Evolution In Time

Michael Wesely

Judul tulisan ini mungkin lebih pas ditanyakan ke Vira dan Ahmad Syukaery yang baru saja menjabani likeness quiz di facebook tentang new year’s resolution. Bagaimana resolusi tahun baru itu menjadikan evolusi dalam hidup mereka? Entahlah, hanya waktu yang tahu. Lalu apa kaitannya dengan gambar di atas? Kadang korelasi tak perlu diciptakan hanya untuk kita bisa menikmati dan memaknai keindahan. Tapi gambar di atas jelas sekali menggambarkan evolution in time. Kisahnya demikian …

Kemaren seorang teman yang sedang mengisi waktu luangnya dengan kursus fotografi di Amsterdam menelponku. Lalu … temanku itu bercerita tentang tokoh ini. Manusia memang beruntung, kala hatinya sedang tidak menentu, banyak sekali yang bisa dijadikan pelarian. Sebulan lalu, aku hampir memutuskan untuk mengambil kursus fotografi. Beruntung, obyek pelarianku teramat banyak. Kursuspun urung kulakukan, aku terbelenggu di tempurung waktu.

Di tempat yang berbeda, aku menghabiskan waktuku di depan Museum Fatahilah. Duduk sendiri dipinggir kolam yang tak jernih, mengamati anak-anak kecil yang bermain sepak bola, skate board dan sepeda. Sesekali gerakan mereka terhenti di dalam kameraku, dan berganti format menjadi RAW. Somehow, kebahagiaan mereka menulariku. Entah apa jadinya kalau ide brilian Michael Wesely kuaplikasikan saat itu, dan aku terpaksa menunggu 2 tahun demi menikmati hasil dari proyek fotografi ini. Aku tak cukup sabar sekaligus was-was kalau dalam 2 tahun museum ini berevolusi menjadi mall ataupun gedung multiguna lainnya.

Oh ya Michael Wesely ini fotografer kelahiran Munich yang saat ini menetap di Berlin. Proyek open shutter-nya ini sangat brilian, dengan kamera obscura dia men-setting long exposure, hingga dua tahun, dengan aperture yang sangat kecil. Mengambil lokasi di Potsdamer Platz, Berlin, Michael Wesely berhasil mengabadikan proses rekonstruksi bangunan yang terjadi di lokasi itu selama dua tahun. Alhasil semua kejadian dalam dua tahun terekam dalam satu gambar, tentu gambarnya jadi artistic. Bayangkan … semua kronologi dalam dua tahun itu terekam dalam satu gambar statis dua dimensi. Sungguh ide brilian.

Menengok Bintang di Langit Terang

january-starry-nights-1.jpg

Weekend kemaren, dua malam berturut-turut, Jakarta cerah, tak secarik awanpun berani mengusik pandanganku dari Orion, Taurus, Canis Major, Canis Minor, Auriga pun Gemini yang berkedap kedip memainkan mata.

Biasanya aku akan menelpon seorang sahabat, memintanya menyiapkan laptop untuk kemudian bersiap menangkap bintang. Lalu sambil bergumam lirih “Somewhere out there beneath the pale moon light someone’s thinking of me, and loving me tonight…” aku mulai menunjuki bintang itu, satu persatu.

So don’t be sad, someone out there is thinking about you… if your world seems to crumble, look at the stars, they are still there for you.

But then, which stars are you going to see tonight? OK, lets start gazing the night sky. Jam 9 malam jadikan Orion sebagai zenith. Ini konstelasi yang paling mudah kita dapatkan. Kalau kamu menemukan 3 bintang kecil, Alnitak, Alnilam dan Mintaka berjajar ditengah 4 bintang yang relatif lebih besar, membentuk trapesium dan yang pada pukul 9 malam berada tepat di atas kepalamu itulah tubuh Orion. Dari keempat bintang itu, ada 2 bintang terang yang bila ditarik garis lurus akan membentuk garis diagonal. Itulah Betelgeuse yang berwarna kemerahan dan Rigel yang tampak putih kebiru-biruan. Kumpulan beberapa bintang itulah yang diberi nama Orion yang dalam mitologi yunani tergambar sebagai seorang hunter. So once you notice Orion, you wont be lost.

Lalu cobalah berdiri menghadap ke barat, tetap tengadah dan puaskanlah dahagamu atas Orion yang melebar di atas kepalamu. Setelah itu tarik pandanganmu ke arah barat. You won’t miss Capella, bintang terang dengan warna kuning berpendar-pendar menduduki ruang khusus di konstelasi Auriga.

Jangan, jangan dulu kau selesaikan aktivitasmu malam ini. Karena Orion dan Auriga belum seberapa. Tak jauh dari Capella, tarik pandanganmu ke arah timur lalu sedikit bergeser ke utara. Ada kumpulan bintang-bintang kecil disana, a tiny twinkling cluster of stars, yang berjarak 400 tahun cahaya dari bumi. Pleiades. Saking rapatnya jarak antar bintang-bintang ini, banyak yang beranggapan inilah awal mula bintang, ledakan itu telah berlangsung berjuta-juta tahun lalu. Bintang paling terang di cluster ini bernama Alcyone (baca: Al-sigh-oh-nee). Pleiades sering juga disebut sebagai “seven sisters”, though the number of stars in the cluster could be hundreds. Namun yang bisa ditangkap oleh our naked eyes hanya 6. Tak percaya? Cobalah lihat dan hitung nanti malam. Kalau lebih, berarti kaca mata silindrisku mesti segera diganti.

Sudah puas dengan Pleiades? Coba tarik lagi pandanganmu dari Pleiades ke arah selatan, lalu sedikit ke timur, atau simply arah tenggara dari Pleiades, tampaklah Aldebaran, “the bright red eye of the bull” mengingatkanku pada seorang teman yang dinaungi konstelasi Taurus. Konstelasi Taurus “The Bull” membentuk huruf V, bentuk ini lebih kasat mata, dan Aldebaran berada di sini kiri garis V. Aldebaran, the bright red giant star, sempat kupakai sebagai nick name di beberapa kesempatan demi menghormati Redantares ataupun Shaulascorpius yang terlalu sering di eksploitasi.

Kurasa … cukup ini dulu untuk nanti malam, otherwise tetanggamu akan berpikir kau sedang dalam masalah, karena sudah tengah malam tak jua kau tidur. Menengadah berjam-jam, seolah-olah menunggu blessings dari Atas, akan membuat urat lehermu sakit. Aku tak bertanggung jawab. Oh ya … nice dream ya … bersama bintang :).

I thank God for this less promising year

How are you going to end this less promising year? Why less promising year, I could say a bad year instead. But I suddenly think that the word ‘year’ is really neutral, it depends on us how we see it. I just want to be sort of a positive thinker that this year has at least brought me to be a person as I am now. A lot has been done. A lot has been counted.  I may now in the cross road, but I know … God is Love and He moves the sun and the other stars. I’amor che move il sole e l’altre stele ~ Dante.

So … Happy New Year and Happy Holiday too!

Aku dan Marianne Katoppo

Tak bisa kubilang bahwa ini peristiwa kebetulan belaka. Tatkala seorang sahabat mulai membakari kertas-kertas undangan yang dihiasi dengan puisi indah Kahlil Gibran yang terjemahannya kuambil dari sebuah novel lawas berjudul ‘Dunia Tak Bermusim’, aku meratap, menyadari bahwa bukti sejarah ini harus dilenyapkan demi menyediakan ruang bagi kenangan-kenangan baru. Bukan undangan itu, pun nama-nama yang tertulis indah di sana – karena seperti pepatah menyebutkan bahwa waktu akan menyembuhkan, dan lima tahun telah berlalu- tapi, kata-kata yang dipilih Marianne Katoppo untuk menerjemahkan puisi Kahlil yang mesti turut menjadi abu yang aku sayangkan. Lalu diawalilah suatu masa, pencarian novel-novelnya, hingga kemudian kudapati sebuah berita “Pengarang-Teolog Marianne Katoppo berpulang – 13 Oktober 2007”, tepat seminggu setelah kuawali masa pencarianku. Ah, satu keindahan telah pergi, melayang bersama abu kenangan. Namun aktivitas hunting novel tetap berlanjut.

Mariane memang tidak hidup di jamanku. Papaku mengoleksi buku-buku karyanya. Tentu novel seperti Dunia Tak Bermusim, Raumanen dan Terbangnya Punai telah kubaca tanpa perasaan ketika aku masih ingusan, berseragam merah putihdan baru mengenal kata majemuk. Bahkan kala itu aku menutup Novel Raumanen dengan senyuman “Akhirnya selesai juga”.

Sebagaimana waktu telah diklaim sebagai tabib ulung penahir lara hati, waktu juga dituduh sebagai perubah perasaan manusia. Ketika membaca kembali Novel Raumanen sebagai buah pencarian selama beberapa minggu, aku baru menyadari kegetiran bahwa Raumanen adalah korban. Korban dari perasaan cintanya.

Novel yang hanya setebal 131 halaman ini diawali dengan kisah Raumanen yang menyadari bahwa akhir-akhir ini teman, saudara dan sahabatnya sudah jarang mengunjungi rumahya yang kecil dan sepi, di bawah pohon flamboyant tua. Dia merasa terasing. Monang, kekasih hatinya, yang kalah dan yang telah menyeret Raumanen kedalam jurang kekalahan-pun sesekali saja datang menengok. Itupun sehari sesudah perayaan hari-hari besar. “Dia pasti takut ketahuan istrinya” pikir Manen. Monang tak lagi bercakap dengannya, namun setiap kali kedatangannya dibawakannya bunga kesayangan Manen, Mawar Kuning.

Tersebutlah Raumanen – gadis bermata bulat, aktivis mahasiswa, lincah dan cerdas – yang dalam bahasa Minahasa berarti “gadis pembawa panen”. Monang adalah pemuda Batak, insinyur yang sukses. Namanya kependekan dari Hamonangan yang berarti “Menang”.

Monang telah menyeret Raumanen kedalam buaiannya. Hingga setanpun berkuasa. Dosa yang tercipta di sore kelam kala hujan mengguyuri Puncak, telah mengutuki penciptanya. Manen hamil. Raumanen, si gadis pembawa panen, telah memaneni buah dosa yang dibuatnya. Monang yang ternyata tak pernah menang atas hidupnya sendiri, harus menyerah pada adat. Pemuda Batak ini harus menikah dengan pariban pilihan ibunya. – Ah ini bukan jaman kita lagi.

Raumanen tak kuasa menanggung sikap pengecut Monang dan menyadari kenyataan bahwa bayi yang dikandungnya akan terlahir cacat, yang karenanya tak ada pintu lain yang terbuka baginya selain abortus provocatus. Namun beranikah dia membuka pintu ini? Bukankah ada tertulis dalam kitab perjanjian lama – “Jangan membunuh”?

Diantara langit yang mulai menggelap, Raumanen alpa. Sambil menggenggam kunci yang akan membebaskannya nanti. Ia memilih untuk membuang diri ke neraka. Terbuang dari Tuhan dan manusia. Terputus dari sumber kasihnya.

Novel ini diakhiri – lagi – dengan puisi Kahlil Gibran :
“Karena maut dan kehidupan itu satu adanya.
Sama seperti sungai dan samudra satu jua
Karena mati itu tak lain dari berdiri telanjang dalam badai
serta bersatu dengan matahari
Dan berhenti bernafas tak lain dari pada menceraikan nafasmu
dari pasang surut yang tak kunjung henti
Hingga kau dapat naik serta mekar mencari Ilahi”

Raumanen akhirnya menyadari dan mengerti … dipandanginya Monang, kekasihnya, bersujud dimuka salib putih, batu nisan yang bertuliskan “Raumanen” serta satu tanggal, disuatu hari yang kelam, sepuluh tahun lalu.

When October Goes …

And when October goes
The snow begins to fly
Above the smokey roofs
I watch the planes go by

The children running home
Beneath a twilight sky
Oh, for the fun of them
When I was one of them

And when October goes
The same old dream appears
And you are in my arms
To share the happy years
I turn my head away
To hide the helpless tears
Oh how I hate to see October go

I should be over it now I know
It doesn’t matter much
How old I grow
I hate to see October go

Hari Oeang Repoeblik Indonesia

Tak urung pembacaan Detik-detik Beredarnya Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) disela-sela aktifitas upacara bendera di pagi nan mendung, membuatku merinding tak keruan.

Satu hari dan 61 tahun yang lalu, tersebutlah Boeng Hatta mendeklarasikan ini:

“Besok tanggal 30 Oktober 1946 soeatoe hari jang mengandoeng sedjarah bagi tanah air kita .

Rakjat kita menghadapi penghidoepan baroe. Besok moelai beredar Oeang Repoeblik Indonesia sebagai satoe-satoenja alat pembajaran jang sah. Moelai poekoel 12 tengah malam nanti, oeang Djepang jang selama ini beredar sebagai oeang jang sah, tidak lakoe lagi. Beserta dengan oeang Javasche Bank. Dengan ini toetoeplah soeatoe masa dalam sedjarah keoeangan Repoeblik Indonesia. Masa jang penoeh dengan penderitaan dan kesoekaran bagi rakjat kita!
Sedjak moelai besok kita akan berbelandja dengan oeang kita sendiri, oeang yang dikeloearkan oleh repoeblik kita. Oeang Repoeblik keloear dengan membawa perobahan nasib rakjat, istimewa pegawai negeri, jang sekian lama menderita karena inflasi oeang Djepang. Roepiah Repoeblik jang harganja di Djawa lima poeloeh kali harga roepiah Djepang, di Soematra seratoes kali, menimboelkan sekaligoes tenaga pembeli kepada golongan rakjat jang bergadji tetap, jang selama ini hidoep dari pada menjoeal pakaian dan perabot roemah, dan joega kepada rakjat jang menghasilkan, jang penghargaan toekar barang penghasilannja djadi bertambah besar “

Selamat Hari Oeang Repoeblik Indonesia.

Sekali Berlibur, Empat Lima Pulau terlampaui

Berbeda dengan trip to Belitung yang hanya menyinggahi 2 pulau kecil. P’Lengkuas dan P.Burung, perjalanan kali ini berhasil menyinggahi 5 pulau sekaligus, meskipun dua diantaranya hanya menelusuri garis pantai-nya.

Tersebutlah Pulau Karimun Jawa, tempat Kapal Motor Cepat Kartini berlabuh. Pulau yang mayoritas penduduknya adalah nelayanini terbilang cukup ramai. Mereka mendiami pesisir pulau yang didominasi oleh pegunungan. Beberapa bangunan tua masih difungsikan sebagai bangunan administrative pedesaan. Namun tak jarang bangunan mewah berlantai dua,yang salah satunya di beri tonggak “milik petinggi desa”, meramaikan landscape pulau ini. Di pulau yang terdiri atas satu kecamatan dan dua desa inilah nadi administratif pemerintahan kepulauan Karimun Jawa terletak.

Pulau Kedua di hari kedua, perjalanan kami adalah P.Menjangan Besar. Terletak bersebelahan dengan P. Karimun Jawa, pulau ini tambak jauh lebih kecil kalau dilihat di peta. Vegetasi yang banyak tumbuh di pinggir pantai adalah Bakau. Hamparan pasir putih dan gradasi air laut dari hijau muda, biru muda hingga biru tua memenuhi ruang pandangku. Tak jauh dari tambatan perahu, berdirilah bangunan kayu semi permanen tempat petani membudidayakan kerapu. Luntur sudah idealisme seorang teman yang tak mau menyentuh daging kerapu karena menurutnya demi menangkap kerapu, nelayan harus meletakkan bom diantara karang-karang. Memakannya berarti ikut merusak karang. Bagi kami tempat ini berarti mendayakan kerapu secara berbudi.

Di hari ketiga, tiga pulau sekaligus terlapaui. P.Cemara Besar, P.Cemara Kecil dan P.Menjangan Kecil. P. Cemara Besar, dari namanyapun sudah tertebak, pasti vegetasi cemara berkerumun di pulau ini. Sebelum perahu merapat di sisi utara P.Cemara Besar, kami menyempatkan snorkeling di kedalaman laut 2-3 meter. Tak banyak ikan di sini, tapi koral laut berbagai bentuk yang berwarna warni menyuguhi mata kami dengan keindahan dan membuat kami betah terapung di atas air.

Sesi berikutnya kuberi judul Narsisme di P.Cemara Besar. Di sesi ini keberadaan tripod sungguhlah berarti. Bagiku, melakukan perjalanan dengan rekan-rekan yang hobby fotografi menjadikan trip kali ini sungguh istimewa. Di pulau ini kami bermain komposisi. Namun kegembiraan sesaat berubah menjadi kegundahan kala perahu yang tertambat tergeser oleh ombak. Tempat kami mendarat yang semula hanya sedalam 60 cm, bergeser ke tempat dengan kedalaman 180 cm. Tinggiku yang Cuma 165 cm takkan mampu menyelamatkan kamera dan propertinya. Lagi-lagi Paulus datang sebagai dewa penolong. Tingginya yang di atas 180 cm, membuatku santai berenang ke arah perahu.

Tidak berbeda dengan aktifitas kami di P.Cemara Besar, di P.Cemara Kecil beberapa diantara kami yang masih belum puas snorkeling segera mencebur ke laut. Dengan kedalaman yang lebih dari 2 meter, terlihat banyak ikan disini. Tak lama kemudian perahupun melaju ke P.Menjangan Kecil. Tak banyak yang bisa kami lakukan di sini. Melihat kapal karam di dasar laut? Ahh, yang ini jelas bukan bagianku, bahkan di kolam renangpun aku belum bisa memanage tubuhku untuk berenang di dasar kolam.

Aktifitas hari itu kami tutup dengan mendaki perbukitan Karimun Jawa. Rasa lelah seakan terobati dengan pemandangan Sunset dari atas bukit. Meskipun pemandangan sunset yang tak sempurna, kami cukup puas bisa mencapai lanskap yang berbeda.

Liburan di P.Karimun Jawa kali ini kututup dengan perjalanan malam di atas bus ekonomi menuju Terminal Bungur Asih. Dan di atas roda yang melaju di kegelapan malam, aku sendirian mengenang keindahan dan kehangatan yang sempat singgah. Ah, kadang keindahan itu tidak bisa kita kuasai seterusnya.

Wisma Apung Pak Joko, dimana keramahan dan kehangatan membaur.

Di Wisma Apung

“Wontenipun namung kamar ingkang mboten ngangge AC, kamar mandinipun datheng njawi” (yang ada hanya kamar non AC dengan toilet diluar), begitu jawab Pak Joko via telp ketika aku mencoba reserve kamar dari Jakarta. Kamar tak ber-AC tak masalah. Kamarkan cuma buat tidur, aku pasti akan banyak menghabiskan waktu berjalan-jalan dipulau pikirku, seraya mengiyakan reservasi kamar berikut paket perjalanan.

Dugaanku untuk berjalan-jalan di pulau sembari menunggu saat tidur tibaternyata salah besar. Euphoria selesai Kapal Motor Cepat Kartini merapat dipelabuhan Karimun Jawa sirna begitu saja tatkala kami dibawa sebuah mobil carry ke satu pelabuhan disisi lain pulau. Masih terngiang perjalanan di atas kapal cepat yang mengocok isi perutku harpir 3.5 jam lamanya. Lalu … siksaan apalagi ini? Apakah demi melihat sorga orang mesti sengsara?

Ah ternyata hanya 5 menit perjalanan dengan kapal motor nelayan sampailah kami di Wisma Apung, deretan kamar kayu yang kokoh berdiri di atas karang yang sama sekali tidak attached ke satu pulaupun. Kami dikelilingi air. Daratan hanya bisa ditempuh dengan perahu, atau kalau berani nekad, berenang diantara karang dan bulu babi bisa mengantar kami ke pulau terdekat, P.Menjangan Besar.

Lantas apa yang bisa kami lakukan disini kalau jadwal trip ke pulau sedang tidak ada? Awalnya kupikir pagi dan malam hari akan sangat membosankan. Lagi-lagi aku salah. Ini saatnya mengeksplore sisi lain Putut dan Paulus, teman seperjalananku. Tak berhenti di sini, kamipun mengeksplore hingga kamar-kamar sebelah.

Tersebutlah dua keluarga dari Jakarta dengan masing-masing dua anak, menjadi akrab dengan kami. Ini efek intensitas pertemuan yang tak terelakkan. Pak Gunawan, seorang advokat yang ramah beserta istrima yang dosen kedokteran Untar menyapa kami terlebih dahulu. Ariel anak pertamanya yang gemar fotografi selalu mengalungi Canon D400. Clements calon dokter yang gentle dan penolong sedari hari pertama telah menghiasi dua jarinya dengan tensoplast akibat taring-taring hiu yang mencoba meraih ikan dari tangannya.

Adalagi pasangan Ari dan Bhakti yang berdomisili di Depok yang selalu deperlengkapi dengan peta perjalanan. Dengan Ari yang aktif di milis jalan-jalan, aku asyik berdiskusi tentang trip-trip perjalanan yang mengasyikkan.

Pak Joko yang asli Magelang sesekali nimbrung ditengah-tengah obrolan kami, menambahi pengetahuan kami tentang pulau ini. Si Mbah Putri penunggu Wisma Apung, masih enak juga diajak ngobrol. Nenek Pak Joko yang berusia kurang lebih 65 tahun ini penduduk asli Karimun. Darinya kuperoleh cerita bahwa Pak Joko memberdayakan seluruh keluarganya untuk mengelola wisma ini. Betul-betul proyek padat karya.
Nah satu lagi, seorang lelaki tua lebih dari 70 tahunan, Kakek Pak Joko, yang penglihatan dan pendengarannya mulai terganggu. Bercakap-cakap dengannya membuat kami menemukan species ikan baru diperairan Karimun Jawa “I(h) KAN GAK NYAMBUNG”

In short, dalam 4 hari 3 malam, Kopi Kapal Api, Teh Sariwangi dan kacang garing menjadi saksi kehangatan yang tercipta di atas Wisma Apung.

Karimun Jawa, Oct 13 – 16 2007

Karimun Jawa

Bagiku KARIMUN JAWA adalah pelarian atas rencana soft trekking ke Krakatau yang terpaksa digagalkan secara sepihak oleh seorang teman yang tak rela ditinggalkan.Namun, tak sedikitpun aku menyesali itinerary dadakan dengan perencanaan setengah matang,bak dua butir telur, menu sarapan pagiku setiap aku menginap di hotel, disajikan didepan mata lalu dilahap. Pun dengan Karimun Jawa, semua tersaji didepan mataku. Otakku menangkap dan mengolahnya, lalu dia membiarkan indra-indra lain mengecap keindahan lewat sentuhan-sentuhan langsung. Mata menangkap keindahan diantara hijau birunya laut nan jernih, telinga mendengar riak merdu ombak dan burung-burung yang perutnya sudah dikenyangkan oleh ikan, hidungku mencium aroma khas laut. Rasa asin yang terkecap sesekali kala terhantam riak kecil saat snokling di Tanjung Gelam. Kulitku, lagi-lagi merasakan sengatan matahari, membuat efek Belitung semakin kentara dikulitku.

Overall, perasaanku dihibur oleh semesta yang tampak elok di depanku.

Siapa sangka perjalanan hampir 20 jam dari Jakarta, dihantam kelelahan, kantuk dan mualnya perut akibat hentakan gelombang, akan berakhir di sorga Karimun Jawa? Siapa juga yang menduga bahwa “sorga” bisa ditempuh dengan 700 ribu untuk satu paket perjalanan include tiket PP Semarang – Karimun, all meal dan trip to the islands near by? I’m the lucky one.