Archive for the 'Music' Category


Bach – Jesu, Joy of Man’s Desiring

Monday, December 7th, 2009

Komposisi ini membekas sangat dalam di hatiku. Komposisi favoritnya, sekaligus komposisi yang sengaja kupilih untuk menemani detik-detik saat aku melangkah menuju altar, memandang pada sepasang mata yang akan membawaku ke masa depan.

Komposisi ini telah mengiringi jiwaku yang tersenyum, yang tersadar, bahwa pada detik itu, untuk pertama kali dalam hidupku, aku bersyukur atas SEMUA yang pernah terjadi pada diriku.

Aku memberkati satu hari di bulan september dua tahun silam, kala sebuah surat elektronik masuk di inboxku.

Aku memberkati satu pagi nan cerah di bulan November, kala untuk pertama kalinya aku melihat masa depanku. Tak sedikitpun aku menyesali pertemuan-pertemuan yang tertunda sebelumnya, akibat kegundahan hatiku dan bayangan buruk ketakutanku yang tak berarti. Karena aku yakin rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan.

Dan Dia telah memberikan yang TERBAIK dalam hidupku.

Menjawab Kerisauan

Monday, October 19th, 2009

Kadangkala aku berkhayal, seorang di ujung sana …
juga tengah menanti tiba saatnya

Selamat Ulang Tahun

Wednesday, August 19th, 2009

“….
Jangan berjalan, Waktu
Ada “Selamat ulang tahun
Yang harus tiba tepat waktunya
Semoga dia masih ada menantiku

Mundurlah, wahai Waktu
Ada “Selamat ulang tahun
Yang tertahan tuk kuucapkan
Yang harusnya tiba tepat waktunya
Dan rasa cinta yang s’lalu membara
Untuk dia yang terjaga
Menantiku.”

Mata terjaga, pembicaraan ringan menyelingi kepala yang berat, mendamba tuk segera terlelap. Tapi aku tidak ingin membiarkan saja waktu itu berlalu. Beberapa detik lagi. Kulihat dia mulai lelah, aku resah, tiba-tiba jam dua belas sudah. Lirih tergumam, “Selamat Ulang Tahun … Sigaring Nyawaku.” Hidup baru telah dimulai sejak hari ini

Canto de Andar

Wednesday, July 1st, 2009

Dalam perjalananku meretas waktu, menelusuri jejak Omar Akram di internet, one of my fave musicians, telingaku menangkap musik-musik indah yang serasa terakrabi semasa hati sering menyendiri. Sebuah musik penawar lara hati.

Demikian lirik lagu ini dalam Galician language, bahasa yang digunakan di Galicia, sebuah komunitas yang tak ingin menyebut dirinya sebagai bagian dari bangsa Spanyol namun terletak di barat laut negara Spanyol. Bahasa ini lebih mirip dengan bahasa Portugis :

Amence paseniño nas terras do solpor
As brétemas esváense coas raiolas do sol

Meu amor, meu amor, imos cara o maior
Miña amada, meu ben, imos polas terras do alén

Acariña o silencio e escoita o corazón
Que moitos dos teus soños latexan ao seu son

Meu amor, meu amor, imos cara o maior
Miña amada, meu ben, imos polas terras do alén

É tempo de camiño andar e de non esquecer
Que o futuro que ha de vir é o que has de facer

Meu amor, meu amor, imos cara o maior
Miña amada, meu ben, imos polas terras do alén

E o sol vai silandeiro deitándose no mare
Facéndonos pequenos con tanta inmensidade

Meu amor, meu amor, imos cara o maior
Miña amada, meu ben, imos polas terras do alén

Aku tidak menemukan terjemahan yang pas, disamping itu kamus online bahasa Galicia, belum kutemukan. Namun di internet , kutemukan sedikit penggambaran musik indah itu yang diterjemahkan dalam kata-kata :

It is dawning slowly in the lands of the sunset
the mist fade with the first sun rays
My love, my love, we go to face the age
My beloved, my sweetheart we’re going through the lands of Alen.
Caress the silence and listen to your heart
Because most of your dreams beat at the same song
And it’s time to go across the way
And not to forget the time that will come and what you have to do.
And the sun goes silent, delighting in the sea,
Making us small with so much immensity

Nothing …

Friday, March 6th, 2009

Beethoven Symphony No. 3 – EROICA

Wednesday, February 11th, 2009

Komposisi ini akan tersaji di Balai Sarbini, sehari menjelang valentine. So … partner trekking, acara di blitz or 21 terpaksa kita pending dulu.

Meanwhile, Ery Duduls yang seperti biasa tiba-tiba muncul di siang bolong dalam sebuah pesan singkat “virtuoso”, mengirimiku ini.

Gabe masihol rohaku

Tuesday, December 23rd, 2008

Sundial Dreams

Monday, December 22nd, 2008

Untuk Naomi yang sedang bermain-main di halaman imajinasi papa dan mamanya.

Tuesday with Brahms

Thursday, August 28th, 2008

Sekali lagi Nusantara Symphony Orchestra (NSO) memanjakan kami, manusia-manusia yang dahaga akan musik indah. Tepatnya dua hari lalu, seusai jam kantor yang memenatkan, kami menyempatkan diri menikmati NSO yang mengalunkan karya Brahms di Balai Sarbini.

Brahms, mungkin tak setenar Mozart ataupun Beethoven. Namun namanya cukup melegenda sebagai seorang komposer yang sangat patuh terhadap tradisi musik klasik. Komposer jaman romantik ini terkenal serius dan konservatif, lihat bagaimana dia masih memegang teguh urutan movement klasik dalam sebuah simponi, yakni berawal dari movement cepat, lalu melambat, kemudian diikuti dengan scherzo dan diakhiri dengan rondo besar.

Malam itu dua komposisi Brahms, Piano Concerto no 1 op 15 in D minor dan Symphony no 2 Op 73 in D major yang dibawakan NSO dengan konduktor Hikotaro Yazaki menelusuri kursi-kursi yang tak terisi, nemembusi pilar-pilar dan dinding melingkar di Balai Sarbini, lalu memenuhi ruang hati para pecinta musik klasik yang hadir kala itu.

Seperti sebelumnya, kami datang terlambat, maklum kebutuhan jasmani kadang tak bisa berkompromi, meskipun kepenuhan hati menjadi imbalannya. Jadilah kami memasuki ruangan tatkala tangan-tangan Jun Komatsu masih memainkan bagian pertama Piano Concerto – Maestoso. Ada sedikit kelegaan dalam hatiku, kami belum melewatkan bagian adagio. Kami ini pecinta adagio – komposisi lembut dengan melodi lambat serta gebrakan-gebrakan dramatis namun sederhana – yang tentu tak ingin kami lewatkan dalam setiap konser musik klasik.

“Komposisi yang pas untuk menemani tidur”, bisik partnerku tentang bagian adagio, yang segera kuiyakan dalam hati.

Karya Brahms yang satu ini rupanya banyak dipengaruhi oleh tokoh idolanya Beethoven. Hal ini terlihat dari bagian pertama Piano Concerto No 1 yang nampak kokoh itu, yang konon diilhami oleh karya Beethoven Symphony no.9. Disamping itu, pengaruh Beethoven ditemukan pula pada kemiripan bagian akhir rondo dengan piano concerto ketiga Beethoven.

Oh ya, Brahms ini konsisten sedari awal bahwa dia memang ingin menulis hanya musik saja. Kau takkan menemukan karya opera satupun dengan nama penulis Brahms, bahkan symphonic poem- pun, tidak. Dia tidak menyukai sesuatu yang berbau revolusioner terutama yang akan merusak aturan tone dalam musik klasik. Tak heran, komposer Jerman, Richard Wagner memandangnya sebagai perabot tua yang sudah rusak. Aku, Ibu dan Bapak penikmat Wagner tentu akan segera memahami alasan wagner ini, tatkala mendengar tiap movement piano concerto no1 milik Brahms. Sungguh-sungguh klasik yang konservatif. Sayang malam itu, Bapak dan Ibu ini tak tampak diantara penonton.

Setelah Intermission selama kurang lebih 15 menit yang kami isi dengan percakapan hangat – guna menandingi dinginnya suhu ruangan Balai Sarbini- NSO menyajikan Symphony no.2 op 73 in D major. Terdapat empat movement dalam symphony ini, allegro non troppo, adagio non troppo, allegretto grazioso dan allegro con spirito. Konon, dalam upayanya menulis symphony ini, Brahms ingin membuat symphony ini sebagai karya yang cukup tragis – mungkin ini upayanya untuk menjawab cemooh Wagner. Namun, lagi-lagi gaya klasiknya yang akhirnya turut mempertahankan bentuk musik klasik yang konservatif.

Dalam gerakan awal – allegro non troppo- cello dan bas dimainkan, kemudian disusul movement kedua dengan gaya lambat yang banyak dimainkan oleh cello. Bagian ketiga, dimulai dengan alat gesek, gerakan riang dan tarian yang lincah membawa Hikotaro Yazaki meliak-liuk. Kamipun turut riang, seriang gerakan tangan, kepala dan hentakan kaki kami yang mengikuti irama musik. Dan akhirnya, bagian-bagian panjang dengan alat gesek dengan irama halus dan lembut dibagian awal allegro con spirito seolah menina-bobokan kami (meskipun lagu nina bobo karangan Brahms justru ada pada bagian adagio dalam symphony no.2 ini). Kami yang tengah terlena, tiba-tiba saja terkaget dengan bagian akhir allegro con spirito yang menghentak bak ledakan musik yang menggemakan kemenangan.

Lagi .. lagi NSO menyajikan kepada kami malam nan indah.