Euro 2008, bertaruh di atas sebuah pengkhianatan

“Tidaklah menarik menonton sepakbola tanpa taruhan” seorang teman berujar.

Aku pada awalnya tidak menjagokan tim manapun dalam EURO 2008. Once England was not listed, for me, the competition never existed. Karena mendukung tim lain berarti mengkhianati hati. Beginilah diriku, penonton sepak bola dengan pengetahuan tentang persepakbolaan yang pas-pasan, sehingga pilihan dijatuhkan karena faktor faktor pertautan secara emosional saja.

Tetapi ketika melihat Tim Oranje yang sedemikian tangguh menghadapi Itali, hati ini mulai berpaling. Akal sehatpun menguasai. Aku akui Belanda bermain sangat brilliant. Ditambah lagi, hampir semua pemain Tim Oranje ini kukenal – ingat kata pepatah “Tak kenal maka tak sayang”. Dan akhirnya akupun berkhianat.

Jadilah Tim Oranje, tim favoritku. Taruhanpun mulai dimainkan. Tak berbentuk materi tentu saja, karena aku lebih suka ide-ide gila dan menyenangkan, yang membuat taruhan kita menjadi sesuatu yang tak mudah kita lupakan.

Semisal, naik merry go round dua putaran di tengah-tengah pusat perbelanjaan yang segera ditolak oleh temanku yang merasa hukuman ini tidak imbang dengan apa yang kupertaruhkan. Aku bertaruh akan menggunakan rok ke kantor. Sesuatu yang sangat extra ordinary bagiku, mengingat sudah hampir 10 tahun ini aku tidak mengenakan rok ke kantor. Akhirnya, berjalan mengelilingi lapangan di depan kafe De Daunan dinilai sebagai taruhan yang seimbang.

Kemenangan mutlak Belanda 4-1 atas Perancis menyelamatkanku dari rasa malu. Aku terbebas dari kewajiban mengenakan rok ke kantor. Dan demi itikad baik, kemaren temanku mengeksekusi apa yang menjadi kewajibannya.

Di sepanjang perjalanan keluar dari kafe De Daunan ke gerbang Kebun Raya, terlontar satu ide baru. Untuk taruhan berikutnya, meniup obor yang terpasang di sepanjang jalan dari kafe ke gerbang akan menjadi suatu hal yang cukup menarik dan menegangkan, karena setiap saat satpam bisa muncul dan menangkap kami, atau beberapa orang yang kebetulan lewat disitu dan melihat kami bisa mengganggap kami rada kurang waras. Ini yang membuat hidup lebih hidup 🙂.

Ide lain yang sempat terpikir adalah mewarnai rambut kami dengan warna kaos tim sepak bola yang kami dukung. Tentu hanya beberapa helai rambut saja. Aku beruntung tidak mendukung tim Yunani, karena perpaduan putih dan biru dirambutku yang tak hitam ini, akan membuatku tampak seperti orang penyakitan.

Hey, punya ide lain yang cukup menarik untuk taruhan?

Wereld Zonder Jouw

Ik heb een masker opgezet
En als mijn vrienden erom vragen
Zeg ik dat het heerlijk is alleen
Je foto`s zijn al van de wand
Alsof ik zo vergeten kan
Dat ik je mis
Hoe koud het is
Hoe leeg zo zonder jou
Hier om me heen

Ik kan je niet laten gaan
Al zeg ik dat het beter is
Alleen en zonder jou
Ik kan het gewoon niet aan
Ik mis je armen om me heen
Nee ik leef niet in een wereld zonder jou

Ik heb bijna alles geprobeerd
Alles om je te vergeten
Ik lieg als ze me vragen hoe het gaat
Ik lees wat boeken kijk TV
Maar daar verandert ook niets mee
Ik voel nog steeds
Verlang nog steeds
Ik denk nog steeds
En steeds alleen aan jou

Ik kan je niet laten gaan
Al zeg ik dat het beter is
Alleen en zonder jou
Ik kan het gewoon niet aan
Ik mis je armen om me heen
Nee ik leef niet in een wereld zonder jou

De tijd staat stil
De tijd die alle wonden heelt
Ze loopt niet zonder jou
Ik kan je niet laten gaan
Al schreeuw ik dat het beter is
Alleen en zonder jou
Ik kan het gewoon niet aan
Ik mis je armen om me heen
En alles aan je waar ik zo van hou
Nee ik leef niet in een wereld
Zonder jou

Arcturus – the orange giant star in Bootes

Bootes

Kalau Bulan April Leo merajai langit malam, Ursa Major dan Ursa Minor mendominasi langit malam di bulan Mei. Bulan ini mari kita coba mengenal satu konstelasi menarik, BOOTES (read: boo-oh-teez). Sebenarnya Scorpius lebih merajai malam di bulan ini, Cuma hal ini sudah pernah kubahas disini.

Maaf, Regulus – the brightest star in Leo – belum sempat kubahas disini, bukan karena tidak menarik tapi aku sudah cukup puas hanya dengan menatapnya saja. Tetaplah menjadi bintang di langit.

OK, lets go back to Bootes.

Bulan Juni dikala kutub utara condong mendekat matahari yang saat ini berada 22 derajat di atas equator, stargazer in southern half of the planet prepare for the colder nights. Sebaliknya, mereka yang di bagian utara harus menunggu beberapa jam untuk menikmati starry nights, as the result of the day light hours grow long. So those of you in the north, Jeng Ely dan Lieve Steve … the nights worth waiting for, coz almost directly over your head, beautiful Arcturus awaits you.

Bootes, sekitar jam 8-9 malam sudah berada di atas kepala kita. Ini guidance dari posisiku di Jakarta. Cobalah cari tepat di atas kepalamu agak ke utara, ada satu bintang terang berwarna orange. I may say the brightest star in the northern sky, sedikit lebih terang dibandingkan dengan Vega dan Capella. Nah dari posisi Arcturus ini coba cari bentuk seperti gambar di atas. Rada anomali memang. Biasanya kita mengenal bintang setelah kita menemukan konstelasinya, ini justru kebalikannya. Tak apa, kadang-kadang kita mesti belajar menjadi unik, tak harus ikut-ikutan toch!

Bootes, yang dipercaya banyak ahli sebagai konstelasi tertua, digambarkan sebagai penggembala, meskipun kalau ditarik garis-garis penghubung antara bintang-bintang-nya, tak jelas juga Bootes ini merpresent apa. Just believe what people say that Bootes is Herdsman, with no cow but bear. Aneh kan!

Anyway, Arcturus-the brightest star in the constellation- ini rada istimewa. Menurut sejarah, Arcturus ini merupakan bintang pertama yang pernah diobservasi melalui teleskop di kala bumi masih terang. Kira-kira kejadiannya tahun 1635, tak lama setelah teleskop ditemukan oleh Galileo.

Well… as usual, lapor ya kalau sudah menemukan Bootes dan Arcturus.

Kenaikan harga BBM yang tak bermoral

Beberapa hari lalu sekitar pukul 6 sore, aku terlibat percakapan ‘panas’ dengan Vira tentang pengaruh harga BBM pada harga selangkangan. Kami kala itu menstempel jidat kami dengan jargon feminisme, dan stiker “kami gak sedang ngomong jorok loh” menempel di punggung kami berdua. Malam itu, perempuan satu ini memang akhirnya menghasilkan catatan isengnya, sementara aku berakhir di Blitz, tempat favoritku dengan seorang teman.

Entah kenapa aku langsung sampai pada sintesa sederhana bahwa harga selangkangan justru akan turun. Dengan kenaikan harga BBM, inflasi akan tergeret naik. Moving north , istilah para trader. Naiknya harga bbm ini membawa second round effect yang luar biasa, sehingga banyak yang memperkirakan tingkat inflasi (YoY) yang akan di announce tanggal 2 nanti akan menyentuh level double digit.

Inflasi tinggi membuat hidup makin susah. Secara ekonomi loh, cuma karena kondisi ekonomi seringkali berbanding lurus dengan kondisi kebathinan, tingginya harga barang yang tak diimbangi dengan purchasing power akan membuat manusia seringkali gelisah dan bahkan berbuat nekat. Berawal dari desakan ekonomi dan kenekatan yang diramu dengan efek degradasi moral yang amat sangat karena lunturnya apa yang kita percaya sebagai “value”, membuat supply selangkangan justru makin meningkat.

On the other hand, harga kebutuhan pokok semakin mahal, hence inflationary pressure exists, membuat penghasilan secara value menurun, meskipun secara nominal tidak. Akibatnya, selangkangan – bagi sebagian orang- terdepak keluar dari list kebutuhan pokok. So demand menjadi turun.

Dengan supply meningkat dan demand yang menurun, tak ayal harga selangkangan menjadi jatuh. Kenaikan harga BBM rada tak bermoral memang. Tapi salahkan Vira yang sore itu mencetuskan ide gila membahas hal beginian. Peace Vir 🙂 !

Antara NSO, Beethoven dan Bizet

Manusia Jakarta dan sekitarnya ini masih beruntung. Segala kemudahan demi memuaskan dahaga atas kesenangan-kesenangan yang bersifat pribadi sangatlah mudah dipenuhi. Tak harus ke Birmingham Symphony Hall atau Royal Albert Hall, pun ke Cheveningen untuk memperoleh efek dopamine yang melimpah ruah, cukup di dalam ruangan Balai Sarbini dengan kursi-kursi yang saling berhimpitan.

Sabtu lalu, aku dan temanku akhirnya menghabiskan waktu menonton Nusantara Symphony Orchestra di Balai Sarbini. Sabtu yang telah kami rencanakan beberapa minggu sebelumnya.

Komposisi Beethoven dan Bizet menyuguhi malam itu dengan harmoni keindahan bagi classical music lovers

Menonton orkestra tak seperti menikmati recital-nya Wibi Soerjadi, dimana bola mata kita tak kan bergerak dari jemari tangan yang lincah dan tubuh mungil Wibi (at least untuk ukuran European people) serta piano kesayangannya. Hey it’s also one of my fave performances I’ve ever seen. Bedankt voor een heerlijke tijd, Stev.

Konser malam itu, NSO membawakan Symphony no 5 in C minor komposisi karya Beethoven. Still… my fave is Moonlight Sonata. Tapi coba bayangkan sebuah komposisi indah yang diawali dengan birama megah bak musik iring-iringan kemenangan, lalu diikuti dengan aksen kontras dengan bunyi keras dan lembut dengan not-not dissonan. Kemudian berlanjut dengan alunan cello dan violin yang memainkan nada-nada lembut. Suara timpani yang menggema dan trombone yang semakin meriah, membuat kepala beberapa penonton kala itu mengangguk-angguk seirama hentakan musik Tak sadar tangankupun mulai latah bergerak-gerak, tentu tak ada niatan sedikitpun untuk menyaingi Mr Hikotoro Yazaki, yang malam itu menjadi conductor.

Sesi kedua, NSO menyuguhkan highlights Carmen yang dibawakan oleh Sarah Sweeting, sang mezzo soprano yang malam itu melakonkan tokoh utamanya, Carmen. Aning Katamsi, sang soprano melakonkan Micaela tunangan Don Jose yang dibawakan oleh Ndaru Darsono.

Dalam kisah ini Don Jose jatuh cinta pada Carmen, perempuan gypsy yang cantik dan menggairahkan, yang tiap gerakan matanya, tubuhnya maupun suaranya memiliki symbol sensualitas. Mungkin femme fatale lebih pas menggambarkan karakter Carmen yang malam itu divisualisasikan Sarah Sweeting dengan balutan gaun merah dan gerakan tubuh yang menantang.

Kisah Carmen mengambil setting di Seville – Spain, meskipun demikian opera ini tetap disajikan dalam French subtitles, mengingat Bizet yang wong Perancis.

Tersebutlah Don Jose, seorang tentara yang sedang berkerumun diluar pabrik rokok mendapati Carmen melemparkan setangkai mawah tepat dikakinya, Diapun terpesona oleh kecantikan perempuan ini. Dalam kisah selanjutnya diceritakan Micaela datang menemui Jose membawakan sepucuk surat dari ibu Jose yang memberitahukan anaknya bahwa Micaela adalah istri yang tepat untuknya.Merekapun bertunangan. Namun pesona Carmen tetap memikat hati Jose, hingga dia rela masuk penjara menggantikan Carmen yang kala itu terlibat perkelahian dengan perempuan lain.

Di babak kedua, dikisahkan pertemuan Carmen dan Escamillo seorang bull fighter yang dalam performance di Balai Sarbini malam itu diperankan oleh Harland Hutabarat, yang oleh partner nontonku disebutkan sebagai saudaranya. Herannya kenapa tak sedikitpun bakat menyanyi Harland terlihat di saudaranya yang malam itu duduk disisi kiriku.

Carmen dan Escamillo bertemu di sebuah bar yang cukup sering dikunjungi oleh para penyelundup dan pencuri. Tak segera merek jatuh cinta. Carmen masih setia menanti Jose. Sesaat setelah teman gypsynya merencanakan sebuah penyelundupan, datanglah Jose dan dia setuju melarikan diri dengan Carmen, bergabung bersama para penyelundup lainnya.

Singkat cerita (baca: babak II dan IV. Red) … Jose tiba-tiba meninggalkan Carmen setelah Micaela menyampaikan berita bahwa Ibu Jose sedang sakit keras. Carmenpun segera mengumumkan kalau dia jatuh cinta pada Escamillo, sang matador.
Suatu hari datanglah Carmen dan Escamillo ke bullring. Kala Escamillo harus bertarung melawan ketangguhan banteng, Carmen yang berada diluar arena terlibat perselisihan dengan Jose yang sengaja mendatanginya dan memaksa Carmen untuk tinggal bersamanya.

Tak tahan dengan sikap Carmen yang melemparkan cincin padanya dan mengatakan bahwa tak sedikitpun dia mencintai Jose, Jose-pun menikam Carmen. Disaat Carmen harus meregang nyawa, terdengar suara riuh dari dalam bullring, Escamillo seorang matador berhasil menguasai Banteng. Sungguh ironis!

Oh ya, prelude dalam opera Carmen ini dibuat megah dan menghentak-hentak, mengingatkanku pada Radetzky March op 228 komposisi karya Strauss, namun diakhiri dengan irama lembut. Ah lagi-lagi gak happy ending, layaknya kisah-kisah Tristan und Isolde, dan Romeo and Juliet.

Ummm, sebenarnya agak kecewa juga kala melihat Harland hanya membawakan ‘Toreador’, yang singkat saja. But overall, kami cukup puas. Di rumah…malam Sabtu yang telah larut segera dimeriahkan dengan bunyi ringtone ‘Toreador’ yang sejak dua tahun lalu menjadi ringtone esiaku. “Nice dream yaa…” menutup malam yang kala itu dihiasi konstelasi Virgo yang meluas di langit

… dan dunia pendidikanpun ternodai

Kalau kamu sempat mendengar pun membaca tentang tragedi Ujian Nasional yang sempat dinodai dengan ledakan senapan di lingkungan sekolah serta tangisan guru-guru yang telah dengan sengaja membetulkan lembar jawaban siswa, kita semua pasti akan miris. Sedemikian parahnyakah moral mereka yang terlibat dalam kejadian itu, atau tak berpikirkah mereka para pembuat kebijakan yang telah memaksakan penyeragaman soal-soal ujian dibawah payung program “Ujian Nasional”, tanpa menyadari deviasi kualitas fasilitas pun tenaga pengajar antara kota besar dan pedalaman sangatlah jauh berbeda ?

Ok lets get straight to the point. Paragraf di atas tidak dimaksudkan untuk menentang apa yang dilakukan para anggota detasemen khusus 88 Anti Teror Kepolisian Daerah Sumut ataupun menghujat tindakan para guru SMAN 2 Lubuk Pakam Deli serdang, Sumut yang dilakukan siang hari pukul 13.30 pada hari Jumat tepat seminggu yang lalu. Karena justifikasi selalu bisa dicari. Mendapatkan argumen-argumen yang mendukung pendapat kita sama mudahnya dengan memperoleh alasan-alasan yang menentangnya.

Sebenarnya, apa yang terjadi di Sumut-pun terjadi pula di USA, negara yang konon sering dijadikan kiblat sistem pendidikan di negara-negara terbelakang, pun sedang berkembang. Bagi mereka yang sempat membaca buku freakonomics, kejadian di Sumut ini bukan hal yang baru. Di USA, tepatnya di Chicago, high-stake testing atau ujian yang paling menentukan untuk kenaikan kelas telah dinodai pula dengan kecurangan para guru. Motif guru-guru di Chicago saat itu sangatlah berbeda dengan apa yang melandasi guru-guru SMAN 2 Lubuk Pakam, yang lebih terbeban secara moral tatkala melihat pensil anak-anak didiknya tak bergerak saat ujian bahasa inggris berlangsung. Beban moral kepada orang tua anak-anak itu lebih menghantui para guru tersebut ketimbang sanksi yang harus dijalani tatkala apa yang mereka lakukan harus terbongkar.

Pada dasarnya manusia merespon terhadap insentif. Tatkala reward diberikan pada guru yang siswanya memperoleh nilai tinggi dalam high-stake testing, beberapa diantara mereka tergoda untuk melakukan kecurangan. Sistem reward dan punishment dalam high-stake testing ini telah direspon oleh sebagian guru dengan lebih berkonsentrasi pada topik-topik ujian ketimbang upaya meningkatkan pemahaman siswa terhadap suatu pelajaran. Hal ini pula yang mendorong guru-guru di Chicago untuk menghapus jawaban siswanya yang salah dan menggantinya dengan jawaban yang benar.

Namun penggrebekan bahkan ledakan dari laras senapan tidak perlu terjadi di Chicago, sebagaimana kejadian di Lubuk Pakam yang hanya menambah deretan noda bagi dunia pendidikan, bahwa sekolah adalah ajang kekerasan.
Beruntunglah Chicago Public School memiliki basis data jawaban siswa sejak tahun 1993 hingga tahun 2000. Sehingga dengan Algoritma sederhana guru-guru yang curangpun akhirnya dapat diketahui. Sebagian diantara mereka diberi peringatan bahkan di pecat. Kalau ingin mengetahui lebih detail bagaimana algoritma sederhana mampu membongkar kecurangan guru-guru di Chicago, baca buku Freakonomics deh. Buku ini … highly recommended!

Aksi polisi di Lubuk Pakam memang terkesan berlebihan. Andai kita mulai bisa memanfaatkan historical data guna menciptakan suatu kebijakan yang lebih memadai, kecurangan dan aksi brutalpun pasti bisa dihindari.

Oh ya, aku tidak men-suggest tindakan apapun atas kejadian di Lubuk Pakam seminggu yang lalu. Karena aku sadar betul bahwa berbicara lebih mudah ketimbang melaksanakan. Pun menulis lebih menyenangkan dari pada mengalami sendiri kejadian-kejadian itu.

Kasih yang membebaskan

“The person who gives him or herself wholly, the person who feels freest, is the person who loves most wholeheartedly. The person who loves most wholeheartedly feels free. And the freedom is having the most important thing in the world without owning it”

Ini hanyalah sepenggal catatan Maria, tokoh yang dituliskan Paulo Coelho dalam bukunya Eleven Minutes. Atau tulisan ini bisa pula dijadikan refleksi Paskah, pun postingan ini terlambat satu hari. Tentu seperti si KW aku tidak ingin memperbincangkan agama disini. Aku cukup puas menjadikan kepercayaanku sebagai pengalaman paling intim antara aku dan Dia.

Percayakah kamu bahwa cinta seringkali ditunggangi dengan ribuan tuntutan dan konsekuensi? Kenapa cinta tidak bisa hadir dengan tulus? Ya, aku berbicara tentang Cinta Agape, Eros pun Philia.

Cinta seringkali mengikat. Patutkah itu disebut Cinta? Kalau jawabanmu adalah ya, maka cinta tak ubahnya seperti beban, yang tak lagi membahagiakan dan menentramkan tapi membelenggu.

Dengan meneladani kisah Yesus yang memiliki Kasih Yang Membebaskan, Maria-tokoh dibuku itu- ingin menggambarkan bahwa cintanya pada Ralf Hart adalah cinta yang membebaskan. Dia tak ingin mengubah mimpinya akan lelaki ini menjadi kenyataan. Karena kenyataan sangatlah getir, dan mimpi adalah keindahan.

“Yes, I love you very much, as I have never loved another man, and that is precisely why I am leaving, because, if I stayed, the dream would become reality, the desire to possess, to want your life to me mine … in short, all the things that transform love into slavery. It’s best like this – a dream.”

Ketika hari-hari terakhir Maria yang hendak kembali ke desanya di Brazil, dia tak lantas mengikat Ralf kekasih hatinya. Bagi Maria, Ralf Hart adalah kekinian, yang setiap detik kebersamaannya adalah kenikmatan. Hari esok belum tentu hadir karenanya Maria tidak ingin membebani Ralf dengan hari esok. Sedari awal dia percaya bahwa “LOVE is NOT voluntary enSLAVEment, and FREEDOM only exists when LOVE is present”. Membiarkan Ralf terbang dengan kepak sayap kebebasan adalah wujud kasih tulus.

Although in most cases, Maria bisa saja memaksa Ralf untuk tinggal bersamanya, demi lenyapnya sebuah perasaan kehilangan, kepedihan, tapi tetap saja hati Maria tak lantas surut.

Sambil menutup renungan ini, let us rethink about LOVE that Love doesn’t fear of suffering, lost, and rejection. Selamat Paskah dan selamat menikmati cinta yang membebaskan.

A tale of 4 cities

Apa yang bisa diceritakan dalam perjalanan menempuh 3 kota dalam seminggu yang terjadi tahun lalu? Nothing. Medan, tak banyak yang kuketahui selain Restoran Garuda, Hotel Grand Angkasa, serta pusat jajanan di dekat alun-alun. Padang. Lebih parah lagi. Yang kutahu hanya Hotel Ambachang dan jalan aspal dari/menuju bandara. Akhirnya, Jakarta. Tempatku mengadu segala kepenatan, tempat peristirahatan sementara. Karena hidup adalah perjalanan dan Jakarta hanya sebuah persinggahan.

Mengulagi kisah yang sama setahun yang lalu, dua minggu lalu 4 kota sekaligus memenuhi ruang hariku dalam seminggu.

(1) Malang. Kota indah yang selalu menjadi jawaban atas pertanyaan Tempat Lahir yang disodorkan padaku. Hubungan kausal antara aku dan kota ini hanya terjadi sepihak saja. Kota ini mengetahui banyak sejarah masa kecilku dan merekam saat detik-detik menengangkan buah perkembangan makluk – hasil pertemuan dua zat di fallopia, sebuah tempat suci antara uterus dan ovarium- yang harus keluar dari rahim seorang wanita perkasa. Tapi sebaliknya? Aku tak mengetahui banyak tentang kota ini. Benar-benar tak imbang. Hingga kudapatkan sebuah buku berjudul “Malang, Telusuri Dengan Hati”.

Kota yang terhitung per 1 April 1914 menjadi gemeente (kotamadya) ternyata hasil pemekaran dari karesidenan Pasuruan. Berawal dari peta tua yang terpampang beberapa kali di buku-nya Pak Dwi Cahyo ini, aku mulai menelusuri kisah-kisah yang membuat romansaku atas kota ini membubung tinggi. Klojen misalnya, area yang dulunya adalah Lodji or Loji – benteng yang dipakai Belanda disepanjang kali Brantas samping Rs Saiful Anwar, kini hanya menjadi kawasan tua. Nama Lodji segera berevolusi menjadi Loji lalu ke-loji-an dan berakhir dengan Klojen. Lidah kitapun berevolusi seturut waktu. Konon di area ini perumahan pertama di Malang didirikan. Tak ayal, nama-nama anggota kerajaan seperti Juliana, Willem menghiasi jalan-jalan diarea ini. Siapa pula yang menyangka kalau di area tempatku bermain dahulu kala sering dijumpai macam kumbang.

Do you want to experience Malang in the earlier days namun tak sempat datang di bulan april saat jalan ijen disulap menjadi malang tempo doeloe? Kusarankan untuk mengunjungi Restoran Inggil di Jalan Gajah Mada. Menikmati foto-foto yang tergantung di dinding restoran yang merupakan bangunan peninggalan jaman Belanda itu membuatku terbawa mesin waktu, kembali ke masa lalu. Membaca pamflet-pamflet tua mengingatkanku akan betapa kentalnya pengaruh Belanda di kota ini. Ingin membaca kisah kota ini lebih jauh ? kusarankan untuk menanyakan ke pelayan restoran, mungkin mereka masih menjual buku yang ditulis sendiri oleh sang pemilik restoran.

(2) Kalau Malang sarat dengan warisan budaya Belanda yang kental. Hanoi menyisakan kisah pendudukan Perancis. Empat hari di Hanoi tak menyediakan banyak hal selain meeting dan dining. Makanan eksotisnya dan keruwetan khas Hanoi menjadi kesan pertamaku. Sepeda motor seolah bergerak bebas tanpa aturan, ditunggangi oleh pengemudi-pengemudi yang nampak enggan menginjak rem. So be careful yach kalo ke kota ini!

Hari terakhirku dinodai oleh penipuan seorang sopir taksi, yang men-chargeku dengan argo kuda, membuat rekaman ingatanku akan mausoleum Ho Chi Minh, museum Vietnamese History serta Temple of Literature seolah-olah ditenggelamkan di dalam Hoan Kiem Lake yang terletak di old quarter di pusat kota Hanoi. Akhirnya, boneka-boneka kayu yang dikemas dalam pertunjukan “water puppet” selama satu setengah jam itulah yang sedikit menghiburku.

Sebelumnya aku sempat kecewa dengan bangunan “One pillar Pagoda” yang di pamflet diiklankan sedemikian rupa membuat ekspektasiku akan site ini menjadi berlebihan. Aku telah dengan semena-mena men-judge bangunan sederhana ini tanpa mengetahui sejarahnya yang hampir berumur 10 abad. Beruntunglah, masih ada Pho , rice noddle yang lembut, dan bánh cuon, semodel lumpia basah dari tepung beras yang diisi daging, yang menguapkan kekecewaan hati. Kadang harus aku akui bahwa kebahagiaanpun bisa datang dari nikmatnya santapan.

(3) Hari berikutnya, Makasar, yang tiap sudutnya adalah kisah yang indah. Sepanjang Losari yang sudah membisu, beribu ungkapan kata indah pernah singgah disana. Lalu Sunset pulau khayangan yang memukau tak bisa kunikmati kali ini. Lagi-lagi waktu yang bisa dipersalahkan kali ini. Karena waktuku habis di ruang-ruang hotel.

(4) Dan akhirnya …. Jakarta lagi. Kota persinggahan. Cukup sudah 4 kota dalam seminggu, membuatku bak flight attendance, karena hampir tiap saat terlihat di bandara.