Archive for the 'Life' Category


Cinta dalam seoles balsem

Wednesday, January 21st, 2009

“Cinta berhubungan langsung dengan rasa”, Ibu Tesarini mulai berkisah.

Kalau diartikan secara harafiah, balsem – menurut Ibu Tesarini- berarti cinta, karena olesannya akan menyisakan rasa. Rasa panas di kulit, lebih tepatnya.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menceritakan kisah Ibu Tesarini, seorang wanita tegar yang digambarkan Arswendo dalam buku “Kau Memanggilku Malaikat”. Bahkan tulisan Arswendo ini, tak berkaitan sedikitpun dengan balsem. Anis telah menuliskannya dengan sangat menarik.

Lalu apa kaitannya antara balsem dan cinta? Mengapa dalam setiap olesannya, serasa cinta terkandung? Kalau memang pengertian secara literal bahwa “balsem menimbulkan rasa dan rasa adalah cinta” adalah pengertian yang sangat tak masuk akal dan sembrono, bagaimana kita mengaitkan setiap olesan balsem dengan cinta?

Kisahnya demikian …

Ketika kamu hendak menjalani aktifitas fisik selama beberapa hari, risiko keseleo atau pegal-pegal pastilah masuk dalam perhitunganmu. Kalau kamu termasuk dalam golongan orang yang mengikuti “common sense”, risiko itu akan kamu analisa. Kamu akan mulai memikirkan, seberapa besar kemungkinan kecelakaan akan terjadi, apa saja yang harus dilakukan guna meminimalisir damaging efeknya andai kecelakaan itu benar-benar terjadi.

Bisa saja “ikut life insurance” secara serta merta muncul dalam benakmu. Tapi rasanya koq terlalu berlebihan ya. Apalagi sampai menulis surat wasiat segala, walahh sungguh merepotkan.

“Selalu berhati-hati dalam melakukan aktifitas fisik, gunakan perhitungan, sesuaikan dengan kemampuan,” serasa sebuah petuah klasik yang membosankan yang terlontar dari seorang ibu, bapak, kakek, nenek, istri, suami ataupun kekasih pada si “significant other”-nya yang akan pamit pergi. Aku yakin diantara kita acapkali menjawabnya dalam hati demikian,”Ya, iyalah masa ya iya dong” atau “Duhh, basi banget deh”

Cara lain yang cukup biasa dan masuk di akal, adalah dengan membawa balsem. Ini adalah aktifitas hedging untuk mengurangi risiko terburuk. Iya membawa balsem bisa dikategorikan dalam aktifitas hedging, pun dalam konteks finance. Dengan selekas mungkin mengoleskan balsem, dapat mengurangi risiko semakin parahnya keseleo. Semakin parah keseleo semakin time consuming untuk pemulihannya, berarti semakin besar pula biaya perawatannya. So, membawa balsem dapat mengurangi beban biaya. Cukup masuk akal bukan?

Tapi apa jadinya kalau ada seseorang telah memikirkan semua kemungkinan terburuk yang dapat terjadi, yang baginya balsem merk bla-bla-bla adalah remedi terampuh, dan esok aktifitas fisik telah menantinya, namun balsem miliknya yang konon ampuh itu telah dia relakan begitu saja, lepas dari tangannya?

Balsem itu ada bersamaku saat ini di Singapura, dan beberapa jam lagi balsem itu akan segera berada di Bangkok untuk beberapa hari. Setiap olesannya, di siku tangan kananku yang bengkak gara-gara kecerobohanku semalam, akan membuatku teringat padanya.

“Rasa yang saya katakan ini bukan rasa pahit, rasa manis, rasa getir, rasa pedas, rasa enak… melainkan rasa, perasaan, atau bathin”, Ibu Tesarini melanjutkan kisahnya.

Balsem adalah cinta, karena dia telah menguatkan simpul-simpul yang berkaitan dengan rasa. Bukan rasa panas, pun pedas, yang terasa di kulit, tapi rasa bathin yang berhubungan langsung dengan ketulusan, tanpa pamrih, dan tanpa menuntut imbalan.

Thanks for showing me that love is simple. Holong do rohaku …

Sugeng Warsa Enggal

Tuesday, January 6th, 2009

Sebagai penganut kalender gregorian, moment enam hari lalu adalah permulaan. Spesial? Bagiku, iya. Tapi ketika kami berkeliling Jakarta pada tanggal 1 Januari, banyak kami lihat manusia-manusia tampak menjalani hidup seperti hari-hari sebelumnya.

Malam tahun baru kemaren adekku dan keluarganya menghabiskan pergantian tahun di Kuta Bali. “Iya ada pesta kembang api disini, tapi yang nyalain para pengunjungnya” komentarnya sesaat setelah tahun 2008 kami tinggalkan.

“Fireworks di Sydney bagus loh”, kata partner yang belum pernah sekalipun merayakan tahun baru disana. Kalau melihat foto-foto di internet, yup akupun setuju, it could be one of the best cities for new year’s eve celebration.

Tahun lalu kami menghabiskan malam pergantian tahun di Marina Bay, Sg. Demi fireworks kami rela berdesak-desakkan. Tahun ini, fireworks cukup kami nikmati dari atas loteng rumah. Kulihat beberapa orang menengadah dari atas Masjid di depan rumah. Ahh andai aku bisa naik ke atas Masjid itu. Si ‘Anak Bungsu’ dari keluarga partner sibuk di halaman  rumah menyaksikan langit Jakarta yang sedikit berawan segera dihiasi taburan cahaya cerah bertubi-tubi. Sesaat tapi indah.

Tahun baru identik dengan kembang api? Tidak selalu. Seorang teman mengirimkan pesan dari sebuah pulau kecil di Kalimantan Timur. “Selamat tahun baru ya. Tadi malam aku menyaksikan gugusan bintang di Pulau Derawan …” 

Seorang sahabat di Bogor berkisah,” Buat persiapan pergantian tahun kami semua udah beli terompet, tapi sayang disayang terompet hanya menggantung saja. Anak-anak hanya kuat sampai jam 11 malam walaupun pas beli terompet udah yakin pasti bisa bertahan sampai pergantian tahun buat tiup terompet” Akhirnya temankupun menghabiskan malam itu hanya berdua dengan suaminya. Malam yang indah.

Temanku yang lain terbaring lemas, sakit kuning yang dideritanya memaksanya untuk tidak beranjak dari tempat tidur. Iya, hidup kadang tidak adil.

Titik di Malang mengirimkan pesan singkat “Merry X’mas and Happy New Year”. Ntahlah apa yang sedang berkecamuk di kepalanya. Anyway, happy new year too, Tik. 

Aku sendiri? Tak ada pesta meriah, tak ada desakan dari lautan manusia, tak ada tiupan terompet, tak ada segelas champagne dan tak ada teriakan-teriakan yang membahana. Tahun ini kami cukup berdoa bersama. Berharap semua keindahan, semua kebaikan dan kedamaian boleh di anugerahkan pada semua, manusia di bumi. Tapi, satu hal yang selalu aku percaya, Dia tidak menjanjikan langit selalu biru dan rumput yang selalu hijau. Penderitaan dan  air mata akan selalu menyertai. Tatkala partner memimpin doa ditengah keluarga kecil itu, dalam hati aku menyisipkan kata-kata, “Kiranya Engkau memberi masing-masing kami kekuatan dan ketabahan serta perisai kebijaksanaan dalam menjalani hari-hari kami.”

Selamat tahun baru. Berkutat dimasa lalu adalah sia-sia, kita tak kan pernah mampu mengubah masa itu. Terlalu fokus ke masa yang akan datang hanya membuat kita meradang, ketakutan akan ketidakpastian akan segera menjelang. Jadi, selamat menjalani hari ini. Let’s live in the moment.

Gabe masihol rohaku

Tuesday, December 23rd, 2008

Define Your Happiness

Monday, December 22nd, 2008

Sebuah sesi menarik dengan pembicara Andy F Noya terjadi dua minggu lalu dibilangan Cikini. Bertema “Lentera Jiwa”, Andy F Noya berkisah tentang bagaimana menjadi bahagia dalam hidup. Beliau didatangkan untuk sharing sekaligus menjawab beragamnya intepretasi atas tulisan beliau di sini, karena banyak orang mengklaim bahwa tulisan ini telah membuat beberapa perusahaan kehilangan pegawai-pegawai terbaiknya, yang mengikuti kata hati menekuni profesi barunya demi menjadi bahagia.

Setiap orang ingin menjadi bahagia. Aku, kamu, mereka …

Setiap orang memiliki caranya untuk menjadi bahagia. Aku, kamu, mereka …

Sebuah studi menyebutkan 50% sumber kebahagiaan adalah faktor genetik. Studi atas dua orang kembar identik menunjukkan adanya korelasi, sebesar 50%, atas hal-hal yang membuat mereka bahagia, meskipun masing-masing dibesarkan ditempat yang berbeda. 10% faktor berasal dari status sosial ekonomi seseorang, kondisi perkawinan, kesehatan serta faktor-faktor lainnya. Sedangkan 40% sisanya merupakan akibat dari kegiatan-kegiatan yang sengaja dilakukan untuk menjadi bahagia, menekuni hobby misalnya.

Bahagia, sebuah kata utopia yang gampang diucapkan tapi susah diukur secara kuantitatif. Koq? Coba kita bayangkan sebuah alat pengukur kebahagiaan yang setiap moment bahagia, alat ini akan menunjuk pada satu angka tertentu. Sangat mustahil bukan? Mungkin alat-alat ini harus menempel di kepala kita sehingga alat ini mampu mendeteksi aktifitas kelenjar pineal, dan tingkat hormon endophine yang dihasilkan. Terlalu berlebihan :) .

Mengukur bahagia secara kuantitatif sebenarnya bukan hal baru bagi negara Bhutan, sebuah negara yang berbatasan langsung dengan RRC dan India. Gross National Happiness merupakan upaya pengukuran kualitas hidup, yang menunjukkan komitmen Jigme Singye Wangchuck – Raja Bhutan periode 1972-2006 yang menginisiasi indikator ini – untuk membangun perekonomian dengan tetap berlandaskan kultur Bhutan yang sangat kental dengan nilai-nilai agama Buddha. Bahwa pembangunan manusia yang sesungguhnya adalah tatkala pembangunan material pun spiritual terjadi secara beriringan dan saling melengkapi. Pengukurannya memang tidak hanya bergantung pada angka-angka pengeluaran pemerintah, konsumsi, gross investasi, pun ekspor dan impor. Tak lebih dari 7 ukuran yang disebut sebagai socioeconomic development matriks, yang meliputi antara lain economic wellness, environmental wellness, workplace wellness, political wellness hingga mental wellness. Matriks yang terakhir (mental wellness) dinilai dengan ukuran statistik atas penggunaan antidepressants, pun kenaikan atau penurunan tingkat pasien psikoterapi, Menarik bukan?

Perdebatanpun tiada pernah berhenti untuk mempertanyakan ”indikator mana yang lebih pas?” GDP seringkali dituduh menjadi ukuran yang kurang manusiawi untuk menilai tingkat kemakmuran, karena kemakmuran tidak sekedar angka-angka. Bukankah kemakmuran berkorelasi positif dengan kebahagiaan masyarakat dan kebahagiaan itu tidak semata-mata C+I+G+(X-M)? apakah kesehatan, mental pun jasmani, illiteracy tak layak menjadi suatu parameter? Sebenarnya karena alasan inilah, United Nation lebih mempromosikan human development index ketimbang memperbandingkan angka-angka GDP untuk menilai tingkat kemakmuran negara-negara dunia.

Bagaimana kalau Indonesia menggunakan ukuran kebahagiaan untuk menilai kemakmuran masyarakatnya? Mungkin akan lebih banyak lagi dana untuk pendidikan kesehatan dan social safety net lainnya.

Pusing kan? Yang jelas, kalau individunya bahagia, pasti negaranya akan makmur. Memikirkan negara memang pusing. Lebih baik kita mendefinisikan kebahagiaan menurut masing-masing kita.

Bagiku kebahagiaan bisa sangat sederhana. Kesederhanaan ini akan membuat kita tidak pernah berhenti bersyukur.

Mendapat SMS sederhana Mama pagi ini yang berbunyi “Mama sayang kamu Nduk! Mama bangga punya anak kamu” membuat bumi seolah sejenak berhenti berputar.

Mendengar teriakan ponakan-ponakan “Tante Ophie gak pulang ke Malang tah?” mampu melonjakkan dopamine.

Mencium harum melati yang sering kupetik di depan gereja, lalu menyelipkannya di saku baju partner adalah kebahagiaan bagiku.

Kebahagiaan adalah ketika berhasil mencium pipi Vio, dengan sedikit tipuan.

Kebahagiaan adalah saat teduh kala mata terkatup, dan hati sedang luruh, lalu tiba-tiba kicauan burung menyeruak, matahari menyembul, dan tiupan angin lirih mengusap wajahku, membuat pagiku terasa terberkati.

Kebahagiaan adalah sebuah terapi 12 pelukan sehari. Nah yang ini masih dalam penelitian. Silahkan buktikan sendiri keampuhannya.

So define your happiness!

Sundial Dreams

Monday, December 22nd, 2008

Untuk Naomi yang sedang bermain-main di halaman imajinasi papa dan mamanya.

Voor De Jarige ~ Stop De Tijd

Tuesday, November 18th, 2008


Bedankt voor een klein cadeautje!
Thanks ya for all of you, untuk smuanya, pikiran dan doa untukku. Andai daku mampu menghentikan waktu :) .

A year longer

Monday, November 17th, 2008

Sg

Back to Heaven's Light

Friday, November 14th, 2008

Once in a dream, I saw you telling me
That you’ve traveled in the dark
Just to find that little spot
How you’d settle for a light
In the vastness of the night
Then I saw some tears were coming from you eyes
As you said you’d found your Paradise
And I began to ask you : why you have to cry ?

And now, it’s so dreamlike I hear you telling me
It’s been such a perfect grace; it’s been such a perfect place
To be in My Heart at last, and have angels singing you a song
As you see the tears are falling from my eyes
When you say I am your Paradise
You smile and ask me: Why I have to cry ?

It’s a journey, you say, an illusion of a journey
Now you can’t see where it ends and where it starts
It’s our life and our love that you wish to have,
where you wish to be
In this tiny spark of memory, mortality
What’s left for me to do is to welcome you Home
Back to My Heart, back to Heaven’s light
Back to My Heart, and we’re never apart

And it’s time for me to say goodbye to those eyes
To let you go so sleeplike and hear you whisper;
Why we have to cry?

It’s a journey, you say, an illusion of a journey
Now you can’t see where it ends and where it starts
It’s our life and our love that you wish to have,
Where you wish to be
In this tiny spark of memory, mortality
What’s left for me to do is to welcome you Home
Back to My Heart, back to Heaven’s light
Back to My Heart, and we’re never apart
And we’re never apart

(He keeps singing me this song… in my whole life, I’ve searching for His Heaven’s Light. He is welcoming me home)

Rectoverso – Cerminan Hati seorang Dee

Monday, October 20th, 2008

Dewi Lestari. Nama yang indah, seindah kata-kata yang dia rangkai menjadi satu lirik lagu “Satu Bintang di Langit Kelam”. Lagu yang tak lekang waktu mencuri hatiku.

Di satu toko buku itu, dia mengingatkanku. Kuambillah Rectoverso.

Kupikir Rectoverso akan melanjutkan luapan dopamine yang mungkin tak sadar dia ciptakan untukku. Namun sebaliknya. Rectoverso merengut luapan itu. Jadilah, Rectoverso mengganggu ketenangan batin yang telah dia hadirkan akhir-akhir ini, ah tidak, sudah 10 bulan ini.

Buku dari uraian 11 kisah, dengan judul yang sama persis dengan judul lagu-lagu di album terbaru Dewi itu, seolah mengguyur kembali kisah-kisah yang sengaja kubuat kering, supaya dengan mudah angin menerbangkannya. Sudah banyak bifurkasi yang telah kulewati dengan sangat hati-hati.

Jadi buku ini adalah buku tentang kekelaman, kegalauan, kegetiran dan kepenatan hati? Bagiku buku ini bercerita tentang pencerahan, pencarian diri. Bahwa ada satu Kuasa yang memahami kita, menuntun kita untuk mengerti bahwa setiap kejadian adalah cermin bagi hidup kita. Inilah Rectoverso, yang oleh Dewi diuraikan sebagai dua citra namun satu kesatuan. Satu koin dengan dua sisi wajah.

Kata-kata yang digunakan Dewi memang tak asing bagi pembaca buku-bukunya terdahulu. Bagiku, tentu sangat familiar. Lebih mirip tulisan Vira, kupikir.

Ada dua kisah dalam buku ini yang sempat membuat malamku menjadi sebuah perenungan panjang.

“Aku Ada”, demikian diberinya judul untuk satu kisah itu.

Pernahkah kau rasakan di suatu masa, sendiri meraja? Waktu terus berjalan, karena matahari tak pernah mau berhenti. Dan kau merasa beban itu semakin meradang, kesendirian itu membunuhmu. Percayalah … kaupun tak pernah sendiri. Kau tak sendiri menapaki pasir putih. Kala amarah masih memenuhi ruang hatimu, maka yang kau lihat dibelakangmu hanya sepasang jejak, tertinggal di pasir itu. Tapi ketahuilah itu bukan lagi jejakmu.

“Barangkali karena telah ratusan kali kamu lakukan itu; menyendiri di tepi pantai; menyusuri garisnya seperti merunut urat laut. …
Ingin rasanya aku ikut berlari, berteriak agar kau kembali, mencengkeram bahumu agar kau tahu aku ada di sini …
Percayakah kamu? Aku selalu ada …
Dengarkah kamu? Aku ada. Aku masih ada. Aku selalu ada. Rasakan aku, sebut namaku seperti mantra yang meruncing menuju satu titik untuk kemudian melebur, meluber, dan melebar. Rasakan perasaanku yang bergerak bersama alam untuk menyapamu.
Kayuhanmu tahu-tahu terhenti Sudah jauh engkau berenang meninggalkan pantai, basah kuyup dan megap-megap. Namun tiba-tiba kau tergerak untuk diam, merasakan ombak yang dengan aneh mengembalikanmu mundur. Semakin kuat kau mengayuh, kau malah semakin mundur ke pasir tempat kau melangkah. Perlahan kau berdiri, menatap laut dengan tatapan asing seolah itu pertemuan kalian yang pertama kali. Setengah mati telah kau lawan lautan untuk mencari jawab atas amarahmu pada kematian, dan dengan sabar bagai ibunda menimang anaknya yang meraung murka agar kembali tenang, lautan mengembalikanmu kembali ke tepiannya. Seolah berkata, belum saatnya. Tempatmu di sana. Kembalilah ke pasir tempat jejak-jejakmu tersimpan, kembali padanya yang menantimu dengan senyum sayang … “

Berikutnya, “Hanya Isyarat”.

Sering kali kita gagal memahami, bahwa ada cinta berlebih disekeliling kita. Tapi kita hanya mengejar bayangan tercerai untuk kita gapai. Maka berbahagialah mereka yang hanya mengetahui apa yang sanggup ia miliki.

“Aku mulai berkisah, tentang satu sahabatku yang lahir di negeri orang lalu menjalani kehidupan keluarga imigran yang sederhana. Setiap kali ibunya hendak menghidangkan daging ayam sebagai lauk, ibunya pergi ke pasar untuk membeli bagian punggung saja. Hanya itu yang ibunya mampu beli. Sahabatkupun beranjak besar tanpa tahu bahwa ayam neniliki bagian lain selain punggung. Ia tidak tahu paha, dada, atau sayap. Punggung menjadi satu-satunya definisi yang ia punya tentang ayam. …
Aku menghela napas. Kisah ini terasa semakin berat membebani lidah. Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan pernah kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh … ”

Aku sengaja tak ingin bercerita banyak tentang isi buku ini. Kekuatan buku Dee adalah pada rangkaian kata-katanya, yang tak mungkin kau nikmati melalui terjemahan bebas pada kalimat yang keluar dari olahan otakku yang sangat terbatas. Jadi belilah buku ini.

Tiba-tiba dini hari merengkuh dan sebuah sms menggugah sadarku. Sudah lewat pukul tiga.”…mimpi indah ya.”. Aku tak membalasnya karena aku tahu aku harus tidur. Tapi aku tak ingin bermimpi. Senyum segera mengembang, aku bersyukur lagi-lagi dia datang bak penyelamat.

Buku yang seharusnya hadir 4 tahun lalu itu segera ku letakkan. Lalu akupun tertidur. Dan hanya tertidur tanpa bermimpi. Karena dengan bermimpi aku telah menghadirkan kemungkinan mimpi buruk itu memburuku.

Kututup mataku, sambil tersadar penuh, aku telah berjalan denganNya di pantai berpasir putih itu. Tapi tak ada lagi jejakku. Hanya jejakNya. Karena Dia tahu aku tak mampu. Dia telah menggendongku.

Terimakasih … malaikatku, kamu telah hadir menyelamatkanku. Kamu tak sekedar indah, tapi kamu adalah anugerah.

Menjenguk Komodo hingga Labuhan Bajo

Friday, October 10th, 2008

“Dapet salam dari Vara”

“Vara, sapa?”

“Ada dehhh”

Begitulah guyonan kami selama satu bulan ini.

Jangan membayangkan Vara sebagai gadis manis, yang tampak segar bak bidadari seusai mandi. Karena Vara yang bernama lengkap Varanus Komodoensis ini memiliki ekor dan bercakar panjang. Ganas, tak beriba, pemakan sesama, pun anaknya sendiri.

Kalau Visit Musi berarti, visit Vira. Visit Labuhan Bajo berarti visit Vara.

Tanggal 29 Sept, pagi-pagi sekali, pesawat Merpati membawa kami menuju Pulau Dewata. No direct flight from Jakarta to Labuhan Bajo. Dengan jadwal berangkat dari Bandara Cengkareng pukul 6.10 pagi, kami perkirakan, kami memiliki cukup waktu untuk hunting tiket ke Labuhan Bajo di Bandara Ngurah Rai. Tapi, pesan tiket on the last minute, sangat tidak disarankan.

Jadilah kami ke loket Trigana air, lalu diberi tiket Transnusa dan berakhir di pesawat Riau Air. Aneh memang, hanya demi menunjukkan aliansi nama-nama perusahaan saja penumpang terpaksa dibuat bingung. Tapi tak apalah, pesawat Fokker 50 yang membawa kami, cukup nyaman untuk ditumpangi selama kurang lebih 1 jam 40 menit. Kira-kira pukul setengah 12 mendaratlah kami di Bandara Komodo.

Euphoria yang sama kurasakan mendesak ubun-ubun, setiap kali kaki ini menapaki daerah baru.

Teringat pesan Paulo Coelho dalam bukunya Like the Flowing River yang menyebutkan :

“The best tour guide is someone who lives in the place, knows everything about it, is proud of his/her city, but doesn’t work for any agency …”

We finally found excellent companions. Pak Dus, yang bukan seorang guide dari agen perjalanan manapun namun bekerja disebuah bank lokal di Labuhan Bajo. Pak Magribi, yang pemilik perahu motor dan orang Bugis asli. Pak Herman, yang asisten Pak Magribi, yang orang asli Labuhan Bajo (Baca:Flores), dan mahir mendayung.

Tak banyak yang bisa dilakukan dihari pertama kedatangan kami, kecuali mencoba menghafal sudut-sudut kota Labuhan Bajo yang tak besar, serta menikmati sore dengan rintik hujan dan secangkir kopi flores yang terasa sangat nikmat di antara pemandangan menakjubkan dari atas penginapan milik Pak Adrian. Tak bisa kugambarkan secara detail bagaimana nikmatnya sore di atas penginapan seharga 450 ribu per malam itu.

Hari kedua, pukul 8 pagi, Pak Magribi telah menunggu kami di Pelabuhan Tilong. Itinerary kami kala itu cukup 3 pulau saja, Rinca, Kelor dan Bidadari. Pulau Komodo yang jaraknya tak dekat itu sengaja tidak kami masukan kedalam daftar, karena kami tak ingin bermalam di kapal, dan hasil surfing menunjukkan bahwa tak banyak yang beruntung mendapati Komodo di Pulau Komodo.

Decak kagum memenuhi ruang hatiku kala perahu melaju menuju Loh Buaya di Pulau Rinca, yang memakan waktu kurang lebih 2.5 jam dari Pelabuhan Tilong. Kala itu, disebuah kronologer di internet sempat kutuliskan “This is one of my finest days”.

Sesampainya di Pulau Rinca, persyaratan administrative segera dilakukan. Kami tak ingin kesiangan tentu saja, panasnya yang sangat terik akan membuat Komodo malas dan lebih memilih bersembunyi di bawah rindangnya pohon ketimbang menyambut kedatangan kami. Benar saja, dengan ditemani Pak Dakosta, seorang guide dari Taman Nasional Komodo, kami hanya bisa menyaksikan komodo-komodo tua yang bermalas-malasan di bawah rumah-rumah panggung yang diperuntukkan sebagai penginapan, kantor sekaligus tempat tinggal sementara bagi para staff di konservasi itu.

Trekking selama kurang lebih satu jam kami lakukan di Pulau yang beriklim kering dengan curah hujan rata-rata yang hanya 50-60 cm yang terjadi di bulan Desember – Maret itu. Tak ayal, bila padang rumput, pohon ara menjadi pemandangan khas pulau ini. Sepanjangan perjalanan, beberapa komodo betina tampak sabar menunggui telor-telornya yang tertanam dalam, kurang lebih 2 meter di bawah tanah. Bukan karena sayang ternyata, induk komodo ini tak ingin melepas kesempatan pertamanya untuk memangsa anak-anak-nya segera setelah telor-telor ini menetas. Karenanya, kegesitan komodo kecil untuk memanjat pohon menjadi keahlian yang dimiliki sejak lahir. Konon memasuki usia dewasa komodo akan kehilangan kemahirannya ini. Lalu bagaimana anak-anak komodo bisa menikmati kasih sayang induknya? Ntahlah, aku yang kala itu memikirkan bagaimana mungkin hal ini terjadi, telah lupa menanyakannya pada Pak Dakosta. Nature follows its course, tak perlu membantahnya lagi.

Setelah menjumpai kerbau dan beberapa komodo, Megapodius Reintwardtii sepasang Burung Gosong menampakkan dirinya. Burung yang hidupnya selalu berdua sehidup semati ini seolah memberikan pesan moral kepada kami untuk selalu setia pada pasangan.

Kata-kataku tak kan cukup menceritakan kisah-kisah yang terjadi di Pulau Rinca. Berikutnya, Pulau Kelor yang tak sempat kami kunjungi dan Pulau Bidadari yang dipenuhi wisatawan manacanegara yang bersnorkling dan berjemur.

Di hari kedua, acara kami sangatlah santai, setelah bersilaturahmi ke rumah Pak Magribi yang hari itu berlebaran, kami melaju ke Gua Batu Cermin. Gua yang dipenuhi stalagtit dan stalagmit itu berada tak jauh dari Labuhan Bajo. Fosil-fosil ikan dan siput menjadi saksi bagaimana wilayah yang berada diperbukitan Labuhan Bajo itu dulunya adalah dasar samudera.

Perjalanan menikmati Gua Batu Cermin tidak memakan waktu lama. Siangnya, Pak Magribi kembali mengantar kami dengan perahunya. Kali ini Pulau Kanawa menjadi pilihan kami. Disepanjang perjalanan, beberapa kelompok lumba-lumba tampak beraksi di depan kami. Mereka sedang exited, sebagaimana kami yang tiba-tiba dipenuhi senyuman kala melihat mereka berloncatan di atas laut yang tenang. What a wonderful day!

Kanawa, pulau kecil yang tampak seperti tikus dari kejauhan itu berpasir putih dan dikelilingi oleh batuan koral. Tempat yang pas untuk snorkeling. Partner tekking terpaksa berubah menjadi partner snorkeling untuk beberapa saat. Tak banyak ikan berwarna warni muncul di depan kami. Mungkin karena kami yang tak berani berada jauh-jauh dari bibir pantai. Kupikir gambar-gambar di Pulau Kanawa lebih merepresentasikan bagaimana perasaan kami saat itu, ketimbang kata-kata yang tak menentu ini.

Malam itu, dalam perjalanan pulang ke pelabuhan Tilong, kami berataplangit cerah. Sesekali kami menengadah ke atas. Jajaran bintang-bintang kecil nampak sangat jelas. Scorpius yang melintasi beberapa bulan itu mulai condong ke barat. Di Utara konstelasi Cygnus nampak indah. Aku tersenyum pada Vega yang cemerlang.

“Kita harus ke Labuhan Bajo lagi kalau ingin melihat Milky Way dengan jelas,” beberapa kali partner trekking bergumam.

Aku masih larut dalam kenikmatan malam. Ini adalah malam terakhir kami di Labuhan Bajo. Satu sorga lagi harus kutinggakan. Tak sengaja, dalam hati aku bergumam lirih, “Naomi, Kamu harus melihat dunia. Belajarlah banyak pada alam karena semesta ini adalah gurumu.”

 Note: Beberapa foto perjalanan ini bisa dilihat di webshots