Se sojogli cep Sivet !
Category: Life
Anomali Coffee
Ketika merasa anomali, kenapa tidak pergi ke Anomali Coffee?
Buat para coffee lovers, kafe di jalan Senopati No.35 Kebayoran Baru ini pantas untuk dicoba. Suasananya memang tak seromantis Gumati café di Bogor, tapi dengan teman minum kopi yang pas membuat suasanapun jadi romantis. Datang sendiripun tak masalah, karena kafe yang dilengkapi dengan hot spot ini mampu menyajikan keceriaan buat mereka yang datang dengan laptop ditangan.
Pilihan kopi lokal, asli negara sendiri membuat kita berdecak kagum, “Indonesia ini memang kaya rasa”. Pilihan kami semalam tentu kopi tubruk, rasa kopinya yang kental dan aromanya yang mantap, membuat kami melayang seolah kami sedang tersesat ditengah-tengah ladang kopi di Tanah Gayo. Kebetulan semalam, kopi Aceh Gayo menjadi pilihan kami. Toraja Kalosi sampai kopi Sumatera Mandailing pun ada. Bahkan kopi Irian Jaya nampak pula diantara tumpukan karung biji kopi yang tergeletak begitu saja di gudang kopi yang sengaja didesain sebagai display. Sepertinya kopi Irian Jaya ini akan menjadi pilihan kami untuk kedatangan berikutnya. Never try this before. Meminumnya sambil membayangkan bukit-bukit Wamena pasti akan memberi sensasi yang menarik.
Lalu apa yang bisa dilakukan di kafe ini selain browsing internet, membaca majalah atau bercakap-cakap ? Star gazing tentu saja :). Pilihlah tempat duduk di balkon di lantai dua. Semoga kamu seberuntung kami yang semalam dinaungi langit cerah, dihiasi Jupiter di sebelah timur, dibatasi Libra di sebelah selatan dan Scorpius yang melebar di atas kepala kami.
Oh ya, dikau yang nun jauh disana, andai langit malammu sedang cerah, jangan lupa lihat Antares ya? Iya, yang merah itu, sudah bisa membedakan warna bintang kan? I’ll see you there :).
Euro 2008, bertaruh di atas sebuah pengkhianatan
“Tidaklah menarik menonton sepakbola tanpa taruhan” seorang teman berujar.
Aku pada awalnya tidak menjagokan tim manapun dalam EURO 2008. Once England was not listed, for me, the competition never existed. Karena mendukung tim lain berarti mengkhianati hati. Beginilah diriku, penonton sepak bola dengan pengetahuan tentang persepakbolaan yang pas-pasan, sehingga pilihan dijatuhkan karena faktor faktor pertautan secara emosional saja.
Tetapi ketika melihat Tim Oranje yang sedemikian tangguh menghadapi Itali, hati ini mulai berpaling. Akal sehatpun menguasai. Aku akui Belanda bermain sangat brilliant. Ditambah lagi, hampir semua pemain Tim Oranje ini kukenal – ingat kata pepatah “Tak kenal maka tak sayang”. Dan akhirnya akupun berkhianat.
Jadilah Tim Oranje, tim favoritku. Taruhanpun mulai dimainkan. Tak berbentuk materi tentu saja, karena aku lebih suka ide-ide gila dan menyenangkan, yang membuat taruhan kita menjadi sesuatu yang tak mudah kita lupakan.
Semisal, naik merry go round dua putaran di tengah-tengah pusat perbelanjaan yang segera ditolak oleh temanku yang merasa hukuman ini tidak imbang dengan apa yang kupertaruhkan. Aku bertaruh akan menggunakan rok ke kantor. Sesuatu yang sangat extra ordinary bagiku, mengingat sudah hampir 10 tahun ini aku tidak mengenakan rok ke kantor. Akhirnya, berjalan mengelilingi lapangan di depan kafe De Daunan dinilai sebagai taruhan yang seimbang.
Kemenangan mutlak Belanda 4-1 atas Perancis menyelamatkanku dari rasa malu. Aku terbebas dari kewajiban mengenakan rok ke kantor. Dan demi itikad baik, kemaren temanku mengeksekusi apa yang menjadi kewajibannya.
Di sepanjang perjalanan keluar dari kafe De Daunan ke gerbang Kebun Raya, terlontar satu ide baru. Untuk taruhan berikutnya, meniup obor yang terpasang di sepanjang jalan dari kafe ke gerbang akan menjadi suatu hal yang cukup menarik dan menegangkan, karena setiap saat satpam bisa muncul dan menangkap kami, atau beberapa orang yang kebetulan lewat disitu dan melihat kami bisa mengganggap kami rada kurang waras. Ini yang membuat hidup lebih hidup 🙂.
Ide lain yang sempat terpikir adalah mewarnai rambut kami dengan warna kaos tim sepak bola yang kami dukung. Tentu hanya beberapa helai rambut saja. Aku beruntung tidak mendukung tim Yunani, karena perpaduan putih dan biru dirambutku yang tak hitam ini, akan membuatku tampak seperti orang penyakitan.
Hey, punya ide lain yang cukup menarik untuk taruhan?
Wereld Zonder Jouw
Ik heb een masker opgezet
En als mijn vrienden erom vragen
Zeg ik dat het heerlijk is alleen
Je foto`s zijn al van de wand
Alsof ik zo vergeten kan
Dat ik je mis
Hoe koud het is
Hoe leeg zo zonder jou
Hier om me heen
Ik kan je niet laten gaan
Al zeg ik dat het beter is
Alleen en zonder jou
Ik kan het gewoon niet aan
Ik mis je armen om me heen
Nee ik leef niet in een wereld zonder jou
Ik heb bijna alles geprobeerd
Alles om je te vergeten
Ik lieg als ze me vragen hoe het gaat
Ik lees wat boeken kijk TV
Maar daar verandert ook niets mee
Ik voel nog steeds
Verlang nog steeds
Ik denk nog steeds
En steeds alleen aan jou
Ik kan je niet laten gaan
Al zeg ik dat het beter is
Alleen en zonder jou
Ik kan het gewoon niet aan
Ik mis je armen om me heen
Nee ik leef niet in een wereld zonder jou
De tijd staat stil
De tijd die alle wonden heelt
Ze loopt niet zonder jou
Ik kan je niet laten gaan
Al schreeuw ik dat het beter is
Alleen en zonder jou
Ik kan het gewoon niet aan
Ik mis je armen om me heen
En alles aan je waar ik zo van hou
Nee ik leef niet in een wereld
Zonder jou
Arcturus – the orange giant star in Bootes
Kalau Bulan April Leo merajai langit malam, Ursa Major dan Ursa Minor mendominasi langit malam di bulan Mei. Bulan ini mari kita coba mengenal satu konstelasi menarik, BOOTES (read: boo-oh-teez). Sebenarnya Scorpius lebih merajai malam di bulan ini, Cuma hal ini sudah pernah kubahas disini.
Maaf, Regulus – the brightest star in Leo – belum sempat kubahas disini, bukan karena tidak menarik tapi aku sudah cukup puas hanya dengan menatapnya saja. Tetaplah menjadi bintang di langit.
OK, lets go back to Bootes.
Bulan Juni dikala kutub utara condong mendekat matahari yang saat ini berada 22 derajat di atas equator, stargazer in southern half of the planet prepare for the colder nights. Sebaliknya, mereka yang di bagian utara harus menunggu beberapa jam untuk menikmati starry nights, as the result of the day light hours grow long. So those of you in the north, Jeng Ely dan Lieve Steve … the nights worth waiting for, coz almost directly over your head, beautiful Arcturus awaits you.
Bootes, sekitar jam 8-9 malam sudah berada di atas kepala kita. Ini guidance dari posisiku di Jakarta. Cobalah cari tepat di atas kepalamu agak ke utara, ada satu bintang terang berwarna orange. I may say the brightest star in the northern sky, sedikit lebih terang dibandingkan dengan Vega dan Capella. Nah dari posisi Arcturus ini coba cari bentuk seperti gambar di atas. Rada anomali memang. Biasanya kita mengenal bintang setelah kita menemukan konstelasinya, ini justru kebalikannya. Tak apa, kadang-kadang kita mesti belajar menjadi unik, tak harus ikut-ikutan toch!
Bootes, yang dipercaya banyak ahli sebagai konstelasi tertua, digambarkan sebagai penggembala, meskipun kalau ditarik garis-garis penghubung antara bintang-bintang-nya, tak jelas juga Bootes ini merpresent apa. Just believe what people say that Bootes is Herdsman, with no cow but bear. Aneh kan!
Anyway, Arcturus-the brightest star in the constellation- ini rada istimewa. Menurut sejarah, Arcturus ini merupakan bintang pertama yang pernah diobservasi melalui teleskop di kala bumi masih terang. Kira-kira kejadiannya tahun 1635, tak lama setelah teleskop ditemukan oleh Galileo.
Well… as usual, lapor ya kalau sudah menemukan Bootes dan Arcturus.
Wacht op …
Antara NSO, Beethoven dan Bizet
Manusia Jakarta dan sekitarnya ini masih beruntung. Segala kemudahan demi memuaskan dahaga atas kesenangan-kesenangan yang bersifat pribadi sangatlah mudah dipenuhi. Tak harus ke Birmingham Symphony Hall atau Royal Albert Hall, pun ke Cheveningen untuk memperoleh efek dopamine yang melimpah ruah, cukup di dalam ruangan Balai Sarbini dengan kursi-kursi yang saling berhimpitan.
Sabtu lalu, aku dan temanku akhirnya menghabiskan waktu menonton Nusantara Symphony Orchestra di Balai Sarbini. Sabtu yang telah kami rencanakan beberapa minggu sebelumnya.
Komposisi Beethoven dan Bizet menyuguhi malam itu dengan harmoni keindahan bagi classical music lovers
Menonton orkestra tak seperti menikmati recital-nya Wibi Soerjadi, dimana bola mata kita tak kan bergerak dari jemari tangan yang lincah dan tubuh mungil Wibi (at least untuk ukuran European people) serta piano kesayangannya. Hey it’s also one of my fave performances I’ve ever seen. Bedankt voor een heerlijke tijd, Stev.
Konser malam itu, NSO membawakan Symphony no 5 in C minor komposisi karya Beethoven. Still… my fave is Moonlight Sonata. Tapi coba bayangkan sebuah komposisi indah yang diawali dengan birama megah bak musik iring-iringan kemenangan, lalu diikuti dengan aksen kontras dengan bunyi keras dan lembut dengan not-not dissonan. Kemudian berlanjut dengan alunan cello dan violin yang memainkan nada-nada lembut. Suara timpani yang menggema dan trombone yang semakin meriah, membuat kepala beberapa penonton kala itu mengangguk-angguk seirama hentakan musik Tak sadar tangankupun mulai latah bergerak-gerak, tentu tak ada niatan sedikitpun untuk menyaingi Mr Hikotoro Yazaki, yang malam itu menjadi conductor.
Sesi kedua, NSO menyuguhkan highlights Carmen yang dibawakan oleh Sarah Sweeting, sang mezzo soprano yang malam itu melakonkan tokoh utamanya, Carmen. Aning Katamsi, sang soprano melakonkan Micaela tunangan Don Jose yang dibawakan oleh Ndaru Darsono.
Dalam kisah ini Don Jose jatuh cinta pada Carmen, perempuan gypsy yang cantik dan menggairahkan, yang tiap gerakan matanya, tubuhnya maupun suaranya memiliki symbol sensualitas. Mungkin femme fatale lebih pas menggambarkan karakter Carmen yang malam itu divisualisasikan Sarah Sweeting dengan balutan gaun merah dan gerakan tubuh yang menantang.
Kisah Carmen mengambil setting di Seville – Spain, meskipun demikian opera ini tetap disajikan dalam French subtitles, mengingat Bizet yang wong Perancis.
Tersebutlah Don Jose, seorang tentara yang sedang berkerumun diluar pabrik rokok mendapati Carmen melemparkan setangkai mawah tepat dikakinya, Diapun terpesona oleh kecantikan perempuan ini. Dalam kisah selanjutnya diceritakan Micaela datang menemui Jose membawakan sepucuk surat dari ibu Jose yang memberitahukan anaknya bahwa Micaela adalah istri yang tepat untuknya.Merekapun bertunangan. Namun pesona Carmen tetap memikat hati Jose, hingga dia rela masuk penjara menggantikan Carmen yang kala itu terlibat perkelahian dengan perempuan lain.
Di babak kedua, dikisahkan pertemuan Carmen dan Escamillo seorang bull fighter yang dalam performance di Balai Sarbini malam itu diperankan oleh Harland Hutabarat, yang oleh partner nontonku disebutkan sebagai saudaranya. Herannya kenapa tak sedikitpun bakat menyanyi Harland terlihat di saudaranya yang malam itu duduk disisi kiriku.
Carmen dan Escamillo bertemu di sebuah bar yang cukup sering dikunjungi oleh para penyelundup dan pencuri. Tak segera merek jatuh cinta. Carmen masih setia menanti Jose. Sesaat setelah teman gypsynya merencanakan sebuah penyelundupan, datanglah Jose dan dia setuju melarikan diri dengan Carmen, bergabung bersama para penyelundup lainnya.
Singkat cerita (baca: babak II dan IV. Red) … Jose tiba-tiba meninggalkan Carmen setelah Micaela menyampaikan berita bahwa Ibu Jose sedang sakit keras. Carmenpun segera mengumumkan kalau dia jatuh cinta pada Escamillo, sang matador.
Suatu hari datanglah Carmen dan Escamillo ke bullring. Kala Escamillo harus bertarung melawan ketangguhan banteng, Carmen yang berada diluar arena terlibat perselisihan dengan Jose yang sengaja mendatanginya dan memaksa Carmen untuk tinggal bersamanya.
Tak tahan dengan sikap Carmen yang melemparkan cincin padanya dan mengatakan bahwa tak sedikitpun dia mencintai Jose, Jose-pun menikam Carmen. Disaat Carmen harus meregang nyawa, terdengar suara riuh dari dalam bullring, Escamillo seorang matador berhasil menguasai Banteng. Sungguh ironis!
Oh ya, prelude dalam opera Carmen ini dibuat megah dan menghentak-hentak, mengingatkanku pada Radetzky March op 228 komposisi karya Strauss, namun diakhiri dengan irama lembut. Ah lagi-lagi gak happy ending, layaknya kisah-kisah Tristan und Isolde, dan Romeo and Juliet.
Ummm, sebenarnya agak kecewa juga kala melihat Harland hanya membawakan ‘Toreador’, yang singkat saja. But overall, kami cukup puas. Di rumah…malam Sabtu yang telah larut segera dimeriahkan dengan bunyi ringtone ‘Toreador’ yang sejak dua tahun lalu menjadi ringtone esiaku. “Nice dream yaa…” menutup malam yang kala itu dihiasi konstelasi Virgo yang meluas di langit
Beneran, plesetan or kepleset?
A tale of 4 cities
Apa yang bisa diceritakan dalam perjalanan menempuh 3 kota dalam seminggu yang terjadi tahun lalu? Nothing. Medan, tak banyak yang kuketahui selain Restoran Garuda, Hotel Grand Angkasa, serta pusat jajanan di dekat alun-alun. Padang. Lebih parah lagi. Yang kutahu hanya Hotel Ambachang dan jalan aspal dari/menuju bandara. Akhirnya, Jakarta. Tempatku mengadu segala kepenatan, tempat peristirahatan sementara. Karena hidup adalah perjalanan dan Jakarta hanya sebuah persinggahan.
Mengulagi kisah yang sama setahun yang lalu, dua minggu lalu 4 kota sekaligus memenuhi ruang hariku dalam seminggu.
(1) Malang. Kota indah yang selalu menjadi jawaban atas pertanyaan Tempat Lahir yang disodorkan padaku. Hubungan kausal antara aku dan kota ini hanya terjadi sepihak saja. Kota ini mengetahui banyak sejarah masa kecilku dan merekam saat detik-detik menengangkan buah perkembangan makluk – hasil pertemuan dua zat di fallopia, sebuah tempat suci antara uterus dan ovarium- yang harus keluar dari rahim seorang wanita perkasa. Tapi sebaliknya? Aku tak mengetahui banyak tentang kota ini. Benar-benar tak imbang. Hingga kudapatkan sebuah buku berjudul “Malang, Telusuri Dengan Hati”.
Kota yang terhitung per 1 April 1914 menjadi gemeente (kotamadya) ternyata hasil pemekaran dari karesidenan Pasuruan. Berawal dari peta tua yang terpampang beberapa kali di buku-nya Pak Dwi Cahyo ini, aku mulai menelusuri kisah-kisah yang membuat romansaku atas kota ini membubung tinggi. Klojen misalnya, area yang dulunya adalah Lodji or Loji – benteng yang dipakai Belanda disepanjang kali Brantas samping Rs Saiful Anwar, kini hanya menjadi kawasan tua. Nama Lodji segera berevolusi menjadi Loji lalu ke-loji-an dan berakhir dengan Klojen. Lidah kitapun berevolusi seturut waktu. Konon di area ini perumahan pertama di Malang didirikan. Tak ayal, nama-nama anggota kerajaan seperti Juliana, Willem menghiasi jalan-jalan diarea ini. Siapa pula yang menyangka kalau di area tempatku bermain dahulu kala sering dijumpai macam kumbang.
Do you want to experience Malang in the earlier days namun tak sempat datang di bulan april saat jalan ijen disulap menjadi malang tempo doeloe? Kusarankan untuk mengunjungi Restoran Inggil di Jalan Gajah Mada. Menikmati foto-foto yang tergantung di dinding restoran yang merupakan bangunan peninggalan jaman Belanda itu membuatku terbawa mesin waktu, kembali ke masa lalu. Membaca pamflet-pamflet tua mengingatkanku akan betapa kentalnya pengaruh Belanda di kota ini. Ingin membaca kisah kota ini lebih jauh ? kusarankan untuk menanyakan ke pelayan restoran, mungkin mereka masih menjual buku yang ditulis sendiri oleh sang pemilik restoran.(2) Kalau Malang sarat dengan warisan budaya Belanda yang kental. Hanoi menyisakan kisah pendudukan Perancis. Empat hari di Hanoi tak menyediakan banyak hal selain meeting dan dining. Makanan eksotisnya dan keruwetan khas Hanoi menjadi kesan pertamaku. Sepeda motor seolah bergerak bebas tanpa aturan, ditunggangi oleh pengemudi-pengemudi yang nampak enggan menginjak rem. So be careful yach kalo ke kota ini!
Hari terakhirku dinodai oleh penipuan seorang sopir taksi, yang men-chargeku dengan argo kuda, membuat rekaman ingatanku akan mausoleum Ho Chi Minh, museum Vietnamese History serta Temple of Literature seolah-olah ditenggelamkan di dalam Hoan Kiem Lake yang terletak di old quarter di pusat kota Hanoi. Akhirnya, boneka-boneka kayu yang dikemas dalam pertunjukan “water puppet” selama satu setengah jam itulah yang sedikit menghiburku.Sebelumnya aku sempat kecewa dengan bangunan “One pillar Pagoda” yang di pamflet diiklankan sedemikian rupa membuat ekspektasiku akan site ini menjadi berlebihan. Aku telah dengan semena-mena men-judge bangunan sederhana ini tanpa mengetahui sejarahnya yang hampir berumur 10 abad. Beruntunglah, masih ada Pho , rice noddle yang lembut, dan bánh cuon, semodel lumpia basah dari tepung beras yang diisi daging, yang menguapkan kekecewaan hati. Kadang harus aku akui bahwa kebahagiaanpun bisa datang dari nikmatnya santapan.
(3) Hari berikutnya, Makasar, yang tiap sudutnya adalah kisah yang indah. Sepanjang Losari yang sudah membisu, beribu ungkapan kata indah pernah singgah disana. Lalu Sunset pulau khayangan yang memukau tak bisa kunikmati kali ini. Lagi-lagi waktu yang bisa dipersalahkan kali ini. Karena waktuku habis di ruang-ruang hotel.
(4) Dan akhirnya …. Jakarta lagi. Kota persinggahan. Cukup sudah 4 kota dalam seminggu, membuatku bak flight attendance, karena hampir tiap saat terlihat di bandara.
Menengok Bintang di Langit Terang
Weekend kemaren, dua malam berturut-turut, Jakarta cerah, tak secarik awanpun berani mengusik pandanganku dari Orion, Taurus, Canis Major, Canis Minor, Auriga pun Gemini yang berkedap kedip memainkan mata.
Biasanya aku akan menelpon seorang sahabat, memintanya menyiapkan laptop untuk kemudian bersiap menangkap bintang. Lalu sambil bergumam lirih “Somewhere out there beneath the pale moon light someone’s thinking of me, and loving me tonight…” aku mulai menunjuki bintang itu, satu persatu.
So don’t be sad, someone out there is thinking about you… if your world seems to crumble, look at the stars, they are still there for you.
But then, which stars are you going to see tonight? OK, lets start gazing the night sky. Jam 9 malam jadikan Orion sebagai zenith. Ini konstelasi yang paling mudah kita dapatkan. Kalau kamu menemukan 3 bintang kecil, Alnitak, Alnilam dan Mintaka berjajar ditengah 4 bintang yang relatif lebih besar, membentuk trapesium dan yang pada pukul 9 malam berada tepat di atas kepalamu itulah tubuh Orion. Dari keempat bintang itu, ada 2 bintang terang yang bila ditarik garis lurus akan membentuk garis diagonal. Itulah Betelgeuse yang berwarna kemerahan dan Rigel yang tampak putih kebiru-biruan. Kumpulan beberapa bintang itulah yang diberi nama Orion yang dalam mitologi yunani tergambar sebagai seorang hunter. So once you notice Orion, you wont be lost.
Lalu cobalah berdiri menghadap ke barat, tetap tengadah dan puaskanlah dahagamu atas Orion yang melebar di atas kepalamu. Setelah itu tarik pandanganmu ke arah barat. You won’t miss Capella, bintang terang dengan warna kuning berpendar-pendar menduduki ruang khusus di konstelasi Auriga.
Jangan, jangan dulu kau selesaikan aktivitasmu malam ini. Karena Orion dan Auriga belum seberapa. Tak jauh dari Capella, tarik pandanganmu ke arah timur lalu sedikit bergeser ke utara. Ada kumpulan bintang-bintang kecil disana, a tiny twinkling cluster of stars, yang berjarak 400 tahun cahaya dari bumi. Pleiades. Saking rapatnya jarak antar bintang-bintang ini, banyak yang beranggapan inilah awal mula bintang, ledakan itu telah berlangsung berjuta-juta tahun lalu. Bintang paling terang di cluster ini bernama Alcyone (baca: Al-sigh-oh-nee). Pleiades sering juga disebut sebagai “seven sisters”, though the number of stars in the cluster could be hundreds. Namun yang bisa ditangkap oleh our naked eyes hanya 6. Tak percaya? Cobalah lihat dan hitung nanti malam. Kalau lebih, berarti kaca mata silindrisku mesti segera diganti.
Sudah puas dengan Pleiades? Coba tarik lagi pandanganmu dari Pleiades ke arah selatan, lalu sedikit ke timur, atau simply arah tenggara dari Pleiades, tampaklah Aldebaran, “the bright red eye of the bull” mengingatkanku pada seorang teman yang dinaungi konstelasi Taurus. Konstelasi Taurus “The Bull” membentuk huruf V, bentuk ini lebih kasat mata, dan Aldebaran berada di sini kiri garis V. Aldebaran, the bright red giant star, sempat kupakai sebagai nick name di beberapa kesempatan demi menghormati Redantares ataupun Shaulascorpius yang terlalu sering di eksploitasi.
Kurasa … cukup ini dulu untuk nanti malam, otherwise tetanggamu akan berpikir kau sedang dalam masalah, karena sudah tengah malam tak jua kau tidur. Menengadah berjam-jam, seolah-olah menunggu blessings dari Atas, akan membuat urat lehermu sakit. Aku tak bertanggung jawab. Oh ya … nice dream ya … bersama bintang :).




