I thank God for this less promising year

How are you going to end this less promising year? Why less promising year, I could say a bad year instead. But I suddenly think that the word ‘year’ is really neutral, it depends on us how we see it. I just want to be sort of a positive thinker that this year has at least brought me to be a person as I am now. A lot has been done. A lot has been counted.  I may now in the cross road, but I know … God is Love and He moves the sun and the other stars. I’amor che move il sole e l’altre stele ~ Dante.

So … Happy New Year and Happy Holiday too!

Aku dan Marianne Katoppo

Tak bisa kubilang bahwa ini peristiwa kebetulan belaka. Tatkala seorang sahabat mulai membakari kertas-kertas undangan yang dihiasi dengan puisi indah Kahlil Gibran yang terjemahannya kuambil dari sebuah novel lawas berjudul ‘Dunia Tak Bermusim’, aku meratap, menyadari bahwa bukti sejarah ini harus dilenyapkan demi menyediakan ruang bagi kenangan-kenangan baru. Bukan undangan itu, pun nama-nama yang tertulis indah di sana – karena seperti pepatah menyebutkan bahwa waktu akan menyembuhkan, dan lima tahun telah berlalu- tapi, kata-kata yang dipilih Marianne Katoppo untuk menerjemahkan puisi Kahlil yang mesti turut menjadi abu yang aku sayangkan. Lalu diawalilah suatu masa, pencarian novel-novelnya, hingga kemudian kudapati sebuah berita “Pengarang-Teolog Marianne Katoppo berpulang – 13 Oktober 2007”, tepat seminggu setelah kuawali masa pencarianku. Ah, satu keindahan telah pergi, melayang bersama abu kenangan. Namun aktivitas hunting novel tetap berlanjut.

Mariane memang tidak hidup di jamanku. Papaku mengoleksi buku-buku karyanya. Tentu novel seperti Dunia Tak Bermusim, Raumanen dan Terbangnya Punai telah kubaca tanpa perasaan ketika aku masih ingusan, berseragam merah putihdan baru mengenal kata majemuk. Bahkan kala itu aku menutup Novel Raumanen dengan senyuman “Akhirnya selesai juga”.

Sebagaimana waktu telah diklaim sebagai tabib ulung penahir lara hati, waktu juga dituduh sebagai perubah perasaan manusia. Ketika membaca kembali Novel Raumanen sebagai buah pencarian selama beberapa minggu, aku baru menyadari kegetiran bahwa Raumanen adalah korban. Korban dari perasaan cintanya.

Novel yang hanya setebal 131 halaman ini diawali dengan kisah Raumanen yang menyadari bahwa akhir-akhir ini teman, saudara dan sahabatnya sudah jarang mengunjungi rumahya yang kecil dan sepi, di bawah pohon flamboyant tua. Dia merasa terasing. Monang, kekasih hatinya, yang kalah dan yang telah menyeret Raumanen kedalam jurang kekalahan-pun sesekali saja datang menengok. Itupun sehari sesudah perayaan hari-hari besar. “Dia pasti takut ketahuan istrinya” pikir Manen. Monang tak lagi bercakap dengannya, namun setiap kali kedatangannya dibawakannya bunga kesayangan Manen, Mawar Kuning.

Tersebutlah Raumanen – gadis bermata bulat, aktivis mahasiswa, lincah dan cerdas – yang dalam bahasa Minahasa berarti “gadis pembawa panen”. Monang adalah pemuda Batak, insinyur yang sukses. Namanya kependekan dari Hamonangan yang berarti “Menang”.

Monang telah menyeret Raumanen kedalam buaiannya. Hingga setanpun berkuasa. Dosa yang tercipta di sore kelam kala hujan mengguyuri Puncak, telah mengutuki penciptanya. Manen hamil. Raumanen, si gadis pembawa panen, telah memaneni buah dosa yang dibuatnya. Monang yang ternyata tak pernah menang atas hidupnya sendiri, harus menyerah pada adat. Pemuda Batak ini harus menikah dengan pariban pilihan ibunya. – Ah ini bukan jaman kita lagi.

Raumanen tak kuasa menanggung sikap pengecut Monang dan menyadari kenyataan bahwa bayi yang dikandungnya akan terlahir cacat, yang karenanya tak ada pintu lain yang terbuka baginya selain abortus provocatus. Namun beranikah dia membuka pintu ini? Bukankah ada tertulis dalam kitab perjanjian lama – “Jangan membunuh”?

Diantara langit yang mulai menggelap, Raumanen alpa. Sambil menggenggam kunci yang akan membebaskannya nanti. Ia memilih untuk membuang diri ke neraka. Terbuang dari Tuhan dan manusia. Terputus dari sumber kasihnya.

Novel ini diakhiri – lagi – dengan puisi Kahlil Gibran :
“Karena maut dan kehidupan itu satu adanya.
Sama seperti sungai dan samudra satu jua
Karena mati itu tak lain dari berdiri telanjang dalam badai
serta bersatu dengan matahari
Dan berhenti bernafas tak lain dari pada menceraikan nafasmu
dari pasang surut yang tak kunjung henti
Hingga kau dapat naik serta mekar mencari Ilahi”

Raumanen akhirnya menyadari dan mengerti … dipandanginya Monang, kekasihnya, bersujud dimuka salib putih, batu nisan yang bertuliskan “Raumanen” serta satu tanggal, disuatu hari yang kelam, sepuluh tahun lalu.

How can I stop all the clocks ?

Alone

Stop all the clocks, cut off the telephone,
Prevent the dog from barking with a juicy bone,
Silence the pianos and with muffled drum
Bring out the coffin, let the mourners come.

Let aeroplanes circle moaning overhead
Scribbling on the sky the message He is Dead.
Put crepe bows round the white necks of the public doves,
Let the traffic policemen wear black cotton gloves.

He was my North, my South, my East and West,
My working week and my Sunday rest,
My noon, my midnight, my talk, my song;
I thought that love would last forever: I was wrong.

The stars are not wanted now; put out every one,
Pack up the moon and dismantle the sun,
Pour away the ocean and sweep up the woods;
For nothing now can ever come to any good.

(The picture was taken during my trip to Belitung. I was alone and felt so empty inside me. This morning when I was reading through the lines of one of H W Auden’s poems- regardless to the rumors that he was a gay, I still love his chosen words- I somehow caught the similar feeling of emptiness, as if I stood alone waiting for every second tick I heard from my camera. I just want to stop it.)

Denisa nonton Denias

“Nama saya Denias, Mama saya disorga suruh saya sekolah karena Mama bilang gunung takut dengan anak sekolah. Pak guru juga, Maleo juga. Saya mau sekolah Ibu Gembala. Itu sudah.”

Minggu lalu si Denisa berteriak-teriak di depan pintu pagar rumahku yang masih kugembok. “Tante Ophi…Tante Ophi”. Duh koq ya Denis datang pas dikulkas cuma ada buah-buahan doang dan jamu kunir asem.

Seperti biasanya bocah 4 tahun ini akan mengambil album Foto Swiss lalu menunjukkan padaku sapi di lereng perbukitan di Jung Fraujoch.

“Ini Sapi Hendrika ya, Tante?” Tanya Denis. Oom-nya yang dari negeri seberang tahun lalu membawakannya sebuah buku dongeng happy cow, si Sapi Hendrika.

“Denisa mau nonton Denias?” kupikir ini satu-satunya yang bisa membuat bocah ini duduk manis sementara aku mandi. Denisa mirip dengan Denias. Gemar menyanyi, pintar, suka bermain sepak bola, namun tidak gemar berkelahi, kecuali main macan-macan-an dengan tantenya.

Namun tak sedikitpun hati Denisa dan Denias berpautan. Ketika Denias bersedih karena ditinggal Maleo pergi … dan lagu “Andai Kupunya Sahabat”* mulai dilantunkan, Denis langsung berdiri lalu tersenyum. “Sahabat … Tante”

“Sahabat pasti kan datang, dikala sedih dan senang. Sahabat pasti takkan pergi menemani disepanjang hariku”, dia berteriak-teriak dengan riang gembira. Dengan terpaksa akupun mengikutinya. Ini lagu kami

Aku baru sadar, bocah ini belum paham benar makna kesedihan. Bahkan belum usai film itu diputar dia sudah berteriak :”Tante kapan filmnya selesai?”

“Yuk, kita nyari Robot Transformers aja” kataku sambil mematikan film.

Ah beginilah kalau Denisa nonton Denias. ITU SUDAH !

* Denis hafal hampir semua lagu di Album lagu AFI Junior. Dan lagu berjudul Andai Kupunya Sahabat ada dalam album itu.

Time to Relax

Today, I could, finally, breath a sigh of relieve. Not much to be done. Having black background screen would somehow bore me. Reading through communities of small letters on yellowish papers made me as if I was reading a very old print edition of newspaper. Sterling bearish, Aussie bullish, Yen strengthened – reduce the profit of carry trade activities, volatility continues while market players are focusing on the Fed meeting in mid Sept. “What’s next?” I asked to my self. Sudoku would be a very good idea :). Lets play!

Kebetulan Agung

Tergelitik dengan tulisan Vira tentang kebetulan, membuatku ingin mencatat beberapa kejadian yang bisa dimaknai oleh sebuah kata dengan 9 huruf ini. First of all I would to clarify that aku tidak percaya bahwa kebetulan terjadi begitu saja, yang independen yang tanpa ada satu titik yang berfungsi sebagai detonator. Dengan alasan ini, aku menyebutnya sebagai Kebetulan Agung.

Semisal, Ki Ronggowarsito- pujangga jawa dengan lima karyanya, Kalatidha, Sabdajati, Sabdatama, Jaka Lodhang dan Wedharaga – yang konon mampu meramalkan kematiannya sendiri, tepat pada 5 Dulkaidah 1802 jw atau 24 Desember 1873.

Alkisah dalam bagian akhir bukunya Sabda Jati tertulis demikian:
Amung kurang wolung ari kang kadulu, emating pati patitis, wus katon neng lokilmakpul ing madya ari, amergi ri Buda Pon.”
Yang terjemahan bebasnya kira-kira begini: hanya kurang delapan hari yang terlihat oleh sang Pujangga, ajal telah tampak dalam suratan takdir, segala hitungan telah dilakukan, di tengah hari jatuh pada hari Rabu Pon (Buda Pon).

“Tanggal kaping lima antaraning Luhur, sasi Sela taun Jimakir, Tolu Uma Aryang Jagur, Sangara winduing pati, netepi kumpul saenggon.
Yang artinya seperti ini : Tanggal lima kurang lebih waktu Dzuhur, bulan Selo (Dulkaidah) tahun Jimakir …Windu Sangsoro ini kira-kira diartikan waktu kesengsaraan yang diasosiasikan dengan kematian sang pujangga.

Dan lalu bagian ahirnya tertulis seperti ini:
Cinitra in Buda kaping wolulikur, sawal ing taun jimakir. Candraning warsa pinetung, Nembah muka pujangga ji, Ki Pujangga pamit layon.”
Buku ini ditulis pada tanggal 28 (wolulikur) bulan Sawal tahun Jimakir. Nembah muksa pujangga ji diartikan sebagai tahun 1802, (Nembah or sembah =2, Mukso=0, Pujangga=8, Ji or siji=1)

Kalau disatukan dari bait-bait sebelumnya, maknanya adalah bahwa delapan hari setelah ditulisnya buku ini yakni pada tanggal 28 Syawal 1802, Sang Pujangga akan menghadap Yang Agung, tepatnya Rabu Pon, 5 Dulkaidah 1802. Jadi kebetulan biasa saja ataukah ramalan? I don’t believe both of them. Ini Kebetulan Agung.

Ceritaku lain lagi. Beberapa bulan lalu kami mampir di sebuah toko buku. Aku scanning and skimming beberapa judul buku baru, memilah-milah, menimbang-nimbang, lalu memasukkan ke dalam shopping basket. Sementara temanku terpaku hanya dengan satu buku, menimbang-nimbang, berpikir keras dan akhirnya memutuskan untuk meletakkan buku itu kembali ke raknya.

“Ini bukan saat yang tepat untuk membeli buku,” pikirnya.

Tapi kulihat keinginannya untuk membaca buku ini telah membuatnya tak beranjak dari rak itu. Aku – yang tidak tahu buku apa yang diincarnya – hanya melihat dari jauh sambil sibuk memanage keinginanku. Saatnya membayar tiba. Tiba-tiba aku disodori oleh mbak cashir dua buah buku untuk kupilih sebagai hadiah, karena pembelianku yang melebihi angka tertentu. Segera kuambil salah satunya dan kutunjukkan ke temanku seraya kami melangkah ke luar toko. Sesaat kami terdiam dan lalu tersenyum. Taukah kamu bahwa buku itulah yang sedari tadi memperoleh perhatian extra dari temanku. Jadi, apakah ini hanya kebetulan ?

Beralih ke 30 tahun silam, aku bertetangga dengan seseorang. Sebagai seorang bayi aku takkan mengenalnya. Bahkan hingga 5 tahun, pun 10 tahun kemudian, aku tak juga mengenalnya meskipun tempat bermain kami berdekatan. Tidak juga 17 tahun berikutnya ketika aku yang semestinya kuliah di PTN di kotaku memilih PTN yang jauh dari kota kelahiranku dengan alasan-alasan yang rada ethical. Dan ini yang mempertemukanku dan si Mas ini yang kostnya hanya beberapa ratus langkah dari tempatku tinggal.

Namun tak juga seseorang itu kukenal. Ada satu waktu dan satu tempat yang Sang Agung pilih sebagai waktu dan tempat yang tepat bagiku dan bagi seseorang ini untuk bertemu. Waktu dan tempat yang jauh dari perkiraan kami. To be honest, aku dengan sengaja tidak ingin melanjutkan percakapanku dengannya yang terkait dengan kemungkinan-kemungkinan pertemuan kami. Karena semakin banyak kami bercerita semakin kami dibuat merinding. Jadi, apakah pertemuan kami di satu waktu dan satu tempat itu pun juga hanya sekedar kebetulan?

Wanna tell me your experience?

Koran Pagi

Ini koran terpagi yang berhasil kami dapatkan, koran lain tentu tak sempat, suplemen Kompas Pontianak pun gagal didapatkan, karena jam 5.30 mobil telah membawa kami ke Bandara. Sesaat setelah itu pesawat menerbangkan kami meninggalkan Kota Pontianak. Cuma … beberapa angka ada yang kurang sesuai or salah quote Mbak!

Koran Terpagi

Morning

I got a nice short message this morning from my best friend in a small island on the eastern part of Indonesia.

When the sun had been around 30 degree high above horizons, She wrote me this: “God is wise, while we’re sleeping, He grants us a beautiful dream. In fact, He is much wiser as He wakes us up so that we can start making our dream come true.”

One reason I like to wake up early morning is that it allows me to take a look at the new day-sun. You can barely stare at the sun when it is already high. The new day sun is a sign of His presence. My eyes catch His strength. My skin pore absorbs His grace. And my heart feels His enduring love.

Hey, goede morgen Schaat, … will you smile at the sun?

Selamat Hari Bocah Nasional

Terberkatilah engkau wahai anak-anak kecil. Senyummu menyukakan kami. Tawamu membasuh perih.

DanielDANIEL masih sangat mungil. Aku terus merengkuhnya dan menciumi keningnya. Kala kedua matanya terkatup tak menyeluruh, dia tersenyum melihat bayanganku samar samar, lalu segera terlelap dalam sesaat. Rekaman kejadian ini selalu kumunculkan dikepalaku dan sengaja kuhadirkan kala hati ini ingin dihibur.

Advenadi DenisaDENIS, yg bukan the menace. Hobbynya menjadi jagoan, sehingga kala aku memilih menjadi kucing, dia akan memilih menjadi gajah yang dengan seenakkan menginjak-injak kucing. Atau, pada saat aku sesekali tak mau kalah dengan memilih menjadi harimau, dia akan memilih menjadi harimau besar. Dihadapannya aku selalu kalah , namun tanpanya dunia ini sepi.

SiLSIL, nama yg singkat, sesingkat pertemuan kami. Bocah satu ini tak pernah membiarkanku mencium pipinya yang merah dan gemuk. Tapi selalu saja aku berhasil mengecohnya. ‘Op… Apeltje, Melk’ adalah kata-kata pertamanya. Rupanya urusan perut lebih gampang nyangkut ketimbang urusan emosi. Bersamanya aku berlomba menghapal kata-kata benda sederhana… vogel, paard, konijn. Mamanya akan tersenyum bangga melihat jagoan kecilnya bisa mengalahkanku.

VIO, si tiger kecil, yg tak bisa tidur tanpa terlebih dahulu mengusap-usapkan ekor bantal Tigre dimukanya. Jagoan yang satu ini memanfaatkan besar badannya yang diatas rata-rata utk mengintimidasi teman-teman pre schoolnya. Baru masuk ruangan semenit sebuah teriakan protes pasti akan membahana di dalam kelas “Vioooo…”. Ah tigerku yg usil.

Selamat hari bocah ponakan-ponakanku… Sil, jij komt niet uit Indonesie maar mag jij natuurlijk mee om te vieren.