Dalam perjalananku meretas waktu, menelusuri jejak Omar Akram di internet, one of my fave musicians, telingaku menangkap musik-musik indah yang serasa terakrabi semasa hati sering menyendiri. Sebuah musik penawar lara hati.
Demikian lirik lagu ini dalam Galician language, bahasa yang digunakan di Galicia, sebuah komunitas yang tak ingin menyebut dirinya sebagai bagian dari bangsa Spanyol namun terletak di barat laut negara Spanyol. Bahasa ini lebih mirip dengan bahasa Portugis :
Amence paseniño nas terras do solpor
As brétemas esváense coas raiolas do sol
Meu amor, meu amor, imos cara o maior
Miña amada, meu ben, imos polas terras do alén
Acariña o silencio e escoita o corazón
Que moitos dos teus soños latexan ao seu son
Meu amor, meu amor, imos cara o maior
Miña amada, meu ben, imos polas terras do alén
É tempo de camiño andar e de non esquecer
Que o futuro que ha de vir é o que has de facer
Meu amor, meu amor, imos cara o maior
Miña amada, meu ben, imos polas terras do alén
E o sol vai silandeiro deitándose no mare
Facéndonos pequenos con tanta inmensidade
Meu amor, meu amor, imos cara o maior
Miña amada, meu ben, imos polas terras do alén
Aku tidak menemukan terjemahan yang pas, disamping itu kamus online bahasa Galicia, belum kutemukan. Namun di internet , kutemukan sedikit penggambaran musik indah itu yang diterjemahkan dalam kata-kata :
It is dawning slowly in the lands of the sunset
the mist fade with the first sun rays
My love, my love, we go to face the age
My beloved, my sweetheart we’re going through the lands of Alen.
Caress the silence and listen to your heart
Because most of your dreams beat at the same song
And it’s time to go across the way
And not to forget the time that will come and what you have to do.
And the sun goes silent, delighting in the sea,
Making us small with so much immensity
“What wisdom would we impart to the world if we knew it was our last chance? If we had to vanish tomorrow, what would we want as our legacy?”, demikian tertulis di cover belakang buku terbitan Hyperion New York yang berjudul “The Last Lecture”, tulisan Randy Pausch dan Jeffrey Zaslow.
Buku ini cukup lama berada di laci meja. Sudah ada cap “bukan milik pribadi”, karena buku setebal 206 halaman ini, yang sengaja dibawa partner ketika merayakan Natal di Malang dan sempat menjadi teman liburan kami beberapa hari kala itu, memang bukan milik sendiri.
Kisah “The Last Lecture” tak jauh berbeda dengan tulisan Mitch Albom dalam bukunya “ Tuesdays With Morrie”.. Sama-sama menyajikan pelajaran tetang makna hidup, yang dibumbui dengan kisah-kisah yang, menurutku, quite touching. Sama-sama berkisah tentang ‘last lecture’ –kuliah terakhir – sebelum sayap-sayap putih maut merengut hari-hari tokoh utama dalam kedua buku tersebut, Morrie Schwartz dan Randy Pausch. Sama-sama didasarkan pada kisah nyata, namun dari sisi penggambaran yang berbeda. Tuesdays With Morrie dikisahkan oleh Mitch salah seorang mahasiswa Morrie, sedangkan “Last Lecture ditulis sendiri oleh Randy Pausch, seorang professor ilmu komputer spesialis human-computer interaction dari Carnegie Mellon yang harus meregang nyawa pada usia 47 tahun karena kanker pankreas. Vonis mati oleh dokter tidak membuat Randy Pausch berhenti, “We cannot change the cards we are dealt, just how we play the hand”, tulisnya.
Buku ini secara pribadi cukup menginspirasi sekaligus menyenangkan bagiku karena tersaji dengan beberapa gambar dan kejadian yang cukup membuatku tersenyum. Di halaman 47 misalnya, sebuah foto dengan keterangan “Have you ever walked around a carnival with a giant stuffed animal?”, terpampang disana, tampak gambar Randy – yang menggendong sebuah boneka beruang berukuran besar- tertawa ceria. Memenangkan giant stuffed animal adalah salah satu mimpi masa kanak-kanak yang selalu dia hidupkan.
Kisah Randy menghidupi mimpi masa kanak-kanaknya itu cukup membuatku iri. “I just wanted the floating”, katanya, yang menyadari bahwa menjadi astronot adalah hal mustahil bagi mereka yang berkacamata. Keinginannya tak muluk-muluk. Menjadi astronot bukanlah mimpinya tapi berada di tempat dengan zero gravitasi akan selalu menjadi obsesi. Kecakapannyalah yang pada akhirnya membawa Randy floating di “The Weightless Wonder” sebuah wahana milik NASA di Johhnson Space Center in Houston. Aku yang sedari kecil gemar memandangi bintang, hingga malam kemarin pun, aku hanya mampu memandanginya, tak kurang dan tak lebih. Menjadi astronot hanya mimpi masa kecil yang tak pernah kuhidupi 🙁 .
Buku ini tak cuma berisi bagaimana menghidupi mimpi-mimpi kita dimasa kecil, namun lebih dari itu, buku ini juga menyajikan bagaimana kita bisa memfasilitasi mimpi orang lain. Karenanya, buku ini layak menjadi bacaan para pendidik, menjadi penyemangat tatkala rasa putus asa mengikis misi suci mereka. Sayang, buku “The Last Lecture” edisi bahasa Indonesia yang sengaja kubeli untuk seorang rekan guru tak pernah sampai ditangannya.
“It’s a thrill to fulfill your own childhood dreams, but as you get older, you may find that enabling the dreams of others is even more fun”, tulisnya. Di bagian keempat yang berjudul ‘Enabling The Dreams of Others’ Randy berkisah tentang Tommy salah seorang mahasiswanya di University of Virginia dimasa tahun 1993 yang bermimpi untuk menjadi bagian dalam pembuatan film Star Wars. Akhir kisah itu tentu saja mudah ditebak, Tommy terlibat di ketiga film Star Wars pada tahun 1999, 2002 dan 2005. Oh ya, mungkin saja Tommy terlibat dalam pembuatan film Star Trek yang saat ini tengah diputar di bioskop-bioskop di Jakarta. Check it out and let me know :).
Randy juga berkisah bagaimana dia membuat kelasnya menjadi fun and challenging, melalui project “Building Virtual Worlds” dimana dia menyajikan sarana bagi para mahasiswanya dari latar belakang studi yang berbeda – diantaranya terdapat mahasiswa matematika, bahasa Inggris, bahkan Seni – untuk bergabung dalam satu team work, mengerjakan sebuah proyek untuk menerjemahkan imajinasi mereka. Kelas ini berhasil mencuri perhatian banyak orang, sehingga ruangan kelas yang mulanya hanya diisi oleh 50 mahasiswanya kini telah dipindahkan ke ruang auditorium besar guna menampung luapan 400 manusia yang segera akan membuat kegaduhan tatkala salah satu team favorit mereka melakukan presentasi.
Lalu bagaimana dengan kisah-kisah yang bagiku cukup touching? Waktuku tak cukup banyak untuk mengisahkan semua. Namun, hatiku kembali merasa sesak tatkala aku membaca bagian dimana penonton “Last Lecture” di auditorium besar itu menyanyikan lagu “Happy Birthday” untuk Jai – Istri Randy yang kala itu menyaksinya suaminya menyampaikan kuliah terakhirnya, dan satu-satunya kata yang dia bisikkan pada Randy ketika dia memeluk Randy di atas stage adalah “Please don’t die”. Bahkan menuliskannya disini membuatku merinding. Istri mana yang bisa setegar Jai, mengetahui bahwa beberapa saat lagi suaminya takkan berada disampingnya untuk selamanya. “I can’t imagine rolling over in bed and you’re not there”, “I can’t picture myself taking the kids on vacation and you’re not being with us”, kata-kata ini serasa menusuk hatiku. Jelas, untuk mengalami hal seperti itu, aku tak mampu.
Ah, aku tak ingin merusak suasana hatimu yang membaca tulisan ini. Lagi pula, buku ini harus segera berpindah tangan. Buku yang juga bukan milik partner trekking ini akan segera kembali kepada pemilih sah. I don’t know you,“The Owner” but thanks for sharing your book. And for partner … Mauliate. Hati-hati di gunung, adeknya nitip mata!
ps. Randy Pausch meninggal pada tanggal 25 Juli 2008, jauh sebelum aku membaca buku ini, dipenghujung tahun 2008.
Pagi-pagi Pasar Balige, yang bereksterior khas rumah adat Batak, kami singgahi. Ini obyek menarik untuk kameraku. Sesisir pisang Barangan Medan dan beberapa jpeg file menjadi hasil eksplorasi kami pagi itu.
Tak banyak agenda dalam list perjalanan kami untuk hari terakhir ini. Kampus Dell di Laguboti yang berada di pinggiran Danau Toba gagal kami masuki. Yup, ini bukan public area. Sebagai gantinya, makam Nommensen yang terletak tak jauh dari Laguboti kami singgahi.
Sepanjang perjalanan dari Balige, Porsea dan Parapat, pemandangan indah cukup menghibur mata. Sebuah lanskap yang tak jauh berbeda dengan Lauterbrunnen di Swiss sempat kami lewati. Sayang, jalan yang sempit tak memungkinkan kami berhenti, hanya untuk sekedar mengabadikannya dalam Canon D40.
Sesaat kemudian, Parapat kembali kami lewati. Disinilah irisan perjalanan kami selama 3 hari ini terjadi. Sungguh-sungguh efisien. Berikutnya deretan hutan dan kebun kelapa sawit memenuhi ruang pandang kami. Kamera sempat beraksi, beberapa menit sebelum kami memasuki kota Pematang Siantar.
Waktu tersisa tak cukup banyak. Satu jam di Pematangsiantar-pun, kami habiskan untuk mengunjungi seorang teman, makan siang dan menikmati kopi dari warung kopi Sedap. Kopi hitam Sidikalang yang kami minum di Siantar ini, brewing-nya cukup khas, membuat rasa kopi cukup greng untuk dinikmati.Penasaran itu akhirnya terobati juga, ini rupanya warung kopi yang sering diceritakan partner trekking.
Perjalanan Pematangsiantar menuju Medan memakan waktu 3 jam lebih, jalanan yang cukup padat memaksa kami bergerak lambat. Sesampainya di Medan, berbekal peta kota, lokasi toko Bolu Meranti di jalan Kruing-pun kami temukan. Terparkirnya mobil Inova di depan bandara Polonia tepat pukul 17.30 menyudahi perjalanan 3 hari kami di ranah asli Suku Batak.
Mengakhiri catatan perjalanan kali ini, otakku terus saja mengiangkan kata-kata Nehru “We live in a wonderful world that is full of beauty, charm and adventure. There is no end to the adventures we can have if only we seek them with our eyes open.”. Yup another beauty of this country awaits us. Next trip is being planned.
Pagi itu matahari tersembunyi diantara awan-awan putih. Banyak inang-inang berbaju hitam dan amang-amang memakai jas dan kopiah bergegas pergi ke gereja. Yup, hari ini umat kristiani memperingati wafat isa almasih. Sementara kami, asyik memotret dan menikmati liburan kami.
Di Huta Siallagan, kami sempat singgah sejenak. Deretan rumah adat Batak dan sebuah pohon besar yang dibawahnya terdapat kursi batu tempat persidangan jaman dahulu kala, menjadi sugguhan area wisata ini.
Selepas Desa Ambarita, gerimis menghantar kami melalui jalan mulus di bawah bukit hijau, di kejauhan Danau Toba tampak tenang, seolah tak terusik dengan gejolak hati kami yang diliputi luapan kekaguman.
Ditengah euphoria itu, terselip sedikit kegamangan ketika mobil mulai memasuki Kecamatan Pangururan. Sesaat lagi kami akan melewati perbukitan di Tele. Rute yang tak mudah. Aku hanya bisa pasrah. Meskipunpengemudi inova ini sangat handal dan percaya diri, tak ayal jantungku berdetak tak menentu tatkala mobil mulai menapaki jalan yang tak mulus. “Jangan lupa menulis surat wasiat kalau nekat lewat Tele”, demikian gurauan beberapa teman. Kisah-kisah berujung maut yang terjadi di Tele sempat ku baca beberapa hari sebelum keberangkatan. Nyaliku sempat ciut, tapi partner trekking berkeras hati melewati Tele. Akupun tersadar, “He’s more adventurous than me”. Kanan kami dinding terjal dengan reruntuhan batu yang terlihat masih baru. Sisi kiri kami jurang menganga menuju maut. Sesekali aku mengingatkan “Pak Sopir” agar tetap fokus pada jalan, sementara aku menikmati bukit-bukit dan lembah yang … wow … sungguh elok. Maaf ya Bang, Abang cukup porsea dengan cerita Adeknya, next time Adeknya yang nyetir.
Jarak 50 kilo lebih Tuk-tuk Siadong – Tele kami tempuh dalam waktu 2 jam. Sesuai rencana, kami berhenti sesaat di menara Pandang Tele. Disisi ini pemandangan Danau Toba yang menyatu dengan perbukitan di Tele sungguh menawan hati. “Ini tak sebanding dengan Hutaginjang koq” ucap partner. Pemandangan yang indah menjadi trade off atas risiko yang cukup signifikan, pikirku dalam hati. Aku yang risk averse telah berlebihan meng-assess risiko perjalanan melewati perbukitan di Tele. As long as you have a very good and talented driver, this route is highly recommended. Its outstanding beauty is the reward.
Selepas Menara Pandang Tele,kami memasuki jalan utama Sidikalang ke Siborongborong. Jalan yang tak rata menjulur begitu saja diantara hutan-hutan yang tampak gundul. Inikah tanda ketidakmampuan alam dalam meredam nafsu serakah manusia? Atau … ini bukti ketidakmampuan manusia untuk secara naluriah melihat ke masa depan, sehingga tindakan-tindakan mereka hanya didasari oleh kepentingan sesaat? Miris melihatnya.
Memasuki kecamatan Siborongborong mataku mulai mencari sasaran. Benar, perkebunan kopi yang membuat Siborong-borong menjadi incaran para kolektor Kopi Starbucks adalah salah satu tujuan dalam list perjalanan kami. Kamipun memutuskan mencari warung kopi di pasar Siborongborong, yang terletak di sebuah pertigaan yang mempertemukan jalur Pematangsiantar dan Sidikalang ke arah Tarutung, pun Sibolga. Sayang, tak ada warung yang cukup representatif untuk menjadi tongkrongan kami. Sementara itu, mencari Starbucks di kecamatan sekecil ini adalah suatu upaya yang sia-sia. Lalu melajulah mobil kami menuju titik terjauh- diukur dari Medan – dari rute perjalanan kami selama 3 hari ini, Tarutung.
Memasuki Tarutung, partner trekkingmulai menyanyikan “Desaku yang tercinta” keras-keras, membuatku sesaat teringat kampung halamanku. Sebuah kota tua menanti kami, lagi-lagi dengan sambutan rintik hujan.
Tepat di depan kantor DPRD – yang megah dan berdesain khas rumah adat Suku Batak – terlihat banyak petugas keamanan mondar-mandir. Hari itu, tepat satu hari Bupati Tapanuli Utara dilantik. Pengamanan tampak sangat berlebihan, membuatku bertanya-tanya, “ada apa ini?” Tiba-tiba saja terlintas di kepalaku, Pak Sintong Panjaitan, yang – dari buku yang kami baca “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando”- sedang menghabiskan masa tuanya di kota kelahirannya ini.
Tak banyak yang bisa dikunjungi di sana, selain kepentingan-kepentingan pribadi yang tak perlu kuuraikan di sini. Selebihnya, lembah hijau nan indah, dan pegunungan yang melingkarinya jelas membuat ibu kota Tapanuli Utara ini bak kota kecamatan di daerah Malang bagian utara di tahun 80-an, sejuk dan indah. Sore itu kabut mulai menyelimuti Desa Lumban Siagian dan rintik hujan untuk sesaat terhenti, memberi kami sedikit keleluasaan untuk menikmati hari.
Sebelum matahari menghilang diantara perbukitan, kami menyempatkan diri mengunjungi Monumen Raja Panggabean, berfoto bersama salah satu buyut sang raja, mengambil foto lanskap kota dari atas Sungai (Aek) Sigeaon, dan menikmati kopi dari warung kopi di pinggir sungai. Tak lupa dua buah durian, asli dari kota durian (Cat: Tarutung dalam bahasa batak berarti durian) kami nikmati.
Pukul 10.00 pagi selepas Bandara Polonia, kami menyusuri jalan Jamin Ginting yang ternyata cukup panjang, menuju sisi barat kota Medan. Sepanjang jalan itu, partner trekking mendongengiku kisah-kisah perjuangan, dari Jamin Ginting hingga Alex Kawilarang. Lagu Padamu Negeri serasa teraung-raung ditelinga, disela-sela perasaan bersalah tidak ikut mencontreng.Namun keputusan melakukan perjalanan ke Sumatera Utara dan menjadi golput dalam pemilu kali ini ternyata tepat. Tidak terdaftarnya aku dalam DPT membuat feeling guilty sedikit teredam.
Perjalanan menuju Berastagi cukup lancar, sesekali iring-iringan mobil mulai merambat lambat, menaiki perbukitan. Siang pukul 12.00 tibalah kami di Berastagi, sebuah kecamatan di Kabupaten Karo. Setelah makan siang, kami sempatkan melihat untuk sesaat, Pajak (pasar.red) Buah Berastagi. Sebuah plang bertuliskan “cuci kereta” sempat menarik perhatianku. Perjalananpun berlanjut setelah sesi foto di tugu Perjuangan 45 yang menjadi salah satu landmark kota, kami lakukan.
Setelah bergerak kira-kira 10 km arah selatan Berastagi, sampailah kami di Kabanjahe. Kami tidak berhenti di sini. Kami cukup puas melihat pemandangan gunung Sibayak dan Gunung Sinabung dari atas mobil. Pedangan buah-buahan dikanan kiri jalan ikut memeriahkan perjalanan kami siang itu. Tak lupa satu sisir pisang menemani kami melaju menuju Tongging, dimana air terjung Sipiso-piso berada.
Tiba di Kecamatan Merek, kami memasuki jalan kecil menuju Sipiso-piso dan Desa Tongging. Hati mulai berdebar. Akhirnya sesaat lagi Danau Toba tampak oleh mataku. Inilah sisi pertamadanau Toba yang akan kami nikmati dalam 3 hari ini.
Tampak dari atas, Desa ini bak negeri dongeng, terhampar indah di lembah hijau, dihiasi danau luas nan tenang. Namun tatkala mobil kami mulai memasuki area desa, rasa sepi mulai merasuk. Pasti geliatnya yang tak selincah Tomok atau desa-desa lain di Samosir, membuat desa ini tak terlalu ramai dikunjungi wisatawan asing. Atau sarana transportasi yang kurang mendukung membuat keelokan Desa Togging terpaksa terpendam. Namun tidak demikian halnya dengan air terjun Sipiso-piso yang kala itu ramai pengunjung yang datang meskipun tuk sesaat.
Pemandangan perbukitan di Tongging, yang mirip bukit-bukit di Scotland, segera tergantikan dengan pemandangan ladang sayuran dan buah-buahan, disela-selanya perkebunan kopi rakyat membuat ruang pandang kami cukup hijau. Beberapa kali mobil harus memperlambat lajunya demi anjing-anjing dan ayam-ayam kampung yang sepertinya terbiasa dengan jalan yang lengang, sehingga membuat mereka bersantai ria di atas aspal jalan.
Perjalanan Tonggingmenuju Parapat, melalui Silimakuta, Pematangpurba, dan Dolokpardamean menghabiskan waktu kurang dari dua jam. Tiba di Ajibata, antrian mobil telah menunggu. Kami sangat beruntung, feri masih bisa menampung mobil kami untuk penyeberangan pukul 17.45.Pelabuhan yang tak besar ini cukup dipadati mobil-mobil yang siap untuk diseberangkan. Cara yang mereka gunakanpun cukup sederhana. Setelah mengitung jumlah mobil yang telah disesuaikan dengan kapasitas feri, pintu gerbang untuk keluar masuk pelabuhan-pun segera ditutup. Petugas segera meneriakkan nomor-nomor plat mobil, sebagai pertanda pemilik mobil agar segera membayar di loket. 95 Ribu untuk satu kali penyeberangan Ajibata menuju Tomok yang hanya memakan waktu kurang lebih 1 jam. Dengan fasilitas di atas feri yang sangat terbatas, tak banyak yang bisa kami lakukan selain tidur di mobil sambil memutar kembali lukisan-lukisan alam yang telah menyuguhi hari kami dengan keindahan.
Hujanpun turut menyambut, tatkala feri merapat di Tomok. Mata yang masih awas, mencari plang hotel diantara derasnya hujan. Sesaat kemudian, mobil kami telah berada di area parkir Hotel Tabo di kawasan Tuk-Tuk Siadong, dan Ito’ Jerman-pun menyambut kami.
Tak lama berselang, malampun segera meraih kami ke dalam pelukannya.
Sebuah pepatah Tao menyebutkan ,“A journey of a thousand miles must begin with a single step”. Sebelum melanglang jauh ke negeri orang, tak ada salahnya menengok negeri sendiri. Tak perlu jauh-jauh ke Swiss, Sumatera Utara punya banyak pegunungan dengan lembah hijau nan elok. Sebuah sindirian untuk diri sendiri.
Banyak tulisan di website pun majalah yang mengawali tulisan kisah perjalanan mereka ke Sumatera Utara, dengan kata-katatak afdol kalau melakukan perjalanan ke Sumatera Utara tapi tak singgah di DanauToba. Ahhh lagi-lagi aku – yang telah dua kali ke Medan dan hanya tahu jalan dari Hotel Grand Angkasa ke Bandara Polonia – tersindir.
Finally, on 9 – 11 April 2009 we embarked on a tripthrough North Sumatra. Danau Tobapun tersinggahi
Alih-alih mengunjungi sanak saudara dan handai taulan di Tarutung, Balige dan Pematangsiantar, kami melakukan perjalanan yang eksotik sekaligus menengangkan di kecamatan dan desa-desa sekitar Danau Toba.
Perjalanan kali ini cukup efisien, tiga hari perjalanan, tiga perempat lingkar luar Danau Toba kami jelajahi.
Berbekal peta wisata dan peta Prop. Sumatera Utara, melajulah kijang inova sewaan kami menyusuri jalan-jalan yang tak selalu mulus.
Cat : beberapa foto perjalanan selama 3 hari di Sumatera Utara dapat dilihat di album ini
Rasakanlah isyarat yang tak terucap, yang hadir bersama angin yang mengayun lembut pucuk-pucuk daun, udara yang menghangat seiring naiknya sang surya, air yang meresap di pori-pori kulitmu, hujan yang membuatmu sesaat terhenti dan berpikir … bahwa aku ada.
3 hari yang lalu Anis meninggalkan PR untukku. 25 fakta tentang aku rasanya terlalu banyak Nis, jadi perlu kutawar menjadi 10 saja yang mungkin tak banyak yang tahu, pun teman dekatku.So this is the 10 little known facts about me:
Lebih seneng ngeliatin cewek cakep dari pada cowok ganteng … mmm don’t get me wrong ya 🙂 aku masih normal koq. Aku suka Luna Maya dan Meg Ryan
Aku penggemar HC Andersen, dan Grimm brothers.Efeknya, aku nonton film Ever After sampe lebih dari 10 kali, meskipun film yang kusuka adalah English Patient, Before Sun(set/rise), and Eterrnal Sunshine of The Spotless Mind.Terobsesi untuk mengunjungi kastil-kastil di eropa. Paling seneng dongenin bocah-bocah. Suka menirukan percakapan dari sebuah cerita, “Ampun-ampun tanganku kan hanya dua. … “(Cinderella) “Kukuruyukkk… kepada Matahari Pagi datanglah, datanglah, sinarilah bumi ini Matahari-Matahari… Kukuruyukkk…(Sanggar Cerita – Istana Rimba Hijau). “Pipit..Pipit” “Ohh.. Pak Bul-bul yang datang..” (Sanggar Cerita – Pipit Mencari Bunda) … walahh banyak banget kalo mau ditulis semua.
Akhir-akhir ini, otw pulang, sering ngelewatin bencong-bencong nongkrong di pinggiran Kuningan. Pengen kenalan dengan salah satu bencong itu, pengen ambil fotonya trus bikin cerita.
Sering ngajak ngobrol kucing yang lagi lewat di depan pintu rumah. Kadang-kadang mereka yang memulai percakapannya.Tapi tak jarang mereka hanya lewat dan tersenyum.
Pernah nyobain buah-buah aneh semisal jospiros malaboreco, atau buah sempur. Suka metik dedaunan trus menciumnya atau mencoba mengunyahnya. Ini efek tinggal di dalam komplek Kebun Raya selama beberapa tahun. Pernah keracunan karena memakan biji dari Pohon Hura Crepitans – tanaman berduri, endemik dari Amerika tengah dan Selatan.This has made me stop being nggragas.
Dari semua kursus yang paling ingin diikuti, kursus menjahit yang paling sering muncul di kepala. Aku pingin bisa bikin baju sendiri.
Kalo lagi sedih sering tiba-tiba meluk gitar or Alkitab. Nah susahnya kalo lagi sedih trus gak ada gitar or Alkitab, gak ada yg bisa dipeluk.
Punya baby sitter dirumah yang setiap jam 6 pagi nyiapin kopi dan oatmeal, bikinin susu kalo malem, dan mijet tiap sabtu pagi. Tapi dia gak pernahmandiin aku.
Jarang mandi kalo nyampe rumah di atas jam 10 malem. oppst.
Mainan waktu kecil: gundu, yoyo, umbulan (apa ya bahasa indonesianya) and sepak bola. Pernah berantem sama anak cowok pas kelas 4 SD. Dan jarang mau ngalah sama mbak, adeknya or temen-temennya. Kecilnya cerewet dan suka teriak-teriak, tapi gedenya pendiem, baik hati, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, gemar melakukan kegiatan kemanusiaan, berani membela kebenaran dan keadilan. *halahhh …ini mah butir-butir dari sila kedua Pancasila.
Kupikir Vira akan menuliskan fakta-fakta tentang dirinya, atau Mbak Enggar mungkin, atau Mas Nova (kembaranku)?