Selamat Jalan Bu!

May 26th, 2010

Tanggal 20 Mei yang lalu, suasana menyesakkan mengelilingiku. Tampak ibu-ibu mengusap air mata, beberapa menyeka keringat akibat matahari yang menyengat. Namun tetap, campur aduk suasana haru dan sedih, tak bisa tersembunyi. Bapak-bapak tertunduk mendengarkan petuah petuah akhir, yang dengan lancar mengalir. Sedang acuh atau terbawa suasana keruh? Aku tak tahu. Jenis manusia ini memang sangat pandai menyembunyikan suasana hatinya.

Hari itu, takkan pernah terhapus dari ingatanku. Pertama kalinya dalam kehidupan karirku, seorang pimpinan yang dilepas dengan prosesi yang keluar dari ketulusan hati kami.

Hanya satu yang berkecamuk dalam hati kami, “Kami bangga Bu, menjadi bagian dari perubahan itu”.

Hari ini, kami hanya bisa mengantar dengan hati. Semoga tak lenyap jejak-jejak kebajikan yang tertiti, hingga kami dapat menuainya nanti.

Selamat jalan Bu!

*gambar di atas adalah satu satunya foto yang kumiliki bersamanya.

Karena Kami Satu Adanya

May 13th, 2010

Mulai hari ini, kami sedarah. Semalam, darahnya mengalir ke tubuhku. Aku merasakan sakit tak terkira, ketika jarum itu menelusup ke bagian dalam lengan kulitku. Pun sesaat setelahnya, pedih itu masih tersisa. Kukira tubuhku bereaksi atas benda asing yang mulai merambahi sel-sel tubuhku. Untuk beberapa saat, aku tak bisa lagi merasakan bahwa tanganku ada. Aku mati rasa. Namun, pergolakan itu tak bertahan lama, tubuhku menerima darahnya. Tubuhku pasrah atas kehendak yang di Atas, pasrah akan keyakinan yang kami jelaskan sebagai “soulmate”. Karena telah tertitah sebelumnya bahwa kamu akan berbagi, menerima dan memberi dengan pasangan jiwamu. Dan sekarang, inilah aku. Sel sel tubuhku dialiri oleh darahnya dan darahku. Mereka membaur, sehingga tak lagi bisa kamu bedakan mana darahku dan mana darahnya. Karena begitulah pasangan jiwa diciptakan, mereka adalah satu adanya.

Reaksi Negatif Pasar

May 5th, 2010

Market sesi 1

Pasar bereaksi negatif atas berita itu, Bu. Pada detik aku mengetik kata-kata ini, pasar telah jatuh 3,24%.

Aku berharap para selebritas dadakan itu puas. Tapi kupikir mereka takkan puas, karena Anda bukan the ultimate target. Mereka punya banyak alasan untuk membuat Anda mundur, tapi mereka juga punya beribu kalimat untuk mengomentari kemunduran Anda. Tak ada satu pun hal yang benar di mata mereka. Tapi sudahlah, suatu saat nanti, akan kusampaikan kepada anakku, bahwa ibunya bangga menjadi bagian dari perubahan besar yang Ibu pimpin. Dan satu hal akan aku sampaikan padanya, agar dia hidup berbekal hati nurani. Akan aku tutup telinganya dari ucapan-ucapan politisi busuk yang hanya bisa mengumbar kebohongan di media.

Anda layak mendapat tempat dimana orang-orang mengapresiasi kemampuan Anda Bu. Suatu hari negeri ini akan menyesal kehilangan orang-orang terbaiknya. Ahh kupikir tak harus nanti, saat ini pun sebagian bangsa ini menangis. Politik memang jahat.

“Feeling” analysis

April 20th, 2010

stochastic - tak terdeteksi hati

 

Toh meskipun harga penutupan terakhir secara konsisten sejak pertengahan bulan Februari hingga saat ini menunjukkan trend yang mendekati harga tertinggi, mengindikasikan adanya dorongan beli, tak jua INCO terlepas untuk sekedar merealisasikan gain. Pun jumlah tak bertambah didepan rayuan potensi laba. Momentum itu selalu saja menjauh dari jari-jariku. Bullish sign tak terdeteksi hati. “Feeling” analysis terlalu mendominasi.

Terlontar dari lubuk hati seorang Ibu …

April 9th, 2010

“Saya tahu ini adalah suasana yang tidak mudah kalau Anda bicara tentang kemarahan, bicara tentang kekecewaan, bahkan kalau kita mengatakan sakit hati, saya adalah orang yang paling dipermalukan. Tidak cukup rasanya satu kata atau perbuatan apapun untuk mencuci perasaan itu. Karena kita semua yang ada di sini, saya anggap semua merasa dikhianati.Itu adalah kata yang paling tepat. Anda semua merasa dikhianati oleh perbuatan dari seseorang atau sekelompok orang. Mari kita sekarang mulai duduk dan mengevaluasi dengan jernih dan dingin karena saya tidak ingin kita semua terlibat di dalam emosi yang tidak perlu.”

“…Saya hampir yakin sekarang kalau Anda ditanya kerja dimana? Anda pura-pura untuk menjawab bukan di ***., Anda akan bilang di ***. Lebih aman. Anda hidup tanpa harga diri, Anda bahkan tidak bisa dan tidak berani untuk menyampaikan identitas Anda. Itu adalah titik paling rendah dari yang disebut strata manusia. Manusia tanpa harga diri tanpa berani menyampaikan siapa Anda. Anda adalah bukan siapa-siapa. Sebetulnya selesai sejarahnya. Karena berapapun uang yang anda peroleh dari korupsi itu tidak bisa untuk membeli reputasi…”

“.. Anda mengatakan setiap persoalan, disaster, krisis. Dia adalah kesempatan. Ini kesempatan kita untuk membangun reputasi dan saya tidak mau mengatakan saya hanya menangis, marah, kecewa, terkhianati, nggak. Saya memikirkan lebih detail dari itu, bagaimana saya bisa melahirkan kembali *** pada saat situasi masyarakat justru sedang menempatkan Anda di tempat rendah.”

“… Saya tidak bahagia kalau anda sudah bekerja puluhan tahun tetap untuk beli rumah saja tidak sampai. Itu salah menurut saya. Saya tidak bangga bahwa anda harus jadi miskin atau pura-pura miskin, karena itu bukan tujuan saya. Republik ini harus dijaga oleh kita semua dengan orang-orang yang punya confidence tinggi. Yang harus di-reward dengan baik, tapi punya etika dan integritas yang tidak terbeli. Dan itu tugas kita semuanya. Jadi saya meminta Anda semuanya memikirkan secara tenang dan jernih.”

“…saya tidak punya agenda lain, but to save you all.”

“Lakukan seperti yang akan saya lakukan. Lihat unit Anda apakah ada kanker? putus dia dengan segera. Kalau Anda termasuk dari bagian kanker itu, Anda pasti akan dideteksi oleh atasan Anda…”

” Kasus ini tidak harusnya membuat kita runtuh dan saya diberi nasihat oleh anak saya, kalau ada sesuatu yang tidak membuat mama mati, maka dia akan membuat mama menjadi kuat. Kasus ini tidak akan mematikan ***. Maka dia akan bikin kita kuat. Jadi Anda semua harus makin kuat. Ini kasus. Tapi Anda harus lihat virusnya. Keluar dari sini, Anda tidak boleh lemah, Anda harus kuat, Anda harus percaya diri, Anda harus makin bersih dan itu yang saya inginkan. “

Kalimat-kalimat di atas adalah secuplik kalimat yang keluar dalam suasana kebatinan yang tidak mengenakkan, namun ketulusan hati membuat kalimat-kalimat yang terlontar menjadi begitu bermakna, at least for me.

Memang, kecerdasan seseorang terlihat jelas dari pilihan kata-katanya. Bahkan dalam keadaan marah-pun kata-kata bijak masih saja terlontar. Saya, secara pribadi, … salut sekaligus kagum pada Anda Bu!

Apa jadinya kalau Mamaku join facebook?

February 23rd, 2010

Do you think parents should be banned first-hand? Demikian kira-kira sebuah lontaran kalimat di salah satu facebooker yang segera direspon dengan beragam jawaban.

Salah satu facebooker yang tidak setuju berkomentar, andai yang dimaksud adalah menutup kemungkinan orang tua kita untuk mengakses profile kita, then itu sepenuhnya adalah pilihan kita. Namun apabila yang dimaksud di sini adalah melarang sama sekali orang tua kita untuk join facebook, tentu ini tindakan yang egois.

Salah satu orang tua malah membela diri, “ Parents and Grandparents Unite! All my children added me as a friend, and they also added their grandmother. It’s a great way to stay in touch after they leave for college too. … ”.

Yang lain justru berpedapat “It’s just that I don’t feel comfortable having someone peeking on my profile every once in a while to check what comments I’ve made or what groups I’ve joined.”

Your parents are just being police grammar or simply invade your privacy. Begitu kira-kira pendapat sebagian besar mereka yang setuju untuk melarang orang tua mereka.

Mungkin aku takkan se-ekstrem itu. Selain Papa Mamaku yang gak internet addict, aku sendiri mungkin seminggu bahkan dua minggu sekali login ke facebook sekedar untuk approve teman-teman yang sempat add aku.

Bahkan sebuah website http://myparentsjoinedfacebook.com/ mencantumkan kelucuan-kelucuan yang terjadi kala orang tua mulai ikut-ikutan posting di wall. Lihat percakapan dibawah ini yang kupikir cukup mengocok perut.

4110320282_7e16c891ce_o.jpg

3929623550_c4f746d7da_o.jpg

dsh17zanen8xl616zyvoxtlro1_500.jpg

4307512008_606c4287a9_o.png

3932273556_df526f55b4_o.png

source: http://myparentsjoinedfacebook.com/

Seorang teman juga pernah berkisah tentang mamanya yang tiba-tiba menelpon sambil marah-marah ke adeknya di siang bolong. Alasannya simple, si adek pamitan untuk kuliah, namun sejam berselang, status facebooknya tiba-tiba berubah, mengindikasikan bahwa dia sedang menunggu teman-temannya di sebuah mall dibilangan Jakarta Barat. Sejak saat itu mamanya tak lagi masuk dalam list of friends di facebook si adek.

Hal seperti ini takkan pernah terjadi padaku, Papa Mamaku tak punya account di facebook. Tapi setidaknya kesalahpahaman akibat sebuah comment di facebook-pun pernah terjadi. My Mom was being lebay … ;)

Mama disatu kesempatan mengeluhkan commentku atas sebuah foto kami berdua di facebook. Melalui facebook account milik adekku, mamaku mengakses foto-foto yang tersedia di halaman itu.

“Iya, jadi makin yakin ya kalo aku adalah anak kandungnya”, begitu kira-kira commentku yang terlontar sebagai jawaban atas penyataan salah seorang teman yang mengomentari kemiripan kami.

“Sejak kapan Novi meragukan kalau mama ini adalah mama kandungnya?” Mamaku mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tak masuk akal, ke Papa pun Adekku.

Tak ayal suamipun kena getahnya. Saking seringnya dia berkelakar ke Mamaku tentang kemungkinan tertukarnya bayi-bayi di rumah sakit, mengingat beberapa saat lalu penculikan bayi di rumah sakit yang cukup marak, yang mungkin juga terjadi padaku, Mamaku meradang.

Alih-alih menenangkanku yang cukup dibuat bingung mengatasi kesewotan Mama, suamiku malah melontarkan ide untuk melakukan test DNA. “Test DNA aja Dek, biar  makin yakin” Katchau dehhh.  Facebook oh facebook.

Welcoming a special guest

February 10th, 2010

On one fine Sunday morning, we had unexpected guest. Look how cute and adorable she is. My husband believes this cute little kitten was searching her queen, while our youngest sister thinks it’s a good sign for us.

Well… look at her eyes! Amazing!

img_9486.jpg

img_9490resized.jpg

img_9489resized.jpg

img_949resized.jpg

img_9492resized.jpg

Trouve Un Chemin Vers l’arc-en-ciel

February 5th, 2010

Angel of Death

There are so many ways to …

February 2nd, 2010

While having something around  …

Luv Orange

or

when you’ve got another idea …

NY I L U

Hanimun* di Gunung Halimun

January 26th, 2010

Kebuh Teh Nirmala - TNGHS

“Macan Tutul Jawa Tertangkap Kamera TNGHS” demikian tertulis dalam sebuah kolom Kompas seminggu yang lalu.

Apakah mereka mencium sisa-sisa keberadaan kami, yang 4 minggu sebelumnya telah merambahi habitatnya di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) ?

Cerita ini sebenarnya sedikit basi, karena perjalanan itu sendiri kami lakukan sebulan yang lalu, ketika kami kehabisan ide untuk mengisi libur panjang kami. Namun demi spirit berbagi, inilah detail perjalanan kami.

Berbekal informasi yang tersebar di beberapa website, melajulah kami siang itu ke Sukabumi. Dari Jakarta – Ciawi – Parungkuda, kami tempuh dalam waktu 2 jam. Penunjuk arah menuju TNGHS tepat di Pasar Parungkuda sempat terlewatkan. Sebuah kotak yang tak besar bertuliskan “Parakan Salak”  yang menunjuk ke arah kanan jalan, teracuhkan begitu saja, karena asumsi-asumsi yang salah.

“Iya Cikaniki itu kalau dari Jakarta adanya disebelah kanan, kan di Gunung Halimun. Kalau Bodogol adanya dibelah kiri jalan, karena tempatnya di Gunung Gede Pangrango,” kata-kata ini yang seolah menghiburku tatkala menyadari penunjuk arah ke TNGHS terlewatkan. Beruntunglah alternatif jalan masih tersedia. Tepat disebelah Rumah Makan Cimande kami berbelok ke kanan dan menyusuri jalan aspal yang tak lebar.

Rute kami selanjutnya adalah Kabandungan – Cipeteuy – Gerbang TNGHS – Cikaniki – Citalahab. Dari Parungkuda ke Kabandungan, CY mobil hitam kami melaju di jalan aspal nan mulus. Satu jam berlalu, sampailah kami di Kantor Balai TNGHS. Biaya masuk TNGHS termasuk sewa mobil dan sewa kamar kami bayar di muka. Mengingat setelah melewati Cipeteuy – yang hanya 1 km dari Kantor Balai  TNGHS- jalan tak lagi beraspal, kami memutuskan menyewa L300 dengan biaya 600 rb PP, dan menitipkan CY di kantor itu.

Sedangkan untuk sewa kamar, dengan fasilitas terbatas, namun cukup memadai, kami dikenakan biaya 150 rb. Kami memang kurang beruntung, waktu itu, Wisma Penelitian Cikaniki telah full booked. Jadilah kami mengingap dirumah Pak Kosasih di Desa Citalahab yang berjarak kurang lebih 2 km dari Wisma Cikaniki, yang memang biasanya disediakan bagi pengunjung yang tidak kebagian tempat di wisma itu. Sebagai bonus, kokok ayam jago sebagai pengganti weker di pagi hari,  suasana pedesaan dengan aliran Sungai Cikaniki, udara segar ditengah-tengah kebun teh Nirmala, dan juga selimut kabut di pagi dan sore hari akan menambah suasana romantisme khas desa-desa di kaki gunung. For further info silahkan kontak Bu Imas di 0266 621256.

Perjalanan dari Kantor Balai TNGHS menuju Desa Citalahab cukup menantang, selama 2 jam perut kami di”kocok”. Beruntunglah, pemandangan indah sawah, sungai dan gunung-gunung di kanan kiri kami sedikit meredam siksaan fisik ini.

Ternyata goncangan di atas L300 selama 2 jam ini belum mengakhiri tantangan pada hari itu. Menuju ke rumah Pak Kosasih kami disambut jalan batu dengan kemiringan cukup tajam yang basah diguyur hujan. Ditambah pula dengan tingkat kelicinan yang cukup tinggi – bak belut diolesin olie, kata Ruhut Sitompul – membuat hati ini ketar ketir.

Malam itu, dengan dipandu Pak Kosasih dan disinari  cahaya dari lampu senter kecil, kami menyusuri pinggiran hutan, demi menengok jamur bergenus Mycena yang konon menjadi andalan TNGHS. Hujan rintik tak mengurungkan niat kami berjalan menuju habitat Jamur Mycena, yang tak jauh dari Wisma Cikaniki. Sesaat setelah lampu senter dimatikan, cahaya-cahaya kecil – hasil proses oksidasi senyawa luciferin di tubuh Mycena-  mulai bermunculan dari dasar hutan, yang dibasahi air hujan. Indah, bak bintang di pekat malam, yang jatuh di tanah. Bersyukurlah keindangan itu tak harus dinodai dengan kemunculan Panthera Pardus Melas. Mungkin binatang nocturnal ini tak ingin melihatku, yang sengaja membawa pesan untuknya, dari kakeknya di Jakarta.  « Kalau ketemu salam dari Mbah-nya » demikian kira-kira pesan dari salah seorang sahabat di Jakarta.

Esok paginya, kami sempatkan menengok lapangan bola di atas bukit yang dikelilingi kebun teh hijau. Wow, pemandangan yang cukup menarik. Cahaya matahari samar-samar menyeruak dari ketebalan awan.  Pucuk-pucuk teh bergoyang ditiup semilir angin. Gunung-gunung tampak dingin tak bergeming. Pohon-pohon tinggi hanya diam diselimuti awan. Semesta tampak acuh, tak terpengaruh dengan ributnya anak-anak sekolah yang asyik berebut bola. Pagi itu serasa sempurna.

Selanjutnya, perjalanan menuruni kebuh teh dimulai. Kami menyisir pinggiran Desa Citalahab, lalu melewati bumi perkemahan yang tampak kosong melompong. Sesaat kemudian, kamipun mulai merambah hutan halimun. Zona Colline dengan ketinggian 500 – 1000 m yang didominasi oleh Pohon Rasamala segera menaungi kami. Kami tak ingin menanjak lebih tinggi. Waktu kami tak lama. Mungkin suatu hari nanti, Zona Sub-Montane dengan ketinggian 1.000 -1.500 m akan kami singgahi, atau bahkan Zona Montane dengan ketinggian  1.500 -2.211-pun akan kami jejaki. Semoga

Sepanjang jalur trekking, tampak pita-pita dengan coretan spidol, seolah memberi petunjuk kepada kami, disinilah Owa Jawa (Hylobates Moloch) pernah singgah. Peneliti Korea sengaja menempelkan pita-pita ini di ranting-ranting pohon. Sesaat kemudian partner trekking segera menempel di Pohon Rasamala. Badannya yang menurutku cukup tinggi, serasa hilang tertelan ketinggian Rasamala yang bisa mencapai 60 m.

Setelah satu jam  berjalan, tangga besi menuju canopy trail dengan ketinggian 20-25 m, tepat berada di hadapan kami. Sayang sekali, kondisi jembatan yang tak lagi laik dilewati, membuatnya harus ditutup sejak Januari 2009. Padahal canopy trail inilah, andalan utama Cikaniki.

Curug Macan menjadi akhir tujuan trekking kami kali ini. Curug yang berjarak hanya beberapa meter dari Wisma Cikaniki, siang itu tampak penuh, membuat kami tak ingin berlama-lama di tempat itu. Setelah menengok beberapa foto dan poster di ruang tamu Wisma Cikaniki, kamipun menyudahi perjalanan kami.

Siang itu, gerimis kembali mengantar kami menuruni TNGHS. Perasaan lega segera membahana. Ternyata masih ada tempat indah di muka bumi untuk Naomi.

* kata ini sengaja dipilih hanya untuk mempercantik judul (“,)