New 7 Wonders – Jangan cari Borobudur di Nominated List

What is in your mind after knowing the announcement of new 7 wonders of the world? Are you wondering about the result which may not match to your expectation? Perhaps you first need to check this before arguing the result.

Well… pagi pagi sekali aku telah mendapati, email David, Agusto en Paola yang Peruvian meramaikan inboxku. “Thanks for your vote” David said, while referring to his previous email which had provoked some of us to vote for Machu Picchu.

To be honest, aku tidak ikutan memilih. Bukan karena kecewa Borobudur tidak masuk dalam nominasi tapi karena – menurutku – ini sama halnya dengan pemilihan idol yang subyektivitas akan mendominasi keputusan untuk memilih. I might vote for Mahu Picchu for a friendship reason, or Eiffel tower or Neuschwanstein Castle or Stonehenge for a historical reason related to my personal experiences.

I don’t mind really, Borobudur – the Biggest Buddhist Temple isn’t included on the list. As Dr. Zahi Hawass, leading ancient archeologist in Egypt, refuses to include Giza Pyramid to the competition list. Copying his underlying reason, Borobudur is not comparable to those nominated objects. He questioned about the people who do not have experience or any knowledge of history who vote on sites. Well, the vote should be restricted to archaeologists, historians and scientists if I may add for the argument of the absence of Borobudur from the nominated list. Mmm kind of alasan pembenaran. Oh ya at the end, Giza Pyramid was removed from the nominated list and was announced as honorary candidate.

I know there are so many arguments in place either prior to or after the announcement. Well, lets take it as is and let David, Agusto and Paola enjoy their euphoria upon the announcement of Machu Picchu as one of the new seven wonders.

For us, Indonesian citizen, tak perlu reesau. We have more than 7 of wondering sites. I.e Candi Loro Jongrang. Coba sebutkan candi mana yang dibangun hanya dalam satu malam. Bahkan Neuschwanstein, setelah 17 tahun peletakan batu pondasi, masih left unfinished. Lalu Tangkuban Perahu. Coba sebutkan site mana yang ditendang langsung jadi gunung sebagus itu. Namun yang lebih wondering lagi, seonggok batu karang di Pantai Aia Manih di Sumatera Barat yang berasal dari seorang anak kualat bernama Malin Kundang. Hey … lagi mikir yach, mana lagi yang bisa masuk list 7 wonders ala Indo ? I’m wondering 🙂 what in your mind is.

UK : mengenang penggalan hidup

Dua buah pin, satu pin berlambang bendera Indonesia dan Britain, satu lagi berbendera Britain dengan tulisan Great in Education, menjadi souvenir ketika diminta berbagi pengalaman tentang kuliah di UK.

Acara yang dihadiri cukup banyak calon mahasiswa itu berlangsung dua jam di Hotel the Sultan. Ada 5 alumni UK institutions bersedia sharing pengalaman, termasuk aku. Banyak yang mengagungkan kota tempat mereka bertempur demi setimba ilmu. Aku yang kala itu harus ke Birmingham demi bertimba-timba ilmu, tak melihat kondisi kota terbesar di West Midlands itu sebagai dasar pilihanku. Dikala butuh penyejukan temen-temen alumni yang lain akan berlarian ke bukit-bukit indah disekitar kampus, aku cukup masuk ke sebuah charity shop milih Cancer Research, di daerah Harborne untuk sekedar mencari burning oil beraroma lavender yang kubakar disela-sela kesesakan hati.

Birmingham, tak seaman kota-kota yang sempat diceritakan para alumni yang beberapa kali mengingatkan tentang penembakan di kota mereka tinggal. Aku tau mau berkomentar tentang hal ini, meskipun selama setahun aku tinggal, telah terjadi dua kali penembakan di daerah Perry Barr, tempat yang tak jauh dari lokasi komunitas Indonesia berada. Aku tak ingin memberikan kesan seram di sebuah kota yang turut berkontribusi terhadap kisah hidupku..

Di negeri orang kita memang mesti hati-hati dan tau diri. Berusaha ramah dengan local residence. Bahkan ketika melewati kucing local berbulu tebal pun selalu kukatakan, “Morning Love, feeling good today?” meniru penjaga-penjaga di toko orang India Pakistan yang selalu memanggil customernya dengan sebutan “Luv”. Aku serasa sedang berkencan dengan salah satu dari mereka, setiap kata-kata “Luv” ini muncul.

Btw, tak banyak yang aku share dengan para calon mahasiswa ini, kecuali bagaimana ngakali seminggu pertama di UK. Pakailah bank contact anda. Google akan bersenang hati membantu Anda, tentu dengan key word “milis PPI UK”. Dan jangan lupa bergabung dan drop email dengan subject Help ;).

Kendala bahasa bisa diatasi tanpa tape recorder yang hanya akan berfungsi 2 minggu kemudian dibiarkan tergeletak dengan alasan waktu me-replay yang tak tersedia. Baca text booknya pas masih di Indo, sukur-sukur kalo nemu. Tentu anda harus contact program manager Anda untuk mengetahui list text book yang dipakai.

Milih private atau university accommodation? kalau ngomongin budget, private lebih ngirit. Tapi kalau tingkat kenyamanan ya university accommodation lebih menjanjikan. You buy the quality. Nyaman dalam artian, gak perlu ngurus2 gas listrik air TV or sambungan internet. Tapi Telewest Blue Yonder menjawab dua pertanyaan terakhir. Dengan 35 Pound, TV kabel, fix line telepon dan broadband internet selama sebulan terjamin. Lalu gas, air dan listrik ntah kami pakai apa. Di negara yang persaingannya cukup sehat, harga akan bersaing. Kalau tidak salah kami sempat ganti 3 kali provider dalam setahun. Sungguh rekor yang ruarr biasa menginat seumurr hidupku aku harus stick kepada PT PLN tercinta untuk menyuplai listrik

Tentu aku ambil private accommodation, dan tinggal bersama teman-teman senasib, para Chevening Scholar dari negeri … aku bahkan tak mengenali dari mana Ammal berasal, lahir besar di Jerman, sekolah hingga sarjana di USA lalu bekerja sebagai ahli gizi di sebuah rumah sakit di Riyadh. Mungkin orang Arab lebih pas menempel di jidatnya mengingat ada darah Saudi Arabia mengaliri sel-selnya. Satu lagi Samia yang fasih berbahasa perancis, dan selalu dibuat sibuk dengan text book kedokterannya. Jadilah kami warga chevening di Hurbert Road, yang mencoba membaur dengan karakter masing-masing. Terakhir, Gerline May Catangui si Pinoy, satu-satunya chevening scholar dari Philippines yang kuliah di B’ham Uni, bergabung dan menggeser Samia yang sibuk dengan lembaran bukunya. Kami bertiga menjadi Charlie Angels dan kelayapan hingga desa-desa sepi pinggiran B’ham. Kesasar, diterjang badai, hampir tenggelam di sungai Avon di kota kecil Stratford atau hampir dipeluk pemabok di atas bus, menjadi pengalaman unik kami. Kisahnya nyambung ahh kepanjangan.

Gazing at star

3 days ago, when Mijn SVN told me that he spent 3 hours laying on the grassy ground gazing at the star without knowing the name even one star, I suddenly think it was a pity.

Don’t you know it’s June, meaning that the night sky will be flowered by Scorpius, my constellation. Though the best time to enjoy the constellation is July and August. You may also find Crux and Centaurus tonight. But , how can we recognize Scorpius? It’s easy, at 6.30 pm when the dark has come , try to seek the constellation at South East. You may easily find Scorpius as described in the picture bellow. Afterward, you can point out Antares, the red one which is in the heart of Scorpius. I always name it as Red Antares as it is red and very obvious to our naked eyes. Then you can follow by grabbing Shaula and Lesath, all together. They occupy the stinger of the Scorpius. Shaula which is twice wider than our Sun, has blue color. What about Lesath, Shaulas’s soulmate. It is 7 times wider than our Sun. They always look together in our eyes, so that I recognize them as a couple of soulmate . In fact, they stay further away from each other. Shaula, the light that we see now is actually existed 280 ago, while Lesath is existed 1600 years ago. Perhaps they’re gone now and becoming star dust. Well i wont argue for this. I have no exact explanation.

So tonight, if the night is clear and you don’t have anything to do. Why don’t you try to take a peek at ‘my lovely Antares, Shaula and Lesath. Let me know if you have found them :).

scorpius.gif

Before Sun(rise/set)

Memikirkan Andrea dan A Ling membawaku kembali kepada kisah Celine dan Jesse dalam kisah Before Sunset. Mungkinkah Andrea menulis sebuah novel untuk menemukan cintanya kembali? Sebagaimana Jesse menemukan Celine kembali diantara kerumunan pembaca di sebuah toko buku di Paris di sela-sela promosi novelnya, setelah sembilan tahun berlalu tanpa berita. Ini bukan peristiwa kebetulan, namun skenario demi mengikuti kata hati. Aku sempat berkhayal kalau aku jadi A Ling atau Celine. Benarkah ada cinta – yang tak sekedar platonic- sebesar itu? For some reasons, I do believe this.

Taukah kamu film ini ? One of my favorites. Berulang kali aku membaca scriptnya, sambil membayangkan potongan adegan-adegan berputar di kepalaku. Satu bagian yang kusuka ketika mereka memperbincangkan Quackers Wedding demikian :

Jesse: Hmm. Do you know anything about the Quakers, the Quaker religion?
Celine: No, not much, no.
Jesse: Well, I went to this Quaker wedding once, and it was fantastic. What they do is the couple comes in and they kneel down in front of the whole congregation, and they just stare at each other, and nobody says a word unless they feel that God moves them to speak, or say something. And then after an hour or so, of just, uh, staring at each other, they’re married.
Celine: That’s beautiful. I like that.

Entah kenapa setiap ada kata Quakers Weeding aku lalu teringat kata Aramaic, namun kata itu sepertinya tak ada dalam script. Sepertinya penggalan kisah hidupku ada yang terhilang.

Bengkulu

Hari itu … pagi sekali wekerku berdering memaksa badan dengan jiwa tak penuh ini melangkah.Aih kota baru lagi pikirku menyemangati raga yang protes karena harus mulai kerja pada jam yg tak sewajarnya. Dicatatanku, hanya 3 kota di Sumatera yang telah kuhinggapi.Aku tak seperti burung-burung bersayap yg bebas menapak di manapun hati berkehendak. Bengkulu : sepi,panas,pesisir yg indah. tabot.Tabot ini semacam tonggak berbentuk gunungan.sering dipakai sebagai gapura.Yang karena berartinya benda ini bagi Bengkulu, pemda setiap tahun menyelenggarakan festival tabot.

Perjalanan kami yg cuma 2 hari cukup kami dedikasikan untuk wisata kuliner, karena selain waktu yg harus difokuskan untuk kegiatan sosialisasi, tak banyak yg dapat dikunjungi di kota Rafleasia Arnorldi ini. Hanya benteng Marborough, benteng peninggalan jaman pendudukan inggris, yg teletak dipingir teluk dengan pemandangan indah dari atasnya. Pantai panjang dan miniatur monas menjadi tempat persinggahan sigkat kami. Selebihnya… di sebuah warung kopi yang cukup ramai dipinggir jalan nan sepi kami nikmati Laksan dan segelas kopi hitam. Konon kopi disini berasal dari dataran tinggi Curup. Sayang kami tak punya banyak waktu untuk mengunjungi daerah itu, yang ceritanya ada pemandian air hangat dan beberapa lokasi wisata menarik.

Menu berikutnya…Saluang Goreng yang mirip kayak teri kecil tapi sebenarnya hanyalah bayi ikan yang ditangkap hidup-hidup di sungai. Pindang Patin yang awalnya kupikir ikan pindang tapi ternyata sop ikan, habis kulahap. Pepes patin, yang ini rada unik, patin sambal merah plus aroma durian, rasanya eneg gimana gitu. Minuman, gak perlu yang macem-macem, cukup kopi hitam, meskipun temenku mati-matian menawariku kopi taluang .. teluar … ah whatever. Tapi, ketika di warung itu juga menawarkan Pempek Palembang, aku mulai curiga. Jangan-jangan kami disesatkan. Ah bener kan … kami berwisata kuliner makanan Palembang di Bengkulu.

Mawar dan Krisan Putih

Apa arti White Rose and Crysant? Aku bisa memilih menjadi Berit yang menganalisa sesuatu berdasarkan bukti, symptoms yang terlihat nyata dan kejadian-kejadian yang terkait atau aku bisa saja menjadi Nils si penghayal yang akan mendasarkan kesimpulannya pada imajinasi liarnya. Ah rupanya selama dua hari di atas Bus Trans Jakarta berhasil menyusupkanku kedalam lorong-lorong perpustakaan ajaib Bibbi Bokken, mengisi jam-jam idle-ku di pagi hari dengan membaca percakapan-percakapan dalam buku surat agen rahasia Boyum and Boyum, dua sepupu yang tinggal di dua kota yang berbeda di Negeri Norwegia.

Pagi ini, di bawah mejaku, kudapati Mawar dan Krisan putih. Bagaimana mungkin dia tahu aku pengagum mawar? Mungkinkah dia pengagum rahasiaku? Tentu saja tidak. Satu-satunya authorized admirer-ku berada nun jauh disana. Dari tempat dudukku sekarang berjarak 1 jam dengan bus damri, 12 jam dengan pesawat terbang, dan tambahan satu jam lagi dengan Audi A4 seri baru,. Jadi kesimpulan sementara, orang ini adalah seseorang yang tak jauh dariku.

Mawar dan Krisan Putih? Mengapa putih aku kan suka mawar merah? Merah berarti passion, ah rupanya bukan itu tujuannya. Putih berarti suci. Mmm… ini lebih susah lagi jawabnya. Siapa yang suci? Aku? Semua umat akan menggeleng kalau aku mengangguk. Bahkan semua boneka anjing di dashboard mobil akan menggeleng lebih kencang lagi kalau aku mengaku bahwa aku suci. Hanya orang-orang Kudus-sebuah kota penghasil rokok di Jateng- yang layak menyebutkan dirinya sebagai orang suci. Aku pikir, satu-satunya kemungkinan yang masuk akal adalah bentuk penyerahan. Ya, putih, tepatnya bendera putih, perlambang penyerahan diri. Mungkin pengirim ini ingin tampak lebih elegan dengan mengirimkan mawar dan krisan putih. Pasti dia sayang untuk menggunting kaos putihnya, dan menjadikannya bendera untuk sesaat.

Tapi kenapa harus menyerah? Aku tidak sedang dalam pertempuran dengan siapapun. Tak ada seorangpun yang bersalah atau mendukakan hatiku saat ini.

Ah lagi-lagi aku gagal menganalisa. Kejadian 6 tahun lalu, ketika aku menemukan kaset Sheila On 7 (dengan lagu anehnya itu) di dalam tasku, terulang kembali. Gagal maning-gagal maning. Frustasi aku! Jamune ngendi Dab? Biasanya, dalam keadaan frustasi, aku selalu teringat jamu kunir asem. Ssssrrrrppp syegarrrr.

Edensor

Apa yang membuatku jatuh hati pada lelaki, yang tanda tangannya di atas novel milikku tak pernah kudapatkan? His thought, his beautiful mind. Kekagumanku pada orang telkom satu ini semakin penuh, membuncah melewati volume standarku. Bahasanya tak serumit bahasa aramaik yang digunakan untuk mencatatkan kitab perjanjian lama. Dia telah membuat dopaminku menyentuh level tertinggi selama setahun ini.

Terlepas dari kesamaan pengalaman karena pernah berganti nama, pun naungan konstelasi yang telah sama-sama mendudukkan kami sebagai warga Scorpius, aku merasa senasib. Manusia yang terus berkelana dengan mimpi-mimpinya.
Sabtu kemaren di MP Book point, setelah hunting di beberapa toko buku sedari rabu, aku mendapati tumpukan Edensor disamping The Starbucks Experience, buku yang hampir kubeli tapi hatiku mengatakan tidak.

Jadilah Andrea menemaniku selama weekend ini. Dia membuatku tergelak, tersenyum dan sesekali terdiam didera haru. Ada beberapa bagian yang rada sinis, yang menurutku belum kutemukan di dua bukunya terdahulu.Atau suasana hatiku pada saat membaca buku ini sedang terlalu sensitif atau aku perlu membuka lagi dua bukunya terdahulunya untuk memastikan tak ada nada sinis di bukunya terdahulu. Sayang kedua buku itu masih beredar di teman-teman, efek propagandaku yang selalu berhasil. Oh ya, sejak kapan ya EU memberikan pinjaman ke Indonesia? Mas Andrea kayaknya sinis banget kalau berbicara tentang utang.

Di bukunya yang ketiga ini, dia banyak bercerita tentang explorasinya ke negeri Eropa berbekal street performance dengan gaya mematung di jalan-jalan, bakat yang baru disadarinya setelah sekian tahun meyakini bahwa bulu tangkis adalah talentanya. Tak dinyana, dia seorang backpacker sejati. Salut. Seumur hidupku, jalan2 menjelajah ke negeri orang, tak pernah sekalipun aku makan daun plum karena desakan cacing-cacing di perut yang sedang menggeliat kelaparan. Jadi teringat si Ambar yang sering kali menslogankan Backpacker ala kere.

Banyak hal-hal lucu yang tak terduga dimunculkan oleh ide smart Andrea. Misalnya kenapa ibunya tak mau mengejan di menit-menit kelahirannya dan hanya memandangi jam weker. Bukan karena sudah bosan karena lagi-lagi bujang yang dia dapat, tapi karena alasan unik yang membuatku terpingkal-pingkal. Atau kisah penggantian namanya beberapa kali karena ulah usilnya. Mengingatkanku pada Mama yang tanpa meminta persetujuanku menggubah namaku. Pun kisah haru dikala hukuman yang seharusnya dia dapatkan dari Bapaknya berganti dengan nasihat di atas boncengan si Bapak dengan kaki terikat agar tak terkena jeruji sepeda serta bonus tebu yang ditusuk-tusuk di lidi. Tak kalah mengharukan, kala sang Bapak menyisipkan tiga perangko baru saat dia menyampaikan kabar ke Ikal dan Arai di Paris.

Overall, sebagaimana kisah-kisah di buku sebelumnya yang penuh tawa dan haru, Anda tidak akan pernah menyesali keputusan Anda untuk menjadikannya sebagai bagian dari rak buku Anda.