Archive for the 'Life' Category
Kemaren, Hari Ini dan Hari Esok
Monday, January 4th, 2010Apa yang kamu bayangkan ketika kamu berada pada satu titik ekstrem, dimana rentang badanmu berada pada 3 ruang yang berbeda. Aku pernah merasakannya, berdiri, sambil memeluk satu tugu kecil di Vaals. Sedikit badanku berada di negeri kincir angin, sebagian lagi merengkuh Jerman dan satu kakiku menapak di negeri Belgia. Spesial? Tentu, tapi tak ada yang aneh, tubuh kita terbiasa berada pada ruang yang kita definisikan berbeda. Sama halnya ketika kami harus melangkahi garis imajiner yang memisahkan Jakarta dan Depok, setiap kami menengok rumah di daerah Kukusan.
Namun titik ekstrem yang satu ini sedikit berbeda. Bagaimana perasaanmu bila rentang badanmu berada dalam 2 waktu yang berbeda. Separoh tubuhmu berada pada “hari ini” dan sebagian lagi menjadi milik “hari sebelumnya”. Ini bukan ilusi, bukan pula ilustrasi.
Andai aku mampu, suatu saat nanti ingin kuhabiskan waktu pergantian tahun di Pulau Taveuni, pulau terbesar ketiga di Fiji. Satu-satunya daratan yang dihuni di muka bumi yang dilewati garis bujur 180 derajat. Tak ayal, Taveuni yang hanya seperduabelas dari luas Pulau Bali ini terpilih menjadi basis untuk penentuan “today” dan “yesterday”. Disinilah hari ini dan hari esok bertemu, atau sebaliknya hari ini atau hari kemaren, tergantung di titik mana kamu berdiri. Menarik bukan?
Andai penetapan international dateline di Pulau Taveuni memiliki makna yang sebenarnya, tak sekedar definisi yang masih terikat dengan konsep ruang, yang ditentukan secara konsensus untuk menandai hari ini dan hari kemaren di muka bumi, alangkah indahnya hidup kita. Andai aku tak bahagia hari ini, aku cukup melompat ke hari kemaren. Lalu kuubah skenario. Kuulang dan terus kuulang hingga perasaan yang tepat aku dapat.
Sayang, hari esok tak bisa diantisipasi dengan lompatan kaki dari satu titik ke titik lainnya di Pulau Taveuni. Waktu takkan menunggu. Dan hanya kitalah faktor penentu. Karenanya, hidup tak boleh ragu-ragu. Hal baru patut untuk dicoba dan hal lalu jangan sekedar berlalu. Karena ritual-ritual hidup akan terus mewarnai, membuat kita “connected” ke masa lampau yang telah mengaliri tubuh kita dengan darah.
Kopi “Sidomulyo” akan terus terkecap dan pandangan pada bintang tak kan menghilang, namun hal-hal baru siap ku jelang, dengan pasangan hati yang setia menemani. Aku akan terus berjalan sambil mengingat-ingat pesan pribadi “Be Satisfied, be grateful. For what you have. For the love you receive. And for God has given you” – sebagaimana pesan the Reb dalam buku Mitch Albom -Have a little faith”.
Selamat memulai tahun 2010.
Bach – Jesu, Joy of Man's Desiring
Monday, December 7th, 2009Komposisi ini membekas sangat dalam di hatiku. Komposisi favoritnya, sekaligus komposisi yang sengaja kupilih untuk menemani detik-detik saat aku melangkah menuju altar, memandang pada sepasang mata yang akan membawaku ke masa depan.
Komposisi ini telah mengiringi jiwaku yang tersenyum, yang tersadar, bahwa pada detik itu, untuk pertama kali dalam hidupku, aku bersyukur atas SEMUA yang pernah terjadi pada diriku.
Aku memberkati satu hari di bulan september dua tahun silam, kala sebuah surat elektronik masuk di inboxku.
Aku memberkati satu pagi nan cerah di bulan November, kala untuk pertama kalinya aku melihat masa depanku. Tak sedikitpun aku menyesali pertemuan-pertemuan yang tertunda sebelumnya, akibat kegundahan hatiku dan bayangan buruk ketakutanku yang tak berarti. Karena aku yakin rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan.
Dan Dia telah memberikan yang TERBAIK dalam hidupku.
Sewa Kebaya Vs Sewa Mobil
Thursday, September 17th, 2009Membaca comment dari Sdr. Gregorius aka Tommy di tulisanku ini, mengingatkanku pada sebuah talk show di radio yang ku dengarkan sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Bahwa dua buah simpulan yang saling bertolak belakang bisa saja keduanya benar, sepanjang didukung dengan asumsi yang tepat. Demikian pula, mencari data-data yang men-support simpulan kita akan sama mudahnya dengan mencari data-data untuk menolak simpulan tersebut.
Sepertinya paragraph di atas tidak banyak berkaitan dengan paragraf-paragraf di bawah ini, kecuali satu hal, bahwa menganalisa kegiatan sehari-hari dari kacamata ekonomi ternyata memang menarik, setidaknya bagiku. Thanks to Sdr. Gregorius yang membuatku kembali membaca tulisanku sendiri dan memberiku ide untuk menulis dengan tema serupa.
Beberapa saat lalu ketika Adek di Jakarta bercerita tentang saudaranya yang baru membeli mobil seharga ratusan juta, berniat menyewakan mobil tersebut. Aku langsung berpendapat bahwa harga sewa sebesar 400 ribu per hari cukup mahal.
Sementara itu, seminggu sebelumnya, aku dan saudara partner mengunjungi tempat penyewaan baju untuk sekedar mencontoh model kebaya terkini yang pas untuk kami kenakan. Ketika mendengar harga sewa yang hanya sebesar 1 juta, kami sepakat untuk menilai tempat penyewaan baju ini cukup murah.
Tanpa menggunakan kacamata ekonomi, dua pendapat di atas sepertinya sangatlah aneh. Bagaimana mungkin sebuah mobil yang harganya di atas seratus juta hanya dihargai kurang dari 400 ribu untuk sewa satu hari. Sedangkan sebuah kebaya yang seharga 8 juta (bahan 5 juta + biaya jahit & payet 3 juta) dihargai minimal satu juta untuk satu kali sewa.
Ok lets start analyzing. Please comment once you come up with another analysis and assumption.
Mobil baru seharga 125 juta, paling tidak dapat dimanfaatkan minimal selama 2 tahun untuk penyewaan. Setelah itu bisa dijual dengan harga, paling tidak, 75% dari harga perolehan. Sedangkan untuk baju kebaya yang seharga 8 juta, paling tidak bisa dimanfaatkan maksimum hanya 2 tahun (ingat, model baju cepat sekali berubah, semakin lama model kebaya semakin tidak laku kebaya tersebut). Setelah masa penyewaan itu, very unlikely kita bisa menjual kembali kebaya tersebut dengan separoh harga perolehan, kecuali di donorkan untuk charity atau dijual dengan harga yang sangat murah. Jadi, cukup wajar bagi tempat penyewaan kebaya untuk men-charge biaya sewa yang cukup tinggi.
Penyewaan kebaya perlu menyediakan setidaknya 5 model kebaya untuk menyesuaikan dengan selera satu customer. Itu satu customer ya, bagaimana dengan beberapa customer yang memiliki selera beragam? Dengan satu koleksi kebaya, bisa dipastikan customer akan enggan datang. Artinya biaya investasinya akan lebih mahal dengan biaya perawatan yang lebih mahal pula. Maka biaya sewa yang lebih bahal cukup layak dikenakan.
Alasan lain? Terdapat additional cost setiap ada customer yang akan menyewa kebaya. Setidaknya biaya jahit agar kebaya yang disewa pas di badan customer baru. Ingat tidak semua customer memiliki ukuran badan yang sama. So no wonder biaya sewa kebaya lebih mahal dari pada sewa mobil.
Tapi biaya perawatan mobil kan lebih mahal? Benar, tapi apakah biaya perawatan tersebut perlu dikeluarkan setiap ada customer yang akan menyewa? Well, kecuali jika mobil yang akan disewa customer, ditabrak motor yang rem-nya blong, maka biaya perawatan sebelum di sewa customer menjadi cukup tinggi. Ahh … ini hanya terjadi di dunia Posma.
Kesempatan untuk menyewa mobil bisa datang kapan saja. Sedangkan kesempatan untuk menyewa kebaya, tidak datang setiap saat. At least pada saat musim wisuda dan musim kawin. Bagi wisudawan, atau setidaknya bagi calon pengantin kesempatan ini tidak datang dua kali. So they’re willing to pay even though it’s a bit pricey. Untuk sesuatu yang terjadi once in your life time, masa’ ya engga’ dibuat special. Regardless the purchasing power we have, the providers are able to see the scarcity event entailed. Thus charging higher price is well accepted.
Anyway ada analisa lain? Asumsi apapun diterima, sepanjang masuk akal.
Suatu Hari di Wisma Giri
Tuesday, September 8th, 2009Selamat Ulang Tahun
Wednesday, August 19th, 2009“….
Jangan berjalan, Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya
Semoga dia masih ada menantiku
Mundurlah, wahai Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang tertahan tuk kuucapkan
Yang harusnya tiba tepat waktunya
Dan rasa cinta yang s’lalu membara
Untuk dia yang terjaga
Menantiku.”
Mata terjaga, pembicaraan ringan menyelingi kepala yang berat, mendamba tuk segera terlelap. Tapi aku tidak ingin membiarkan saja waktu itu berlalu. Beberapa detik lagi. Kulihat dia mulai lelah, aku resah, tiba-tiba jam dua belas sudah. Lirih tergumam, “Selamat Ulang Tahun … Sigaring Nyawaku.” Hidup baru telah dimulai sejak hari ini …
Canto de Andar
Wednesday, July 1st, 2009Dalam perjalananku meretas waktu, menelusuri jejak Omar Akram di internet, one of my fave musicians, telingaku menangkap musik-musik indah yang serasa terakrabi semasa hati sering menyendiri. Sebuah musik penawar lara hati.
Demikian lirik lagu ini dalam Galician language, bahasa yang digunakan di Galicia, sebuah komunitas yang tak ingin menyebut dirinya sebagai bagian dari bangsa Spanyol namun terletak di barat laut negara Spanyol. Bahasa ini lebih mirip dengan bahasa Portugis :
Amence paseniño nas terras do solpor
As brétemas esváense coas raiolas do sol
Meu amor, meu amor, imos cara o maior
Miña amada, meu ben, imos polas terras do alén
Acariña o silencio e escoita o corazón
Que moitos dos teus soños latexan ao seu son
Meu amor, meu amor, imos cara o maior
Miña amada, meu ben, imos polas terras do alén
É tempo de camiño andar e de non esquecer
Que o futuro que ha de vir é o que has de facer
Meu amor, meu amor, imos cara o maior
Miña amada, meu ben, imos polas terras do alén
E o sol vai silandeiro deitándose no mare
Facéndonos pequenos con tanta inmensidade
Meu amor, meu amor, imos cara o maior
Miña amada, meu ben, imos polas terras do alén
Aku tidak menemukan terjemahan yang pas, disamping itu kamus online bahasa Galicia, belum kutemukan. Namun di internet , kutemukan sedikit penggambaran musik indah itu yang diterjemahkan dalam kata-kata :
It is dawning slowly in the lands of the sunset
the mist fade with the first sun rays
My love, my love, we go to face the age
My beloved, my sweetheart we’re going through the lands of Alen.
Caress the silence and listen to your heart
Because most of your dreams beat at the same song
And it’s time to go across the way
And not to forget the time that will come and what you have to do.
And the sun goes silent, delighting in the sea,
Making us small with so much immensity
Rindu
Tuesday, March 17th, 2009Sebuah PR dari Anis
Wednesday, February 18th, 20093 hari yang lalu Anis meninggalkan PR untukku. 25 fakta tentang aku rasanya terlalu banyak Nis, jadi perlu kutawar menjadi 10 saja yang mungkin tak banyak yang tahu, pun teman dekatku. So this is the 10 little known facts about me:
- Lebih seneng ngeliatin cewek cakep dari pada cowok ganteng … mmm don’t get me wrong ya
aku masih normal koq. Aku suka Luna Maya dan Meg Ryan - Aku penggemar HC Andersen, dan Grimm brothers. Efeknya, aku nonton film Ever After sampe lebih dari 10 kali, meskipun film yang kusuka adalah English Patient, Before Sun(set/rise), and Eterrnal Sunshine of The Spotless Mind. Terobsesi untuk mengunjungi kastil-kastil di eropa. Paling seneng dongenin bocah-bocah. Suka menirukan percakapan dari sebuah cerita, “Ampun-ampun tanganku kan hanya dua. … “(Cinderella) “Kukuruyukkk… kepada Matahari Pagi datanglah, datanglah, sinarilah bumi ini Matahari-Matahari… Kukuruyukkk…(Sanggar Cerita – Istana Rimba Hijau). “Pipit..Pipit” “Ohh.. Pak Bul-bul yang datang..” (Sanggar Cerita – Pipit Mencari Bunda) … walahh banyak banget kalo mau ditulis semua.
- Akhir-akhir ini, otw pulang, sering ngelewatin bencong-bencong nongkrong di pinggiran Kuningan. Pengen kenalan dengan salah satu bencong itu, pengen ambil fotonya trus bikin cerita.
- Sering ngajak ngobrol kucing yang lagi lewat di depan pintu rumah. Kadang-kadang mereka yang memulai percakapannya. Tapi tak jarang mereka hanya lewat dan tersenyum.
- Pernah nyobain buah-buah aneh semisal jospiros malaboreco, atau buah sempur. Suka metik dedaunan trus menciumnya atau mencoba mengunyahnya. Ini efek tinggal di dalam komplek Kebun Raya selama beberapa tahun. Pernah keracunan karena memakan biji dari Pohon Hura Crepitans – tanaman berduri, endemik dari Amerika tengah dan Selatan. This has made me stop being nggragas.
- Dari semua kursus yang paling ingin diikuti, kursus menjahit yang paling sering muncul di kepala. Aku pingin bisa bikin baju sendiri.
- Kalo lagi sedih sering tiba-tiba meluk gitar or Alkitab. Nah susahnya kalo lagi sedih trus gak ada gitar or Alkitab, gak ada yg bisa dipeluk.
- Punya baby sitter dirumah yang setiap jam 6 pagi nyiapin kopi dan oatmeal, bikinin susu kalo malem, dan mijet tiap sabtu pagi. Tapi dia gak pernah mandiin aku.
- Jarang mandi kalo nyampe rumah di atas jam 10 malem. oppst.
- Mainan waktu kecil: gundu, yoyo, umbulan (apa ya bahasa indonesianya) and sepak bola. Pernah berantem sama anak cowok pas kelas 4 SD. Dan jarang mau ngalah sama mbak, adeknya or temen-temennya. Kecilnya cerewet dan suka teriak-teriak, tapi gedenya pendiem, baik hati, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, gemar melakukan kegiatan kemanusiaan, berani membela kebenaran dan keadilan. *halahhh …ini mah butir-butir dari sila kedua Pancasila.
Kupikir Vira akan menuliskan fakta-fakta tentang dirinya, atau Mbak Enggar mungkin, atau Mas Nova (kembaranku)?
Analisa Warung Kopi
Thursday, February 5th, 2009Sebagai penikmat kopi, akankah kamu membayar berapapun harga kopi yang kamu sukai? Mmm rasanya tidak juga buat mereka yang price sensitive. Lebih baik ngemut permen kopi, kalau memang harga kopinya kemahalan. Taukah kamu bahwa demi meraup uang, warung-warung kopi, semisal S’bux, Gloria Jeans, Costa Coffee, bahkan Kopi Dua Cangkir di Mall Taman Angrek, akan memanfaatkan berbagai cara untuk menangkap the so-called lavish customers-mereka yang less sensitive terhadap harga- lalu mengeksploitasinya. Berapapun harga kopi yang harus mereka bayar, mereka tidak akan peduli. Mereka inilah mesin uang buat para penjual kopi. Trik yang cukup wajar, sebenarnya. Sebuah perusahaan yang mencoba meningkatkan profit dengan memaksimumkan value dari scarcity power yang mereka miliki akan lebih tertarik pada customer yang willing to pay, bukan yang afford to pay. Lalu bagaimana sebuah coffee shop mengidentifikasi jenis customer yang willing to pay ini? melalui price-targeting strategy tentu saja.
“Unique target”, bahwa setiap customer itu unik sehingga setiap customer akan dikenakan harga yang berbeda-beda untuk satu produk yang sama. Misalnya, di sebuah café, sebagai penggemar susu, Vira akan membayar mahal untuk secangkir cappuccino, tapi bagi kami yang penggemar kopi hitam, secangkir cappuccino bisa lebih murah dari harga yang harus Vira bayarkan. Tak ada harga standard untuk segelas cappuccino. Sekali saja, warung itu tahu preferensi kita, mereka akan mengeksploitasinya. Metode ini sedikit kurang manusiawi memang, sekaligus susah untuk diterapkan. Seorang barista takkan mewawancaraimu panjang lebar hanya untuk memastikan preferensimu atas jenis kopi. Bisa jadi aku menjatuhkan pilihanku pada secangkir cappuccino karena harganya yang jauh lebih murah dari pada kopi htam. Tentu saja dengan strategi unique target, mereka gagal mengidentifikasiku sebagai penggemar kopi hitam. Lavish customer gagal terjaring.
Meskipun penerapannya tidak mudah, dan sangatlah tidak popular, toh ada juga yang mencobanya. Bukan coffee shop sih. Masih ingat kasusnya online shop Amazon pada sekitar tahun 2000? Ya, mereka mengeksploitasi preferensi customer dengan mengenakan harga yang lebih tinggi untuk tipikal buku yang mereka beli. Aku, misalnya, yang penggemar Susanna Tamaro, akan membayar dengan harga yang lebih mahal untuk buku yang sama yang dibeli oleh Anis. Bagaimana caranya? Yup sangat mudah, cookies yang tersimpan di komputer kita memudahkan Amazon untuk melacak buku-buku yang pernah kita pesan secara online. Praktik yang licik. Amanzon, tentu saja, harus membayar mahal atas kejadian ini. Oh ya, kalau ada yang tahu sebuah café menerapkan price-targeting strategy seperti ini, kasih tau ya? I wont visit the coffee shop.
Anehnya, kita akan fine-fine saja kalau coffee shop tersebut menerapkan “group target”. Seringkali meskipun kita sadar bahwa kita sedang di-abused melalui pengenaan tariff yang lebih mahal, dalam beberapa kasus, kita tidak protes. Orang dewasa mana yang akan protes kalau harus membayar tariff angkutan lebih mahal dibandingkan dengan tariff anak-anak atau pelajar? Atau warga asing mana yang akan protes ketika mereka harus membayar jauh lebih mahal ketimbang WNI kala memasuki area Candi Borobudur atau Prambanan?
Kembali ke coffee. Coffee bar di daerah stasiun Waterloo-London bernama The AMT Coffee menawarkan tariff yang lebih murah untuk para pekerja di sekitaran stand kopi tersebut. Tentu saja para commuter yang memanfaatkan underground dan bekerja jauh dari stasiun Waterloo mau tak mau harus membayar lebih mahal. Mahal, inilah harga dari being lavish. Commuters yang melewati Waterloo, for the sake of convenience, takkan keluar dari stasiun demi mencari segelas kopi.Bagaimana warung kopi di Jakarta? aku tak punya ide. Mungkin bisa ditanyakan kepada Bapak Kun sebagai loyal customer-nya S’bux, apakah dia mendapat diskon-diskon tertentu?
Nah ini dia cara yang cukup cerdik dan lumrah untuk diterapkan. “Self-incrimination strategy”. Mereka sangat berhati-hati dalam menerapkan price-targeting ini, sehingga seringkali tidak mudah bagi kita untuk menidentifikasi apakah sebuah warung kopi menerapkan strategi ini atau simply transferring the cost. Demi menangkap lavish customer, mereka biasanya menjual varian kopi yang tak jauh berbeda satu sama lain. Misalnya large or small cappuccino, dengan atau tanpa whipped cream. Tentu ada tambahah biaya dengan tambahan feature kopi. Hot Chocolate bisa jadi hanya seharga 25 ribu rupiah, namun ketika pilihan itu jatuh pada White chocolate harganya bisa jadi 35 ribu, padahal dengan ingredient yang hampir sama biaya untuk membuat dua jenis minuman ini seharusnya tak jauh berbeda. Inilah Self-incrimination strategy.
Sebagai customer, memang tak mudah untuk mengetahuinya. Mari kita coba memikirkan satu hal yang cukup sederhana. Untuk secangkir white coffee di Café Oh La La kita harus merogoh kocek sebesar 20 ribu, tidak peduli apakah kita meminumnya di café atau take it away. Kita tentu sudah menduga bahwa penetapan harga 20 ribu ini telah memperhitungkan gaji barista, pun biaya ruangan café. Jadi sederhananya, mereka yang memesan take away coffee, mestinya tak perlu membayar cost untuk space. Toh nyatanya tidak juga, kita tetap harus membayar 20 ribu. Charging untuk space café sangatlah tidak wajar. So Café Oh La La is implementing “Self-incrimination strategy”, karena mereka bisa mengambil keuntungan lebih dari mereka yang memesan take away coffee.
Kalau kamu menemukan warung kopi yang membedakan antara harga kopi yang diminum di tempat atau take away, mereka hanya transferring cost kepada customernya.
Beberapa warung kopi kegemaran kami menerapkan strategi ini, Kopi Dua Cangkir di Mall Taman Angrek misalnya. Ada dua jenis kopi yang kupikir identical ditawarkan di warung ini. Dengan penamaan yang berbeda mereka mematok harga Rp 10 ribu untuk segelas Kopi Toraja dan Rp 16 ribu untuk Kopi Macho yang berbahan dasar sama. Kami sempat dibuat bingung ketika dua kopi tersebut sampai ke meja kami. Kami kesulitan untuk membedakan mana Kopi Toraja dan mana Kopi Macho. Rasanya tak jauh berbeda. Aku segera teringat self-incrimination strategy ini. Yup, mereka cukup smart.
Masih banyak yang bisa dieksplore dari warung kopi kesukaan kami lainnya, Bakoel Koffie, Kopi Poenam atau Blumchen café, tapi untuk menulisnya aku perlu asupan kopi saat ini. Meanwhile… bagaimana dengan warung kopi kesukaanmu?



