Kampung Limbong

Kami bermalam di Kampung Limbong. Dan kebetulan sekali aku tidur di rumah Ibu Limbong, salah satu sesepuh di kampung ini. Tongkonan di kampung ini berjumlah kurang lebih 11 buah, yang dapat berarti juga jumlah keluarga di kampung yang tampak hidup ini. Banyak anak-anak kecil pun muda dan tua, mereka satu keluarga besar. Ketika kami sampai, mereka segera mengerubungi kami, bergerombol, seolah-olah kami ini tontonan.

Ibu Limbong tinggal bersama cucunya. Anak-anaknya pergi merantau, mengadu nasib di daerah lain. Anak pertamanya di Papua, yang kedua di Kalimantan dan satu lagi di Rantepao. Suami Bu Limbong sudah meninggal lima tahun lalu. Buru-buru aku tanyakan apakah ada mayat disimpan di dalam rumah. Esmee seorang rekan trekking mengatakan,” I just feel strange if I sleep in the house where the death body is kept” kalau aku… entahlah … tak terbayangkan.

Sore itu suguhan kopi panas sudah siap di meja. Toraja adalah sorganya kopi, sorgaku juga yg penikmat kopi tubruk. Kokokan ayam segera terdengar disela-sela keheningan kami yang sedang menikmati aroma dan rasa kopi robusta. Salah satu dari kami nyeletuk, “Wah, makan malam kita tuh”. Setelah meneguk dua gelas kopi, aku menyelinap ke dapur yang letaknya terpisah dari tongkonan, rumah induknya. Dapur dan ruang makan jadi satu disana. Meskipun ada kompor minyak tanah, Ibu Limbong lebih suka menggunakan tungku kayu. Selain murah, kayu lebih mudah didapatkan. Cucu-cucu Bu Limbong biasanya mencarikan kayu bakar untuknya dengan upah beberapa batang rokok. Sesaat aku menengok ke panci besar atas tungku, mmm ayam yang kudengar tadi rupanya sudah menjadi gulai.

Di luar dapur kudengar bunyi kletak-kletok, seperti palu dipukul. Orang-orang sedang menumbuk padi rupanya. Tempat tumbukan pertama mereka gunakan untuk memisahkan padi dari batangnya, tempat tumbukan berikutnya dipakai untuk melepaskan beras dari cangkangnya. Beberapa saat kemudian, beras sudah siap untuk dimasak.

Hari mulai gelap, dan dinginnya udara gunung mulai terasa. Aku memilih cepat-cepat mandi, menyadari bahwa temperatur akan cepat sekali drop kala malam menjelang. Sebuah kamar mandi sederhana dilengkapi dengan kakus dan bak yang dipenuhi dari air gunung yang mengalir melalui bambu dan slang plastik memberiku suasana lain. Airnya cukup menyengat, dingin merasup tulang.

Makan malam siap pukul tujuh malam. Kami keluar dari tongkonan menuju ruang makan. Hidangan telah tertata di atas meja. Dua buah bangku kayu panjang menyertai sisi kanan dan kiri meja. Nasi panas, gulai ayam, mie rebus dan sambal yang .. wow pedas sekali… sudah siap disantap.

Usai makan malam, kami bercakap-cakap di teras depan di bawah tongkonan. Lampu petromaks menemani kami. Anak-anak dan pemuda kampung masih mengerumuni kami. Aku menanyai dimana mereka bersekolah. Mereka yang masih SD, tak perlu berjalan jauh. Sekolah mereka hanya berjarak dua kampung sesudah Kampung Limbong. Sedangkan yang SMP harus berjalan menuruni dan menaiki bukit sejauh 2 kilo meter. Tak heran kalau mereka berangkat ke sekolah pagi sekali. Namun yang SMA dan STM harus ke Rantepao. Mereka biasanya kost atau tinggal di rumah saudara.

Percakapan mulai hangat dan merekapun mulai bercerita tentang lingkungan kampungnya. Konon ada satu orang ibu yang berasal dari Solo, dia menikah dengan orang Kampung Limbong. Salah seorang dari pemuda itu menawariku untuk bertandang ke rumah si ibu ini, tapi karena sudah malam aku menolaknya. Merekapun mulai menggosip tentang tetangga persis disebelah timur Tongkonan Bu Limbong. Ceritanya seru … tapi off the record lah!

Kelam malam mulai merambah desa, satu persatu manusia mulai lelap tersihir dalam tidurnya. Bintang dan bulan menemani ketenangan Kampung Limbong. Akupun terlelap dalam buaian malam.

Menyusuri Kampung Toraja

Agenda perjalanan kami selama dua hari kedepan adalah trekking. Menyusuri perbukitan dan kampung-kampung pedalaman Toraja adalah salah satu impianku. Perjalanan kami mulai pukul 09.30 waktu Rantepao, setelah semua perbekalan dan logistik siap dibawa. Point awal trekking adalah Kampung Ke’pe’ , sebuah kampung di atas perbukitan Toraja. Perjalanan dari Rantepao ke kampung ini kami tempuh dengan menggunakan Pete-pete (baca:angkutan pedesaan). Ke’pe’ adalah tujuan akhir angkutan ini. Jalan menuju Ke’pe’, meskipun beraspal namun cukup sempit. Kebun kopi dan coklat menghiasi pemandangan kanan kiri kami. Lembah yang hijau dan gunung batu yang kokoh.

Sekitar pukul 11.15 kami sampai di point awal kami, Kampung Ke’pe’. Perjalanan awal sedikit menurun, ada sebuah SD disana. Anak-anak sedang berlatih baris berbaris. Tipikal anak sekolah di Indonesia menjelang 17 Agustus. Di halaman sekolah kulihat menhir-menhir yang berukuran kecil. Aku masih penasaran kenapa menhir-menhir itu diletakkan di sana. Kami terus berjalan melewati pematang sawah. Aku harus konsentrasi kalau tidak ingin terperosok ke sawah, sambil sesekali berhenti dan menikmati suasana sekitar. Kudengar diujung sana orang berteriak, seperti siulan. Dan tiba-tiba Mas Agus berteriak juga. Rupanya teriakan itu ciri khas orang sini. Teriakan ini menandakan bahwa mereka orang Toraja, jadi dimanapun mereka berada mereka dapat saling mengenali lewat teriakan itu.

Kampung pertama yang kami singgahi adalah Kampung Poya. Anak-anak SMP yang pemalu kami jumpai di pintu masuk kampung yang cukup menanjak. Tenaga terkuras. Memasuki kampung, salakan anjing yang menyambut kami. Kampung ini cukup sepi. Mengingatkanku pada kampung-kampung Badui. Tongkonan-tongkonan kosong karena penghuninya sedang pergi ke sawah. Kami beristirahat di bawah ricebarn didepan sebuah Tongkonan. Konon kalau ada pesta hanya orang-orang penting saja yang bisa duduk disini. Tiba-tiba aku merasa VIP banget J. Semua Tongkonan menghadap ke utara dan ricebarn berada didepannya. Pejalanan kami teruskan hingga disuatu kampung kecil. Hey ada nenek tua yang sedang membuat tikar. Melihat kerutan diwajahnya, dia mungkin berumur diatas 90-an. Sesekali aku berteriak ’Tabe’ (baca:permisi) kalau aku berpapasan dengan penduduk Toraja.

Selepas kampung ini, kami harus menaiki tebing batu yang cukup tinggi. Aku bersyukur tasku tidak terlalu berat, namun dengan kamera SLR yang tergantung dileher, perjalananku menjadi lumayan berat. Aku cukup berhati-hati dengan asset berhargaku ini. Dari puncak bukit kulihat lembah-lembah curam, dan hutan yang hijau pekat mendominasi pemandangan sekelilingku. Konon Mas Agus yang menjadi penunjuk jalan pernah tersesat di hutan ketika ingin mencapai satu kampung. Ah semoga kami tidak tersesat. Beberapa anggrek hutan kami temui diantara ranting-ranting pohon. Andai Papaku ada disitu, pasti sudah kutulis nama angrek itu disini. Mas Agus menyodoriku akar rumput, baunya … mmm … seperti minyak tawon. Lalu dia menyodori akar tanaman perdu lain yang baunya seperti bau balsam gosok. Kami terus berjalan sampai kami temui sebuah batu besar. Kami berhenti sejenak, diantara kami ada pecinta panjat tebing, sesaat dia mendemonstrasikan cara memanjat tebing. Aku tidak berminat mencobanya.

Bambu-bambu yang disambung dengan slang karet menjadi pemandangan kami memasuki suatu desa, aku lupa namanya. Rupanya ini cara mereka memperoleh air bersih. Tak tampak olehku proyek pemerintah yang berbantuan luar negeri disini. Nyaris tak tersentuh. Sepertinya orang-orang disini sedang membuat akses untuk jalan mobil. Bukit-bukit diterjang, pohon ditebang dan batupun dipapras. Hatiku miris.

Menjelang pukul 14.00 kami istirahat untuk makan siang. Tampak didepanku Kampung Bamba. Kulihat anak-anak kecil yang salah satunya bernama Lisa mendekati kami. Hanya kue-kue kecil yang bisa kami bagikan. Merekapun mengiring kami memasuki kampungnya dan mengantar kami dengan lambaian tangan. Anak-anak yang manis. Pejalanan setelah itu tidak terlalu berat, dan cenderung menurun, petak-petak sawah nampak indah diselingi kurugan, kolam kecil ditengah-tengah sawah. Sebuah lubang dengan kedalaman 1.5 meter berada diantara rumpun padi dan orang disini menggunakannya sebagai tempat memelihara ikan, ’ikan gunung’ kata Mas Agus.

“Sebentar lagi kita sampai” kata Mas Agus, memberi kami semangat. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Ketika memasuki suatu kampung, aku bertanya, “Kita bermalam di kampung ini ya Mas?” Ah rupanya kami masih harus melalui satu kampung lagi, sebelum memasuki kampung tempat kami bermalam. Meninggalkan kampung itu, kami melihat banyak orang sedang mengerjakan sawahnya. Obyek menarik untuk difoto. Mas Agus segera menunjuk ke arah Kampung Limbong dimana kami akan bermalam. Semangat kembali membara. Memasuki kampung Limbong hari telah sore. Kakipun ingin segera beristirahat.

Rafting Sungai Ma'iting

Pagi ini kami pergi rafting di Sungai Ma’iting. Dari meeting point di Rantepao, kami beranjak ke Desa Ma’dong. Awal perjalanan, cukup mulus, karena aspal masih melapisi jalan. Ketika jalan mulai menanjak dan menyempit, mobil tak lagi berjalan mulus, perut serasa di kocok. Tapi pemandangan di kanan kiri kami seolah mengobati segalanya. Tampak dikejauhan ujung-ujung atap rumah yang meruncing, lembah-lembah hijau dan kuning, karena rupanya bulan ini adalah musim panen padi. Jarangnya angkutan di area ini menyebabnya banyaknya penduduk yang ikut menumpang di atas truk-truk pengangkut hasil bumi. Sesekali mobil kami berhenti karena berpapasan dengan mobil lainnya. Dari Rantepao ke Desa Ma’dong kami tempuh dalam waktu kurang lebih 1,5 jam. Kami turun dan mempersiapkan perbekalan. Life vest dan pedal dibagikan, barang-barang berhargapun telah kumasukkan kedalam kantung tahan air, kecuali kamera yang masih bergelantungan di leherku.

Perjalanan dari Desa Ma’dong menuju sungai Ma’iting memakan waktu kurang lebih satu jam. Sesekali kami berhenti untuk menarik napas dan menikmati aliran air putih ditenggorokan kami. Turunannya yang tajam membuat kami sesekali terpeleset. Aku jadi ingat tanjakan cinta di pedalaman Badui, saat itu San San, sang pemuda Badui menggandengku agar aku tidak terjatuh .

Sampai di poit pemberangkatan sudah pukul 11.30an. Mas Agus segera menjelaskan aturan mainnya dalam 3 bahasa, Indonesia, Inggris dan Perancis. Mas Agus sendiri yang jadi kapten di rubber boat kami. Berhubung kami disini adalah warga internasional, instruksi terpaksa dilakukan dalam Bahasa Inggris. “…Forward paddle, back paddle, left back right forward ….”. Awalnya rada kikuk tapi setelah beberapa menit berlalu, aku mulai menikmatinya. It’s fun, it’s really fun. Level air di sepanjang aliran sungai yang berkurang karena musim kemarau membuat rubber boat kami beberapa kali stuck di atas batu. Aku harus pindah tempat beberapa kali.

Sepanjang aliran sungai kudengar kicauan burung. Sesekali iguana kecil dan besar menampakkan diri. Ketika kutengadahkan kepalaku ke atas, langit tampak biru jernih, pohon pinus menghijau, tebing-tebing meninggi, aku merasa kecil diantara semesta yang mengagumkan ini. Beberapa air terjun kecil kami lewati. Sambil mendayung, Mas Agus menceritakan pengalamannya ikut lomba rafting tingkat nasional. Suasana siang yang menyenangkan. Tak terasa sinar matahari membakar kulitku.

Kira-kira pukul 13.30 kami tiba ditempat peristirahatan. Arus sungai mulai tenang, rubber boat kami tambatkan, dan makan siangpun tersedia. Setelah beberapa saat beristirahan, perjalananpun kami lanjutkan. Ketika sungai mulai menyempit dan bebatuan besar memenuhi sungai, arus sungai menjadi besar dan liar. Kadang kami pasrah mengikuti arus, tapi kadang pula kami melawannya dengan mendayung melawan arus. Sesaat kemudian terlihat jembatan kayu yng sudah tua yang ditengah-tengahnya dibuat seperti rumah dengan atap pelindung, typical jembatan di kampung-kampung pedalaman Toraja.

Satu jam sesudahnya, sampailah kami di batu uji nyali. Kusebut demikian karena fungsinya untuk menguji nyali para rafter. Sebuah batu besar setinggi kurang lebih 4 meter yang tegak di atas sungai dengan kedalaman 3 meter. Ini hampir mirip dengan batu jamur di Green Canyon, Ciamis. Awalnya kupikir aku berani terjun dari ketinggian itu, tapi nyaliku tiba-tiba menciut, ketika aku berada tepat di atas batu. Rekan-rekan di bawah mulai meneriakiku. Aku diam sejenak. Aku satu-satunya wanita yang melakukan ini, jadi kupikir aku tidak harus melakukannya seperti rekan wanita lain di bawah sana. Sesaat ketika memikirkan hal itu, aku telah mendapati diriku berenang kepinggiran sungai. Rasanya … lega sekali.

Melewati pukul 4 sore sungai tampak melebar, tebing-tebing semakin rendah dan kulihat lembu-lembu berendam disungai. Kira-kira pukul 16.30 kami menyudahi perjalanan kami. Desa Tapperen adalah tujuan akhir rafting kami. Kalau dihitung, perjalanan sepanjang sungai dari Desa Ma’dong ke Desa Tapperen telah menempuh jarak sejauh 18 km. Sungguh pengalaman yang menyenangkan.

Kampung Marante

Dengan mata masih mengantuk, kami pergi juga ke Marante, berbekal kertas kecil bergambar peta, sisa-sisa kertas promo Wisma Sella yang kini tak lagi beroperasi. Dari Rantepao kami naik angkot ke Pasar Bolu dengan tarif Rp 2 000 jauh dekat. Dari Pasar Bolu ke Marante jaraknya tidak terlalu jauh, Pak Sopir angkot menawari kami untuk mengantarkan dengan tambahan biaya Rp 10.000 saja. Mengingat tak banyak ojeg ke arah Marante dan angkutan menuju kesana jarang sekali, kami mengiyakan saja tawaran Bapak ini. Sepanjang perjalanan ini, Pak Sopir bercerita tentang mayat bapaknya yang sudah 10 tahun disimpan dirumah karena masih belum punya uang untuk memestakan. Di Marante kami melihat tebing batu yang kalau dilihat dari kejauhan mirip sekali dengan tebing di Jungfrau Joch – Swiss. Hanya saja tidak ada air terjun disela-sela tebing batu ini.

Pak Sopir segera menurunkan kami disisi tebing, setelah melewati deretan tongkonan di sebelah kiri kami. Seorang anak yang mengaku kelas 2 SMP segera menyapaku dan menunjukkan sebuah sungai besar tempat anak-anak bermain. Ada jembatan gantung disana, cukup tua sepertinya. Rangkanya terbuat dari besi kokoh dengan pijakan kayu yang beberapa sudah lapuk Agak ngeri berjalan di atasnya, karena goyangannya sangat terasa. Ternyata ini adalah Sungai Sa’adan. Anak-anak kecil lainnyapun menyambut kami, minggu siang itu. Setelah melihat deretan Tongkonan di dekat pintu masuk kampung, kamipun melanjutkan perjalanan kami, berjalan kaki menyusuri sungai Sa’adan.

Makassar – Rantepao

Pesawat kami mendarat di Bandara Hassanudin pukul 19.00 WIB. Berdasarkan info yang kami terima, kami harus mengambil taxi bandara ke Terminal Daya dengan tarif fixed price untuk area I sebesar Rp 65.000. Di Terminal Daya, kami diingatkan untuk berhati-hati dengan tas kami. Para calo bus akan berebut penumpang. Berdasarkan arahan Pak Sopir Taxi, kami cukup mengatakan ’Kami sudah booked Bus Litha ke Tator’ untuk membuat orang-orang itu tidak lagi mengerubungiku.

Bus Litha berangkat ke Tator dari Terminal Daya pukul 20.00 WIB (non AC) dan 22.00 WIB (AC). Tapi rupanya rute ke Tator pada hari Sabtu cukup padat, jadilah kami naik bus Segeri Indah dengan tariff Rp 50.000 non AC, karena tak ada lagi kursi tersisa di Bus Litha.

Tapi kalau boleh kusarankan, jauh hari bookinglah dulu tempat di Bus Litha dengan no telp 0411442263. Anda akan mendapatkan tempat duduk yang lega dan ber AC, supir yang berhati-hati dan harga yang cukup reasonable Rp 55.000.

Pemandangan sepanjang Makassar – Rantepao cukup menarik. Sebelum melewati kota Pare Pare, pemandangan pantai tampak mendominasi sisi kiriku. Tak terbayangkan perasaanku saat itu, excited. Scorpius menemaniku sepanjang jalan. Sinar merah Antares bak mata kucing bergelantung dileher sang kalajengking. Disampingnya constelasi Sagitarius yang mulai bersinar di bulan Agustus seiring tenggelamnya Scorpius.

Kebiasaanku tidur nyenyak dimanapun aku berada membawaku terlelap selama 5 jam di atas bus yang melaju cukup mengerikan.

Pagi-pagi aku dibangunkan oleh suara tepukan tangan. Merasa kaget, aku menoleh ke belakang. Rupanya, beginilah cara orang Tator memberi tanda sopir bus untuk turun. Jauh berbeda dengan cara orang Jakarta yang suka mengetok atap bus keras-keras. Tak kalah unik, beberapa sopir disini akan mengantar Anda ke tujuan akhir meskipun tempat itu tidak berada di jalur yang seharusnya dilalui. Asal tempat itu tidak terlalu jauh dan Anda bersedia diantarkan. Tanpa biaya tambahan tentunya. Kulihat beberapa kali bus yang kami tumpangi berbelok melalui gang-gang kecil.

Penumpang di bus sepertinya saling mengenal satu sama lain, mereka selalu bercakap-cakap dengan sopir ataupun penumpang yang lain. Mereka berbicara dalam bahasa daerah yang aku tak mengerti, namun beberapa kali kudengar mereka berteriak ’astagae’ sambil kemudian tertawa, merasa geli mendengar hal itu akupun ikut ketawa tanpa tau apa maksudnya.

Sampai di Rantepao sekitar pukul 05.00 WIB, Pak Sopir mengantar kami sampai pintu masuk ke penginapan yang telah kami booking. Entah sengaja atau tidak, mereka telah membangun image masyarakat Tator yang ramah.

Catatan Perjalanan Tator

Ini adalah catatan perjalanku ke Tator (Tana Toraja), tempat yang sudah lama ingin kukunjungi. Catatan ini tidak akan banyak bercerita tentang obyek wisata sejarah maupun adat seperti Lemo, Londa, Kete Kesu, yang sudah banyak ditulis dan bahkan mengalami pengulangan beberapa kali oleh khalayak.

Tulisan ini menyajikan sisi lain Tator, menikmatinya tak hanya dari tempat-tempat yang wajib dikunjungi, tapi juga hangatnya sapaan penduduk, eksotika alam Tator dan obyektifitasku atas tanah sorgawi ini. Tempat-tempat yang wajib dikunjungi akan banyak diceritakan melalui gambar-gambar yang menurutku bisa merepresentasikan pengalaman yang ingin kubagikan. So, check them out!

Perjalanan menuju tempat wisata lebih banyak menggunakan angkot. Ini caraku mengenal masyarakat lokal dan mengetahui sedikit apa yang ada dibenak mereka. Sebagaimana aku, anda akan kagum melihat orang disini saling mengenal satu sama lain meskipun rumah tinggal mereka berjarak puluhan kilo meter. Akupun ikut merasakan kehangatan itu, sambil sesekali mencoba mengerti apa yang mereka katakan. Akupun terlibat dalam percakapan sehari-hari mereka tatkala sedikit demi sedikit mereka mencoba mengganti bahasa yang mereka gunakan menjadi bahasa Indonesia. Percakapanpun sedikit berubah dari percakapan sehari-hari menjadi wawancara dua arah. Sesekali mereka menanyaiku dan sesekali aku bertanya kepada mereka.

Indahnya alam Tator, bukit-bukit yang menjulang, tanah nan subur, dan orang-orang yang ramah tidak cukup hanya digambarkan dengan kata-kata.

South Sulawesi

Perjalanan dimulai pukul 15.30, tiga puluh menit terlambat dari jadwal yang seharusnya, maklum penerbangan ini harus mengandalkan pesawat lain yang datangnya ke Bandara Soekarno Hatta juga terlambat. Menuju Makassar pesawat melalui rute Jawa baru ke Sulawesi. Di awal perjalanan tampak puncak-puncak gunung yang menyembul di atas awan-awan tebal nan putih. South Sulawesi menanti …

Cost and Risk Tradeoff

Beberapa hari lalu ketika kami sedang sibuk membahas kata-kata “menurunkan biaya dan menurunkan resiko” dalam hal pinjaman luar negeri pemerintah, aku duluan protes dengan dasar filosofi cost risk trade off. Cost atau risk adalah pilihan. Idealnya adalah costnya rendah dan risknyapun rendah. Oh indahnya dunia kalau itu memang boleh terjadi. Nyatanya mereka berbanding terbalik. Jadi yang bisa kita capai adalah menurunkan cost pada tingkat resiko yang bisa kita tolerir, atau sebaliknya.

Demikian pula hidup kita. Kita ingin hidup kita berwarna, biayanya, kita harus mencoba tantangan-tantangan baru. Tapi resikonya adalah turunnya tingkat kenyamanan kita karena pattern hidup yang harus berubah. Karenanya kita perlu mengira-ngira sampai tahap mana kita bisa mengatasi ketidaknyamanan ini. Insting kita akan membawa kita menilik ketidaknyamanan apa saja yang kira-kira bisa terjadi. Lalu kita mulai menimbang-nimbang apakah kita mampu menghadapi ketidaknyamanan itu. kalau jawabannya adalah ya, kita akan mencoba tantangan itu. Taukah kamu, opportunity bahwa hidup kita akan lebih menarik, tidak membosankan … more challenging, sudah siap diujung jalan.

Saat aku masih di Birmingham, aku suka mencari jalan-jalan baru, dari kampus ke kost. Tentu aku tidak mentolerir jalan dari kost ke kampus, karena terlalu beresiko. Dosen-dosenku kurang mentolerir mahasiswanya yang suka telat. Saat itu Aku sudah memperhitungkan resiko kesasar, waktu tempuh ke kost yang melebihi standarku atau menemui kejadian yang tidak mengenakkan. Tapi lihat saja hasilnya, pemandangan baru, pus-pus gendut yang baru, orang-orang baru yang kutemui di depan rumah mereka yang sekedar tersenyum atau cukup ‘say hello’. Saat itu juga hariku jadi indah.

Pun, beberapa hari lalu ketika aku berusaha mengubah nada dasar A ke C ketika aku memainkan lagu ‘Satu bintang dilangit kelam’ dengan gitarku. Sudah hampir sedekade aku selalu memainkan lagu kesukaanku ini dengan nada dasar A. Tentu pada saat mencoba, aku punya ketakutan bahwa aku akan memainkannya dengan cord yang salah, trus tetangga dan kucing yang ada didepanku akan menengok ke arahku dan mencibirku. Tapi aku berani menanggung resiko ini. Ternyata aku lebih pas dengan nada dasar yang baru ini.

There are so many ways to live your life, why not try one. intinyanya, perkirakanlah resiko yang akan kita hadapi, karena kita tentu tidak ingin bermain main dengan hidup kita.

Toko Buku Unik

TIM-web.jpg

Tepat seminggu yang lalu, seorang teman yang menurutku super jenius mengajakku refreshing keluar rumah. Tujuan awalnya adalah menonton pertunjukan atau entah acara apapun di Graha Bhakti Budaya. Namun rupanya kami kurang beruntung, tidak ada agenda apapun di jam siang, sementara jam malam bukan pilihan kami.

Jadilah kami ke toko buku di ujung Graha Bhakti Budaya. Toko ini cukup unik, koleksinya rada nyeleneh. Mungkin kalau kamu suka nyari buku-buku sastra, kupikir disini tempatnya. Buku lama, pun baru juga ada. Kami menghabiskan tiga jam membolak-balik buku. Jangan lupa bawa tissue basah. Tangan langsung berdebu setelah membolak balik beberapa buku. Kulihat temanku sesekali bertanya kepada penjaga toko, menanyakan buku yang dia cari. Kutu buku seperti dia pasti tertarik dengan buku yang gak lazim. Rata-rata aku tidak mengenal penulis pun topik dari buku-buku yang ada dikantong belanjaannya kecuali, satu buku kumpulan puisi Rendra dan satu lagi buku Umberto Eco-aku lupa judulnya, yg jelas bukan The Name of The Rose. Rupanya dia terpengaruh dengan pembicaraan kami sebelumnya tentang penulis yang banyak menyajikan fakta-fakta sejarah dalam novelnya tersebut . Aku sendiri membeli satu buku tentang demokrasi dan satu buku nyanyian persembahan Rabidranath Tagore ‘Gitanyali’. Uniknya toko ini telah memukau kami. Tak terasa malam pun menjelang, kami harus segera pulang.

Air Mancur Joged

monas11.jpg

Untuk kamu semua yang pernah mengunjungi bagian barat Monas dan menyaksikan air mancur joged, kamu mungkin merasakan hal yang sama. Salut dengan Pak Sutiyoso, Menyajikan tontonan rakyat secara ajeg dan gratis sepertinya bukan tipe pemerintahan di sini deh. Lihat aja Pantai Ancol yang indah harus dipagari dan dikenai biaya tiket masuk. Tapi bisa dimaklumi koq, mengingat biaya perawatan yang cukup tinggi dan pengelolaannya telah diserahkan ke swasta.

Suguhan gratis setiap sabtu dan minggu malam ini cukup menarik perhatian warga Jakarta. Aku salah satunya. Dipertontonkan tiap jam 19.00 WIB dan 20.00 WIB rupanya cukup menghilangkan kesan seram area Monas dimalam hari. Bagaimana tidak, Monas yang dulunya sepi setelah memasuki pukul 18.00 WIB, kini jadi hingar bingar. Namun tidak menutup kemungkinan hal ini justru menjadi lahan empuk para pencopet untuk bereaksi. Just be careful lah! Beberapa petugas security juga terlihat berkeliling area Monas, membuat perasaan aman para pengunjungnya.

Pertunjukan diawali dengan air mancur yang meliuk-liuk mengikuti irama lagu. Dari lagu jali-jali sampai st elmo’s fire-nya David Foster. Sesaat aku terkenang suguhan serupa yang disajikan Pemerintah Barcelona disuatu sore di musim panas di depan Museum Nasional . Waktu itu aku menikmatinya sendiri. Teman-temanku memilih tinggal di hotel setelah seharian beraktifitas dalam serangkaian program social and economic inclusion di Barcelona.

Berbeda dengan di Barcelona, air mancur joged di Monas diperkaya dengan suguhan sinar laser yang diproyeksikan diantara semburan-semburan air mancur yang menceritakan tentang sejarah Jakarta.

Yang ada dalam hatiku saat itu cuma kagum dan kagum. Well ingin merasakan hal yang sama? Coba saja datang ke Monas pada Sabtu atau Minggu malam pukul 19.00 WIB atau 20.00 WIB.