Menjenguk Komodo hingga Labuhan Bajo

“Dapet salam dari Vara”

“Vara, sapa?”

“Ada dehhh”

Begitulah guyonan kami selama satu bulan ini.

Jangan membayangkan Vara sebagai gadis manis, yang tampak segar bak bidadari seusai mandi. Karena Vara yang bernama lengkap Varanus Komodoensis ini memiliki ekor dan bercakar panjang. Ganas, tak beriba, pemakan sesama, pun anaknya sendiri.

Kalau Visit Musi berarti, visit Vira. Visit Labuhan Bajo berarti visit Vara.

Tanggal 29 Sept, pagi-pagi sekali, pesawat Merpati membawa kami menuju Pulau Dewata. No direct flight from Jakarta to Labuhan Bajo. Dengan jadwal berangkat dari Bandara Cengkareng pukul 6.10 pagi, kami perkirakan, kami memiliki cukup waktu untuk hunting tiket ke Labuhan Bajo di Bandara Ngurah Rai. Tapi, pesan tiket on the last minute, sangat tidak disarankan.

Jadilah kami ke loket Trigana air, lalu diberi tiket Transnusa dan berakhir di pesawat Riau Air. Aneh memang, hanya demi menunjukkan aliansi nama-nama perusahaan saja penumpang terpaksa dibuat bingung. Tapi tak apalah, pesawat Fokker 50 yang membawa kami, cukup nyaman untuk ditumpangi selama kurang lebih 1 jam 40 menit. Kira-kira pukul setengah 12 mendaratlah kami di Bandara Komodo.

Euphoria yang sama kurasakan mendesak ubun-ubun, setiap kali kaki ini menapaki daerah baru.

Teringat pesan Paulo Coelho dalam bukunya Like the Flowing River yang menyebutkan :

“The best tour guide is someone who lives in the place, knows everything about it, is proud of his/her city, but doesn’t work for any agency …”

We finally found excellent companions. Pak Dus, yang bukan seorang guide dari agen perjalanan manapun namun bekerja disebuah bank lokal di Labuhan Bajo. Pak Magribi, yang pemilik perahu motor dan orang Bugis asli. Pak Herman, yang asisten Pak Magribi, yang orang asli Labuhan Bajo (Baca:Flores), dan mahir mendayung.

Tak banyak yang bisa dilakukan dihari pertama kedatangan kami, kecuali mencoba menghafal sudut-sudut kota Labuhan Bajo yang tak besar, serta menikmati sore dengan rintik hujan dan secangkir kopi flores yang terasa sangat nikmat di antara pemandangan menakjubkan dari atas penginapan milik Pak Adrian. Tak bisa kugambarkan secara detail bagaimana nikmatnya sore di atas penginapan seharga 450 ribu per malam itu.

Hari kedua, pukul 8 pagi, Pak Magribi telah menunggu kami di Pelabuhan Tilong. Itinerary kami kala itu cukup 3 pulau saja, Rinca, Kelor dan Bidadari. Pulau Komodo yang jaraknya tak dekat itu sengaja tidak kami masukan kedalam daftar, karena kami tak ingin bermalam di kapal, dan hasil surfing menunjukkan bahwa tak banyak yang beruntung mendapati Komodo di Pulau Komodo.

Decak kagum memenuhi ruang hatiku kala perahu melaju menuju Loh Buaya di Pulau Rinca, yang memakan waktu kurang lebih 2.5 jam dari Pelabuhan Tilong. Kala itu, disebuah kronologer di internet sempat kutuliskan “This is one of my finest days”.

Sesampainya di Pulau Rinca, persyaratan administrative segera dilakukan. Kami tak ingin kesiangan tentu saja, panasnya yang sangat terik akan membuat Komodo malas dan lebih memilih bersembunyi di bawah rindangnya pohon ketimbang menyambut kedatangan kami. Benar saja, dengan ditemani Pak Dakosta, seorang guide dari Taman Nasional Komodo, kami hanya bisa menyaksikan komodo-komodo tua yang bermalas-malasan di bawah rumah-rumah panggung yang diperuntukkan sebagai penginapan, kantor sekaligus tempat tinggal sementara bagi para staff di konservasi itu.

Trekking selama kurang lebih satu jam kami lakukan di Pulau yang beriklim kering dengan curah hujan rata-rata yang hanya 50-60 cm yang terjadi di bulan Desember – Maret itu. Tak ayal, bila padang rumput, pohon ara menjadi pemandangan khas pulau ini. Sepanjangan perjalanan, beberapa komodo betina tampak sabar menunggui telor-telornya yang tertanam dalam, kurang lebih 2 meter di bawah tanah. Bukan karena sayang ternyata, induk komodo ini tak ingin melepas kesempatan pertamanya untuk memangsa anak-anak-nya segera setelah telor-telor ini menetas. Karenanya, kegesitan komodo kecil untuk memanjat pohon menjadi keahlian yang dimiliki sejak lahir. Konon memasuki usia dewasa komodo akan kehilangan kemahirannya ini. Lalu bagaimana anak-anak komodo bisa menikmati kasih sayang induknya? Ntahlah, aku yang kala itu memikirkan bagaimana mungkin hal ini terjadi, telah lupa menanyakannya pada Pak Dakosta. Nature follows its course, tak perlu membantahnya lagi.

Setelah menjumpai kerbau dan beberapa komodo, Megapodius Reintwardtii sepasang Burung Gosong menampakkan dirinya. Burung yang hidupnya selalu berdua sehidup semati ini seolah memberikan pesan moral kepada kami untuk selalu setia pada pasangan.

Kata-kataku tak kan cukup menceritakan kisah-kisah yang terjadi di Pulau Rinca. Berikutnya, Pulau Kelor yang tak sempat kami kunjungi dan Pulau Bidadari yang dipenuhi wisatawan manacanegara yang bersnorkling dan berjemur.

Di hari kedua, acara kami sangatlah santai, setelah bersilaturahmi ke rumah Pak Magribi yang hari itu berlebaran, kami melaju ke Gua Batu Cermin. Gua yang dipenuhi stalagtit dan stalagmit itu berada tak jauh dari Labuhan Bajo. Fosil-fosil ikan dan siput menjadi saksi bagaimana wilayah yang berada diperbukitan Labuhan Bajo itu dulunya adalah dasar samudera.

Perjalanan menikmati Gua Batu Cermin tidak memakan waktu lama. Siangnya, Pak Magribi kembali mengantar kami dengan perahunya. Kali ini Pulau Kanawa menjadi pilihan kami. Disepanjang perjalanan, beberapa kelompok lumba-lumba tampak beraksi di depan kami. Mereka sedang exited, sebagaimana kami yang tiba-tiba dipenuhi senyuman kala melihat mereka berloncatan di atas laut yang tenang. What a wonderful day!

Kanawa, pulau kecil yang tampak seperti tikus dari kejauhan itu berpasir putih dan dikelilingi oleh batuan koral. Tempat yang pas untuk snorkeling. Partner tekking terpaksa berubah menjadi partner snorkeling untuk beberapa saat. Tak banyak ikan berwarna warni muncul di depan kami. Mungkin karena kami yang tak berani berada jauh-jauh dari bibir pantai. Kupikir gambar-gambar di Pulau Kanawa lebih merepresentasikan bagaimana perasaan kami saat itu, ketimbang kata-kata yang tak menentu ini.

Malam itu, dalam perjalanan pulang ke pelabuhan Tilong, kami berataplangit cerah. Sesekali kami menengadah ke atas. Jajaran bintang-bintang kecil nampak sangat jelas. Scorpius yang melintasi beberapa bulan itu mulai condong ke barat. Di Utara konstelasi Cygnus nampak indah. Aku tersenyum pada Vega yang cemerlang.

“Kita harus ke Labuhan Bajo lagi kalau ingin melihat Milky Way dengan jelas,” beberapa kali partner trekking bergumam.

Aku masih larut dalam kenikmatan malam. Ini adalah malam terakhir kami di Labuhan Bajo. Satu sorga lagi harus kutinggakan. Tak sengaja, dalam hati aku bergumam lirih, “Naomi, Kamu harus melihat dunia. Belajarlah banyak pada alam karena semesta ini adalah gurumu.”

 Note: Beberapa foto perjalanan ini bisa dilihat di webshots

Andrian's View

Andrian Laarhoven’s place

Di depan kami terbingkai sempurna lukisan indah karya Tuhan. Untuk pertama kali nya dalam satu bulan ini, kami rasakan otot-otot ketegangan kami mengendur. Inilah moment relaksasi, kala matahari sore menerpa muka kami, dan bias keemasan terpancar dari lautan yang tenang. Ekstasi berlebihan melanda kami, hati kami terasa … DAMAI.

Note: The pic was taken from Bayview-gardens hotel, Labuhan Bajo

Ied Mubarak 1429 H

Dalam hal tak bertemu sinyal di Pulau Rinca, atau secara tidak sengaja HP tertelan komodo, ijinkan daku mengungkapkannya sekarang.                                                                      Idul Fitri

Maaf terucap tulus dari hatiku. Semoga jernih ya setelah liburan.

Jika Roubini adalah Magic tapi Roubini bukan Nabi Nuh, Apakah arti Nubuat?

Kamu percaya dukun? Mungkin kamu anggap, di jaman modern seperti ini, profesi dukun tidak lagi sejalan dengan apa yang sering mendasari tulisan dan perkataan kita, “common sense”. Well to be honest, I believe there is always magic behind things. Secara nalar, sulit bagi kita mempercayai sesuatu yang tak kasat mata, tak tersentuh, tak teraba, jauh dari realita. Magic yang diterjemahkan Paulo Coelho dalam bukunya “Brida” sebagai “a bride between the visible and the invisible”, setidaknya memberi kita sedikit kelegaan, kala realitas tiba-tiba hadir diantara uncommon sense, we can simply say “Hey, it’s a magic!”

Ini ngomongin apa sih?

Well… pernah mendengar nama Nouriel Roubini? Partnerku yang memperkenalkanku dengan nama ini. Mungkin secara tidak sengaja, nama ini telah beberapa kali tertangkap mata kala aku membaca buku-buku finance ataupun majalah dan Koran. Hasil browsing di youtube membuatku menemukan realita baru tentang Ekonom berusia 50 tahun kelahiran Istanbul ini, bahwa Roubini-lah the magic itself.

Back to 2006, kala Roubini memberikan pidatonya di depan para audience di IMF. Pada hari Jumat (ntah kliwon atau bukan) tanggal 7 September 2006, Sang professor di Stern School of Business, New York University, menyatakan bahwa dunia finance sedang mempersiapkan sebuah crisis baru. “A crisis was brewing”, katanya. Beliau mengingatkan bahwa dalam beberapa bulan dan tahun kedepan, terdapat kemungkinan besar bahwa Amerika Serikat akan mengalami kejatuhan di sektor kredit perumahan, tekanan harga minyak serta menurunnya consumer confidence secara drastik yang pada akhirnya membawa dunia pada a deep recession. Hedge funds, investment banks serta financial institution besar semisal Fannie Mae dan Freddie Mac akan hancur, imbuhnya.

Mungkin kita akan berlaku sama seperti audience yang hadir saat itu, menertawai nubuat-nubuat yang dibuatnya pada saat kondisi perekonomian kala itu sedang robust, angka pengangguran dan inflasi yang rendah, perekonomian yang masih growing, meskipun harga minyak sedikit demi sedikit mulai merambat naik. Kamu-pun mungkin masih bisa merasakan kondisi perekonomian negara kita yang di tahun 2006 hingga awal 2007 mengalami awal masa keemasan financial market.

Roubini, bak orang gila yang salah jaman kala dia menyampaikan pidatonya di tahun 2006. Namun dunia berbalik. Apa yang dahulu dianggap sebagai orang gila oleh khalayak, kini telah dielu-elukan sebagai nabi. Lihat bagaimana kini Freddie Mac, Fannie Mae, Lehman Bros, pun AIG terseok-seok jatuh, dan konon Hank Paulson- Treasury Secretary, Ben Bernanke – the Fed Chairman serta SEC Chairman, Christopher Cox sedang memperbincangkan kemungkinan bail out sebesar 700 miliar dollar. Angka yang tidak sedikit.

Prophecy Roubini kembali digenapi, kala di bulan Februari banyak kalangan beranggapan bahwa perusahaan-perusahaan financial yang cukup kuat akan mampu meredam krisis kredit perumaan yang sedang terjadi. Lagi-lagi Roubini justru keluar dari pakemnya khalayak, dia justru mengingatkan bahwa setidaknya satu atau lebih dari perusahaan itu akan “go to belly-up” yang berarti sesuatu yang sangat buruk akan terjadi. Ramalan inipun tergenapi kala Bear Stearns kolaps, dan akhirnya dibeli JP Morgan dengan harga murah.

So what’s new?

Hasil wawancaranya dengan bloomberg TV tanggal 12 September 2008 lalu. Lagi-lagi Roubini membuat prediksi yang mencengangkan, setelah kejatuhan Lehman Brothers. Beberapa point yang dapat disarikan dari hasil wawancara itu antara lain, resesi kali ini masih akan berlangsung hingga 18 bulan kedepan, krisis finansial akan menyertai kita hingga dua atau tiga tahun kedepan, akan ada 2 hingga 300 bank lagi yang akan bankrupt, dan harga rumah [di US loh!] akan jatuh hingga 40% selama tahun 2009.

Berikut sedikit kutipannya : [kurang banyak? Cari di Youtube deh!]

“It’s a financial disaster. We’re in the middle of a severe financial and banking crisis and it’s going to get worse. A few months ago I said that most broker/dealers were going to collapse. First Bear Stearns in March, today Lehman, tomorrow it’s going to be Merrill in a merge with Bank of America. I don’t think that Morgan Stanley or Goldman Sachs will be able to remain independent. The entire business model for all of them is fundamentally flawed at this point. They’ll have to merge with a larger financial institution…

Sebenarnya banyak sekali kita temukan kasus peramalan yang akhirnya tergenapi. Semisal Ki Ronggowarsito yang sempat kutulis. Beberapa kali Mama Loren mampu membuktikan apa yang pernah disampaikannya lewat infotaiment yang ditayangkan di hari-hari pertama tahun baru. Pun, penulis buku tenar seperti Robert T. Kiyosaki yang sempat menulis Rich Dad’s Prophecy di tahun 2002 bernubuat tentang ramalan si Ayah tentang kehancuran bursa saham dan program pensiun, yang memaksa kita agar lebih bijaksana dan berstrategi dalam mempersiapkan diri ke arah kehancuran ini.

Percaya atau tidak percaya? Kemungkinannya hanya dua, terjadi atau tidak sama sekali. Tak perlu membiarkan kekuatiran meraja, karena orang hidup perlu bertindak, namun jangan pula lengah. Stay cool but keep vigilant! Tetap tenang tanpa kehilangan kewaspadaan.

 

 

Catatan: Nouriel Roubini ini bukan dukun beneran loh. Tak layak disandingkan dengan Mama Loren, pun ki Joko Bodo. Dia memakai analisa matematis politis untuk memprediksi kondisi masa depan. Ingin meminta advisory dia untuk menganalisa harga-harga saham yang layak untuk dibeli? Maaf , dia sedang sibuk akhir-akhir ini, karena banyak Central Bank dan Ministry of Finance di Eropa pun Asia sibuk mem-booking waktu beliau. Kalau kamu sudah kadung jatuh dengan portofolio-mu yang tak jua rebound, lihat kembali tujuan investasi kamu. Kalau memang kamu buy the fundamental, kamu telah siap dengan konsekuensi “Beli sahamnya trus merem (tutup mata.red)”.

Koffie Drinken in Bakoel Koffie

Ketika kamu berkesempatan berbelanja groceries di Albert Heijn atau Hema, Douwe Egberts dengan berbagai variasi pasti terpajang disalah satu rak. Demikian pula di supermaket-supermaket Italia, Lavazza tak kan bersembunyi dari para penikmat kopi. Ini tak ubahnya kita, peminum kopi, yang kalau ke pasar nyarinya ya Kopi Kapal Api. Standar sekali bukan?

Namun tahukah kamu bahwa jauh sebelum Kopi Kapal Api berlayar sejak tahun 1927 dengan kapten kapal Go Soe Loet, seorang pendatang dari Fujian, China, nama merk kopi Tek Sun Ho telah berkibar 49 tahun sebelumnya di negeri ini.

Suatu malam, di sebuah warung kopi bertajuk Bakoel Koffie didaerah Cikini, tersebutlah dua orang manusia yang dimabukkan oleh aroma kopi tubruk yang tersaji di dalam sebuah mug putih. Ini adalah tempat mereka bersama mengurai cerita, membaca koran pun majalah atau sekedar iseng mengisi teka teki silang. Sudoku ??? tak ketinggalan.. Jadilah tempat ini sebuah tempat perkunjungan kala kepala sedang pening.

Namun disela-sela ritual meminum kopi itu, mata tiba-tiba tersaji sebuah logo seorang wanita dengan bakul di atas kepalanya. Lalu dimulailah perjalanan waktu ke lebih dari satu abad sebelumnya, tepatnya 130 tahun silam.

Alkisah di tahun 1878, tersebutlah Liauw Tek Siong, seorang pemilik toko di daerah Molenvliet Oost yang kini bernama Jalan Hayam Wuruk mulai menerapkan positioning strategy, dengan memfokuskan usahanya dibidang per-kopi-an saja. Setiap hari, seorang perempuan dengan bakul di atas kepalanya, mengirimi Tek Siong biji kopi segar, yang segera disangrainya, lalu dijual dibawah label Tek Sun Ho.

Liauw Tek Siong inilah yang mengoperasikan toko kopi ini hingga tahun 1927 kala anaknya Liauw Tian Djie mengambil alih operasional toko, dan mulai secara profesional mengembangkan usahanya.

Di tahun 1938, 60 tahun setelah berdirinya toko kopi Tek Sun Ho, gambar perempuan penjaja kopi dengan bakul diatas kepalanya mulai digunakan sebagai logo resmi kopi Tek Sun Ho. Beragam kualitas kopi dijual, termasuk kopi berkualitas rendah dengan campuran jagung, agar kaum berpenghasilan rendah-pun mampu membelinya.

Namun, di tahun 1965, kala Partai Komunis berkuasa, penamaan dalam bahasa asing, terutama bahasa China, mulai menemui kendala. Sejak saat itulah, Tek Sun Ho beralih nama menjadi warung tinggi, sesuai dengan posisi toko yang memang lebih tinggi dibanding dengan bangunan-bangunan di sekitarnya.

Hingga tahun 1994, lokasi toko sekaligus pabrik di kawasan Hayam Wuruk ini tak lagi mampu menampung kapasitas produksi yang semakin lama semakin meningkat. Tangerang akhirnya menjadi kota pilihan. Ekspor ke Jepang , Belanda dan Timur Tengah semakin gencar, segencar penjualan kopi ini di supermaket-supermaket dalam negeri.

Demi menjaga kualitas dan kapasitas produksi, tahun 2001 keluarga Tian Djie akhirnya membagi perusahaan ini menjadi dua, dengan label masing-masing. Brand Warung Tinggi masih tetap dipertahankan, disamping lahirnya brand baru, Bakoel Koffie. Namun tak lama kemudian Warung Tinggi dijual ke investor lain. Hanya Bakoel Koffie-lah yang tersisa dan dikelola oleh buyut Liauw Tek Siong, Hendra dan Syenny Widjaja.

Akhirnya … uraian sejarah kopi mula-mula di Jakarta ini berhenti di warung-warung dengan label Bakoel Koffie. Apakah mengetahui sejarah panjangnya akan mengubah kenikmatan meminum kopi tubruk di Bakoel Koffie? Entahlah, setidaknya terbersit sedikit kelegaan tatkala mengetahui bahwa logo perempuan dengan bakul di kepalanya itu jauh lebih tua dibandingkan usia kami.

Histoire de la sexualité – Foucault yang tak menabukan Seks

Bagaimana anatomi politis atau pembentukan masyarakat yang ada sekarang terhadap gagasan tentang seks? Michel Foucault menjanjikan sebuah jawaban. Tentu dengan pemikiran khas Perancis yang jelimet namun cendekia.

Dua minggu yang lalu, aku sempat kaget ketika mendengar kata ‘payudara’ tiba-tiba terlontar dari mulut Romo Gabriel tatkala mengisahkan etimologi kata El-shadday, yang merupakan penamaan lain dari Allah yang mencukupi. El-Shadday yang berarti payudara diterjemahkan sebagai sumber makanan dan sumber kehidupan. Aku tak ingin berbincang tentang Allah dan sejarah gereja di sini, meskipun akhir-akhir ini topik ini mulai menarik perhatianku. Hanya saja aku ingin bertanya. Berapa diantara kamu yang akan bereaksi sama sepertiku, kaget, mendengar hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas diumbar di depan umum? Bahkan untuk menulisnya di sini sempat membuatku ragu.

Berapa orang diantara kamu yang mewarisi norma-norma borjuasi victorian, sepertiku, yang sungguh puritan dengan menganggap bahwa seksualitas bersifat diam, menahan diri dan munafik?

Berapa kali aku harus menyadarkan diri bahwa wacara seksual dengan segala unsur negatif – pelarangan, penyensoran, penyangkalan – adalah buah dari hipotesis represi.

Sadarkah kita bahwa seringkali kita berpretensi membicarakan seks dari sudut pandang yang netral, seolah-olah membincangkan hal-hal yang berbau ilmiah. Ini adalah bentuk pengelakan atas ketidakmampuan kita dalam menggagas wacana seks secara gamblang tanpa ada tirai moral yang membatasi kata-kata yang berkaitan dengan seks.

Dengan Pendekatan filsafat kontemporer yang melihat kegiatan berfilsafat bukan lagi semata-mata mencari kebenaran, namun lebih kepada penguraian sejarah, Michel Foucault menyajikan sejarah seksualitas.

Dalam hipotesis represi, Foucault menjelaskan bahwa sejak dahulu ada semacam proses penapisan kosakata yang sangat ketat, yang mengakibatkan terbatasnya kata-kata yang boleh digunakan untuk menggambarkan wacana seks. Bahkan beberapa kata tersebut telah dibakukan dalam bentuk retorika kiasan pun metafora sehingga orang tidak mudah memahaminya. Dan tentu kaidah-kaidah kesantunan di zaman modern telah menjaring kata-kata tertentu, sehingga kaidah kesantunan dianggap hadir bak polisi kata-kata.

Sebagai bentuk upaya menghidupkannya, sejak abad ke-18, pewacanaan seks mulai dihadirkan dalam dunia pendidikan. Lembaga pendidikan telah memperbanyak bentuk wacana tentang seks dengan menetapkan batasan-batasan, membakukan isinya serta mulai melatih pembicara-pembicara yang handal.

Disamping itu, Abad pertengahan juga telah memunculkan wacanan tunggal untuk menciptakan suatu alat untuk membicarakan seks. Sakramen pengakuan dosa yang lazim muncul di gereja-gereja Katholik, salah satunya. Proses pengakuan dosa telah membuat seks layak untuk diungkapkan. Pun demikian, tetap saja terdapat buku panduan yang pada akhirnya justru membatasi kata-kata  tertentu. Sanchez dan Tamburini mengungkapkan bahwa setidaknya ada beberapa ungkapan tentang seks yang harus dihindari dalam sakramen ini, misalnya posisi pasangan, berbagai gerak sentuhan serta beberapa ungkapan lain yang tak ingin kutuliskan disini.

Pengakuan dosa sebagai tool untuk pengungkapan seks secara gamblang sebenarnya sangatlah kontradiktif dengan tujuan semula, karena menurutku, ketika ajaran pastoral Kristen menjadikan seks sebagai sesuatu yang diakui sebagai dosa, maka secara natural hal ini justru akan menjadikan seks sebagai sebuah teka teki yang harus terus menerus disembunyikan. Pengakuan dosa hanyalah alat pemaksa dan seks tidak dengan sendirinya pun sukarela menampilkan diri.

Buku ini juga membahas berbagai penyimpangan seksual yang, sejak awal, diwacanakan sebagai bentuk-bentuk seksualitas yang tidak tunduk pada tujuan reproduksi. Wacana yang berkembang kala itu justru mengutuk ‘kenikmatan menyimpang’ dan menolak ‘kegiatan tanpa hasil’ yang tak bertujuan untuk regenerasi. Keganjilan seksual mulai disisipkan sebagai kategori penyakit jiwa. Namun melihat kenyataan abad ke-19, penyebaran seksual dan pengokohan bentuk-bentuk penyimpangan makin berlipat ganda. Jaman sekarang kita justru mencetuskan heterogenitas seksual. Derivatifnya semakin banyak. Jadi tepatlah istilah yang menyebutkan bahwa ‘semakin dikekang semakin menjadi’. So … yuk mulai ikut mewacanakan.

For those of you who are on holiday, but rain prevents you from having outdoor activities, this book is worth reading. 🙂 No .. no.. it’s not true. Keep Painting!

Overall, buku ini ditulis dengan kata-kata yang jelimet dan susah dimengerti. Bukan buku yang layak untuk dinikmati secara santai, namun cukup worthy kalau ingin sekedar tahu sejarah seksualitas.

Java yang berarti Kopi

A cup of Java adalah buku bacaan wajib bagi mereka penikmat kopi dan bagi mereka yang merencanakan bulan madunya di Losari Coffee Plantation Resort and Spa. Berbulan madu di daerah berketinggian 900 meter di atas permukaan laut, dikelilingi delapan gunung, diantara pohon-pohon kopi, sambil sesekali disuguhi aroma kopi yang sedang di sangrai secara tradisional, dan diselimuti udara sejuk pengunungan di Magelang, namun tanpa dilengkapi pengetahuan tentang sejarah panjang kopi, perkebunannya dan tempat peristirahatannya, bagiku, adalah sebuah kerugian besar. Pemilik Losari Coffee Plantation, Gabriella Teggia sendirilah bersama Mark Hanusz yang berkisah tentang kopi Jawa, dilengkapi foto-foto menarik seputar kopi.

A Cup of Java, buku wajib bagi mereka yang mengganggap bahwa minum kopi adalah salah satu festival harian dalam hidup mereka. Penjabaran dari kata ‘Java’ bisa beragam. Ya, ini tentu buku yang membahas asal muasal kopi di Pulau Jawa. Buku ini juga membahas perkebunan-perkebunan kopi dan perkembangan industri kopi di pulau ini. Namun kata ‘Java’ disini tak sekedar berfungsi sebagai kata keterangan tempat. Java, tak lain dan tak bukan, adalah julukan dari kopi itu sendiri.

Demikian kisahnya …. Tersebutlah pada tahun 1893 dalam rangka memperingati perayaan 400 tahun ditemukannya Benua Amerika oleh Christopher Columbus, diselenggarakanlah World’s Columbian Exhibition di Chicago. Di area seluas 553 acre dan diikuti negara-negara di seluruh penjuru dunia, hamburger dan ferris wheel mulai diperkenalkan ke publik, diantara produk produk lain yang cukup menarik.

Tepat di tengah-tengah fairground, yang tak kalah popular di kalangan pengunjung, tersebutlah sebuah tempat bernama “Java Village. Di sini, Batik, Wayang pun Gamelan diperkenalkan pertama kalinya pada dunia. Tentu siapa lagi kalau bukan Meneer-meneer dari Netherlands East Indies yang memboyongnya kemari.

Nah, terletak di dalam Java Village, sebuah Java Lunch Room yang menyajikan tak lain dari pure java coffee mulai menjadi bahan perbincangan para pengunjung pameran. Mereka mulai menyebut minuman panas yang disajikan dicangkir ini sebagai ‘a cup of java’. Sejak saat inilah kata Java berasosiasi dengan Kopi.

Buku ini juga tak urung membuatku bangga. Siapa yang mengira bahwa kopi yang saat ini berkembang pesat di Amerika tengah dan selatan, sebenarnya berasal dari Pulau Jawa. Ini, berkat keingintahuan seorang saudagar muda VOC bernama Pieter Van der Droeke yang mencoba minuman panas yang oleh penduduk local dijuluki Qahwa. Dengan cara menyelundupkan beberapa biji kopi – kala itu demi alasan hygienist dan untuk menghindari masuknya virus-virus ke negara-negara so-called beradab, semua produk makanan dan minuman harus terlebih dahulu melalui proses pendidihan dan pembakaran sebelum dikirim- Broeke mengirimkannya ke Amsterdam Botanical Garden untuk mempelajari lebih lanjut kultivasi tanaman ini. Berawal dari Amsterdam Botanical Garden inilah kopi jawa akhirnya melanglang buana.

Lalu, bagaimana asosiasi kata ‘Java’ dengan bahasa pemrograman, yang iconnya digambarkan dengan sebuah cangkir? Kupikir Bapak ini bisa menjawabnya secara lebih komprehensif. Tulisannya yang jauh lebih menarik dan lengkap tentang kopi jawa membuatku harus berhenti menulis sampai disini. Selamat menikmati a cup of java.

Happiness ???

Once, Deidre O’Neil,who is known as Edda told me:
“Why am I not looking for happiness when everyone has taught me that happiness is the only goal worth pursuing? Why am I going to risk taking a path that no one else is taking?
After all,what is happiness?
Love,they tell me.But Love doesn’t bring and never has brought happiness.On the contrary,it’s a constant state of anxiety, a battlefield; it’s sleepless nights, asking ourself all the time if we’re doing the right thing. Real love is composed of ecstasy and agony”
~the Witch of Portobello~

Berpasangan Versi Plato

Judul tulisan ini tentu dipilih begitu saja. Dan, “berpasangan” muncul sebagai ide bukan karena jealous dengan Jeng Ely yang lives happily dengan spousenya, Gin yang selalu bangga dengan Radya, Mas Nova yang suka cerita kalau tiba-tiba perasaan kangen menyeruak tatkala teringat Vinz dan Vell. Hanya saja justifikasi untuk segera mengakhiri kebebasan dan kenikmatan menjadi single, kadang terasa tidak seimbang dengan beban dan ketakutan yang menjadi risiko buat mereka yang harus melepaskan status single-nya.

Tulisan Vira ini segera memunculkan kembali ingatanku tentang berpasangan versi Filosof Yunani, Plato. Mengapa kita memilih untuk berpasangan? Demi menghormati keputusan-keputusan pribadi yang mengganggap bahwa menjadi single membuatnya menjadi manusia yang lebih baik, aku sengaja tidak menggunakan kata ‘harus’ dalam berpasangan. It’s not about right or wrong decision, but how we confidently choose the right path of our life.

Plato menyajikan ide yang cukup menarik tentang berpasangan, melalui kisah penciptaan Adam dan Hawa. Berbeda dengan kisah sebagaimana tertulis dalam versi Al-Qur’an pun di Alkitab, Plato memberikan suatu ide yang menarik bahwa dengan berpasangan we actually regain our strength that we had before in the earlier days.

Demikian Plato berkisah: Pada mulanya, diciptakanlah manusia, namun secara fisik mereka tidaklah seperti apa adanya kita saat ini. Makhluk ini just one being, dengan satu tubuh dan satu leher, namun memiliki kepala dengan dua wajah, looking in different directions. Dengan empat tangan, empat kaki dan dua sex organ yang berbeda, membuatnya seolah-olah seperti dua manusia yang glued back to back.

Tatkala dewa-dewa Yunani mendengar tentang makhluk ini, merekapun gelisah, ancaman telah berwujud. Karena makhluk dengan empat tangan berarti dia dapat bekerja lebih keras; dengan dua wajah berarti dia akan selalu waspada dan tak kan bisa dikejutkan oleh hal apapun, dan empat kaki berarti dia lebih mampu bertahan, berdiri dan berjalan untuk jangka waktu yang lama tanpa merasa lelah. Dan yang lebih membahayakan, dengan two different sets of sex organs berarti makhluk ini mampu melakukan self reproducing tanpa memerlukan makhluk lainnya. Betul-betul powerful.

Zeus-pun murka dan berencana untuk membuat makhluk ini kehilangan sebagian kekuatannya. Dengan hempasan halilintar terpotonglah makhluk ini menjadi dua bagian. Inilah awal penciptaan Adam dan Hawa.

Mereka beranak pinak, memenuhi bumi. Namun manusia lelaki dan perempuan ini tidaklah sekuat dulu, kala mereka masih menjadi satu tubuh. And now they have to search for their lost half and embrace it, and in that embrace, regain their former strength, their ability to avoid betrayal and the stamina to walk for long periods of time.

So dear friends, it’s the nature of being in a relationship; we are each of us dependable. Surely, nothing’s wrong, because we’re in the process of regaining our strength. I know this posting won’t change your mind, Vir dan ingat Gregor Mendel-pun takkan bangun hanya demi meyakinkanmu, bahwa kamu bisa menghasilkan gen-gen terbaik di dunia :).