… dan dunia pendidikanpun ternodai

Kalau kamu sempat mendengar pun membaca tentang tragedi Ujian Nasional yang sempat dinodai dengan ledakan senapan di lingkungan sekolah serta tangisan guru-guru yang telah dengan sengaja membetulkan lembar jawaban siswa, kita semua pasti akan miris. Sedemikian parahnyakah moral mereka yang terlibat dalam kejadian itu, atau tak berpikirkah mereka para pembuat kebijakan yang telah memaksakan penyeragaman soal-soal ujian dibawah payung program “Ujian Nasional”, tanpa menyadari deviasi kualitas fasilitas pun tenaga pengajar antara kota besar dan pedalaman sangatlah jauh berbeda ?

Ok lets get straight to the point. Paragraf di atas tidak dimaksudkan untuk menentang apa yang dilakukan para anggota detasemen khusus 88 Anti Teror Kepolisian Daerah Sumut ataupun menghujat tindakan para guru SMAN 2 Lubuk Pakam Deli serdang, Sumut yang dilakukan siang hari pukul 13.30 pada hari Jumat tepat seminggu yang lalu. Karena justifikasi selalu bisa dicari. Mendapatkan argumen-argumen yang mendukung pendapat kita sama mudahnya dengan memperoleh alasan-alasan yang menentangnya.

Sebenarnya, apa yang terjadi di Sumut-pun terjadi pula di USA, negara yang konon sering dijadikan kiblat sistem pendidikan di negara-negara terbelakang, pun sedang berkembang. Bagi mereka yang sempat membaca buku freakonomics, kejadian di Sumut ini bukan hal yang baru. Di USA, tepatnya di Chicago, high-stake testing atau ujian yang paling menentukan untuk kenaikan kelas telah dinodai pula dengan kecurangan para guru. Motif guru-guru di Chicago saat itu sangatlah berbeda dengan apa yang melandasi guru-guru SMAN 2 Lubuk Pakam, yang lebih terbeban secara moral tatkala melihat pensil anak-anak didiknya tak bergerak saat ujian bahasa inggris berlangsung. Beban moral kepada orang tua anak-anak itu lebih menghantui para guru tersebut ketimbang sanksi yang harus dijalani tatkala apa yang mereka lakukan harus terbongkar.

Pada dasarnya manusia merespon terhadap insentif. Tatkala reward diberikan pada guru yang siswanya memperoleh nilai tinggi dalam high-stake testing, beberapa diantara mereka tergoda untuk melakukan kecurangan. Sistem reward dan punishment dalam high-stake testing ini telah direspon oleh sebagian guru dengan lebih berkonsentrasi pada topik-topik ujian ketimbang upaya meningkatkan pemahaman siswa terhadap suatu pelajaran. Hal ini pula yang mendorong guru-guru di Chicago untuk menghapus jawaban siswanya yang salah dan menggantinya dengan jawaban yang benar.

Namun penggrebekan bahkan ledakan dari laras senapan tidak perlu terjadi di Chicago, sebagaimana kejadian di Lubuk Pakam yang hanya menambah deretan noda bagi dunia pendidikan, bahwa sekolah adalah ajang kekerasan.
Beruntunglah Chicago Public School memiliki basis data jawaban siswa sejak tahun 1993 hingga tahun 2000. Sehingga dengan Algoritma sederhana guru-guru yang curangpun akhirnya dapat diketahui. Sebagian diantara mereka diberi peringatan bahkan di pecat. Kalau ingin mengetahui lebih detail bagaimana algoritma sederhana mampu membongkar kecurangan guru-guru di Chicago, baca buku Freakonomics deh. Buku ini … highly recommended!

Aksi polisi di Lubuk Pakam memang terkesan berlebihan. Andai kita mulai bisa memanfaatkan historical data guna menciptakan suatu kebijakan yang lebih memadai, kecurangan dan aksi brutalpun pasti bisa dihindari.

Oh ya, aku tidak men-suggest tindakan apapun atas kejadian di Lubuk Pakam seminggu yang lalu. Karena aku sadar betul bahwa berbicara lebih mudah ketimbang melaksanakan. Pun menulis lebih menyenangkan dari pada mengalami sendiri kejadian-kejadian itu.

Kasih yang membebaskan

“The person who gives him or herself wholly, the person who feels freest, is the person who loves most wholeheartedly. The person who loves most wholeheartedly feels free. And the freedom is having the most important thing in the world without owning it”

Ini hanyalah sepenggal catatan Maria, tokoh yang dituliskan Paulo Coelho dalam bukunya Eleven Minutes. Atau tulisan ini bisa pula dijadikan refleksi Paskah, pun postingan ini terlambat satu hari. Tentu seperti si KW aku tidak ingin memperbincangkan agama disini. Aku cukup puas menjadikan kepercayaanku sebagai pengalaman paling intim antara aku dan Dia.

Percayakah kamu bahwa cinta seringkali ditunggangi dengan ribuan tuntutan dan konsekuensi? Kenapa cinta tidak bisa hadir dengan tulus? Ya, aku berbicara tentang Cinta Agape, Eros pun Philia.

Cinta seringkali mengikat. Patutkah itu disebut Cinta? Kalau jawabanmu adalah ya, maka cinta tak ubahnya seperti beban, yang tak lagi membahagiakan dan menentramkan tapi membelenggu.

Dengan meneladani kisah Yesus yang memiliki Kasih Yang Membebaskan, Maria-tokoh dibuku itu- ingin menggambarkan bahwa cintanya pada Ralf Hart adalah cinta yang membebaskan. Dia tak ingin mengubah mimpinya akan lelaki ini menjadi kenyataan. Karena kenyataan sangatlah getir, dan mimpi adalah keindahan.

“Yes, I love you very much, as I have never loved another man, and that is precisely why I am leaving, because, if I stayed, the dream would become reality, the desire to possess, to want your life to me mine … in short, all the things that transform love into slavery. It’s best like this – a dream.”

Ketika hari-hari terakhir Maria yang hendak kembali ke desanya di Brazil, dia tak lantas mengikat Ralf kekasih hatinya. Bagi Maria, Ralf Hart adalah kekinian, yang setiap detik kebersamaannya adalah kenikmatan. Hari esok belum tentu hadir karenanya Maria tidak ingin membebani Ralf dengan hari esok. Sedari awal dia percaya bahwa “LOVE is NOT voluntary enSLAVEment, and FREEDOM only exists when LOVE is present”. Membiarkan Ralf terbang dengan kepak sayap kebebasan adalah wujud kasih tulus.

Although in most cases, Maria bisa saja memaksa Ralf untuk tinggal bersamanya, demi lenyapnya sebuah perasaan kehilangan, kepedihan, tapi tetap saja hati Maria tak lantas surut.

Sambil menutup renungan ini, let us rethink about LOVE that Love doesn’t fear of suffering, lost, and rejection. Selamat Paskah dan selamat menikmati cinta yang membebaskan.

Aku dan Marianne Katoppo

Tak bisa kubilang bahwa ini peristiwa kebetulan belaka. Tatkala seorang sahabat mulai membakari kertas-kertas undangan yang dihiasi dengan puisi indah Kahlil Gibran yang terjemahannya kuambil dari sebuah novel lawas berjudul ‘Dunia Tak Bermusim’, aku meratap, menyadari bahwa bukti sejarah ini harus dilenyapkan demi menyediakan ruang bagi kenangan-kenangan baru. Bukan undangan itu, pun nama-nama yang tertulis indah di sana – karena seperti pepatah menyebutkan bahwa waktu akan menyembuhkan, dan lima tahun telah berlalu- tapi, kata-kata yang dipilih Marianne Katoppo untuk menerjemahkan puisi Kahlil yang mesti turut menjadi abu yang aku sayangkan. Lalu diawalilah suatu masa, pencarian novel-novelnya, hingga kemudian kudapati sebuah berita “Pengarang-Teolog Marianne Katoppo berpulang – 13 Oktober 2007”, tepat seminggu setelah kuawali masa pencarianku. Ah, satu keindahan telah pergi, melayang bersama abu kenangan. Namun aktivitas hunting novel tetap berlanjut.

Mariane memang tidak hidup di jamanku. Papaku mengoleksi buku-buku karyanya. Tentu novel seperti Dunia Tak Bermusim, Raumanen dan Terbangnya Punai telah kubaca tanpa perasaan ketika aku masih ingusan, berseragam merah putihdan baru mengenal kata majemuk. Bahkan kala itu aku menutup Novel Raumanen dengan senyuman “Akhirnya selesai juga”.

Sebagaimana waktu telah diklaim sebagai tabib ulung penahir lara hati, waktu juga dituduh sebagai perubah perasaan manusia. Ketika membaca kembali Novel Raumanen sebagai buah pencarian selama beberapa minggu, aku baru menyadari kegetiran bahwa Raumanen adalah korban. Korban dari perasaan cintanya.

Novel yang hanya setebal 131 halaman ini diawali dengan kisah Raumanen yang menyadari bahwa akhir-akhir ini teman, saudara dan sahabatnya sudah jarang mengunjungi rumahya yang kecil dan sepi, di bawah pohon flamboyant tua. Dia merasa terasing. Monang, kekasih hatinya, yang kalah dan yang telah menyeret Raumanen kedalam jurang kekalahan-pun sesekali saja datang menengok. Itupun sehari sesudah perayaan hari-hari besar. “Dia pasti takut ketahuan istrinya” pikir Manen. Monang tak lagi bercakap dengannya, namun setiap kali kedatangannya dibawakannya bunga kesayangan Manen, Mawar Kuning.

Tersebutlah Raumanen – gadis bermata bulat, aktivis mahasiswa, lincah dan cerdas – yang dalam bahasa Minahasa berarti “gadis pembawa panen”. Monang adalah pemuda Batak, insinyur yang sukses. Namanya kependekan dari Hamonangan yang berarti “Menang”.

Monang telah menyeret Raumanen kedalam buaiannya. Hingga setanpun berkuasa. Dosa yang tercipta di sore kelam kala hujan mengguyuri Puncak, telah mengutuki penciptanya. Manen hamil. Raumanen, si gadis pembawa panen, telah memaneni buah dosa yang dibuatnya. Monang yang ternyata tak pernah menang atas hidupnya sendiri, harus menyerah pada adat. Pemuda Batak ini harus menikah dengan pariban pilihan ibunya. – Ah ini bukan jaman kita lagi.

Raumanen tak kuasa menanggung sikap pengecut Monang dan menyadari kenyataan bahwa bayi yang dikandungnya akan terlahir cacat, yang karenanya tak ada pintu lain yang terbuka baginya selain abortus provocatus. Namun beranikah dia membuka pintu ini? Bukankah ada tertulis dalam kitab perjanjian lama – “Jangan membunuh”?

Diantara langit yang mulai menggelap, Raumanen alpa. Sambil menggenggam kunci yang akan membebaskannya nanti. Ia memilih untuk membuang diri ke neraka. Terbuang dari Tuhan dan manusia. Terputus dari sumber kasihnya.

Novel ini diakhiri – lagi – dengan puisi Kahlil Gibran :
“Karena maut dan kehidupan itu satu adanya.
Sama seperti sungai dan samudra satu jua
Karena mati itu tak lain dari berdiri telanjang dalam badai
serta bersatu dengan matahari
Dan berhenti bernafas tak lain dari pada menceraikan nafasmu
dari pasang surut yang tak kunjung henti
Hingga kau dapat naik serta mekar mencari Ilahi”

Raumanen akhirnya menyadari dan mengerti … dipandanginya Monang, kekasihnya, bersujud dimuka salib putih, batu nisan yang bertuliskan “Raumanen” serta satu tanggal, disuatu hari yang kelam, sepuluh tahun lalu.

A Thousand Splendid Suns

Kenapa hidup harus terlalu menyakitkan bagi seorang Mariam, a tube rose, a lovely flower for which her father, Jalil, chose her name. Jalil khan memiliki 3 istri dan 9 anak, 9 legitimate children tepatnya, all of whom were strangers to Mariam. Bahkan dengan istri mudanya yang sedang hamil tua, Jalil akan mengaku bahwa dia memiliki 10 anak. Tentu saja Mariam tidak masuk dalam hitungan, karena Mariam hanyalah clumsy little harami.

Harami, Mariam mendengar kata itu pertama kalinya tanpa mengerti maknanya tatkala usianya baru menginjak 5 tahun. Namun ketika dia tumbuh dewasa, dia mulai memahami bahwa harami – bastard –means unwanted thing. Mariam was an illegitimate person who would never have legitimate claim to the things other people had, seperti cinta, keluarga, pengayoman dan pengakuan.

Namun perlakuan tak tulus Jalil yang mengunjunginya di daerah pinggiran Herat setiap hari kamis, membuat Mariam tidak merasa seperti harami. Semua hadiah, senyuman yang diberikan Jalil padanya membuatnya seperti ratu. Untuk alasan ini dia mencintai Jalil

Nana, Ibu Mariam awalnya hanyalah pembantu rumah tangga keluarga Jalil, hingga suatu saat perut Nana mulai membesar. Dikucilkanlah ia ke pinggiran kota dan tinggal disuatu tempat, kolba, a rathole. Nana seringkali mengungkapkan kekecewaan kekesalan atas perlakuan Jalil yang tak adil, namun tak pernah sekalipun ia menunjukkannya tatkala Jalil mengunjungi kolba-nya. “Dia bahkan tidak mengakui kita sebagai bagian dari keluarganya”, itu yang selalu diungkapkan Nana kepada Mariam

Di ulangtahunnya yang ke 15, tak ada lain yang sangat diinginkan Mariam selain pergi ke Herat bersama Jalil untuk menengok istananya, dan tinggal bersamanya. Dia ingin mendengar nama besar Jalil di kota ini sambil menunjuk satu persatu property Jalil yang berdiri megah di jalan-jalan di kota ini. Selama ini Mariam hanya mendengar Jalil mempunyai jaringan bioskop yang memutar film-film barat yang tak pernah sekalipun dinikmati oleh matanya.

Tepat di hari itu, tak sabar dia menunggui Jalil. Duduk, berdiri, menengok. Gunung keresahan tampak di raut mukanya. Namun Jalil tak kunjung tiba. Nana tampak murung. Berulang kali kata-kata Nana “Kalau kau pergi, aku akan mati. Dan kalau aku mati kamu akan sendiri. Kamu akan sendiri” berputar dikepalanya, bak rewind otomatis sebuah mesin perekam ciptaan Tuhan. Entah setan mana yang membawa Mariam nekat pergi ke Herat berjalan kaki.

Hati Mariam berdebar-debar taklala kakinya menapaki Herat. Jalil adalah orang terpandang di kota itu. Siapa yang tak kenal dia. Berbekal nama besar Jalil, sampailah dia di depan istana Jalil. Kekagumannya kian memuncak. Namun seorang gadis kecil yang muncul di depan pintu mengatakan Jalil sedang tidak berada dirumah, diapun tak membiarkan Mariam menikmati indahnya isi istana itu. Seorang yang mendiami rathole tak layak masuk istana. Malam itu, Marian tidur dihalaman di depan istana Jalil. Keinginannya bertemu Jalil masih kuat, hingga keesokan harinya seorang sopir memaksanya keluar. Sesaat sempat terlihat olehnya wajah seseorang dibalik kelambu-kelambu yang dengan tiba-tiba ditutup rapat. Seorang Bapak takkan membiarkan darah dagingnya tidur beralas tanah. Tidur beradu debu dan udara malam. Bahkan tidur di lubang tikuspun masih jauh dari layak.

Diapun pulang diantar sopir Jalil. Perasaan Mariam tak keruan, langkahnya gontai, pikirannya kembali ke kolba, a rathole, ke pohon willow-tempatnya mengadu kegundahan hati. Apa yang dikatakan Nana benar adanya.
Mariam membiarkan lelaki itu mendahuluinya menuju kolba. Kumbang-kumbang berdengung diantara bunga-bunga yang tumbuh liar. Tiba-tiba saja sopir itu sudah berdiri di depannya mencoba mendorong Mariam untuk berbalik arah.

Sayang, lelaki itu tak cukup gesit. Mariam terpaku : A gust of wind blew and parted the drooping branches of the weeping willow like a curtain., and Mariam caught a glimpse of what was beneath the tree: the straight-backed chair, overturned. The rope dropping from a high branch. Nana dangling at the end of it .

Kisah ini tidak berhenti sampai disini, penderitaan Mariam masih berlanjut. Semisal, perjodohan – yang dipaksakan oleh ketiga istri Jalil demi mendepak gadis muda ini dari istana Jalil -dengan seorang duda tua rekanan Jalil. Apakah kebahagiaan tidak ada dalam garis hidup Mariam? You’d better read this book your self. Merasakan kegetiran Mariam yang menyentuh perasaan kita terdalam, terutama Anda kaum wanita.

Oh ya, cerita di atas hanya bagian awal novel karya Khaled Hosseini. Dengan setting Afghanistan 30 puluh tahun terakhir. Dari masa pendudukan Soviet, masa kejayaan Taliban hingga post Taliban. Setting ini mirip dengan setting kisah Amir dan Hassan dalam buku Khaled Hosseini terdahulu. Kalau Anda menikmati alur cerita The Kite Runner, kupastikan Anda akan menikmati pula A Thousand Splendid Suns.

The Year of Magical Thinking : Analisa Kedukaan

“Mereka yang berkabung sesungguhnya sakit. Tapi karena kondisi ini dianggap lumrah dan terlihat sangat wajar,maka kita tidak menyebutnya sebagai penyakit “, Mourning and its relation to manic-Depressive state.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menggugah kenangan lama yang tidak mengenakkan. Sorry for this Gre. I know you’re stronger than you think. Akupun pernah merasakannya.

Aku cuma ingin me-rewrite arti kehilangan bagi Joan Didion dalam bukunya ‘The Year of Magical Thinking“. Alih alih mempersiapkan materi untuk perjalanan keluar kota minggu ini,aku terjebak menelusuri buku ini.

Kisah nyata kehidupan Joan Didion yang dituliskan secara personal, sambil sesekali mengutip hasil riset tentang depresi paska kepergian seseorang dalam hidup manusia dan tentang justifikasi2 dibalik keinginan kita untuk menghadirkan kembali sosok yang telah pergi itu.

Mengutip beberapa hasil riset, mungkin akan lebih menarik dari pada menulis kembali perasaan-perasaan Joan yang pasti akan membuat hati miris. Menggambarkan perasaannya disini membuat kita malah jadi sedih.

Riset itu misalnya, hasil penelitian J. William Wroden dari Harvard Child Bereavement Study yang mengungkapkan bahwa lumba-lumba melakukan mogok makan setelah kematian pasangannya. Angsa akan terbang dan memanggil-manggil,terus mencari hingga mereka kacau dan tersesat. Respon manusia, hampir serupa. Mereka mencari, menolak makan, lupa bernafas dan menjadi lemas. Mereka menyumbat saluran hidung dengan air mata yang tak tercurah yang mengakibatkan mereka harus berakhir di klinik THT. Kemampuan kognitif mereka tiba-tiba lenyap. Bahkan tingkat mortalitas efek kepedihan mendalam menunjukkan angka cukup significant. Hasil riset Institute of Medicine tahun 84 ini mengungkapkan bahwa perasaan duka kerap kali mengarah pada perubahan sistem endokrin yakni faktor hormonal yang terkait dengan sekresi internal, sistem kekebalan hingga kardiovaskuler. Nah, ini efek yang mematikan.

Disini dijelaskan adanya 2 jenis dukacita: dukacita tidak kompleks atau perkabungan normal dan dukacita yang kompleks atau perkabungan patologis. Mungkin yang pernah kurasakan hanyalah perkabungan nomal yang tidak mengakibatkan depresi secara klinis. Perkabungan patologis terjadi dalam hal kematian harus memisahkan perikatan dengan ketergantungan luar biasa.

Untuk mengatasi perkabungan yang bersifat patologis ini, menurut E.Bibring dalam Psychoanalysis and the Dynamic Psychotherapies, perlu abreaction atau pelepasan impuls-impuls yang tertahan.

Pada dasarnya kita menyimpan kenangan jauh dari dalam diri kita atas orang-orang yang kita cintai. Dan pada saat kematian itu harus memisahkan kita dari mereka, reaksi yang timbul membuat kita mampu melepas kenangan-kenangan terdalam sekalipun yang kita sangka telah lama hilang tersapu waktu.

Freud dalam Mourning and Melancholia menegasi bahwa dukacita mengakibatkan perubahan besar, namun tetap unik diantara disorder-disorder yang lain. Menurutnya, jarang sekali kita menggolongkan kedukaan sebagai kondisi patologis, dengan alas an yang sudah dikemukakan di paragraph awal. Kita justru berpikir bahwa kondisi ini akan hilang seiring waktu berlalu dan intervensi dalam bentuk apapun akan sia-sia. Namun nyatanya, kedukaan bisa bereaksi lebih jauh, bersifat tidak terbatas, dan tidak temporer.

Joan Didion telah kehilangan suami yang sangat dicintainya. Ingin tau kisah selanjutnya silahkan baca sendiri bukunya.

Edensor

Apa yang membuatku jatuh hati pada lelaki, yang tanda tangannya di atas novel milikku tak pernah kudapatkan? His thought, his beautiful mind. Kekagumanku pada orang telkom satu ini semakin penuh, membuncah melewati volume standarku. Bahasanya tak serumit bahasa aramaik yang digunakan untuk mencatatkan kitab perjanjian lama. Dia telah membuat dopaminku menyentuh level tertinggi selama setahun ini.

Terlepas dari kesamaan pengalaman karena pernah berganti nama, pun naungan konstelasi yang telah sama-sama mendudukkan kami sebagai warga Scorpius, aku merasa senasib. Manusia yang terus berkelana dengan mimpi-mimpinya.
Sabtu kemaren di MP Book point, setelah hunting di beberapa toko buku sedari rabu, aku mendapati tumpukan Edensor disamping The Starbucks Experience, buku yang hampir kubeli tapi hatiku mengatakan tidak.

Jadilah Andrea menemaniku selama weekend ini. Dia membuatku tergelak, tersenyum dan sesekali terdiam didera haru. Ada beberapa bagian yang rada sinis, yang menurutku belum kutemukan di dua bukunya terdahulu.Atau suasana hatiku pada saat membaca buku ini sedang terlalu sensitif atau aku perlu membuka lagi dua bukunya terdahulunya untuk memastikan tak ada nada sinis di bukunya terdahulu. Sayang kedua buku itu masih beredar di teman-teman, efek propagandaku yang selalu berhasil. Oh ya, sejak kapan ya EU memberikan pinjaman ke Indonesia? Mas Andrea kayaknya sinis banget kalau berbicara tentang utang.

Di bukunya yang ketiga ini, dia banyak bercerita tentang explorasinya ke negeri Eropa berbekal street performance dengan gaya mematung di jalan-jalan, bakat yang baru disadarinya setelah sekian tahun meyakini bahwa bulu tangkis adalah talentanya. Tak dinyana, dia seorang backpacker sejati. Salut. Seumur hidupku, jalan2 menjelajah ke negeri orang, tak pernah sekalipun aku makan daun plum karena desakan cacing-cacing di perut yang sedang menggeliat kelaparan. Jadi teringat si Ambar yang sering kali menslogankan Backpacker ala kere.

Banyak hal-hal lucu yang tak terduga dimunculkan oleh ide smart Andrea. Misalnya kenapa ibunya tak mau mengejan di menit-menit kelahirannya dan hanya memandangi jam weker. Bukan karena sudah bosan karena lagi-lagi bujang yang dia dapat, tapi karena alasan unik yang membuatku terpingkal-pingkal. Atau kisah penggantian namanya beberapa kali karena ulah usilnya. Mengingatkanku pada Mama yang tanpa meminta persetujuanku menggubah namaku. Pun kisah haru dikala hukuman yang seharusnya dia dapatkan dari Bapaknya berganti dengan nasihat di atas boncengan si Bapak dengan kaki terikat agar tak terkena jeruji sepeda serta bonus tebu yang ditusuk-tusuk di lidi. Tak kalah mengharukan, kala sang Bapak menyisipkan tiga perangko baru saat dia menyampaikan kabar ke Ikal dan Arai di Paris.

Overall, sebagaimana kisah-kisah di buku sebelumnya yang penuh tawa dan haru, Anda tidak akan pernah menyesali keputusan Anda untuk menjadikannya sebagai bagian dari rak buku Anda.

Angels

Aku pernah mempercayai bahwa hanya ada seseorang yang akan menjadi malaikat penolongku, hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku keliru.

Ketika membahas “The Valkyries” dengan seorang teman yang juga penikmat karya Paulo Coelho, kami sepakat bahwa kami tidak memerlukan penggambaran visual tentang jenis makluk ini. Ketika aku kecil, penggambaran visualku atas malaikat setidaknya mirip dengan yg dimiliki Chris – istri Paulo dalam buku “The Valkyries”- bersayap dan berbaju putih. Btw, buku ini milik seorang teman yang berbaik hati meminjamiku karena dia tak punya cukup banyak waktu untuk membaca buku-buku semacam ini.

Malaikatku bisa jadi seperti Valhalla – di buku itu nama Valhalla bukanlah suatu tempat sebagaimana dikisahkan dalam mitologi Skandinavia namun dialah Sang Valkyri – manusia biasa dan kasat mata.

“Angels are visible to those who accept the light. And break the pact with the darkness” demikian ungkap Valhalla. I know Bro you don’t like it (“,).

Well angel is in any body’s heart. Bagiku dia ada di hati Steve, Luki, Beni, Putut, K’Maria, M’Ninda, M’Han, M’Nova, Graha… and perhaps of yours too. Malaikatmu pun tidak diam di satu hati. Mereka menjelma menjadi lelaki dan wanita tua yang mengasuhmu dengan tulus. Mereka menjelma menjadi pasangan hidupmu yang tanpa butuh alasan apapun akan setia mendampingimu. Mereka menjelma menjadi bayi-bayi mungil yang menganugerahimu semangat baru dengan memanggilmu mama atau papa. Dan mereka juga menjelma menjadi orang-orang disekitarmu yang membasuh hatimu dengan senyuman. But … one thing you have to know, YOU’RE AN ANGEL TOO.

For One More Day

Micth Albom kukenal dari bukunya ‘Five People You Meet in Heaven’ – buku yang tak lagi mendiami rak bukuku. Kenapa Mitch Albom? Aku suka ide, alur cerita flash back, dan magical moments-nya yang selalu berhasil menyentuh hatiku. Sebulan yang lalu, dia membawaku kembali menikmati moment itu dalam ‘For One More Day‘, sebuah buku ber-hardcover merah yang kuhabiskan diantara malam-malam panjangku akibat jam biologisku yang sedikit kacau.

Membaca buku ini, akan memunculkan sebuah pertanyaan, “Andaikan kamu memiliki kesempatan, hanya satu kesempatan, untuk kembali dan memperbaiki suatu kesalahan dalam hidupmu, apakah kamu akan mengambilnya? Andaikan jawabanmu adalah ‘ya’ Apakah kau cukup berbesar hati untuk mengahadapinya?”

Waktu tidak berputar terbalik. Tak seorangpun memiliki kuasa mengembalikan hari-hari yang telah lalu.

Seperti dikedua bukunya terdahulu, ‘For One More Day’ menyimpan kisah kematian. Kisah kematian Morrie dalam ‘Tuesdays with Morrie’ dan Eddy dalam ‘Five People You Meet in Heaven’. Kali ini, kisah kematian Paulina, wanita yang melahirkan dan menyayangi Charles Benetto tanpa syarat.

Cerita hidup Charles Benetto ini dikisahkan oleh seorang wartawati yang hendak menulis kisah hidup mantan atlet baseball kenamaan yang berulang kali melakukan percobaan bunuh diri, karena sebuah rasa penyesalan yang menghantui sepanjang hidupnya. Namun arwah ibunya menyelamatkannya.

“This is a story about a family and there is a ghost involved. You might call it a ghost story. But every family is a ghost story. The dead sit at out tables long after they have gone”

Charley, seorang pengangguran, pemabuk yang merasa hidupnya sebagai suatu kesia-siaan. Istrinya pergi meninggalkannya. Anak semata wayangnya -Maria- merasa malu mengakui sebagai ayah. Di saat-saat seorang ayah akan merasa bangga mengiring anak gadisnya melepas masa lajang, Charley hanya bisa merenung dalam penyesalan, setelah menerima foto dan sebuah surat dari Maria yang menceritakan bagaimana pesta perkawinannya berlangsung.

Keputusasaan telah membawanya kepada rekaman hidup panjang yang dipenuhi dengan percobaan-percobaan bunuh diri. Hingga tibalah suatu keajaiban dimana waktu secara menakjubkan telah membawanya kembali ke masa lampau.

“Ask yourself this: Have you ever lost someone you love and wanted one more conversation, one more chance to make up for the time when you thought they would be” here forever? If so, then you know you can go your life collecting days and none will outweigh the one you wish you had back. What if you got it back?”

Berawal dari sebuah tabrakan yang membuat Charley harus menyusuri sebuah jalan panjang dengan sepasang kakinya. Hingga suatu sore saat hujan telah reda, sampailah ia di Pepperville Beach, kota yang dicirikan dengan tegaknya water tower di salah satu bagian kota. Mungkin lebih mirip Cikampek.

Saat menaiki dan meraih puncak water tower, Charley pun terjatuh, magical journey begins …
“When I open my eyes I was surrounded by fallen pieces of the tree. Stones pressed into my stomach and chest. I lifted my chin and this is what I saw: the baseball field of my youth, coming into the morning light, the two dugouts, the pitcher’s mound and my mother, who had been dead for years”

Buku yang bercerita tentang penggalan-penggalan kisah Charley ini akan membuatmu ingin memeluk ibumu, meminta maaf padanya dan membisikan kata-kata ‘Aku sayang Mama‘.

Impossible Figures

BelvedereWatterfall

Escher. 5 Years ago, when I was introduced to his name and his work I suddenly fell in love to this kind of art. I may call it as impossible figures. See the pictures above, ‘Beveldere’ and ‘the Waterfall’. His other works include Concave and Convex, High and Low and many more. See this for bigger pictures.

Maurits Cornelis Escher is a dutch graphic artist with amazing and wonderful art. He is also well-known for his Metamorphosis I which metamorphoses the Italian town Atrani, coast of Amalfi into a cartoon figure. One of my favorites among his works is Metamorphosis II, not because reptile, one of my fave animal Gecko- I’d better call it as a pet since my Mom is having it as a pet- was pictured there.

Shigeo Fukuda, a sculptor who creates optical illusions, once tried to make three-dimension model of Escher’s Water Fall. Briliant!

So .. you may ask me why all of the sudden I talk about Escher. I got a nice book called ‘Onmogelijke Figuren’ by Bruno Ernst as a present while we’re celebrating the birthday of Sinterklaas. I enjoy the book very much.