang sengaja dilakukan untuk menjadi bahagia, menekuni hobby misalnya.

Bahagia, sebuah kata utopia yang gampang diucapkan tapi susah diukur secara kuantitatif. Koq? Coba kita bayangkan sebuah alat pengukur kebahagiaan yang setiap moment bahagia, alat ini akan menunjuk pada satu angka tertentu. Sangat mustahil bukan? Mungkin alat-alat ini harus menempel di kepala kita sehingga alat ini mampu mendeteksi aktifitas kelenjar pineal, dan tingkat hormon endophine yang dihasilkan. Terlalu berlebihan :).

Mengukur bahagia secara kuantitatif sebenarnya bukan hal baru bagi negara Bhutan, sebuah negara yang berbatasan langsung dengan RRC dan India. Gross National Happiness merupakan upaya pengukuran kualitas hidup, yang menunjukkan komitmen Jigme Singye Wangchuck – Raja Bhutan periode 1972-2006 yang menginisiasi indikator ini – untuk membangun perekonomian dengan tetap berlandaskan kultur Bhutan yang sangat kental dengan nilai-nilai agama Buddha. Bahwa pembangunan manusia yang sesungguhnya adalah tatkala pembangunan material pun spiritual terjadi secara beriringan dan saling melengkapi. Pengukurannya memang tidak hanya bergantung pada angka-angka pengeluaran pemerintah, konsumsi, gross investasi, pun ekspor dan impor. Tak lebih dari 7 ukuran yang disebut sebagai socioeconomic development matriks, yang meliputi antara lain economic wellness, environmental wellness, workplace wellness, political wellness hingga mental wellness. Matriks yang terakhir (mental wellness) dinilai dengan ukuran statistik atas penggunaan antidepressants, pun kenaikan atau penurunan tingkat pasien psikoterapi, Menarik bukan?

Perdebatanpun tiada pernah berhenti untuk mempertanyakan ”indikator mana yang lebih pas?” GDP seringkali dituduh menjadi ukuran yang kurang manusiawi untuk menilai tingkat kemakmuran, karena kemakmuran tidak sekedar angka-angka. Bukankah kemakmuran berkorelasi positif dengan kebahagiaan masyarakat dan kebahagiaan itu tidak semata-mata C+I+G+(X-M)? apakah kesehatan, mental pun jasmani, illiteracy tak layak menjadi suatu parameter? Sebenarnya karena alasan inilah, United Nation lebih mempromosikan human development index ketimbang memperbandingkan angka-angka GDP untuk menilai tingkat kemakmuran negara-negara dunia.

Bagaimana kalau Indonesia menggunakan ukuran kebahagiaan untuk menilai kemakmuran masyarakatnya? Mungkin akan lebih banyak lagi dana untuk pendidikan kesehatan dan social safety net lainnya.

Pusing kan? Yang jelas, kalau individunya bahagia, pasti negaranya akan makmur. Memikirkan negara memang pusing. Lebih baik kita mendefinisikan kebahagiaan menurut masing-masing kita.

Bagiku kebahagiaan bisa sangat sederhana. Kesederhanaan ini akan membuat kita tidak pernah berhenti bersyukur.

Mendapat SMS sederhana Mama pagi ini yang berbunyi “Mama sayang kamu Nduk! Mama bangga punya anak kamu” membuat bumi seolah sejenak berhenti berputar.

Mendengar teriakan ponakan-ponakan “Tante Ophie gak pulang ke Malang tah?” mampu melonjakkan dopamine.

Mencium harum melati yang sering kupetik di depan gereja, lalu menyelipkannya di saku baju partner adalah kebahagiaan bagiku.

Kebahagiaan adalah ketika berhasil mencium pipi Vio, dengan sedikit tipuan.

Kebahagiaan adalah saat teduh kala mata terkatup, dan hati sedang luruh, lalu tiba-tiba kicauan burung menyeruak, matahari menyembul, dan tiupan angin lirih mengusap wajahku, membuat pagiku terasa terberkati.

Kebahagiaan adalah sebuah terapi 12 pelukan sehari. Nah yang ini masih dalam penelitian. Silahkan buktikan sendiri keampuhannya.

So define your happiness!

A year longer

Monday, November 17th, 2008

Sg