Internet, Politik dan Persahabatan

Bagaimana kata internet, politik dan persahabatan membaur menjadi satu kisah unik?Kisah sebagian kucuplikkan dari tulisan Amy Schatz dari kolom economy and politics, the Wall Street Journal edisi cetak minggu lalu. Lagi-lagi tentang pesta demokrasi di US tahun depan :).Kalau sempat melihat video YouTube hits beberapa minggu lalu, video ini akan cukup merusak nafsu makan kita. Though, I wouldn’t mind having this as my breakfast. Aku terbiasa dengan menu pagi yang hanya berisikan campuran oatmeal plus susu panas. without salt and sugar. Namun kalau kita tahu kisah dibalik itu, to be honest, I would be more than grateful of having a friend like you, Mr Green.Alkisah, disuatu website berjudul The Online clearinghouse for democratic action, terpampanglah salah satu candidate state representative, Daniel Biss, seorang professor matematika muda yang mengajar di University of Chicago.

ActBlue menyediakan sarana bagi mereka yang ingin menjadi penyumbang dana bagi salah satu candidate. Pun nama candidate presiden John Edwards terpampang disana sebagai one of the top money raiser. So ActBlue is simply clearinghouse. Mudah dan cukup menarik. Mungkin kita masih membayangkan deretan angka-angka yang harus disembunyikan atau diselipkan di anggaran-anggaran tertentu guna menyokong salah satu calon presiden or gubernur or calon bla bla bahkan balon bla bla bla. Praktik seperti itu bukan jamannya lagi. Bermain petak umpet hanya untuk anak-anak kecil yang belum mengerti pahit manisnya politik. In short, Transparansi menjadi hal yang mutlak di dunia demokrasi.

Si Mr Biss yang masih 30 tahun ini, menggunakan Actblue sebagai cara murah untuk menghimpun dana dari masyarakat. Bahkan dia sempat menduduki peringkat kedua dalam penghimpunan dana lewat clearing house ini. Uang yang terhimpun dalam Actblue beberapa diantaranya diperoleh dari para blogger dan mereka yang membuat video online, YouTube.

Nah, tersebutlah John Green, novelis muda sahabat Daniel Bliss yang videonya muncul di YouTube pertengahan Agustus lalu dan sempat menjadi hits. Mr Green berjanji untuk minum juice Happy Meal- campuran plain burger, kentang goreng plus coke yang sudah diblender- dan mem-wax bulu kakinya jika paling tidak 200 orang mendominasi uangnya secara online kepada Mr Biss. Seperti dilaporkan di Wall Street Journal, berkat video ini, telah terkumpul USD 3.200 untuk Mr Biss. Tak terbayangkan berapa cup of ‘Happy Meal Juice’ dan berapa teriakan yang dihasilkan Mr Green ketika dia ingin membuat kakinya seperti kaki meja, demi upayanya mendukung pencalonan sahabatnya.

Jadi, apa yang tidak akan dilakukan seseorang bagi sahabatnya? Beruntunglah kita yang punya banyak sahabat. Oh ya, Mr Green sendiri menyatakan bahwa belum pernah sekalipun ia menyaksikan video sahabatnya ini minum Liquefied Happy Meal, “Was bad enough”, katanya.

So, apa yang sudah dilakukan sahabatmu untuk dirimu? Green… sounds like Gre 🙂 .

How can I stop all the clocks ?

Alone

Stop all the clocks, cut off the telephone,
Prevent the dog from barking with a juicy bone,
Silence the pianos and with muffled drum
Bring out the coffin, let the mourners come.

Let aeroplanes circle moaning overhead
Scribbling on the sky the message He is Dead.
Put crepe bows round the white necks of the public doves,
Let the traffic policemen wear black cotton gloves.

He was my North, my South, my East and West,
My working week and my Sunday rest,
My noon, my midnight, my talk, my song;
I thought that love would last forever: I was wrong.

The stars are not wanted now; put out every one,
Pack up the moon and dismantle the sun,
Pour away the ocean and sweep up the woods;
For nothing now can ever come to any good.

(The picture was taken during my trip to Belitung. I was alone and felt so empty inside me. This morning when I was reading through the lines of one of H W Auden’s poems- regardless to the rumors that he was a gay, I still love his chosen words- I somehow caught the similar feeling of emptiness, as if I stood alone waiting for every second tick I heard from my camera. I just want to stop it.)

Denisa nonton Denias

“Nama saya Denias, Mama saya disorga suruh saya sekolah karena Mama bilang gunung takut dengan anak sekolah. Pak guru juga, Maleo juga. Saya mau sekolah Ibu Gembala. Itu sudah.”

Minggu lalu si Denisa berteriak-teriak di depan pintu pagar rumahku yang masih kugembok. “Tante Ophi…Tante Ophi”. Duh koq ya Denis datang pas dikulkas cuma ada buah-buahan doang dan jamu kunir asem.

Seperti biasanya bocah 4 tahun ini akan mengambil album Foto Swiss lalu menunjukkan padaku sapi di lereng perbukitan di Jung Fraujoch.

“Ini Sapi Hendrika ya, Tante?” Tanya Denis. Oom-nya yang dari negeri seberang tahun lalu membawakannya sebuah buku dongeng happy cow, si Sapi Hendrika.

“Denisa mau nonton Denias?” kupikir ini satu-satunya yang bisa membuat bocah ini duduk manis sementara aku mandi. Denisa mirip dengan Denias. Gemar menyanyi, pintar, suka bermain sepak bola, namun tidak gemar berkelahi, kecuali main macan-macan-an dengan tantenya.

Namun tak sedikitpun hati Denisa dan Denias berpautan. Ketika Denias bersedih karena ditinggal Maleo pergi … dan lagu “Andai Kupunya Sahabat”* mulai dilantunkan, Denis langsung berdiri lalu tersenyum. “Sahabat … Tante”

“Sahabat pasti kan datang, dikala sedih dan senang. Sahabat pasti takkan pergi menemani disepanjang hariku”, dia berteriak-teriak dengan riang gembira. Dengan terpaksa akupun mengikutinya. Ini lagu kami

Aku baru sadar, bocah ini belum paham benar makna kesedihan. Bahkan belum usai film itu diputar dia sudah berteriak :”Tante kapan filmnya selesai?”

“Yuk, kita nyari Robot Transformers aja” kataku sambil mematikan film.

Ah beginilah kalau Denisa nonton Denias. ITU SUDAH !

* Denis hafal hampir semua lagu di Album lagu AFI Junior. Dan lagu berjudul Andai Kupunya Sahabat ada dalam album itu.

A Thousand Splendid Suns

Kenapa hidup harus terlalu menyakitkan bagi seorang Mariam, a tube rose, a lovely flower for which her father, Jalil, chose her name. Jalil khan memiliki 3 istri dan 9 anak, 9 legitimate children tepatnya, all of whom were strangers to Mariam. Bahkan dengan istri mudanya yang sedang hamil tua, Jalil akan mengaku bahwa dia memiliki 10 anak. Tentu saja Mariam tidak masuk dalam hitungan, karena Mariam hanyalah clumsy little harami.

Harami, Mariam mendengar kata itu pertama kalinya tanpa mengerti maknanya tatkala usianya baru menginjak 5 tahun. Namun ketika dia tumbuh dewasa, dia mulai memahami bahwa harami – bastard –means unwanted thing. Mariam was an illegitimate person who would never have legitimate claim to the things other people had, seperti cinta, keluarga, pengayoman dan pengakuan.

Namun perlakuan tak tulus Jalil yang mengunjunginya di daerah pinggiran Herat setiap hari kamis, membuat Mariam tidak merasa seperti harami. Semua hadiah, senyuman yang diberikan Jalil padanya membuatnya seperti ratu. Untuk alasan ini dia mencintai Jalil

Nana, Ibu Mariam awalnya hanyalah pembantu rumah tangga keluarga Jalil, hingga suatu saat perut Nana mulai membesar. Dikucilkanlah ia ke pinggiran kota dan tinggal disuatu tempat, kolba, a rathole. Nana seringkali mengungkapkan kekecewaan kekesalan atas perlakuan Jalil yang tak adil, namun tak pernah sekalipun ia menunjukkannya tatkala Jalil mengunjungi kolba-nya. “Dia bahkan tidak mengakui kita sebagai bagian dari keluarganya”, itu yang selalu diungkapkan Nana kepada Mariam

Di ulangtahunnya yang ke 15, tak ada lain yang sangat diinginkan Mariam selain pergi ke Herat bersama Jalil untuk menengok istananya, dan tinggal bersamanya. Dia ingin mendengar nama besar Jalil di kota ini sambil menunjuk satu persatu property Jalil yang berdiri megah di jalan-jalan di kota ini. Selama ini Mariam hanya mendengar Jalil mempunyai jaringan bioskop yang memutar film-film barat yang tak pernah sekalipun dinikmati oleh matanya.

Tepat di hari itu, tak sabar dia menunggui Jalil. Duduk, berdiri, menengok. Gunung keresahan tampak di raut mukanya. Namun Jalil tak kunjung tiba. Nana tampak murung. Berulang kali kata-kata Nana “Kalau kau pergi, aku akan mati. Dan kalau aku mati kamu akan sendiri. Kamu akan sendiri” berputar dikepalanya, bak rewind otomatis sebuah mesin perekam ciptaan Tuhan. Entah setan mana yang membawa Mariam nekat pergi ke Herat berjalan kaki.

Hati Mariam berdebar-debar taklala kakinya menapaki Herat. Jalil adalah orang terpandang di kota itu. Siapa yang tak kenal dia. Berbekal nama besar Jalil, sampailah dia di depan istana Jalil. Kekagumannya kian memuncak. Namun seorang gadis kecil yang muncul di depan pintu mengatakan Jalil sedang tidak berada dirumah, diapun tak membiarkan Mariam menikmati indahnya isi istana itu. Seorang yang mendiami rathole tak layak masuk istana. Malam itu, Marian tidur dihalaman di depan istana Jalil. Keinginannya bertemu Jalil masih kuat, hingga keesokan harinya seorang sopir memaksanya keluar. Sesaat sempat terlihat olehnya wajah seseorang dibalik kelambu-kelambu yang dengan tiba-tiba ditutup rapat. Seorang Bapak takkan membiarkan darah dagingnya tidur beralas tanah. Tidur beradu debu dan udara malam. Bahkan tidur di lubang tikuspun masih jauh dari layak.

Diapun pulang diantar sopir Jalil. Perasaan Mariam tak keruan, langkahnya gontai, pikirannya kembali ke kolba, a rathole, ke pohon willow-tempatnya mengadu kegundahan hati. Apa yang dikatakan Nana benar adanya.
Mariam membiarkan lelaki itu mendahuluinya menuju kolba. Kumbang-kumbang berdengung diantara bunga-bunga yang tumbuh liar. Tiba-tiba saja sopir itu sudah berdiri di depannya mencoba mendorong Mariam untuk berbalik arah.

Sayang, lelaki itu tak cukup gesit. Mariam terpaku : A gust of wind blew and parted the drooping branches of the weeping willow like a curtain., and Mariam caught a glimpse of what was beneath the tree: the straight-backed chair, overturned. The rope dropping from a high branch. Nana dangling at the end of it .

Kisah ini tidak berhenti sampai disini, penderitaan Mariam masih berlanjut. Semisal, perjodohan – yang dipaksakan oleh ketiga istri Jalil demi mendepak gadis muda ini dari istana Jalil -dengan seorang duda tua rekanan Jalil. Apakah kebahagiaan tidak ada dalam garis hidup Mariam? You’d better read this book your self. Merasakan kegetiran Mariam yang menyentuh perasaan kita terdalam, terutama Anda kaum wanita.

Oh ya, cerita di atas hanya bagian awal novel karya Khaled Hosseini. Dengan setting Afghanistan 30 puluh tahun terakhir. Dari masa pendudukan Soviet, masa kejayaan Taliban hingga post Taliban. Setting ini mirip dengan setting kisah Amir dan Hassan dalam buku Khaled Hosseini terdahulu. Kalau Anda menikmati alur cerita The Kite Runner, kupastikan Anda akan menikmati pula A Thousand Splendid Suns.

Time to Relax

Today, I could, finally, breath a sigh of relieve. Not much to be done. Having black background screen would somehow bore me. Reading through communities of small letters on yellowish papers made me as if I was reading a very old print edition of newspaper. Sterling bearish, Aussie bullish, Yen strengthened – reduce the profit of carry trade activities, volatility continues while market players are focusing on the Fed meeting in mid Sept. “What’s next?” I asked to my self. Sudoku would be a very good idea :). Lets play!

Kebetulan Agung

Tergelitik dengan tulisan Vira tentang kebetulan, membuatku ingin mencatat beberapa kejadian yang bisa dimaknai oleh sebuah kata dengan 9 huruf ini. First of all I would to clarify that aku tidak percaya bahwa kebetulan terjadi begitu saja, yang independen yang tanpa ada satu titik yang berfungsi sebagai detonator. Dengan alasan ini, aku menyebutnya sebagai Kebetulan Agung.

Semisal, Ki Ronggowarsito- pujangga jawa dengan lima karyanya, Kalatidha, Sabdajati, Sabdatama, Jaka Lodhang dan Wedharaga – yang konon mampu meramalkan kematiannya sendiri, tepat pada 5 Dulkaidah 1802 jw atau 24 Desember 1873.

Alkisah dalam bagian akhir bukunya Sabda Jati tertulis demikian:
Amung kurang wolung ari kang kadulu, emating pati patitis, wus katon neng lokilmakpul ing madya ari, amergi ri Buda Pon.”
Yang terjemahan bebasnya kira-kira begini: hanya kurang delapan hari yang terlihat oleh sang Pujangga, ajal telah tampak dalam suratan takdir, segala hitungan telah dilakukan, di tengah hari jatuh pada hari Rabu Pon (Buda Pon).

“Tanggal kaping lima antaraning Luhur, sasi Sela taun Jimakir, Tolu Uma Aryang Jagur, Sangara winduing pati, netepi kumpul saenggon.
Yang artinya seperti ini : Tanggal lima kurang lebih waktu Dzuhur, bulan Selo (Dulkaidah) tahun Jimakir …Windu Sangsoro ini kira-kira diartikan waktu kesengsaraan yang diasosiasikan dengan kematian sang pujangga.

Dan lalu bagian ahirnya tertulis seperti ini:
Cinitra in Buda kaping wolulikur, sawal ing taun jimakir. Candraning warsa pinetung, Nembah muka pujangga ji, Ki Pujangga pamit layon.”
Buku ini ditulis pada tanggal 28 (wolulikur) bulan Sawal tahun Jimakir. Nembah muksa pujangga ji diartikan sebagai tahun 1802, (Nembah or sembah =2, Mukso=0, Pujangga=8, Ji or siji=1)

Kalau disatukan dari bait-bait sebelumnya, maknanya adalah bahwa delapan hari setelah ditulisnya buku ini yakni pada tanggal 28 Syawal 1802, Sang Pujangga akan menghadap Yang Agung, tepatnya Rabu Pon, 5 Dulkaidah 1802. Jadi kebetulan biasa saja ataukah ramalan? I don’t believe both of them. Ini Kebetulan Agung.

Ceritaku lain lagi. Beberapa bulan lalu kami mampir di sebuah toko buku. Aku scanning and skimming beberapa judul buku baru, memilah-milah, menimbang-nimbang, lalu memasukkan ke dalam shopping basket. Sementara temanku terpaku hanya dengan satu buku, menimbang-nimbang, berpikir keras dan akhirnya memutuskan untuk meletakkan buku itu kembali ke raknya.

“Ini bukan saat yang tepat untuk membeli buku,” pikirnya.

Tapi kulihat keinginannya untuk membaca buku ini telah membuatnya tak beranjak dari rak itu. Aku – yang tidak tahu buku apa yang diincarnya – hanya melihat dari jauh sambil sibuk memanage keinginanku. Saatnya membayar tiba. Tiba-tiba aku disodori oleh mbak cashir dua buah buku untuk kupilih sebagai hadiah, karena pembelianku yang melebihi angka tertentu. Segera kuambil salah satunya dan kutunjukkan ke temanku seraya kami melangkah ke luar toko. Sesaat kami terdiam dan lalu tersenyum. Taukah kamu bahwa buku itulah yang sedari tadi memperoleh perhatian extra dari temanku. Jadi, apakah ini hanya kebetulan ?

Beralih ke 30 tahun silam, aku bertetangga dengan seseorang. Sebagai seorang bayi aku takkan mengenalnya. Bahkan hingga 5 tahun, pun 10 tahun kemudian, aku tak juga mengenalnya meskipun tempat bermain kami berdekatan. Tidak juga 17 tahun berikutnya ketika aku yang semestinya kuliah di PTN di kotaku memilih PTN yang jauh dari kota kelahiranku dengan alasan-alasan yang rada ethical. Dan ini yang mempertemukanku dan si Mas ini yang kostnya hanya beberapa ratus langkah dari tempatku tinggal.

Namun tak juga seseorang itu kukenal. Ada satu waktu dan satu tempat yang Sang Agung pilih sebagai waktu dan tempat yang tepat bagiku dan bagi seseorang ini untuk bertemu. Waktu dan tempat yang jauh dari perkiraan kami. To be honest, aku dengan sengaja tidak ingin melanjutkan percakapanku dengannya yang terkait dengan kemungkinan-kemungkinan pertemuan kami. Karena semakin banyak kami bercerita semakin kami dibuat merinding. Jadi, apakah pertemuan kami di satu waktu dan satu tempat itu pun juga hanya sekedar kebetulan?

Wanna tell me your experience?

Trip to Belitung

13 of Us Taken by 3pod
Berawal dari googling Andrea Hirata dan related key search, sampailah aku pada gambaran lanscape Belitung yang wow, sungguh memukau. Dengan sedikit hasutan tentang keindahan pulau ini ke teman-temanku, merekapun akhirnya setuju untuk memulai perjalanan tanggal 17 Agustus pagi. Lokasi upacarapun dipindah ke Pulau nan sepi ini

Tentu dengan kesadaran penuh, kami tidak akan pergi ke Manggar. Aku tidak mungkin memaksakan keinginanku hanya untuk memuaskan keingintahuanku akan setting dimana Andrea dan kisah laskar pelanginya memulai petualangan hidup mereka. Although I want it very much to see the place, I realize that this may not be interesting for my friends who even don’t know who Andrea is.

Jadilah kami subuh-subuh – ditemani Betelgeuse dan Rigel serta lirikan Pollux yang kuning memerah di langit – menuju bandara. Hanya ada dua direct flight from Jakarta. Pesawat kami take off pukul 07.00.WIB. Dengan perjalanan kurang lebih 45 menit, sampailah kami di Tanjung Pandan pukul 7.45 WIB. Begitu menyentuh kota ini, perasaan lega membahana. Sehari sebelumnya, gara-gara market bearish, kami dikandangkan di hotel, justru sehari sebelum keberangkatan kami. “Dimana sense of crisis kalian?” Beberapa teman yang tidak ikut trip menyentil kami yang tetap memaksakan diri untuk pergi. Menyentuhkan kaki ke tanah belitung berarti tak ada kesempatan lagi untuk berbalik ke Jakarta. Biarlah market bearish. What goes up must come down. Ini hanya efek herding behaviour yang menjadi ciri khas local investor di Indonesia.

Tujuan pertama kami adalah Tanjung Pendam yang terletak di kota Tanjung Pandan. Tentu aku masih ingat cerita tujuh belasan-nya anak-anak SD PN Timah di tempat ini, yang menurut Andrea saat itu tempat ini begitu istimewa. Sekeliling kulihat laut yang sedang di bendung. Direklamasi kah? Ntahlah.
Konon di lokasi ini pernah dibangun pagar tembok tinggi, karena memang lokasi ini milik PN Timah. Sekali lagi kisah-kisah si Ikal kecil bermain-main dikepalaku.

Jam 10.00 meluncurlah kami kembali ke H.A.S Hanandjoeddin, menjemput 2 orang teman kami yang terpaksa di delay karena memilih operator pesawat yang salah. Setelah itu, selama 40 menit dengan melewati jalan aspal yang terlihat masih baru, mini bus kami berangkat menuju Lor In hotel di Tanjung Tinggi. Heran, sepanjang jalan, kami tak berpapasan dengan kendaraan bermotor lain. Kanan kiri kami, terlihat bekas-bekas tambang timah liar yang dibiarkan begitu saja, pohon-pohon mengering, serta kebun-kebun kelapa sawit yang luas memenuhi ruang pandangku.

Tanjung Tinggi memang sungguh menawan, tak perlu ke Phuket. Belitung sungguh fantastic. Siang itu kami naik ke batu-batu granit yang menggerombol disepanjang pantai. Suasana sepi membuat tempat ini menjadi sangat romantis.

Jarak pantai Tanjung Tinggi dan Tanjung Kelayang yang saling berdekatan membuat jadwal kami tidak terlalu ketat. Pak Kusuma, tour guide kami-pun juga terlihat santai.

Hari kedua, diawali dengan berenang ke tengah laut, membuat istana pasir ala Gaudi dan tentu menikmati matahari pagi. Jam 9 baru kami berlayar ke Pulau Lengkuas, dimana mercusuar tua jaman Belanda berdiri tegak. Laut serasa sangat tenang, biru kehijauan serta batu-batu granit menyembul keluar dari dasar laut menyuguhi hari kami dengan keindahan yang tiada tara. Mungkin aku terlalu exaggerate, but this is the fact.

Tiba di Pulau Lengkuas, nampaklah pemandangan pulau-pulau kecil dengan bebatuan besar yang menakjubkan. Mercusuar berwarna putih masih terlihat terawat meski umurnya telah lewat seabad. Mendaki ke puncaknya adalah kenikmatan. Phobia ketinggian? Sepertinya aku diciptakan untuk menikmati apapun dan mencobai apapun. Semakin tinggi kaki ini menapak, euphoria semakin mendesak ke ujung ubun-ubun kepala. Foto bersama ala novi (dengan gaya rada gak lazim) tentu tidak ketinggalan. Dan eitts satu lagi, ada kucing betina yang manja, yang selalu mendekatiku dan berguling-guling di depanku. Mungkinkah dia menemukan saudara-nya si Pus ber-Pita ini.

Pulau terakhir tujuan kami adalah Pulau Burung, sebuah pulau data yang tak berpenghuni. Konon ada batu granit disini yang mirip dengan bentuk burung, yang menurutku sih lebih mirip mulut ikan lumba-lumba. Melihat hamparan laut dangkal berpasir putih yang luas tentunya menarik keinginan kami untuk melepas baju dan berenang ke tengah laut. Berbekal google, disiang bolong pun kujabani mencari ikan-ikan kecil dibalik terumbu karang. Serasa kembali ke Pantai Bira yang hampir setahun yang lalu kutinggalkan.

Malamnya, kegiatan kami tak ada yang istimewa, selain memandangi bintang-bintang bertebaran, sambil tersadar esok pagi sorga nan indah ini harus kami tinggalkan.

Cat: Beberapa gambar sudah di upload di sini

Perseid Meteor Shower

Pagi ini aku masih bugar, regardless tidur semalam yang cuma 4 jam. Ceritanya… disela-sela keasyikan kami menikmati Mozart and the whales, seorang rekan mengirim sms berantai, yang sourcenya kira-kira dari seorang peneliti di Boscha, yang mengabarkan malam kemaren hingga dini hari ini puncak fenomena the Perseids meteor shower or simply hujan meteor akan menghiasi langit malam. Sahabatku segera mengingatkan,”Ini bulan Agustus Vie, tidakkah kamu ingat saatnya bumi dihujani meteor secara intens?” Setelah memperhitungkan segalanya, aku dan sahabatku setuju mencari tempat gelap tapi memadai. Dia menyiapkan laptopnya lengkap dengan stelariumnya (program untuk mejajaki letak bintang) dan aku cukup menyiapkan se-mug kopi dan kamera SLR-ku.

Sesaat menanti, kilatan tak kunjung nampak. So, alih-alih menunggu saat serpihan Komet Swift-Tuttle menyentuh atmosphere bumi, kami pun memulai prosesi star gazing. Pandangan kami tetap ke arah northern hemisphere, arah dimana hujan meteor akan berlangsung. Pandangan yang mestinya di arahkan ke Perseus, malah kami alihkan ke Aquila dan Cygnus yang juga berada di langit utara. Mungkin karena Perseus agak minggir di ujung utara, dan tidak ada object yang secerah Altair, dan si merah Tarazed (di Konstelasi Aquila) pun Deneb (di Konstelasi Cygnus), kamipun mengeksplore lebih lanjut dua konstelasi ini. Orang-orang yang lalu lalang di sekitar kami, melihat kami dengan pandangan aneh. Sesekali kami menengok laptop, lalu menghabiskan waktu untuk tengadah dan menatap langit. Mungkin aku lebih beruntung dibanding sahabatku ini, aku sempat melihat kilatan dua kali. Meskipun aku berharap melihat meteor dengan nyala yang lebih panjang, that night I felt, I was so content.

Make a wish??? Mmm tentu lupa, or tidak sempat, or tidak percaya hal-hal yang beginian :). Cuma sesekali aku melirik Vega (di konstelasi Lyra, yang rada berdekatan dengan Cygnus) dan berharap dia yang nun jauh disana (somewhere out there … ) memandang bintang yang sama, sambil tersadar ini baru jam 7 sore di belahan bumi lain, mungkin baru Jupiter yang didampingi si Red Antares yang terbit. Dan parahnya lagi, it’s summer, langit akan gelap pukul 11 malam.