Kasih yang membebaskan

“The person who gives him or herself wholly, the person who feels freest, is the person who loves most wholeheartedly. The person who loves most wholeheartedly feels free. And the freedom is having the most important thing in the world without owning it”

Ini hanyalah sepenggal catatan Maria, tokoh yang dituliskan Paulo Coelho dalam bukunya Eleven Minutes. Atau tulisan ini bisa pula dijadikan refleksi Paskah, pun postingan ini terlambat satu hari. Tentu seperti si KW aku tidak ingin memperbincangkan agama disini. Aku cukup puas menjadikan kepercayaanku sebagai pengalaman paling intim antara aku dan Dia.

Percayakah kamu bahwa cinta seringkali ditunggangi dengan ribuan tuntutan dan konsekuensi? Kenapa cinta tidak bisa hadir dengan tulus? Ya, aku berbicara tentang Cinta Agape, Eros pun Philia.

Cinta seringkali mengikat. Patutkah itu disebut Cinta? Kalau jawabanmu adalah ya, maka cinta tak ubahnya seperti beban, yang tak lagi membahagiakan dan menentramkan tapi membelenggu.

Dengan meneladani kisah Yesus yang memiliki Kasih Yang Membebaskan, Maria-tokoh dibuku itu- ingin menggambarkan bahwa cintanya pada Ralf Hart adalah cinta yang membebaskan. Dia tak ingin mengubah mimpinya akan lelaki ini menjadi kenyataan. Karena kenyataan sangatlah getir, dan mimpi adalah keindahan.

“Yes, I love you very much, as I have never loved another man, and that is precisely why I am leaving, because, if I stayed, the dream would become reality, the desire to possess, to want your life to me mine … in short, all the things that transform love into slavery. It’s best like this – a dream.”

Ketika hari-hari terakhir Maria yang hendak kembali ke desanya di Brazil, dia tak lantas mengikat Ralf kekasih hatinya. Bagi Maria, Ralf Hart adalah kekinian, yang setiap detik kebersamaannya adalah kenikmatan. Hari esok belum tentu hadir karenanya Maria tidak ingin membebani Ralf dengan hari esok. Sedari awal dia percaya bahwa “LOVE is NOT voluntary enSLAVEment, and FREEDOM only exists when LOVE is present”. Membiarkan Ralf terbang dengan kepak sayap kebebasan adalah wujud kasih tulus.

Although in most cases, Maria bisa saja memaksa Ralf untuk tinggal bersamanya, demi lenyapnya sebuah perasaan kehilangan, kepedihan, tapi tetap saja hati Maria tak lantas surut.

Sambil menutup renungan ini, let us rethink about LOVE that Love doesn’t fear of suffering, lost, and rejection. Selamat Paskah dan selamat menikmati cinta yang membebaskan.

A tale of 4 cities

Apa yang bisa diceritakan dalam perjalanan menempuh 3 kota dalam seminggu yang terjadi tahun lalu? Nothing. Medan, tak banyak yang kuketahui selain Restoran Garuda, Hotel Grand Angkasa, serta pusat jajanan di dekat alun-alun. Padang. Lebih parah lagi. Yang kutahu hanya Hotel Ambachang dan jalan aspal dari/menuju bandara. Akhirnya, Jakarta. Tempatku mengadu segala kepenatan, tempat peristirahatan sementara. Karena hidup adalah perjalanan dan Jakarta hanya sebuah persinggahan.

Mengulagi kisah yang sama setahun yang lalu, dua minggu lalu 4 kota sekaligus memenuhi ruang hariku dalam seminggu.

(1) Malang. Kota indah yang selalu menjadi jawaban atas pertanyaan Tempat Lahir yang disodorkan padaku. Hubungan kausal antara aku dan kota ini hanya terjadi sepihak saja. Kota ini mengetahui banyak sejarah masa kecilku dan merekam saat detik-detik menengangkan buah perkembangan makluk – hasil pertemuan dua zat di fallopia, sebuah tempat suci antara uterus dan ovarium- yang harus keluar dari rahim seorang wanita perkasa. Tapi sebaliknya? Aku tak mengetahui banyak tentang kota ini. Benar-benar tak imbang. Hingga kudapatkan sebuah buku berjudul “Malang, Telusuri Dengan Hati”.

Kota yang terhitung per 1 April 1914 menjadi gemeente (kotamadya) ternyata hasil pemekaran dari karesidenan Pasuruan. Berawal dari peta tua yang terpampang beberapa kali di buku-nya Pak Dwi Cahyo ini, aku mulai menelusuri kisah-kisah yang membuat romansaku atas kota ini membubung tinggi. Klojen misalnya, area yang dulunya adalah Lodji or Loji – benteng yang dipakai Belanda disepanjang kali Brantas samping Rs Saiful Anwar, kini hanya menjadi kawasan tua. Nama Lodji segera berevolusi menjadi Loji lalu ke-loji-an dan berakhir dengan Klojen. Lidah kitapun berevolusi seturut waktu. Konon di area ini perumahan pertama di Malang didirikan. Tak ayal, nama-nama anggota kerajaan seperti Juliana, Willem menghiasi jalan-jalan diarea ini. Siapa pula yang menyangka kalau di area tempatku bermain dahulu kala sering dijumpai macam kumbang.

Do you want to experience Malang in the earlier days namun tak sempat datang di bulan april saat jalan ijen disulap menjadi malang tempo doeloe? Kusarankan untuk mengunjungi Restoran Inggil di Jalan Gajah Mada. Menikmati foto-foto yang tergantung di dinding restoran yang merupakan bangunan peninggalan jaman Belanda itu membuatku terbawa mesin waktu, kembali ke masa lalu. Membaca pamflet-pamflet tua mengingatkanku akan betapa kentalnya pengaruh Belanda di kota ini. Ingin membaca kisah kota ini lebih jauh ? kusarankan untuk menanyakan ke pelayan restoran, mungkin mereka masih menjual buku yang ditulis sendiri oleh sang pemilik restoran.

(2) Kalau Malang sarat dengan warisan budaya Belanda yang kental. Hanoi menyisakan kisah pendudukan Perancis. Empat hari di Hanoi tak menyediakan banyak hal selain meeting dan dining. Makanan eksotisnya dan keruwetan khas Hanoi menjadi kesan pertamaku. Sepeda motor seolah bergerak bebas tanpa aturan, ditunggangi oleh pengemudi-pengemudi yang nampak enggan menginjak rem. So be careful yach kalo ke kota ini!

Hari terakhirku dinodai oleh penipuan seorang sopir taksi, yang men-chargeku dengan argo kuda, membuat rekaman ingatanku akan mausoleum Ho Chi Minh, museum Vietnamese History serta Temple of Literature seolah-olah ditenggelamkan di dalam Hoan Kiem Lake yang terletak di old quarter di pusat kota Hanoi. Akhirnya, boneka-boneka kayu yang dikemas dalam pertunjukan “water puppet” selama satu setengah jam itulah yang sedikit menghiburku.

Sebelumnya aku sempat kecewa dengan bangunan “One pillar Pagoda” yang di pamflet diiklankan sedemikian rupa membuat ekspektasiku akan site ini menjadi berlebihan. Aku telah dengan semena-mena men-judge bangunan sederhana ini tanpa mengetahui sejarahnya yang hampir berumur 10 abad. Beruntunglah, masih ada Pho , rice noddle yang lembut, dan bánh cuon, semodel lumpia basah dari tepung beras yang diisi daging, yang menguapkan kekecewaan hati. Kadang harus aku akui bahwa kebahagiaanpun bisa datang dari nikmatnya santapan.

(3) Hari berikutnya, Makasar, yang tiap sudutnya adalah kisah yang indah. Sepanjang Losari yang sudah membisu, beribu ungkapan kata indah pernah singgah disana. Lalu Sunset pulau khayangan yang memukau tak bisa kunikmati kali ini. Lagi-lagi waktu yang bisa dipersalahkan kali ini. Karena waktuku habis di ruang-ruang hotel.

(4) Dan akhirnya …. Jakarta lagi. Kota persinggahan. Cukup sudah 4 kota dalam seminggu, membuatku bak flight attendance, karena hampir tiap saat terlihat di bandara.

Evolution In Time

Michael Wesely

Judul tulisan ini mungkin lebih pas ditanyakan ke Vira dan Ahmad Syukaery yang baru saja menjabani likeness quiz di facebook tentang new year’s resolution. Bagaimana resolusi tahun baru itu menjadikan evolusi dalam hidup mereka? Entahlah, hanya waktu yang tahu. Lalu apa kaitannya dengan gambar di atas? Kadang korelasi tak perlu diciptakan hanya untuk kita bisa menikmati dan memaknai keindahan. Tapi gambar di atas jelas sekali menggambarkan evolution in time. Kisahnya demikian …

Kemaren seorang teman yang sedang mengisi waktu luangnya dengan kursus fotografi di Amsterdam menelponku. Lalu … temanku itu bercerita tentang tokoh ini. Manusia memang beruntung, kala hatinya sedang tidak menentu, banyak sekali yang bisa dijadikan pelarian. Sebulan lalu, aku hampir memutuskan untuk mengambil kursus fotografi. Beruntung, obyek pelarianku teramat banyak. Kursuspun urung kulakukan, aku terbelenggu di tempurung waktu.

Di tempat yang berbeda, aku menghabiskan waktuku di depan Museum Fatahilah. Duduk sendiri dipinggir kolam yang tak jernih, mengamati anak-anak kecil yang bermain sepak bola, skate board dan sepeda. Sesekali gerakan mereka terhenti di dalam kameraku, dan berganti format menjadi RAW. Somehow, kebahagiaan mereka menulariku. Entah apa jadinya kalau ide brilian Michael Wesely kuaplikasikan saat itu, dan aku terpaksa menunggu 2 tahun demi menikmati hasil dari proyek fotografi ini. Aku tak cukup sabar sekaligus was-was kalau dalam 2 tahun museum ini berevolusi menjadi mall ataupun gedung multiguna lainnya.

Oh ya Michael Wesely ini fotografer kelahiran Munich yang saat ini menetap di Berlin. Proyek open shutter-nya ini sangat brilian, dengan kamera obscura dia men-setting long exposure, hingga dua tahun, dengan aperture yang sangat kecil. Mengambil lokasi di Potsdamer Platz, Berlin, Michael Wesely berhasil mengabadikan proses rekonstruksi bangunan yang terjadi di lokasi itu selama dua tahun. Alhasil semua kejadian dalam dua tahun terekam dalam satu gambar, tentu gambarnya jadi artistic. Bayangkan … semua kronologi dalam dua tahun itu terekam dalam satu gambar statis dua dimensi. Sungguh ide brilian.

Menengok Bintang di Langit Terang

january-starry-nights-1.jpg

Weekend kemaren, dua malam berturut-turut, Jakarta cerah, tak secarik awanpun berani mengusik pandanganku dari Orion, Taurus, Canis Major, Canis Minor, Auriga pun Gemini yang berkedap kedip memainkan mata.

Biasanya aku akan menelpon seorang sahabat, memintanya menyiapkan laptop untuk kemudian bersiap menangkap bintang. Lalu sambil bergumam lirih “Somewhere out there beneath the pale moon light someone’s thinking of me, and loving me tonight…” aku mulai menunjuki bintang itu, satu persatu.

So don’t be sad, someone out there is thinking about you… if your world seems to crumble, look at the stars, they are still there for you.

But then, which stars are you going to see tonight? OK, lets start gazing the night sky. Jam 9 malam jadikan Orion sebagai zenith. Ini konstelasi yang paling mudah kita dapatkan. Kalau kamu menemukan 3 bintang kecil, Alnitak, Alnilam dan Mintaka berjajar ditengah 4 bintang yang relatif lebih besar, membentuk trapesium dan yang pada pukul 9 malam berada tepat di atas kepalamu itulah tubuh Orion. Dari keempat bintang itu, ada 2 bintang terang yang bila ditarik garis lurus akan membentuk garis diagonal. Itulah Betelgeuse yang berwarna kemerahan dan Rigel yang tampak putih kebiru-biruan. Kumpulan beberapa bintang itulah yang diberi nama Orion yang dalam mitologi yunani tergambar sebagai seorang hunter. So once you notice Orion, you wont be lost.

Lalu cobalah berdiri menghadap ke barat, tetap tengadah dan puaskanlah dahagamu atas Orion yang melebar di atas kepalamu. Setelah itu tarik pandanganmu ke arah barat. You won’t miss Capella, bintang terang dengan warna kuning berpendar-pendar menduduki ruang khusus di konstelasi Auriga.

Jangan, jangan dulu kau selesaikan aktivitasmu malam ini. Karena Orion dan Auriga belum seberapa. Tak jauh dari Capella, tarik pandanganmu ke arah timur lalu sedikit bergeser ke utara. Ada kumpulan bintang-bintang kecil disana, a tiny twinkling cluster of stars, yang berjarak 400 tahun cahaya dari bumi. Pleiades. Saking rapatnya jarak antar bintang-bintang ini, banyak yang beranggapan inilah awal mula bintang, ledakan itu telah berlangsung berjuta-juta tahun lalu. Bintang paling terang di cluster ini bernama Alcyone (baca: Al-sigh-oh-nee). Pleiades sering juga disebut sebagai “seven sisters”, though the number of stars in the cluster could be hundreds. Namun yang bisa ditangkap oleh our naked eyes hanya 6. Tak percaya? Cobalah lihat dan hitung nanti malam. Kalau lebih, berarti kaca mata silindrisku mesti segera diganti.

Sudah puas dengan Pleiades? Coba tarik lagi pandanganmu dari Pleiades ke arah selatan, lalu sedikit ke timur, atau simply arah tenggara dari Pleiades, tampaklah Aldebaran, “the bright red eye of the bull” mengingatkanku pada seorang teman yang dinaungi konstelasi Taurus. Konstelasi Taurus “The Bull” membentuk huruf V, bentuk ini lebih kasat mata, dan Aldebaran berada di sini kiri garis V. Aldebaran, the bright red giant star, sempat kupakai sebagai nick name di beberapa kesempatan demi menghormati Redantares ataupun Shaulascorpius yang terlalu sering di eksploitasi.

Kurasa … cukup ini dulu untuk nanti malam, otherwise tetanggamu akan berpikir kau sedang dalam masalah, karena sudah tengah malam tak jua kau tidur. Menengadah berjam-jam, seolah-olah menunggu blessings dari Atas, akan membuat urat lehermu sakit. Aku tak bertanggung jawab. Oh ya … nice dream ya … bersama bintang :).

When October Goes …

And when October goes
The snow begins to fly
Above the smokey roofs
I watch the planes go by

The children running home
Beneath a twilight sky
Oh, for the fun of them
When I was one of them

And when October goes
The same old dream appears
And you are in my arms
To share the happy years
I turn my head away
To hide the helpless tears
Oh how I hate to see October go

I should be over it now I know
It doesn’t matter much
How old I grow
I hate to see October go

Hari Oeang Repoeblik Indonesia

Tak urung pembacaan Detik-detik Beredarnya Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) disela-sela aktifitas upacara bendera di pagi nan mendung, membuatku merinding tak keruan.

Satu hari dan 61 tahun yang lalu, tersebutlah Boeng Hatta mendeklarasikan ini:

“Besok tanggal 30 Oktober 1946 soeatoe hari jang mengandoeng sedjarah bagi tanah air kita .

Rakjat kita menghadapi penghidoepan baroe. Besok moelai beredar Oeang Repoeblik Indonesia sebagai satoe-satoenja alat pembajaran jang sah. Moelai poekoel 12 tengah malam nanti, oeang Djepang jang selama ini beredar sebagai oeang jang sah, tidak lakoe lagi. Beserta dengan oeang Javasche Bank. Dengan ini toetoeplah soeatoe masa dalam sedjarah keoeangan Repoeblik Indonesia. Masa jang penoeh dengan penderitaan dan kesoekaran bagi rakjat kita!
Sedjak moelai besok kita akan berbelandja dengan oeang kita sendiri, oeang yang dikeloearkan oleh repoeblik kita. Oeang Repoeblik keloear dengan membawa perobahan nasib rakjat, istimewa pegawai negeri, jang sekian lama menderita karena inflasi oeang Djepang. Roepiah Repoeblik jang harganja di Djawa lima poeloeh kali harga roepiah Djepang, di Soematra seratoes kali, menimboelkan sekaligoes tenaga pembeli kepada golongan rakjat jang bergadji tetap, jang selama ini hidoep dari pada menjoeal pakaian dan perabot roemah, dan joega kepada rakjat jang menghasilkan, jang penghargaan toekar barang penghasilannja djadi bertambah besar “

Selamat Hari Oeang Repoeblik Indonesia.

Sekali Berlibur, Empat Lima Pulau terlampaui

Berbeda dengan trip to Belitung yang hanya menyinggahi 2 pulau kecil. P’Lengkuas dan P.Burung, perjalanan kali ini berhasil menyinggahi 5 pulau sekaligus, meskipun dua diantaranya hanya menelusuri garis pantai-nya.

Tersebutlah Pulau Karimun Jawa, tempat Kapal Motor Cepat Kartini berlabuh. Pulau yang mayoritas penduduknya adalah nelayanini terbilang cukup ramai. Mereka mendiami pesisir pulau yang didominasi oleh pegunungan. Beberapa bangunan tua masih difungsikan sebagai bangunan administrative pedesaan. Namun tak jarang bangunan mewah berlantai dua,yang salah satunya di beri tonggak “milik petinggi desa”, meramaikan landscape pulau ini. Di pulau yang terdiri atas satu kecamatan dan dua desa inilah nadi administratif pemerintahan kepulauan Karimun Jawa terletak.

Pulau Kedua di hari kedua, perjalanan kami adalah P.Menjangan Besar. Terletak bersebelahan dengan P. Karimun Jawa, pulau ini tambak jauh lebih kecil kalau dilihat di peta. Vegetasi yang banyak tumbuh di pinggir pantai adalah Bakau. Hamparan pasir putih dan gradasi air laut dari hijau muda, biru muda hingga biru tua memenuhi ruang pandangku. Tak jauh dari tambatan perahu, berdirilah bangunan kayu semi permanen tempat petani membudidayakan kerapu. Luntur sudah idealisme seorang teman yang tak mau menyentuh daging kerapu karena menurutnya demi menangkap kerapu, nelayan harus meletakkan bom diantara karang-karang. Memakannya berarti ikut merusak karang. Bagi kami tempat ini berarti mendayakan kerapu secara berbudi.

Di hari ketiga, tiga pulau sekaligus terlapaui. P.Cemara Besar, P.Cemara Kecil dan P.Menjangan Kecil. P. Cemara Besar, dari namanyapun sudah tertebak, pasti vegetasi cemara berkerumun di pulau ini. Sebelum perahu merapat di sisi utara P.Cemara Besar, kami menyempatkan snorkeling di kedalaman laut 2-3 meter. Tak banyak ikan di sini, tapi koral laut berbagai bentuk yang berwarna warni menyuguhi mata kami dengan keindahan dan membuat kami betah terapung di atas air.

Sesi berikutnya kuberi judul Narsisme di P.Cemara Besar. Di sesi ini keberadaan tripod sungguhlah berarti. Bagiku, melakukan perjalanan dengan rekan-rekan yang hobby fotografi menjadikan trip kali ini sungguh istimewa. Di pulau ini kami bermain komposisi. Namun kegembiraan sesaat berubah menjadi kegundahan kala perahu yang tertambat tergeser oleh ombak. Tempat kami mendarat yang semula hanya sedalam 60 cm, bergeser ke tempat dengan kedalaman 180 cm. Tinggiku yang Cuma 165 cm takkan mampu menyelamatkan kamera dan propertinya. Lagi-lagi Paulus datang sebagai dewa penolong. Tingginya yang di atas 180 cm, membuatku santai berenang ke arah perahu.

Tidak berbeda dengan aktifitas kami di P.Cemara Besar, di P.Cemara Kecil beberapa diantara kami yang masih belum puas snorkeling segera mencebur ke laut. Dengan kedalaman yang lebih dari 2 meter, terlihat banyak ikan disini. Tak lama kemudian perahupun melaju ke P.Menjangan Kecil. Tak banyak yang bisa kami lakukan di sini. Melihat kapal karam di dasar laut? Ahh, yang ini jelas bukan bagianku, bahkan di kolam renangpun aku belum bisa memanage tubuhku untuk berenang di dasar kolam.

Aktifitas hari itu kami tutup dengan mendaki perbukitan Karimun Jawa. Rasa lelah seakan terobati dengan pemandangan Sunset dari atas bukit. Meskipun pemandangan sunset yang tak sempurna, kami cukup puas bisa mencapai lanskap yang berbeda.

Liburan di P.Karimun Jawa kali ini kututup dengan perjalanan malam di atas bus ekonomi menuju Terminal Bungur Asih. Dan di atas roda yang melaju di kegelapan malam, aku sendirian mengenang keindahan dan kehangatan yang sempat singgah. Ah, kadang keindahan itu tidak bisa kita kuasai seterusnya.

Wisma Apung Pak Joko, dimana keramahan dan kehangatan membaur.

Di Wisma Apung

“Wontenipun namung kamar ingkang mboten ngangge AC, kamar mandinipun datheng njawi” (yang ada hanya kamar non AC dengan toilet diluar), begitu jawab Pak Joko via telp ketika aku mencoba reserve kamar dari Jakarta. Kamar tak ber-AC tak masalah. Kamarkan cuma buat tidur, aku pasti akan banyak menghabiskan waktu berjalan-jalan dipulau pikirku, seraya mengiyakan reservasi kamar berikut paket perjalanan.

Dugaanku untuk berjalan-jalan di pulau sembari menunggu saat tidur tibaternyata salah besar. Euphoria selesai Kapal Motor Cepat Kartini merapat dipelabuhan Karimun Jawa sirna begitu saja tatkala kami dibawa sebuah mobil carry ke satu pelabuhan disisi lain pulau. Masih terngiang perjalanan di atas kapal cepat yang mengocok isi perutku harpir 3.5 jam lamanya. Lalu … siksaan apalagi ini? Apakah demi melihat sorga orang mesti sengsara?

Ah ternyata hanya 5 menit perjalanan dengan kapal motor nelayan sampailah kami di Wisma Apung, deretan kamar kayu yang kokoh berdiri di atas karang yang sama sekali tidak attached ke satu pulaupun. Kami dikelilingi air. Daratan hanya bisa ditempuh dengan perahu, atau kalau berani nekad, berenang diantara karang dan bulu babi bisa mengantar kami ke pulau terdekat, P.Menjangan Besar.

Lantas apa yang bisa kami lakukan disini kalau jadwal trip ke pulau sedang tidak ada? Awalnya kupikir pagi dan malam hari akan sangat membosankan. Lagi-lagi aku salah. Ini saatnya mengeksplore sisi lain Putut dan Paulus, teman seperjalananku. Tak berhenti di sini, kamipun mengeksplore hingga kamar-kamar sebelah.

Tersebutlah dua keluarga dari Jakarta dengan masing-masing dua anak, menjadi akrab dengan kami. Ini efek intensitas pertemuan yang tak terelakkan. Pak Gunawan, seorang advokat yang ramah beserta istrima yang dosen kedokteran Untar menyapa kami terlebih dahulu. Ariel anak pertamanya yang gemar fotografi selalu mengalungi Canon D400. Clements calon dokter yang gentle dan penolong sedari hari pertama telah menghiasi dua jarinya dengan tensoplast akibat taring-taring hiu yang mencoba meraih ikan dari tangannya.

Adalagi pasangan Ari dan Bhakti yang berdomisili di Depok yang selalu deperlengkapi dengan peta perjalanan. Dengan Ari yang aktif di milis jalan-jalan, aku asyik berdiskusi tentang trip-trip perjalanan yang mengasyikkan.

Pak Joko yang asli Magelang sesekali nimbrung ditengah-tengah obrolan kami, menambahi pengetahuan kami tentang pulau ini. Si Mbah Putri penunggu Wisma Apung, masih enak juga diajak ngobrol. Nenek Pak Joko yang berusia kurang lebih 65 tahun ini penduduk asli Karimun. Darinya kuperoleh cerita bahwa Pak Joko memberdayakan seluruh keluarganya untuk mengelola wisma ini. Betul-betul proyek padat karya.
Nah satu lagi, seorang lelaki tua lebih dari 70 tahunan, Kakek Pak Joko, yang penglihatan dan pendengarannya mulai terganggu. Bercakap-cakap dengannya membuat kami menemukan species ikan baru diperairan Karimun Jawa “I(h) KAN GAK NYAMBUNG”

In short, dalam 4 hari 3 malam, Kopi Kapal Api, Teh Sariwangi dan kacang garing menjadi saksi kehangatan yang tercipta di atas Wisma Apung.

Karimun Jawa, Oct 13 – 16 2007

Karimun Jawa

Bagiku KARIMUN JAWA adalah pelarian atas rencana soft trekking ke Krakatau yang terpaksa digagalkan secara sepihak oleh seorang teman yang tak rela ditinggalkan.Namun, tak sedikitpun aku menyesali itinerary dadakan dengan perencanaan setengah matang,bak dua butir telur, menu sarapan pagiku setiap aku menginap di hotel, disajikan didepan mata lalu dilahap. Pun dengan Karimun Jawa, semua tersaji didepan mataku. Otakku menangkap dan mengolahnya, lalu dia membiarkan indra-indra lain mengecap keindahan lewat sentuhan-sentuhan langsung. Mata menangkap keindahan diantara hijau birunya laut nan jernih, telinga mendengar riak merdu ombak dan burung-burung yang perutnya sudah dikenyangkan oleh ikan, hidungku mencium aroma khas laut. Rasa asin yang terkecap sesekali kala terhantam riak kecil saat snokling di Tanjung Gelam. Kulitku, lagi-lagi merasakan sengatan matahari, membuat efek Belitung semakin kentara dikulitku.

Overall, perasaanku dihibur oleh semesta yang tampak elok di depanku.

Siapa sangka perjalanan hampir 20 jam dari Jakarta, dihantam kelelahan, kantuk dan mualnya perut akibat hentakan gelombang, akan berakhir di sorga Karimun Jawa? Siapa juga yang menduga bahwa “sorga” bisa ditempuh dengan 700 ribu untuk satu paket perjalanan include tiket PP Semarang – Karimun, all meal dan trip to the islands near by? I’m the lucky one.