A gift

Beberapa hari lalu aku berada pada suatu titik dimana aku merasa Tuhan tidak adil padaku. Sebenarnya itu hanya berawal dari pembicaraan dengan seorang teman yang lalu membuatku mulai menghujat diriku sendiri. Semua pikiran positif yang pernah kubangun selama ini, tiba-tiba lenyap. Hari itu dan berlanjut hari berikutnya, aku cuma tinggal dalam kegelapan.Tidak berani keluar, pun membuka tirai jendela. Hidupku terasa berat. Beberapa saat, hening, lalu hatikupun mulai berkata “Tuhan maafkanlah aku, tolong aku, angkat aku saat ini juga”. Sesaat kemudian, gambarNya semakin jelas dimataku, lebih jelas dari gambar yang sengaja kupasang didinding didepanku. Kau mungkin mengira aku hanya sok religius, tapi aku tidak seperti itu. Kamar gelap itu mulai terang. CahayaNya menenangkanku. Thank you God. Once again you touched my heart. Percayakah Kau, detik itu juga, Lucky, sahabatku yang sedang cuti, menelponku dan menanyaiku, apakah aku baik-baik saja. Aku tidak mengirimkan signal apapun padanya, tapi aku yakin Tuhan menggerakkannya untuk menguatkanku. Bersyukurlah atas sahabat-sahabatmu, yang selalu membantumu disaat kejatuhanmu. Mereka adalah anugerah . Thank you God for the multitude of friends in my life, when all I asked for was love.

Berdansa dengan kenangan

Cinta yang hilang tetap cinta. Hanya bentuknya saja yang berbeda. Kau tidak bisa melihat senyumnya atau membawakannya makanan, atau mengacak-acak rambutnya, atau berdansa dengannya. Tapi ketika indra-indra itu melemah, indra indra lain menguat. KENANGAN. Kenangan menjadi pasanganmu.Kau memeliharanya.Kau mendekapnya. Dan kau berdansa dengannya.

113738759429951583

Aku masih bercerita tentang dirinya. Sungut-sungutnya tentang kota ini menyadarkanku tentang perasaanya sebagai perempuan. Tiap sudut kota ini selalu mengingatkannya pada seseorang yang dikasihinya. Seseorang yang selamanya akan mendiami sisi hatinya. Hatinya lebur dan tiap puing-puingnya melekat satu kenangan manis dan pahit bersama kekasihnya.
Tiap sudut kota ini membuatnya mati suri. Bayangan kekasihnya tak kunjung lenyap. Kekasihnya hanya tersenyum melihatnya melebur dengan kedukaan.
Tiap sudut kota ini melukiskan kepedihan hatinya. Kekasihnya telah pergi.
Tiap sudut kota ini … adalah neraka yang memerangkapnya.

113712941977850891

Aku sungguh bisa merasakan apa yang dirasakannya. Rasa kehilangan yang teramat sangat. Seolah-olah bagian terpenting dari tubuhmu harus dipotong. Kamu berdarah, banjir air mata. Dia telah mengantarkan orang yang paling dikasihinya, ke gerbang akhir. Tanpa kata-kata pun air mata. Aku tahu hatinya lebur dalam kedukaan yang mendalam. Air matanya mengering, menjadi kerak-kerak yang mengotori apapun yang dijatuhinya. Bukan perpisahan yang disesalinya, kehilangan orang yang dikasihinya takkan menyisakan kepedihan yang berlarut-larut. Namun kehilangan saat-saat dimana semua pesan seharusnya telah tersampaikan, menyesakkan dadanya.

Aku sungguh bisa merasakan apa yang dirasakannya. Lalu pelan-pelan aku berbisik, hidup tidak berhenti pada satu titik. Menyesali hidup hanya menyisakan kesia-siaan. Jangan bertepuk sebelah tangan. Kejar mimpimu dan hidupilah hidupmu. Kuburkan dia ditempat dimana kau menemukannya. Ya … di dalam hatimu. Biarlah dia tenang di sana.

Aku sungguh bisa merasakan apa yang dirasakannya. Dia hanya diam. Buminya berputar, pun kepalanya.

113646411806371277

Ketika kau menghadapi persoalan yang rumit, serumit sel-sel di otakmu, sangatlah mudah menimpakan semua kesalahan kepada Tuhan. Kau akan berkata ?Dari sekian milyar orang yang Kau ciptakan, kenapa harus aku yang menanggung beban permasalahan ini?. Sangat mudah bagiku untuk saat ini berputus asa, dan mengambil jalan pintas seperti itu. Aku cuma manusia kecil, dan aku tak sanggup. Tapi aku selalu ingat cerita Pak St John, ketika Mahasiswa Kristen se-UK mengadakan retreat di Cave?n Lea. Ketika pikiran negatifmu berkuasa, kau akan berpikir untuk menimpakan semua masalah itu ke Tuhan dan lalu menyesal kenapa semua itu harus terjadi padamu. Tapi selalu ada pikiran positif yang akan memberikan alternatif yang lebih menenangkan jiwamu, lalu membuatmu bersyukur dibalik semua masalah yang menimpamu. Bersyukur bahwa semua masalah itu boleh kau hadapi dan membuatmu lebih dewasa. Kamu belajar tentang hidup ketika kamu menghadapi masalah.
Ketika Pak St. John mengalami kecelakaan yang membuatnya harus menjalani operasi, dia bersyukur bahwa masih ada dokter-dokter yang bisa menolong dia. Dia tidak memilih untuk berpikir, kenapa dia harus ditugaskan ke Indonesia sehingga dia harus mengalami kecelakaan ini. Pun ketika aku harus mengalami masalah yang berat, aku tidak menyesal bahwa masalah itu menimpaku, aku bersyukur Tuhan masih menemaniku.

113573255363479484

Melewati jalan-jalan yang penuh sesak dengan kesibukan pagi kota Jakarta, aku memulai lagi ‘Rispondimi’. Aku suka tokoh ‘aku’ yang selalu dihidupkan dalam buku-buku Susanna Tamaro. Tokoh aku disini adalah Rosa… dan lalu sampailah Rosa pada kata CINTA. Dia tidak sedang bermain dengan kata-kata tapi hatinya telah menuntunnya untuk bertanya-tanya tentang cinta. Apakah cinta benar-benar ada? Dalam bentuk apakah cinta menyatakan diri? Cinta hanyalah kata seperti meja, jendela, lentera. Kala dia kecil, dia percaya cinta sama halnya dengan peri yang selalu dicarinya dicelah-celah kayu dan di balik tudung jamur. Sesaat aku menutup buku ini. Dadaku sesak, ingin meledak. Lalu terbaca olehku beberapa baris kata di cover belakang buku ini. ?Orang yang mencintai menanggung risiko lebih besar, dan sering harus membayar harga yang lebih tinggi?. Tiba-tiba saja aku ingat sahabatku yang sering mencekokiku dengan konsep ?mencintai adalah memberi dan memberi?. Entah kenapa, aku dalam hatiku, membenarkannya. Saat itu aku tersadar bahwa aku sedang belajar, belajar tentang hidup, belajar tentang kepedihan dan belajar untuk menjadi bahagia. Aku berpikir bahwa Tuhan mengirimnya untuk menjadi malaikat penolongku. Dan suatu keajaiban kecilpun terjadi. Disaat yang sama, ketika aku berpikir tentang hal itu, sebuah pesan pendek kuterima. Sahabatku bercerita tentang malaikat penolong. How great Thou art.

Small Miracle

Dan hatimupun gundah kala keinginan tak kunjung berwujud. Semua lenyap dalam ketiadaan. Namun… percayakah kamu bahwa Tuhanmu itu baik, tak sekalipun dia membiarkanmu merangkak karena kedua kakimu yang tak lagi kuat membawa beban tubuhmu. Dia akan menggendongmu, dan membuatmu tersenyum lebar. Membuat saat saat kejatuhanmu menjadi moment magis. Keindahan-keindahan kecil dalam hidupmu adalah KEAJAIBAN. Dan keajaiban itu bisa menghampirimu kapan saja. Disini aku ingin berbagi, bahwa menerima hal-hal kecil dalam hidup kita membuat kita bahagia.

Senin kemaren ditengah-tengah kesibukanku, aku menyempatkan diri ke kantor pos, mengirimkan beberapa syal made in Korea, kaos dan souvenir made in China yang kubeli di Washington kepada Ortuku. Tak ada rencana apapun dalam benakku saat itu, apalagi mengingat bahwa tiga hari setelah itu – tepatnya hari ini – adalah hari ibu. Kepalaku yang penuh dengan schedule dan hal yang meruwetkan sel-sel otakku tak lagi bisa menampung informasi bahwa hari itu adalah tanggal 19 Desember 2005. Hari ini Mama sms aku, Mama senang karena bertepatan dengan hari ibu, mama memperoleh kejutan dariku. Aku tersenyum hari ini, bukan karena kebetulan-kebetulan agung yang boleh aku alami, tapi lebih karena aku masih bisa merasakan hangat sentuhanNya yang telah membesarkan hatiku, membangun reruntuhan hati yang berserakan. Lewat Mama anugrah Tuhan mengalir tiada henti.

Dia sedang merendaku

Apa yang kau alami kini
Mungkin tak dapat engkau mengerti
Cobaan yang engkau alami
Tak melebihi kekuatanmu

Tuhanmu tak akan memberi
Ular beracun pada yang minta roti
Satu hal tanamkan di hati
Indah semua yang Tuhan bri …

Dulu aku suka menyanyikan lagu ini untuk mereka yang sedang kuhibur, namun akhir-akhir ini aku lebih suka menghibur diriku sendiri, bahwa Tuhan takkan memberikan ular beracun pada mereka yang meminta roti, bahwa Tuhan sedang merenda suatu karya yang agung mulia … hingga saatnya nanti.