Archive for the 'General' Category


Beethoven Symphony No. 3 – EROICA

Wednesday, February 11th, 2009

Komposisi ini akan tersaji di Balai Sarbini, sehari menjelang valentine. So … partner trekking, acara di blitz or 21 terpaksa kita pending dulu.

Meanwhile, Ery Duduls yang seperti biasa tiba-tiba muncul di siang bolong dalam sebuah pesan singkat “virtuoso”, mengirimiku ini.

Analisa Warung Kopi

Thursday, February 5th, 2009

Sebagai penikmat kopi, akankah kamu membayar berapapun harga kopi yang kamu sukai? Mmm rasanya tidak juga buat mereka yang price sensitive. Lebih baik ngemut permen kopi, kalau memang harga kopinya kemahalan. Taukah kamu bahwa demi meraup uang, warung-warung kopi, semisal S’bux, Gloria Jeans, Costa Coffee, bahkan Kopi Dua Cangkir di Mall Taman Angrek, akan memanfaatkan berbagai cara untuk menangkap the so-called lavish customers-mereka yang less sensitive terhadap harga- lalu mengeksploitasinya. Berapapun harga kopi yang harus mereka bayar, mereka tidak akan peduli. Mereka inilah mesin uang buat para penjual kopi. Trik yang cukup wajar, sebenarnya. Sebuah perusahaan yang mencoba meningkatkan profit dengan memaksimumkan value dari scarcity power yang mereka miliki akan lebih tertarik pada customer yang willing to pay, bukan yang afford to pay. Lalu bagaimana sebuah coffee shop mengidentifikasi jenis customer yang willing to pay ini? melalui price-targeting strategy tentu saja.

“Unique target”, bahwa setiap customer itu unik sehingga setiap customer akan dikenakan harga yang berbeda-beda untuk satu produk yang sama. Misalnya, di sebuah café, sebagai penggemar susu, Vira akan membayar mahal untuk secangkir cappuccino, tapi bagi kami yang penggemar kopi hitam, secangkir cappuccino bisa lebih murah dari harga yang harus Vira bayarkan. Tak ada harga standard untuk segelas cappuccino. Sekali saja, warung itu tahu preferensi kita, mereka akan mengeksploitasinya. Metode ini sedikit kurang manusiawi memang, sekaligus susah untuk diterapkan. Seorang barista takkan mewawancaraimu panjang lebar hanya untuk memastikan preferensimu atas jenis kopi. Bisa jadi aku menjatuhkan pilihanku pada secangkir cappuccino karena harganya yang jauh lebih murah dari pada kopi htam. Tentu saja dengan strategi unique target, mereka gagal mengidentifikasiku sebagai penggemar kopi hitam. Lavish customer gagal terjaring.

Meskipun penerapannya tidak mudah, dan sangatlah tidak popular, toh ada juga yang mencobanya. Bukan coffee shop sih. Masih ingat kasusnya online shop Amazon pada sekitar tahun 2000? Ya, mereka mengeksploitasi preferensi customer dengan mengenakan harga yang lebih tinggi untuk tipikal buku yang mereka beli. Aku, misalnya, yang penggemar Susanna Tamaro, akan membayar dengan harga yang lebih mahal untuk buku yang sama yang dibeli oleh Anis. Bagaimana caranya? Yup sangat mudah, cookies yang tersimpan di komputer kita memudahkan Amazon untuk melacak buku-buku yang pernah kita pesan secara online. Praktik yang licik. Amanzon, tentu saja, harus membayar mahal atas kejadian ini. Oh ya, kalau ada yang tahu sebuah café menerapkan price-targeting strategy seperti ini, kasih tau ya? I wont visit the coffee shop.

Anehnya, kita akan fine-fine saja kalau coffee shop tersebut menerapkan “group target”. Seringkali meskipun kita sadar bahwa kita sedang di-abused melalui pengenaan tariff yang lebih mahal, dalam beberapa kasus, kita tidak protes. Orang dewasa mana yang akan protes kalau harus membayar tariff angkutan lebih mahal dibandingkan dengan tariff anak-anak atau pelajar? Atau warga asing mana yang akan protes ketika mereka harus membayar jauh lebih mahal ketimbang WNI kala memasuki area Candi Borobudur atau Prambanan?

Kembali ke coffee. Coffee bar di daerah stasiun Waterloo-London bernama The AMT Coffee menawarkan tariff yang lebih murah untuk para pekerja di sekitaran stand kopi tersebut. Tentu saja para commuter yang memanfaatkan underground dan bekerja jauh dari stasiun Waterloo mau tak mau harus membayar lebih mahal. Mahal, inilah harga dari being lavish. Commuters yang melewati Waterloo, for the sake of convenience, takkan keluar dari stasiun demi mencari segelas kopi.Bagaimana warung kopi di Jakarta? aku tak punya ide. Mungkin bisa ditanyakan kepada Bapak Kun sebagai loyal customer-nya S’bux, apakah dia mendapat diskon-diskon tertentu?

Nah ini dia cara yang cukup cerdik dan lumrah untuk diterapkan. “Self-incrimination strategy”. Mereka sangat berhati-hati dalam menerapkan price-targeting ini, sehingga seringkali tidak mudah bagi kita untuk menidentifikasi apakah sebuah warung kopi menerapkan strategi ini atau simply transferring the cost. Demi menangkap lavish customer, mereka biasanya menjual varian kopi yang tak jauh berbeda satu sama lain. Misalnya large or small cappuccino, dengan atau tanpa whipped cream. Tentu ada tambahah biaya dengan tambahan feature kopi. Hot Chocolate bisa jadi hanya seharga 25 ribu rupiah, namun ketika pilihan itu jatuh pada White chocolate harganya bisa jadi 35 ribu, padahal dengan ingredient yang hampir sama biaya untuk membuat dua jenis minuman ini seharusnya tak jauh berbeda. Inilah Self-incrimination strategy.

Sebagai customer, memang tak mudah untuk mengetahuinya. Mari kita coba memikirkan satu hal yang cukup sederhana. Untuk secangkir white coffee di Café Oh La La kita harus merogoh kocek sebesar 20 ribu, tidak peduli apakah kita meminumnya di café atau take it away. Kita tentu sudah menduga bahwa penetapan harga 20 ribu ini telah memperhitungkan gaji barista, pun biaya ruangan café. Jadi sederhananya, mereka yang memesan take away coffee, mestinya tak perlu membayar cost untuk space. Toh nyatanya tidak juga, kita tetap harus membayar 20 ribu. Charging untuk space café sangatlah tidak wajar. So Café Oh La La is implementing “Self-incrimination strategy”, karena mereka bisa mengambil keuntungan lebih dari mereka yang memesan take away coffee.

Kalau kamu menemukan warung kopi yang membedakan antara harga kopi yang diminum di tempat atau take away, mereka hanya transferring cost kepada customernya.

Beberapa warung kopi kegemaran kami menerapkan strategi ini, Kopi Dua Cangkir di Mall Taman Angrek misalnya. Ada dua jenis kopi yang kupikir identical ditawarkan di warung ini. Dengan penamaan yang berbeda mereka mematok harga Rp 10 ribu untuk segelas Kopi Toraja dan Rp 16 ribu untuk Kopi Macho yang berbahan dasar sama. Kami sempat dibuat bingung ketika dua kopi tersebut sampai ke meja kami. Kami kesulitan untuk membedakan mana Kopi Toraja dan mana Kopi Macho. Rasanya tak jauh berbeda. Aku segera teringat self-incrimination strategy ini. Yup, mereka cukup smart.

Masih banyak yang bisa dieksplore dari warung kopi kesukaan kami lainnya, Bakoel Koffie, Kopi Poenam atau Blumchen café, tapi untuk menulisnya aku perlu asupan kopi saat ini. Meanwhile… bagaimana dengan warung kopi kesukaanmu?

Cinta dalam seoles balsem

Wednesday, January 21st, 2009

“Cinta berhubungan langsung dengan rasa”, Ibu Tesarini mulai berkisah.

Kalau diartikan secara harafiah, balsem – menurut Ibu Tesarini- berarti cinta, karena olesannya akan menyisakan rasa. Rasa panas di kulit, lebih tepatnya.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menceritakan kisah Ibu Tesarini, seorang wanita tegar yang digambarkan Arswendo dalam buku “Kau Memanggilku Malaikat”. Bahkan tulisan Arswendo ini, tak berkaitan sedikitpun dengan balsem. Anis telah menuliskannya dengan sangat menarik.

Lalu apa kaitannya antara balsem dan cinta? Mengapa dalam setiap olesannya, serasa cinta terkandung? Kalau memang pengertian secara literal bahwa “balsem menimbulkan rasa dan rasa adalah cinta” adalah pengertian yang sangat tak masuk akal dan sembrono, bagaimana kita mengaitkan setiap olesan balsem dengan cinta?

Kisahnya demikian …

Ketika kamu hendak menjalani aktifitas fisik selama beberapa hari, risiko keseleo atau pegal-pegal pastilah masuk dalam perhitunganmu. Kalau kamu termasuk dalam golongan orang yang mengikuti “common sense”, risiko itu akan kamu analisa. Kamu akan mulai memikirkan, seberapa besar kemungkinan kecelakaan akan terjadi, apa saja yang harus dilakukan guna meminimalisir damaging efeknya andai kecelakaan itu benar-benar terjadi.

Bisa saja “ikut life insurance” secara serta merta muncul dalam benakmu. Tapi rasanya koq terlalu berlebihan ya. Apalagi sampai menulis surat wasiat segala, walahh sungguh merepotkan.

“Selalu berhati-hati dalam melakukan aktifitas fisik, gunakan perhitungan, sesuaikan dengan kemampuan,” serasa sebuah petuah klasik yang membosankan yang terlontar dari seorang ibu, bapak, kakek, nenek, istri, suami ataupun kekasih pada si “significant other”-nya yang akan pamit pergi. Aku yakin diantara kita acapkali menjawabnya dalam hati demikian,”Ya, iyalah masa ya iya dong” atau “Duhh, basi banget deh”

Cara lain yang cukup biasa dan masuk di akal, adalah dengan membawa balsem. Ini adalah aktifitas hedging untuk mengurangi risiko terburuk. Iya membawa balsem bisa dikategorikan dalam aktifitas hedging, pun dalam konteks finance. Dengan selekas mungkin mengoleskan balsem, dapat mengurangi risiko semakin parahnya keseleo. Semakin parah keseleo semakin time consuming untuk pemulihannya, berarti semakin besar pula biaya perawatannya. So, membawa balsem dapat mengurangi beban biaya. Cukup masuk akal bukan?

Tapi apa jadinya kalau ada seseorang telah memikirkan semua kemungkinan terburuk yang dapat terjadi, yang baginya balsem merk bla-bla-bla adalah remedi terampuh, dan esok aktifitas fisik telah menantinya, namun balsem miliknya yang konon ampuh itu telah dia relakan begitu saja, lepas dari tangannya?

Balsem itu ada bersamaku saat ini di Singapura, dan beberapa jam lagi balsem itu akan segera berada di Bangkok untuk beberapa hari. Setiap olesannya, di siku tangan kananku yang bengkak gara-gara kecerobohanku semalam, akan membuatku teringat padanya.

“Rasa yang saya katakan ini bukan rasa pahit, rasa manis, rasa getir, rasa pedas, rasa enak… melainkan rasa, perasaan, atau bathin”, Ibu Tesarini melanjutkan kisahnya.

Balsem adalah cinta, karena dia telah menguatkan simpul-simpul yang berkaitan dengan rasa. Bukan rasa panas, pun pedas, yang terasa di kulit, tapi rasa bathin yang berhubungan langsung dengan ketulusan, tanpa pamrih, dan tanpa menuntut imbalan.

Thanks for showing me that love is simple. Holong do rohaku …

Define Your Happiness

Monday, December 22nd, 2008

Sebuah sesi menarik dengan pembicara Andy F Noya terjadi dua minggu lalu dibilangan Cikini. Bertema “Lentera Jiwa”, Andy F Noya berkisah tentang bagaimana menjadi bahagia dalam hidup. Beliau didatangkan untuk sharing sekaligus menjawab beragamnya intepretasi atas tulisan beliau di sini, karena banyak orang mengklaim bahwa tulisan ini telah membuat beberapa perusahaan kehilangan pegawai-pegawai terbaiknya, yang mengikuti kata hati menekuni profesi barunya demi menjadi bahagia.

Setiap orang ingin menjadi bahagia. Aku, kamu, mereka …

Setiap orang memiliki caranya untuk menjadi bahagia. Aku, kamu, mereka …

Sebuah studi menyebutkan 50% sumber kebahagiaan adalah faktor genetik. Studi atas dua orang kembar identik menunjukkan adanya korelasi, sebesar 50%, atas hal-hal yang membuat mereka bahagia, meskipun masing-masing dibesarkan ditempat yang berbeda. 10% faktor berasal dari status sosial ekonomi seseorang, kondisi perkawinan, kesehatan serta faktor-faktor lainnya. Sedangkan 40% sisanya merupakan akibat dari kegiatan-kegiatan yang sengaja dilakukan untuk menjadi bahagia, menekuni hobby misalnya.

Bahagia, sebuah kata utopia yang gampang diucapkan tapi susah diukur secara kuantitatif. Koq? Coba kita bayangkan sebuah alat pengukur kebahagiaan yang setiap moment bahagia, alat ini akan menunjuk pada satu angka tertentu. Sangat mustahil bukan? Mungkin alat-alat ini harus menempel di kepala kita sehingga alat ini mampu mendeteksi aktifitas kelenjar pineal, dan tingkat hormon endophine yang dihasilkan. Terlalu berlebihan :) .

Mengukur bahagia secara kuantitatif sebenarnya bukan hal baru bagi negara Bhutan, sebuah negara yang berbatasan langsung dengan RRC dan India. Gross National Happiness merupakan upaya pengukuran kualitas hidup, yang menunjukkan komitmen Jigme Singye Wangchuck – Raja Bhutan periode 1972-2006 yang menginisiasi indikator ini – untuk membangun perekonomian dengan tetap berlandaskan kultur Bhutan yang sangat kental dengan nilai-nilai agama Buddha. Bahwa pembangunan manusia yang sesungguhnya adalah tatkala pembangunan material pun spiritual terjadi secara beriringan dan saling melengkapi. Pengukurannya memang tidak hanya bergantung pada angka-angka pengeluaran pemerintah, konsumsi, gross investasi, pun ekspor dan impor. Tak lebih dari 7 ukuran yang disebut sebagai socioeconomic development matriks, yang meliputi antara lain economic wellness, environmental wellness, workplace wellness, political wellness hingga mental wellness. Matriks yang terakhir (mental wellness) dinilai dengan ukuran statistik atas penggunaan antidepressants, pun kenaikan atau penurunan tingkat pasien psikoterapi, Menarik bukan?

Perdebatanpun tiada pernah berhenti untuk mempertanyakan ”indikator mana yang lebih pas?” GDP seringkali dituduh menjadi ukuran yang kurang manusiawi untuk menilai tingkat kemakmuran, karena kemakmuran tidak sekedar angka-angka. Bukankah kemakmuran berkorelasi positif dengan kebahagiaan masyarakat dan kebahagiaan itu tidak semata-mata C+I+G+(X-M)? apakah kesehatan, mental pun jasmani, illiteracy tak layak menjadi suatu parameter? Sebenarnya karena alasan inilah, United Nation lebih mempromosikan human development index ketimbang memperbandingkan angka-angka GDP untuk menilai tingkat kemakmuran negara-negara dunia.

Bagaimana kalau Indonesia menggunakan ukuran kebahagiaan untuk menilai kemakmuran masyarakatnya? Mungkin akan lebih banyak lagi dana untuk pendidikan kesehatan dan social safety net lainnya.

Pusing kan? Yang jelas, kalau individunya bahagia, pasti negaranya akan makmur. Memikirkan negara memang pusing. Lebih baik kita mendefinisikan kebahagiaan menurut masing-masing kita.

Bagiku kebahagiaan bisa sangat sederhana. Kesederhanaan ini akan membuat kita tidak pernah berhenti bersyukur.

Mendapat SMS sederhana Mama pagi ini yang berbunyi “Mama sayang kamu Nduk! Mama bangga punya anak kamu” membuat bumi seolah sejenak berhenti berputar.

Mendengar teriakan ponakan-ponakan “Tante Ophie gak pulang ke Malang tah?” mampu melonjakkan dopamine.

Mencium harum melati yang sering kupetik di depan gereja, lalu menyelipkannya di saku baju partner adalah kebahagiaan bagiku.

Kebahagiaan adalah ketika berhasil mencium pipi Vio, dengan sedikit tipuan.

Kebahagiaan adalah saat teduh kala mata terkatup, dan hati sedang luruh, lalu tiba-tiba kicauan burung menyeruak, matahari menyembul, dan tiupan angin lirih mengusap wajahku, membuat pagiku terasa terberkati.

Kebahagiaan adalah sebuah terapi 12 pelukan sehari. Nah yang ini masih dalam penelitian. Silahkan buktikan sendiri keampuhannya.

So define your happiness!

A year longer

Monday, November 17th, 2008

Sg

Back to Heaven's Light

Friday, November 14th, 2008

Once in a dream, I saw you telling me
That you’ve traveled in the dark
Just to find that little spot
How you’d settle for a light
In the vastness of the night
Then I saw some tears were coming from you eyes
As you said you’d found your Paradise
And I began to ask you : why you have to cry ?

And now, it’s so dreamlike I hear you telling me
It’s been such a perfect grace; it’s been such a perfect place
To be in My Heart at last, and have angels singing you a song
As you see the tears are falling from my eyes
When you say I am your Paradise
You smile and ask me: Why I have to cry ?

It’s a journey, you say, an illusion of a journey
Now you can’t see where it ends and where it starts
It’s our life and our love that you wish to have,
where you wish to be
In this tiny spark of memory, mortality
What’s left for me to do is to welcome you Home
Back to My Heart, back to Heaven’s light
Back to My Heart, and we’re never apart

And it’s time for me to say goodbye to those eyes
To let you go so sleeplike and hear you whisper;
Why we have to cry?

It’s a journey, you say, an illusion of a journey
Now you can’t see where it ends and where it starts
It’s our life and our love that you wish to have,
Where you wish to be
In this tiny spark of memory, mortality
What’s left for me to do is to welcome you Home
Back to My Heart, back to Heaven’s light
Back to My Heart, and we’re never apart
And we’re never apart

(He keeps singing me this song… in my whole life, I’ve searching for His Heaven’s Light. He is welcoming me home)

Bull & Bear diantara Elang & Burung Dara

Wednesday, November 12th, 2008

Aku yakin sering kali kita mendengar nama-nama hewan digunakan sebagai umpatan tak berguna, tanpa memikirkan perasaan hewan itu kala namanya dikaitkan dengan hal-hal yang buruk. Monyet, ular, tikus tak kan berdaya melawan nafsu manusia yang telah dipenuhi amarah. Sehingga merekapun fine-fine saja namanya dicaplok untuk hal-hal negatif.

Namun sebaliknya beberapa hewan diberi kehormatan menduduki tempat cukup berharga. “Dia tulus seperti merpati. Orang itu secerdik kancil. Dia sekuat macan.”

Namun terlepas dari itu semua, pernahkan mendengar nama-nama hewan yang digunakan dalam terms perekonomian untuk menggambarkan sifat-sifat suatu kebijakan atau kejadian?

Tak lebih dari Hawkish, Dovish, Bullish, Bearish and still many more yang dapat memenuhi perbendaharaan bahasa kita. Mari kita rinci sedikit saja, considering pembaca blog ini kebanyakan tidak mendalami perekonomian sebagai core subjectnya.

“Pagi ini, meskipun dibuka turun, IHSG sempat bullish sesaat, namun trend index saham regional yang bearish akhirnya berimbas pula pada pergerakan IHSG di sesi pagi.” atau

“Bursa regional bearish sebagai dampak anjlognya harga minyak. Hal ini berdampak pula pada Dollar Aussie yang bearish atas dollar. Investor terpaksa melakukan aksi jual terhadap aussie dan kembali mengoleksi dollar AS.”

Jaman dahulu, kala aku mencoba mengingat perbedaan bullish dan bearish, aku cukup mengingat tanduk Bull dan gerak cakaran si Bear. Tanduk bull, kalau kita runut dari bawah pasti mengarah ke ujung bagian atas. Sehingga kata bullish bernada positif atau menggambarkan sebuah peningkatan.

Sedangkan si Bear memiliki kecenderungan untuk mencakar dari atas ke bawah. Sehingga sifat ini menggambarkan trend negatif atau menunjukkan sebuah penurunan.

Ternyata itu tak hanya gambaran mudah bagiku untuk mengingat dua arti kata tersebut. Sesungguhnya sifat-sifat tubuh si Bull dan si Bear inilah yang memang akhirnya secara konvensional digunakan sebagai dasar untuk menggambarkan suatu pergerakan dalam perekonomian.

 

Dan Burung-burungpun ikut tersangkut.

Lain bullish lain pula hawkish. Sering kita dengar “Permyataan Bernanke yang hawkish telah menggerek Index Dow Jones ke arah positif” atau “Pernyataan pejabat the Fed yang dovish telah mengikis kemungkinan kenaikan suku bunga”.

Hawkish bernada firm, keras dan tegas, sedangkan dovish sebaliknya. Untuk menghafal dua kata ini, aku cukup mengingat Elang yang kokoh, kuat dan merpati yang lemah lembut, patuh dan tenang. Namun dalam term finance dovish lebih sering dikaitkan dengan pelonggaran kebijakan moneter. Dengan kata lain dovish sering dikaitkan dengan kebijakan suku bunga yang rendah, sehingga dapat mendorong pertumbuhan. Karena suku bunga yang rendah akan cenderung meningkatkan consumer borrowing yang pada akhirnya akan meningkatkan pengeluaran untuk konsumsi.

Apa sih inti tulisan iseng ini? Bahwa hewan telah berkontribusi banyak dalam perbendaharaan bahasa manusia. Hal lainnya, selalu ada cara mudah untuk belajar sesuatu. Masih ingat jaman TK dulu? Demi menghafal warna pelangi, kata “Mejikuhibiniu” sering kali kita umbar.

So, try to simplify things. You’ll be amazed how it helps you easily understand any subjects.


Selamat Jalan Pak Joko

Thursday, November 6th, 2008

Pak Gunawan’s Family & Pak Joko

Ketenangan Pulau Karimun Jawa seolah terusik kala tubuh tak bernyawa itu memasuki bibir pulau.

Aku yakin kemaren perairan Karimun Jawapun bergelora, tak kuasa menahan dukacita. Satu jiwa telah bergabung dalam damainya alam.

Dia mungkin tak ingat aku, tapi siapakah yang pernah singgah di pulau kecil itu yang tidak mengenal nama besar bapak pemilik Wisma Apung ini? Iya, Pak Joko Karimun Jawa. Seorang dengan tone jawa yang sangat kental, penuh senyum, sopan, rendah hati, sangat membantu, ntah apalagi yang bisa mendeskripsikan sosok yang sangat membumi dikalangan para backpacker Indonesia.

Dua hari lalu, dia tertidur selamanya, demi sebuah perjalanan panjang menuju kekekalan. Selamat jalan Pak Joko.

cat: Foto diatas kuambil dibawah teriknya siang, di atas papan-papan kayu penyanggah Wisma Apung. Pak Joko tampak di tengah-tengan keluarga Pak Gunawan. Aku yang masih dilanda euphoria ketenangan malam di Karimun Jawa telah lupa mengembalikan ISO speed ke posisi 100. Tapi ini satu-satunya kenangan yang terekam bersama Pak Joko.


Keindahan

Thursday, October 23rd, 2008

Too Early

Kakinya seolah ikut menapaki bukit itu bersama mereka.
Dia ikut merasakan keindahan yang mereka serap, yang mereka nikmati walau sesaat, lalu mereka simpan selamanya. Memang, tak perlu berpikir lama untuk mencerna sebuah keindahan. Mereka menerimanya, apa adanya. Karena ini adalah anugerah bagi mata mereka.

Menjenguk Komodo hingga Labuhan Bajo

Friday, October 10th, 2008

“Dapet salam dari Vara”

“Vara, sapa?”

“Ada dehhh”

Begitulah guyonan kami selama satu bulan ini.

Jangan membayangkan Vara sebagai gadis manis, yang tampak segar bak bidadari seusai mandi. Karena Vara yang bernama lengkap Varanus Komodoensis ini memiliki ekor dan bercakar panjang. Ganas, tak beriba, pemakan sesama, pun anaknya sendiri.

Kalau Visit Musi berarti, visit Vira. Visit Labuhan Bajo berarti visit Vara.

Tanggal 29 Sept, pagi-pagi sekali, pesawat Merpati membawa kami menuju Pulau Dewata. No direct flight from Jakarta to Labuhan Bajo. Dengan jadwal berangkat dari Bandara Cengkareng pukul 6.10 pagi, kami perkirakan, kami memiliki cukup waktu untuk hunting tiket ke Labuhan Bajo di Bandara Ngurah Rai. Tapi, pesan tiket on the last minute, sangat tidak disarankan.

Jadilah kami ke loket Trigana air, lalu diberi tiket Transnusa dan berakhir di pesawat Riau Air. Aneh memang, hanya demi menunjukkan aliansi nama-nama perusahaan saja penumpang terpaksa dibuat bingung. Tapi tak apalah, pesawat Fokker 50 yang membawa kami, cukup nyaman untuk ditumpangi selama kurang lebih 1 jam 40 menit. Kira-kira pukul setengah 12 mendaratlah kami di Bandara Komodo.

Euphoria yang sama kurasakan mendesak ubun-ubun, setiap kali kaki ini menapaki daerah baru.

Teringat pesan Paulo Coelho dalam bukunya Like the Flowing River yang menyebutkan :

“The best tour guide is someone who lives in the place, knows everything about it, is proud of his/her city, but doesn’t work for any agency …”

We finally found excellent companions. Pak Dus, yang bukan seorang guide dari agen perjalanan manapun namun bekerja disebuah bank lokal di Labuhan Bajo. Pak Magribi, yang pemilik perahu motor dan orang Bugis asli. Pak Herman, yang asisten Pak Magribi, yang orang asli Labuhan Bajo (Baca:Flores), dan mahir mendayung.

Tak banyak yang bisa dilakukan dihari pertama kedatangan kami, kecuali mencoba menghafal sudut-sudut kota Labuhan Bajo yang tak besar, serta menikmati sore dengan rintik hujan dan secangkir kopi flores yang terasa sangat nikmat di antara pemandangan menakjubkan dari atas penginapan milik Pak Adrian. Tak bisa kugambarkan secara detail bagaimana nikmatnya sore di atas penginapan seharga 450 ribu per malam itu.

Hari kedua, pukul 8 pagi, Pak Magribi telah menunggu kami di Pelabuhan Tilong. Itinerary kami kala itu cukup 3 pulau saja, Rinca, Kelor dan Bidadari. Pulau Komodo yang jaraknya tak dekat itu sengaja tidak kami masukan kedalam daftar, karena kami tak ingin bermalam di kapal, dan hasil surfing menunjukkan bahwa tak banyak yang beruntung mendapati Komodo di Pulau Komodo.

Decak kagum memenuhi ruang hatiku kala perahu melaju menuju Loh Buaya di Pulau Rinca, yang memakan waktu kurang lebih 2.5 jam dari Pelabuhan Tilong. Kala itu, disebuah kronologer di internet sempat kutuliskan “This is one of my finest days”.

Sesampainya di Pulau Rinca, persyaratan administrative segera dilakukan. Kami tak ingin kesiangan tentu saja, panasnya yang sangat terik akan membuat Komodo malas dan lebih memilih bersembunyi di bawah rindangnya pohon ketimbang menyambut kedatangan kami. Benar saja, dengan ditemani Pak Dakosta, seorang guide dari Taman Nasional Komodo, kami hanya bisa menyaksikan komodo-komodo tua yang bermalas-malasan di bawah rumah-rumah panggung yang diperuntukkan sebagai penginapan, kantor sekaligus tempat tinggal sementara bagi para staff di konservasi itu.

Trekking selama kurang lebih satu jam kami lakukan di Pulau yang beriklim kering dengan curah hujan rata-rata yang hanya 50-60 cm yang terjadi di bulan Desember – Maret itu. Tak ayal, bila padang rumput, pohon ara menjadi pemandangan khas pulau ini. Sepanjangan perjalanan, beberapa komodo betina tampak sabar menunggui telor-telornya yang tertanam dalam, kurang lebih 2 meter di bawah tanah. Bukan karena sayang ternyata, induk komodo ini tak ingin melepas kesempatan pertamanya untuk memangsa anak-anak-nya segera setelah telor-telor ini menetas. Karenanya, kegesitan komodo kecil untuk memanjat pohon menjadi keahlian yang dimiliki sejak lahir. Konon memasuki usia dewasa komodo akan kehilangan kemahirannya ini. Lalu bagaimana anak-anak komodo bisa menikmati kasih sayang induknya? Ntahlah, aku yang kala itu memikirkan bagaimana mungkin hal ini terjadi, telah lupa menanyakannya pada Pak Dakosta. Nature follows its course, tak perlu membantahnya lagi.

Setelah menjumpai kerbau dan beberapa komodo, Megapodius Reintwardtii sepasang Burung Gosong menampakkan dirinya. Burung yang hidupnya selalu berdua sehidup semati ini seolah memberikan pesan moral kepada kami untuk selalu setia pada pasangan.

Kata-kataku tak kan cukup menceritakan kisah-kisah yang terjadi di Pulau Rinca. Berikutnya, Pulau Kelor yang tak sempat kami kunjungi dan Pulau Bidadari yang dipenuhi wisatawan manacanegara yang bersnorkling dan berjemur.

Di hari kedua, acara kami sangatlah santai, setelah bersilaturahmi ke rumah Pak Magribi yang hari itu berlebaran, kami melaju ke Gua Batu Cermin. Gua yang dipenuhi stalagtit dan stalagmit itu berada tak jauh dari Labuhan Bajo. Fosil-fosil ikan dan siput menjadi saksi bagaimana wilayah yang berada diperbukitan Labuhan Bajo itu dulunya adalah dasar samudera.

Perjalanan menikmati Gua Batu Cermin tidak memakan waktu lama. Siangnya, Pak Magribi kembali mengantar kami dengan perahunya. Kali ini Pulau Kanawa menjadi pilihan kami. Disepanjang perjalanan, beberapa kelompok lumba-lumba tampak beraksi di depan kami. Mereka sedang exited, sebagaimana kami yang tiba-tiba dipenuhi senyuman kala melihat mereka berloncatan di atas laut yang tenang. What a wonderful day!

Kanawa, pulau kecil yang tampak seperti tikus dari kejauhan itu berpasir putih dan dikelilingi oleh batuan koral. Tempat yang pas untuk snorkeling. Partner tekking terpaksa berubah menjadi partner snorkeling untuk beberapa saat. Tak banyak ikan berwarna warni muncul di depan kami. Mungkin karena kami yang tak berani berada jauh-jauh dari bibir pantai. Kupikir gambar-gambar di Pulau Kanawa lebih merepresentasikan bagaimana perasaan kami saat itu, ketimbang kata-kata yang tak menentu ini.

Malam itu, dalam perjalanan pulang ke pelabuhan Tilong, kami berataplangit cerah. Sesekali kami menengadah ke atas. Jajaran bintang-bintang kecil nampak sangat jelas. Scorpius yang melintasi beberapa bulan itu mulai condong ke barat. Di Utara konstelasi Cygnus nampak indah. Aku tersenyum pada Vega yang cemerlang.

“Kita harus ke Labuhan Bajo lagi kalau ingin melihat Milky Way dengan jelas,” beberapa kali partner trekking bergumam.

Aku masih larut dalam kenikmatan malam. Ini adalah malam terakhir kami di Labuhan Bajo. Satu sorga lagi harus kutinggakan. Tak sengaja, dalam hati aku bergumam lirih, “Naomi, Kamu harus melihat dunia. Belajarlah banyak pada alam karena semesta ini adalah gurumu.”

 Note: Beberapa foto perjalanan ini bisa dilihat di webshots