3959952

Ada satu kisah yang ditulis Robert T.Kiyosaki sebagai ilustrasi awal dalam bukunya tentang Cashflow Quadrant, tempat anda memetakan langkah anda. Apakah anda employee,self-employed, business owner ataukah investor ? Aku lumayan tersentak ketika membaca ilustrasi awal yang dipaparkan kurang lebih demikian :

Adalah sebuah desa kecil nan indah, sebuah tempat yang menyenangkan, sekaligus pula desa yang menyedihkan karena sepanjang tahun desa akan mengalami kekeringan kalau tidak turun hujan, tragis bener!
Akhirnya diadakanlah sebuah sayembara … untuk mendapatkan putri kodok, oops (ini sih dongeng putri kodok).
Diadakanlah sebuah tender untuk pengadaan air sepanjang tahun di desa tersebut, sumber airnya berasal dari sebuah danau yang berjarak satu setengah kilometer dari danau.
Tersebutlah dua orang pemegang hak atas kontrak tender tersebut, Bill dan Ed. Dua orang ini tentunya saling bersaing.
Ed langsung berlari membeli dua ember baja, dia mulai berlari bolak-balik untuk menyuply kebutuhan air penduduk desa, dalam tangki air yang terbuat dari beton dia tuangkan isi embernya, dia harus bekerja keras untuk memastikan penduduk desa tercukupi kebutuhan airnya. Dia merasa beruntung karena penduduk desa sepenuhnya membeli air darinya, ia tidak mempunyai saingan untuk beberapa saat karena ternyata Bill si pemegang hak yang lainnya telah menghilang selama beberapa saat.
Rupanya menghilangnya Bill selama berbulan-bulan ini adalah untuk membangun sebuah rencana usaha,dia mengangkat presiden eksekutif untuk melakukan pekerjaannya, dia bangun jaringan pipa baja antikarat bervolume besar untuk menyambungkan desa dengan danau.
Pada lauching usahanya ini, Bill mengumumkan bahwa airnya lebih bersih karena dia tau banyak yang mengeluhkan kebersihan air Ed, ia mampu memasok air selama 24 jam sehari tanpa henti selama 7 hari seminggu dengan melihat peluang bahwa Ted hanya mampu memasok pada jam-jam kerja saja namun tidak pada malam hari dan akhir pekan, ia memberikan biaya 75 % lebih murah ketimbang Ed.
Agar mampu bersaing Ed rupanya menurunkan harga hingga 25 % dan membeli dua ember lagi, dia kemudian memperkerjakan dua anak laki-lakinya untuk bergiliran bekerja pada malam hari dan akhir pekan, ketika anaknya mulai di perguruan tinggi dia berpesan kepada mereka untuk segera kembali karena usaha ini akan menjadi milik mereka, namun ternyata mereka lebih memilih meninggalkan ayahnya. Akhirnya Ed mendapat masalah kepegawaian, pegawainya menuntut kenaikan gaji, peningkatan tunjangan dan lain-lain.
Sementara Bill yang sadar betul bahwa kebutuhan akan air bersih tak hanya di desa itu saja, segera menulis ulang rancangan bisnisnya dan menjual sistem penyaluran air yang berkecepatan tinggi, bervolume besar dan berbiaya rendah ini ke desa-desa yang lain.
Demikian akhirnya Ed hanya mampu memperoleh satu penny untuk satu ember air yang dia salurkan, tapi Bill mengirimkan milyaran ember tiap harinya. Dia telah membangun saluran air bagi desa sekaligus saluran uang bagi dirinya. Ed bekerja keras sepanjang hidupnya dan Bill hidup bahagia selamanya. Dan dongeng inipun tamat (And Bill lives happily ever after)

Tragis nian kisah Ed. Seperti dalam buku sebelumnya Robert T.Kiyosaki menuliskan bahwa ayah kaya menyarankan anaknya untuk lulus sekolah, bangun usaha, dan menjadi penanam modal yang berhasil, dia lebih mengarahkan anaknya untuk menjadi Business owner dan Investor. Sementara ayah miskin akan menganjurkan anaknya menjadi Employee dengan bayaran tinggi atau Self employed dengan berpenghasilan tinggi, dia akan mementingkan anaknya untuk memperoleh slip gaji yang teratur, tunjangan dan keamanan bekerja, inilah sebabnya dia menganjurkan anaknya untuk bekerja sebagai pegawai pemerintah yang berpenghasilan tinggi dan berpendidikan tinggi. Mmmm aku harus tersinggung gak ya ?

3931963

Tak pernah kubayangkan selama hampir 24 jam terkungkung di bus, perjalanan terpanjang ke Malang yang pernah kualami, bus yang kutumpangi mengalami kerusakan yang lumayan parah, tapi bagaimanapun aku bersyukur akhirnya aku sampai di bandung, aku bersyukur aku bisa menikmati lima jam hidup di kota Tuban, merasakan betapa panasnya udara disana, dan anginnya yang kurasa tak terlalu bersahabat denganku, karena akibatnya aku sekarang sedikit flue.
Thanks buat Steve yang sudah menemaniku membunuh waktu, kebosanan dan kejenuhanku pada bulan yang seolah-olah mengolok-olokku selama penantian di kota Tuban.

3852898

Setiap detik yang menegangkan, di Detik.com, mataku tak lepas dari komputer dan Televisi, lalu telingaku memantau terus RRI Bandung yang memberikan reportase langsung jalannya Sidang Paripurna DPR.
Aku rasa aku egois, aku menyimaknya hanya karena aku besok akan pulang ke Jawa Timur, aku hanya ingin memastikan apakah aku bisa pulang dengan perasaan tenang.

3841298

Diakui atau tidak, kadangkala ide briliant muncul kalau kita sedang kepepet, bisa jadi kalau tidak sedang kepepet idenya lebih briliant lagi..:)
Demikian pula J.K.Rowling, terdesak oleh kesulitan ekonomi dan deraan akibat perceraiannya yang membuatnya stess berat justru membawa dia dalam intensitas corat-coret yang akhirnya menghasilkan kisah Harry Potter, seorang anak yatim piatu yang berkemampuan sihir.
Alur cerita Harry Potter dihasilkannya selagi menunggui anaknya, Jesica, bermain. Rowling yang pengangguran ini merasa sangat miskin, kantongnya pun kosong, bahkan untuk bepergian dia memilih jalan kaki ketimbang naik bus, meskipun tarif bus tergolong murah di Inggris, lalu bak tersihir, dalam sekejap dia menjadi terkenal dan bahkan Harry Potter pun telah menyulapnya menjadi milyader dan meletakkannya sebagai orang yang ke-25 dari selebriti dunia paling berpengaruh.
Jadi, percaya atau tidak, justru dalam kesesakan orang mampu menghasilkan kelegaan.

3758222

Dalam dunia Harry Potter segala yang tak mungkin dalam dunia nyata menjadi mungkin. Bagaimana tidak, di sekolah sihir Hogwarts, tokoh-tokoh dalam lukisan dinding bisa bergerak dan meninggalkan pigura masing-masing hanya untuk saling mengunjungi, penghuni Hogwartspun telah terbiasa dengan pemandangan semacam ini. Maka tak heran apabila tiba-tiba mereka menemukan pigura besar tergantung di atas dinding batu dan yang terlukis di dalamnya hanyalah padang rumput yang luas, lalu kemana larinya kuda poni gendut dan berwarna abu-abu itu, dan kemana pula Sir Cadogan, seorang ksatria gemuk pendek yang selalu memakai baju zirahnya yang tak juga tampak dalam lukisan itu ? Di Hogwarts tidaklah mustahil kalau tiba-tiba saja pada lukisan danau di sebelah lukisan besar itu muncul seekor kuda poni abu-abu, merumput dengan acuh tak acuh, dan sesaat kemudian tampak seorang ksatria berkelontangan menyusul kudanya, dia baru saja jatuh karena lututnya yang penuh noda rumput.
Mungkin saja, apabila ada lukisan monalisa disana, suatu saat akan tampak dia sedang mencuci baju, atau bahkan memperolok-olok penghuni Hogwarts, kupikir dia terlalu lelah untuk selalu tersenyum..:)
Buku yang penuh imajinasi karya Rowling ini, tak hanya disukai anak-anak, buktinya akupun suka. Ini bukan berarti aku childish, P.L Travers, pengarang buku-buku Mary Poppin mengatakan ,”Jangan penggal-penggal fase hidup manusia, karena-kalau mau jujur-kita tidak tau benar kapan fase kanak-kanan kita berakhir dan fase dewasa dimulai. Semuanya menjadi satu tanpa batas yang jelas.”
Ada sifat kekanakan dalam diri kita, wahh terakhir mah iklannya Nokia..:)

3686004

“Membaca Saman itu butuh kedewasaan berpikir, nanti kalau kamu baca…kamu tersinggung, nanti sisi kewanitaanmu tersentil, lantas marah setelah membaca buku ini “, kurang lebih begitu yang temanku bilang pas aku hendak membaca buku ini. Lantas aku membacanya dan kemudian aku menjadi marah karena pilihan kata-katanya yang terlalu kasar, tapi aku tidak merasa tersinggung dengan isinya, inilah realita.
Bukan cuman Saman yang memerlukan kedewasaan dalam membaca, buku-buku yang lainpun juga, yang sedang marak sekarang misalnya, buku-buku kiri, lantas, atas alasan apakah pembakaran buku-buku ini ? Mereka yang menjadi takut karena buku ini, adalah mereka yang tak pernah menganggap pembaca sebagai seorang yang bisa berpikir dewasa.